Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang beradu
Langkah kaki Rani menghentak keras di atas lantai kayu koridor, menciptakan gema yang memicu kecemasan para pelayan yang berpapasan dengannya. Tanpa mengetuk, ia menyentak pintu ruang kerja ayahnya hingga menghantam dinding.
"Ayahanda!" pekik Rani, suaranya melengking karena amarah yang tak terbendung. "Aku sudah tidak tahan lagi! Sampai kapan Ayah akan membiarkan orang-orang itu mencibirku?"
Adipati Wibisono, yang tengah tenggelam di balik tumpukan perkamen, hanya menghela napas panjang. Ia bahkan tidak mendongak saat menjawab dengan nada datar. "Apa lagi sekarang, Rani? Bukankah kau baru saja kembali dari perjamuan?"
"Perjamuan itu neraka, Ayah!" Rani menggebrak meja kerja ayahnya dengan telapak tangan yang gemetar.
"Mereka menertawakanku di belakang kipas mereka! Mereka bilang aku hanya gadis malang yang berkhayal menjadi istri Pangeran Cakra. Mereka menyebutku gila karena mengejar pria yang bahkan tidak sudi menyebut namaku!"
BRAK!
Adipati Wibisono membalas gebrakan itu dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Kursi kayunya berderit hebat saat ia berdiri, membuat tinta di atas meja tumpah mengotori laporan penting. Rani tersentak, nyalinya menciut seketika melihat urat leher ayahnya menegang.
"Hentikan kegilaanmu ini Rani!" gertak Adipati dengan suara bariton yang menggelegar. "Aku terlalu memanjakanmu, memberimu segala kemewahan, sampai kau kehilangan akal sehatmu! Obsesimu pada Pangeran Cakra itu sudah melampaui batas kewajaran!"
"Ayah... aku hanya mencintainya..." bisik Rani, matanya mulai berkaca-kaca, mencoba mencari simpati.
"Cinta?" Adipati tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti ejekan.
"Itu bukan cinta, itu racun. Dengar Rani, Ayahmu ini memberitahumu karena aku tidak ingin melihatmu hancur. Jika kau terus memaksakan perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini, kau hanya akan membangun istana di atas pasir. Kau akan hancur sendiri saat ombak kenyataan menerjangmu!"
Rani mendengus kasar. Bukannya tersadar, ia justru merasa dikhianati. Tanpa pamit, ia memutar tubuh dan berlalu pergi meninggalkan ayahnya yang masih mengatur napas menahan amarah.
Sesampainya di kamar pribadinya, Rani tidak langsung beristirahat. Ia berjalan mondar-mandir seperti singa betina yang terjebak di dalam sangkar emas. Jemarinya mencengkeram kain sutra bajunya hingga kusut, sementara matanya berkilat penuh dendam.
"Hancur katanya?" gumam Rani pada kesunyian kamar. "Bahkan Ayah pun sudah tidak mendukungku lagi. Bagus!Jika dunia tidak memberiku jalan, maka aku akan menggali jalanku sendiri."
Ia berhenti tepat di depan cermin besar . Ditatapnya pantulan dirinya yang cantik namun tampak mengerikan karena amarah yang meluap.
"Pangeran Cakra harus menjadi milikku ! Apapun harganya ! Dan bagaimanapun caranya!"
Rani menjentikkan jarinya dengan tajam. Dari balik tirai beludru, seorang pelayan pribadi bernama Sari muncul dan bersujud dengan kepala menempel di lantai.
"Sari, mendekatlah !" perintah Rani, suaranya kini dingin dan rendah.
Pelayan itu merangkak mendekat. Rani membungkuk, membisikkan serangkaian rencana gelap tepat di telinga Sari. Semakin lama Rani bicara, semakin pucat wajah pelayan malang itu.
" Putri... tapi ini..." Sari tergagap, ketakutan membayang di matanya. "Jika Pangeran atau Baginda Raja tahu, hamba akan..."
"Maka pastikan mereka tidak tahu!" potong Rani tajam, mencengkeram dagu Sari agar menatapnya.
"Lakukan tugasmu dengan rapi. Jangan sampai ada kegagalan . Kau mengerti ! "
"H-hamba mengerti Putri ." sahut Sari dengan suara gemetar sebelum segera bergegas pergi menjalankan perintah majikannya .
Rani kembali menatap cermin, merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan dengan senyum kemenangan yang mulai merekah.
"Setelah ini... mari kita lihat bagaimana kau bisa lari dariku, Pangeran..."
***
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga yang menyala di cakrawala saat rombongan kecil itu mendaki jalur perbukitan yang terjal. Cakra memimpin di depan, diikuti oleh Nayan yang menunggangi kuda dengan tenang, sementara Riu berada di belakang bersama Ana yang mulai terkantuk-kantuk dalam dekapannya.
"Kita istirahat di sini sebentar." seru Cakra sambil menarik tali kekang kudanya.
"Kuda-kuda ini butuh napas, dan kurasa Ana juga sudah hampir terjatuh dari pelukanmu, Riu."
"Untung kau sadar, Pangeran!" sahut Riu sambil menguap lebar.
"Pinggangku rasanya mau patah jadi dua. Ana ini kecil-kecil beratnya seperti sekarung beras kalau sudah mengantuk."
Riu segera turun dan membantu Ana turun dengan hati-hati, sementara Cakra berjalan mendekati tepian tebing untuk memantau jalur di depan. Namun, langkah Nayan justru tertuju pada sudut tebing yang lain.
Nayan berdiri mematung di bibir jurang. Dari ketinggian itu, matanya yang tajam menangkap sebuah titik di lembah bawah sana. Sebuah lubang gelap yang hampir tertutup semak belukar . Mulut gua yang dulunya merupakan markas rahasia kelompoknya. Kini, tempat itu tampak seperti luka lama yang mengering, hancur tanpa sisa, meninggalkan bau kematian yang seolah masih tercium oleh indra penciumannya.
Nayan perlahan memejamkan matanya. Seketika, hiruk-pikuk angin pegunungan berganti dengan suara denting pedang dan teriakan memilukan.
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat dirinya berdiri di tengah genangan darah. Mayat-mayat anak buahnya , orang-orang yang pernah bersumpah setia padanya tergeletak tak bernyawa dengan luka-luka yang sangat mengerikan. Ia teringat sosok Wira yang berdiri dengan pedang bersimbah darah yang telah menebas mereka tanpa ampun seolah mereka hanyalah ilalang di ladang.
" Aku pasti akan membalaskan dendam kalian semua.." batin Nayan. Jemarinya mencengkeram kain jubahnya hingga buku-buku jarinya memutih. Satu demi satu dari mereka yang bertanggung jawab atas semua pertumpahan darah ini pasti akan Sedra habisi .
"Pemandangan dari sini memang indah, tapi juga sedikit mengerikan, bukan?"
Suara berat Cakra seketika membuyarkan bayangan darah di kepala Nayan. Nayan tersentak pelan, buru-buru mengatur napasnya dan menghapus gurat kebencian di wajahnya sebelum menoleh.
Cakra berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama dengan pandangan yang tenang. "Lembah itu... kudengar dulu tempat bersarangnya komplotan bandit yang sangat ditakuti. Tapi beberapa waktu lalu, sepertinya ada seseorang yang telah menghancurkan markas itu dalam semalam."
Nayan memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa pahit. "Begitukah? Mereka pasti sangat hebat bisa menghancurkan tempat sekuat itu."
"Mereka mungkin hanya menjalankan perintah ." sahut Cakra pelan, lalu beralih menatap Nayan dengan perhatian. "Kau melamun cukup lama. Apa kau memikirkan sesuatu? Wajahmu tampak pucat, Nayan."
"Hanya... sedikit pusing karena perjalanan jauh Cakra.." dusta Nayan sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya.
Cakra meraih tangan Nayan, menggenggamnya dengan hangat. "Jangan terlalu banyak berpikir. Setelah melewati bukit ini, jalanan akan lebih rata. Kita akan segera sampai di istana Nayan ."
Nayan mengangguk, namun hatinya terasa berat. Ia menatap tangan Cakra yang menggenggamnya . Tangan yang begitu hangat penuh dengan cinta , namun dia tak pernah tau jika tangan itu adalah tangan yang sama yang dulu pernah mengayunkan senjata tanpa ragu padanya .
" Kakak ! Paman Riu bilang dia menemukan buah hutan yang manis!" teriak Ana dari arah perkemahan sementara mereka, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti.
Nayan menarik napas panjang, mencoba menetralisir suasana . Ia memaksakan senyum tipis, lalu berbalik meninggalkan Cakra .
"Aku akan menemani Ana dulu..." pamit Nayan pelan.
Cakra hanya mengangguk tanpa menoleh. Begitu Nayan menjauh dan bergabung dengan Ana yang sedang asyik memetik bunga liar, Riu berjalan mendekat. Langkah Riu yang biasanya santai kini terdengar lebih mantap. Ia berdiri di samping Cakra, ikut menatap ke arah utara yang dingin.
"Kau memikirkan hal yang sama denganku Pangeran?" tanya Riu, suaranya rendah, nyaris hilang tertiup angin agar tak terdengar oleh Nayan.
Cakra mengepalkan tangannya di atas pembatas tebing. Matanya menyipit tajam.
"Utara.." bisik Cakra dingin.
"Ingatanku selalu terseret kembali ke tanah tandus itu Riu. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakan getaran pedangku yang tinggal satu inci lagi dari leher Sedra."
Riu terdiam, rahangnya ikut mengeras. Ia tahu persis momen yang dimaksud Cakra. Malam pembantaian yang gagal dituntaskan.
"Sedikit lagi Riu. Hanya tinggal satu ayunan, dan monster itu pasti sudah membusuk di dalam tanah ! " lanjut Cakra dengan nada penuh penyesalan yang mendalam.
"Tapi orang berjubah itu... dia muncul seperti iblis dari kegelapan. Dia menyambar Sedra tepat sebelum pedangku merenggut nyawanya."
"Dia licin seperti belut Pangeran ." sahut Riu getir. "Kita kehilangan jejaknya dalam kabut malam itu. Wanita gila itu bahkan tidak mampu melawanmu oleh sebab itu dia kabur . Cec benar benar memalukan ! "
Cakra membuang napas kasar, tatapannya berkilat penuh dendam yang tertahan. "Hingga detik ini, aku masih bisa merasakan sensasi haus darah dari pedangku saat itu. Kegagalanku hari itu adalah kutukan yang terus menghantuiku. Selama Sedra masih bernapas di luar sana, aku tidak akan pernah merasa tenang."
Riu menepuk bahu Cakra pelan, mencoba menenangkan tuannya. "Kita akan menemukannya lagi. Kali ini, tidak akan ada bayangan yang bisa menyelamatkannya."
Cakra menoleh, menatap ke arah Nayan yang sedang tertawa kecil bersama Ana di kejauhan. Wajahnya yang tadi dingin perlahan melembut, seolah kontras antara maut yang ia buru dan kebahagiaan yang ia miliki sekarang sangatlah nyata.
"Kuharap begitu Riu !" ujar Cakra sambil menghela napas.
"Karena dunia ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh monster seperti dia. Ayo, simpan pedangmu. Jangan sampai Nayan curiga kita sedang membicarakan kematian di hari yang tenang ini."
Riu nyengir, kembali ke mode konyolnya. "Siap Pangeran! Lagi pula bicara soal kematian membuatku jadi lapar . " Riu menatap buah hutan yang ada di keranjang di samping Ana .
Bersambung...
🍍🍍🍍🍍