NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema masa lalu yang pahit dan masa depan yang dekat.

​Sore ini, rombongan kami bersiap berangkat ke vila pinggiran kota itu. Nenek Elia sudah berangkat lebih dulu bersama perawat dan perlengkapan medis untuk memastikan Nenek Rain tetap stabil di sana.

Martin, sang sutradara utama, sudah berada di lokasi sejak subuh tadi, mengatur setiap inci bunga dan pencahayaan agar sesuai dengan visinya yang "mahal".

​Di dalam mobil menuju vila, aku menatap keluar jendela. Bayangan rupa-rupa pernikahan yang pernah kulihat di masa depan melintas. Pernikahan mewah di hotel berbintang yang terasa kosong, atau pernikahan sederhana di kantor urusan agama yang terasa terburu-buru.

​Namun besok, aku akan melangkah ke sebuah taman yang indah, bukan untuk menyerahkan hidupku pada seorang pria, melainkan untuk berdiri sejajar dengannya. Sebuah pernikahan yang lahir dari sebuah kesepakatan, diperkuat oleh materai notaris, dan diberkati oleh ketulusan sebuah keluarga yang mencintai kami tanpa syarat.

Di balik ketenangan yang berusaha kubangun, ternyata ada badai birokrasi keluarga yang sedang diredam oleh Nenek Elia. Aku baru tahu dari bisik-bisik Cinta bahwa ibu dan ayah Rain sudah mendarat sejak kemarin—lengkap dengan keluarga baru mereka masing-masing.

Bayangkan, dua kubu masa lalu Rain hadir di satu kota yang sama untuk pernikahan dadakan ini, dan aku bahkan belum mencium aroma parfum mereka.

​Ternyata, Nenek Elia adalah "benteng" yang sesungguhnya. Beliau dengan tegas melarang mereka menemuiku terlebih dahulu.

​"Jangan ganggu mental menantuku dengan drama kalian. Duduk manis saja di kursi penonton, biarkan anak-anak ini menjalankan rencana mereka. Percayakan pada Rain," kurang lebih begitu titah Nenek Elia yang kudengar.

​Aku tidak menyangka Nenek Elia bisa sesangar itu. Beliau benar-benar menjalankan amanah Nenek kandung Ane untuk menjadi tameng pelindung. Di satu sisi aku bersyukur; aku tidak perlu menghadapi "mentalis mertua".

​Sore ini, aku hanya menikmati kesendirianku di dalam salah satu paviliun vila yang menghadap langsung ke taman. Dari balik jendela kaca yang besar, aku bisa melihat Martin yang sedang sibuk luar biasa. Ia terlihat seperti konduktor orkestra di tengah hamparan bunga liar dan lampu-lampu gantung yang mulai dipasang.

​Sesekali, aku membuka jendela dan berteriak kecil memberikan instruksi—atau lebih tepatnya, interupsi.

​"Martin! Jangan taruh vas bunga itu di tengah jalan setapak! Aku tidak mau tersandung kain gaun sendiri saat jalan ke meja akad!" seruku.

Martin menoleh, pinggangnya berkacak telapak tangan sambil memegang setangkai mawar putih. "Ayyara! Masuk kembali ke dalam! Kamu itu sedang dipingit, bukan mandor proyek! Percayakan pada seleraku, ini akan jadi pernikahan paling estetik di dekade ini!"

​Aku terkekeh, lalu menutup jendela kembali.

​Aku kembali duduk di tepi ranjang yang berseprai putih bersih. Di dunia masa depanku, aku mungkin sedang sibuk dengan deadline kantor atau terjebak macet di Jakarta. Namun di sini, di lini masa ini, aku sedang menunggu pagi di mana statusku akan berubah secara hukum.

​Aku merenung tentang Rain. Di sana, di bagian lain vila ini, apakah ia juga sedang ditekan oleh kehadiran orang tuanya yang tiba-tiba? Ataukah Kakek Andrew berhasil menjaganya dari serangan nostalgia masa lalu yang menyakitkan?

​Pernikahan ini benar-benar gila.

Tanpa pacaran, tanpa janji romantis, dipenuhi dengan draf legal, dan dilindungi oleh nenek hebat yang lebih progresif dari anak-anak muda. Aku merebahkan tubuhku, menatap langit-langit paviliun yang tinggi. Besok pagi, taman itu akan menjadi saksi bahwa dua jiwa yang "tua" telah menemukan cara paling masuk akal untuk menua bersama.

​"Apapun yang terjadi besok, aku sudah siap. Dengan draf di tangan dan keberanian di hati, aku akan melangkah ke taman itu bukan sebagai pengantin yang rapuh, melainkan sebagai partner yang setara."Batinku menenangkan diri.

Pagi ini, saat embun masih memeluk kelopak mawar di taman vila, Cinta menyelinap ke kamarku dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Ia membisikkan sebuah rahasia yang baru saja ia curi dengar dari balik pintu ruang rias Nenek Elia.

​"Kak," bisiknya tertahan, matanya membelalak. "Nenek Elia... dia benar-benar 'singa'. Aku dengar dia dengan orang tua Kak Rain."

​Aku menghentikan gerakan jemariku yang sedang merapikan anak rambut. "Apa yang dia katakan?"

​Cinta menelan ludah, suaranya gemetar karena kagum sekaligus ngeri. "Nenek mengingatkan mereka tentang perjanjian resmi yang pernah mereka tandatangani dulu. Dia bilang, setelah Kak Rain menikah siang ini, tidak boleh ada satu pun dari mereka yang berani menyusahkan Kak Rain maupun Kakak.

Dilarang minta uang, dilarang masuk ke rumah Kak Rain tanpa izin, dan dilarang melanggar poin-poin yang sudah tertulis."

​Aku tertegun. Ternyata draf notarisku kemarin bukanlah satu-satunya "perisai" hukum yang ada di hidup Rain.

​"Nenek bahkan bilang begini, Kak," lanjut Cinta, menirukan nada bicara Nenek Elia yang tajam. "Toh, dulu itu peraturan yang kalian sendiri yang buat untuk Rain saat dia memilih jalan hidupnya sendiri. Jadi sekarang, terima saja konsekuensinya!"

​Informasi itu menghantamku lebih keras dari dugaan.

Aku teringat cerita Rain tentang ayahnya yang menolak membiayai pendidikannya hanya karena Rain tidak mau mengikuti ambisi sang ayah dan memilih jalannya sendiri.

Ternyata, kebebasan yang Rain miliki sekarang dibeli dengan kontrak dingin yang dibuat oleh orang tuanya sendiri bertahun-tahun lalu.

​Nenek Elia tidak sedang bernegosiasi; beliau sedang menagih utang moral dan legal yang pernah mereka buat. Beliau menggunakan "senjata" yang sama yang pernah mereka gunakan untuk membuang Rain, demi melindungi pernikahan kami siang nanti.

--

Langkah kakiku terasa ringan namun pasti saat keluar dari paviliun. Angin pegunungan yang sejuk menyapu permukaan kebaya brokat putihku, membawa aroma melati yang kental dari dekorasi taman. Di depanku, jalan setapak yang ditaburi kelopak mawar liar.

membentang menuju sebuah meja kayu sederhana di bawah pohon beringin besar yang rindang.

Di sana, Rain berdiri.

​Ia mengenakan beskap senada yang membuatnya tampak gagah namun asing. Tubuhnya tegak, kaku seperti prajurit yang bersiap menghadapi medan tempur.

Namun, saat ia berbalik dan mata kami bertemu, aku melihat sesuatu yang meluruh di balik tatapan tajamnya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur, seolah melihatku adalah satu-satunya hal yang masuk akal di tengah kerumunan orang asing yang mengaku sebagai keluarganya.

​Aku melirik ke barisan kursi belakang. Di sana, ayah dan ibu Rain duduk dengan jarak yang lebar, masing-masing dengan keluarga baru mereka. Wajah mereka tampak canggung, tertunduk di bawah pengawasan tajam Nenek Elia yang kini duduk di barisan depan layaknya seorang ratu.

Mereka hadir, tapi mereka tidak memiliki kuasa. Map cokelat yang tadi diberikan Nenek Elia terasa seperti berat yang manis di dalam ingatanku—sebuah janji bahwa mulai hari ini, sejarah tidak akan berulang.

​Aku sampai di samping Rain. Ia mengulurkan tangannya'bukan dengan ragu' tapi dengan kepastian yang tenang. Saat jemarinya yang hangat menyentuh tanganku, aku merasakan sebuah aliran energi yang berbeda. Ini bukan lagi soal kontrak. Ini adalah tentang dua jiwa yang sudah terlalu lama berjuang sendiri, kini sepakat untuk saling bersandar.

​"Kamu cantik, Ra," bisiknya lembut, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali aku. Suaranya yang rendah mengirimkan getaran hangat yang melunakkan logika dinginku sejenak.

​"Jangan biarkan mereka membuatmu takut," balasku pelan, menatap lurus ke matanya yang dalam. "Mulai hari ini, aku adalah rumahmu. Dan rumah kita punya aturan yang tidak bisa mereka tembus."

​Rain tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang pernah kulihat menghiasi wajahnya.

Ia menggenggam tanganku lebih erat saat kami duduk di depan penghulu

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!