NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Tamu Tak Diundang

"Tuan, nyonya, di luar ada tamu," celetuk Siti, pembantu baru yang bekerja di kediaman Hermawan.

Suara Siti menggelegar. Widya yang tengah  berkutat di dapur langsung mencuci tangannya dan keluar.

"Tamu? Siapa?"

Hermawan yang tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi dan majalah di pangkuannya hanya diam menoleh pada istrinya.

"Apa Papa ada janji sama seseorang?" tanya Widya.

Widya tidak merasa memiliki janji dengan siapapun. Ia berpikir suaminya yang sudah memiliki janji dengan seseorang tanpa memberitahunya terlebih dulu.

Hermawan menggeleng. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya. "Aku tidak ada janji sama siapapun. Coba aku lihat dulu. Dia cowok apa cewek Siti?" tanya Hermawan menoleh pada pembantunya yang berdiri agak jauh dengan memegang kemoceng.

"Dia seorang cowok. Masih muda, Tuan," jawab Siti.

"Cowok? Masih muda?" Widya  dan Hermawan menautkan alisnya. "Atau jangan-jangan temannya Nina?" Mereka berpikir itu temannya Nina. Cukup berani juga Nina menyuruh teman cowoknya bermain ke rumah.

Karena rasa penasarannya mereka memutuskan untuk keluar, memastikan siapa yang tengah berkunjung ke rumahnya.

Setibanya di depan pintu Hermawan terkejut melihat seorang laki-laki muda yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri yang sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri ikut bersama ibu kandungnya. Senyumnya langsung mengembang, tak disangka-sangka anak kecil yang dulu selalu bermanja-manja kini sudah tumbuh dewasa dan kembali mengunjunginya.

"Narendra! Ini beneran kamu Rendra?"

Pria itu mengulas senyum dengan mengangguk hormat. "Iya pa, ini aku Rendra," jawab pria itu sopan.

"Oh ya ampun, jadi kamu datang buat jenguk Papa nak? Papa pikir kamu nggak ingat sama Papa dan nggak bakalan pulang ke sini."

Hermawan terharu dan langsung memeluk anak laki-lakinya. Dia menangis sembari merangkulnya.

"Tentu saja aku selalu ingat sama Papa. Hanya saja aku masih harus menyelesaikan kuliahku, jadi aku nggak  bisa berkunjung ke sini. Sekarang aku sudah lulus kuliah. Aku datang ke sini untuk menjenguk Papa," jawabnya dengan tersenyum menunjukkan lesung pipinya, sangat manis.

Hermawan melepaskan pelukannya dan menatap dalam-dalam wajah putranya.

"Benarkah?  Kalau  begitu tinggalah di sini bersama kami. Kita kelola bisnis bersama,"bujuk Hermawan.

Pria itu mengedikkan bahunya. "Kalau soal itu aku nggak bisa janji Pa, kita lihat saja nanti," bantahnya."

Hermawan berharap di usianya yang tidak lagi muda ada yang membantunya mengelola bisnisnya. Hanya Narendra harapan satu-satunya yang ia miliki, namun ia juga tidak bisa memaksanya untuk tetap bertahan bersamanya.

Di situ Widya diam saja, bukannya dia tidak suka dengan kedatangan anak dari suaminya, tapi dia masih terasa asing, apalagi  ini pertama kalinya bertemu. Dia hanya khawatir kehadiran pria itu membuatnya tak nyaman.

"Oh ya Rendra, perkenalkan ini istri Papa. Papa udah pernah cerita sama kamu mengenai pernikahan Papa. Bersikaplah baik terhadap istri Papa. Anggap saja dia seperti ibu kamu sendiri."

Rendra mengedarkan pandangannya ke arah Widya yang berdiri di belakang Ayahnya. Dia mengangguk hormat dan langsung menyalami Widya.

"Halo Tante, salam kenal ya? Aku Narendra, anak bungsu dari Papa."

"Halo Rendra, aku Widya, senang bertemu denganmu."

Sedikit ada rasa lega setelah mendapatkan sapaan dari anak sambungannya, ia berharap Narendra tidak hanya baik ketika ada di depan suaminya saja.

Mendengar Rendra memanggil Widya dengan sebutan Tante, Hermawan langsung memberikan teguran padanya. Ia ingin membina keluarga bahagia, tidak ada kata ibu tiri ataupun ayah tiri. Narendra maupun Nina harus bisa terbiasa dan menerima dirinya sebagai orang tua kandung mereka, meskipun pada kenyataannya mereka tidak memiliki keterikatan kekeluargaan.

"Rendra, di sini Papa mau nyaranin sama kamu, tolong kamu panggil istri Papa dengan sebutan Mama, jangan Tante. Dengan kamu memanggilnya Tante kurasa kurang sopan. Biasakan dirimu untuk menganggapnya sebagai ibumu, meskipun kau tidak terlahir dari rahimnya."

Rendra mengangguk. Setidaknya ia harus membuat hati ayahnya lega, meskipun ia belum begitu mengenal sosok dari ibu tirinya.

"Baiklah..., aku mengerti. Aku minta maaf ya Tante..., eh...., Mama Widya."

Widya tersenyum dan memberikan teguran dengan  mencubit suaminya. "Tidak perlu dipaksakan Pa, semua itu ada waktunya. Biarkan Rendra sendiri yang menentukan akan memanggil aku dengan sambutan Tante atau bahkan mama. Lagi pula Rendra baru mengenaliku, takutnya nanti dia kecewa memiliki ibu seperti aku. Tentunya aku memiliki banyak ketidaksamaan dengan ibu kandungnya. Aku tidak ingin kehadirannya di sini tidak nyaman karena sikap Papa yang terlalu mengusiknya."

"Ah tidak-tidak! Kurasa Papa nggak salah telah menegurku. Maaf..., mungkin memang ini jalan takdir yang harus membuatku memiliki dua ibu. Semoga Mama Widya tidak keberatan selama aku berada di sini."

"Ya, tentu saja Mama sangat senang dengan kehadiranmu di sini Rendra. Mungkin dengan kehadiranmu Papa nggak akan kesepian. Kalau bisa tinggalah di sini buat bantu Papa mengelola perusahaan."

Setelah cukup lama berbasa-basi, Hermawan mengajaknya masuk. Kedatangan Narendra yang mendadak membuat Widya kalang kabut untuk memberinya sambutan. Ia bahkan tidak memiliki banyak makanan untuk  dihidangkan.

"Rendra, istirahat dulu di sini, Mama akan siapkan kamar untukmu. Kamu sih.., datang mendadak, coba kalau sebelumnya menghubungi kami, pasti kami akan siapkan kamar untukmu."

"Kalau menghubungi dulu namanya bukan kejutan ma," jawab Rendra. "Mama nggak perlu panik, aku bisa tunggu di sini."

"Yaudah, kalau gitu Mama ke atas dulu mau nyiapin kamar untukmu."

Widya bergegas pergi meninggalkan suami dan anak sambungnya di ruang tamu. Ia masih tak menyangka akan seakrab itu dengan anak sambungnya.

Tidak selang waktu lama, Widya kembali menemuinya. Dia melihat wajah lelah anak sambungnya yang tengah duduk bersandarkan sofa.

"Rendra, Mama sudah siapkan kamar untukmu. Ayo Mama akan antarkan kamu untuk istirahat. Setelah ini mama akan buatkan makanan untukmu. Kalau boleh tahu makanan apa yang kau sukai?" tanya Widya berusaha mengambil hati anak sambungnya agar terlihat lebih akrab.

Rendra bisa melihat sikap  Widya yang begitu baik padanya. Ia yakin wanita itu memang memiliki sisi baik dan tak ada niatan buruk terhadapnya.

"Terima kasih banyak sebelumnya ma, tapi aku menyukai semua makanan. Hanya saja aku tidak suka sama udang karena alergi. Untuk makanan yang lainnya aku bisa menerimanya," jawab Rendra.

"Syukurlah kalau begitu. Soalnya mama itu suka sama semua makanan. Tapi kalau udang, Mama nggak pernah memasaknya, karena ada yang alergi udang di sini," jawab Widya.

Rendra, Hermawan dan juga Widya menuju ke sebuah kamar kosong yang biasanya digunakan untuk kamar tamu. Kini kamar itu akan menjadi kamar anak laki-laki mereka.

"Di sini ada dua kamar kosong, Kamu bisa menggunakannya. Tenang saja, semuanya sudah mama bersihkan," celetuk Widya.

Widya dan juga Hermawan menunjukkan dua kamar kosong yang bersebelahan, berdekatan dengan kamar anak perempuannya. Di situ Rendra tidak mempermasalahkan kamar mana yang harus ditempati, asalkan nyaman untuknya.

"Memangnya diantara dua kamar ini apa bedanya?" tanya Rendra.

"Tidak ada bedanya, hanya saja kamu bebas untuk memilih. Kalau di sebelah itu kamarnya Nina, anak kandungnya Mama," jawab Widya dengan menunjukkan sebuah kamar dengan pintu bercat kuning.

Tatapan pemuda itu beralih kepada sebuah kamar yang ditunjukkan oleh ibu sambungnya. "Berarti aku di sini punya saudara?"

Hermawan dan juga Widya mengangguk. "Iya, di sini ada saudara perempuanmu yang masih kuliah. Kamu harus bersikap baik padanya. Anggap dia seperti adik kandung kamu sendiri, jangan menganggapnya sebagai adik tiri. Di sini tidak ada istilah saudara tiri ataupun orang tua tiri. Apa bisa dimengerti?"

Rendra mengangguk dengan mengulas senyumnya. "Iya, aku mengerti. Baiklah kalau begitu aku istirahat dulu."

Sebelum meninggalkannya, Hermawan kembali memberikan nasehat pada putranya mengenai kamar yang akan dihuninya.  "Kalau kamu merasa kamarnya kurang nyaman, kamu bisa merubahnya sesuai dengan keinginan kamu, asalkan jangan berlebihan. Di sini kamarnya selalu rapi, jangan dibiasakan untuk bermalas-malasan untuk membersihkannya."

"Hmm oke, nasehat bisa kuterima!"

"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sekarang. Biar mama masakin kamu. Kita nanti bertemu di meja makan.

"Oke siap."

Narendra langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Widya dan juga Hermawan bergegas meninggalkannya.

Di dalam kamarnya, Rendra merebahkan diri di kasur. Ingatannya kembali terlintas pada kejadian di hotel, saat itu ia tidak terlalu mabuk, bahkan masih sadar saat meniduri seorang gadis yang dalam kondisi mabuk berat.

"Cewek yang tadi malam itu tinggal di mana ya? Kenapa aku jadi keingat terus sama dia? Atau mungkin dia sudah terbiasa bercinta dengan cowok, bangun tidur langsung pergi gitu aja. Tapi yang aku lihat dia masih perawan, tapi kenapa dia tidak menyalahkanku atau meminta pertanggungjawabanku?"

Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Sebelum meninggalkan hotel, dia sempat menemukan anting di bawah bantal. Ia yakin anting itu milik gadis yang semalaman ditidurinya. Mungkin gadis itu tidak sadar saat kehilangan satu antingnya.

"Kurasa anting ini bisa membawaku untuk bisa bertemu lagi dengannya. Jadi penasaran sama itu cewek," gumamnya dengan senyuman smirk.

Rendra beranjak dari tempat tidur, ia masih belum bisa beristirahat dengan baik, mungkin ini pertama kalinya tinggal di tempat baru, dan belum membuatnya terbiasa.

Ia meraih jaket dan keluar dari pintu kamarnya, tapi saat berada di depan pintu, ia melihat ada sosok gadis yang juga tengah keluar dari pintu kamarnya, namun gadis itu agak menunduk dengan menerima telepon dari seseorang.

Tatapan Rendra terpaku pada gadis itu hingga tak sadar ia tersenyum kagum. "Cantik!"

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!