NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Serangan dan Pembantaian Oleh Iblis

‎Cahaya matahari pagi mulai  muncul, Rin melangkah masuk dengan sangat pelan, hampir tak bersuara, agar tidak mengejutkan tuannya yang masih terlelap. Ia melihat Kurza masih berbaring dengan kain tipis yang semalam digunakannya setelah mandi. Wajah Vampir itu tampak lebih tenang saat tidur.

Beban Alabas seolah terangkat sejenak dalam lelapnya. Sebelum membangunkan Kurza, Rin menyiapkan jubah hitam kesukaan Tuannya. Ia membentangkan jubah itu, memastikan tidak ada lipatan yang kusut, dan meletakkan pelindung lengan. Baginya, menyiapkan baju atau jubah Kurza adalah sebuah ritual pengabdian—seolah ia sedang menyiapkan senjata untuk badai yang akan datang.

Setelah semuanya siap, Rin mendekat ke sisi tempat tidur. Ia ragu sejenak, menatap wajah pria yang selama ini menjadi pusat dunianya, sebelum akhirnya berbisik lirih. "Tuan Kurza... matahari sudah naik. Kota ini sudah mulai terjaga, dan mereka menunggu langkah kita selanjutnya. ‎Rin menyentuh bahu Kurza dengan sangat lembut, seakan takut memecahkan sisa ketenangan yang ada dalam tidurnya.

Kurza membuka mata, instingnya langsung tajam dalam hitungan detik. Ia bangkit tanpa suara, membiarkan Rin membantunya mengenakan jubah hitamnya. Suasana hening itu hanya diisi oleh suara gesekan kain dan kuli Kurza yang dikencangkan oleh jemari Rin yang terampil. Sambil merapikan kerah jubah Kurza, Rin bertanya dengan suara rendah yang penuh kepatuhan.

"Tuan, jubah sudah siap. Apakah kita akan langsung menuju Elfuss untuk menemui Kepala Suku, atau ada misi lain yang harus kita selesaikan di Alabas sebelum meninggalkan kota ini?" Tanya Rin, Kurza berdiri tegak, merasakan jubahnya kembali menyelimuti tubuh.

Ia menatap ke arah jendela, ke arah di mana ia semalam membantai para iblis penyamar. Matanya yang dingin seolah menembus dinding-dinding kota, tatapnya beralih. Kurza menatap Rin dengan sorot mata yang tak terbantah, "Kita langsung ke Elfuss," jawabnya pendek. Rin mengangguk mantap. Ia segera membuka Black Shadows di sudut kamar.

Kegelapan mulai nampak, di dinding sudut kamar. tanpa ragu mereka masuk ke dalam Black Shadows. Dalam sekejap, mereka kini melesat dalam kegelapan dimensi, menuju Elfuss.

Sementara Kurza dan Rin melintasi dimensi menuju Elfuss. Tidak lama setelah itu neraka justru pecah di dalam kuil tua atau tempat persembunyian Kurza berserta sisa - sisa pasukan yang masih setia kepada Raja Alabas.

Tempat persembunyian yang selama ini dianggap aman, mendadak berubah menjadi perangkap maut. Suara ledakan pintu besi bergema hebat—“BOOM!”—diikuti oleh jeritan yang menyayat. Tanpa peringatan, pasukan Zhit yang diisi oleh iblis - iblis merangsek masuk dengan brutal.

Jenderal Kel terperanjat, ia segera menghunus pedangnya yang besar. "Formasi bertahan!!" teriaknya, namun ia tahu situasinya sudah terlambat. Pembantaian itu terjadi begitu cepat dan kejam. Iblis - iblis itu tidak hanya membunuh; mereka mencabik-cabik siapa pun yang menghalangi jalan mereka.

Suara dentingan logam “CLANG!” tenggelam oleh suara daging yang tersabet dan robohnya pilar-pilar penyangga."Khianat! Ada mata - mata di antara kita!" raung salah satu prajurit setia Kel sebelum kepalanya dipenggal oleh kapak hitam pasukan Zhit.

Kel bertarung layaknya singa yang terkepung. Ia menebas dua iblis sekaligus dengan satu ayunan kuat—“SHLICE!”—namun jumlah musuh terus berdatangan seolah tak ada habisnya. Darah mengalir membanjiri lantai batu yang dingin.

Ruangan itu kini tinggal menunggu waktu menjadi pemakaman masal bagi para pasukan kel. Zhit sepertinya tidak ingin ada yang selamat. Ini bukan sekadar penyerangan, ini adalah pembersihan total untuk menghapus sisa-sisa perlawanan Raja Zion.

‎Kuil tua yang tadinya menjadi simbol harapan terakhir kini berubah menjadi jagal manusia. Udara dipenuhi bau anyir darah dan kepulan debu dari reruntuhan dinding yang dihantam pedang para iblis. “CLANG! SHRAAAK!” Pedang Kel beradu dengan cakar besi seorang iblis tinggi besar, menciptakan percikan api yang menerangi wajahnya yang bersimbah darah.

Di sekelilingnya, ia melihat para prajurit setianya tumbang satu per satu. "Aaaaaaaarrrhhh" Seorang prajurit muda di sampingnya baru saja mengeluarkan teriakan terakhirnya sebelum dadanya ditembus oleh tombak. "Jenderal! Mereka terlalu banyak! Kita terkepung!" teriak salah satu prajurit yang kini bertarung dengan satu tangan yang tersisa.

Kel melihat ke sekeliling dengan mata memerah. Hanya tinggal segelintir anak buahnya yang masih berdiri, sementara mayat iblis yang berhasil mereka robohkan hanya sedikit, teriakan kesakitan dan bunyi tulang yang patah—“CRUNCH”—bergema mengerikan di langit - langit kuil yang tinggi.

Ia menyadari dengan pahit: tidak akan ada kemenangan di sini. Kuil ini telah menjadi jebakan maut. Kel terdesak hingga ke dinding altar yang dingin. Tubuhnya dipenuhi luka sayatan, dan napasnya tersengal parah, kini tubuhnya tidak seperti dulu, fisikinya melemah mengikuti usianya sekarang.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengayunkan pedangnya secara membabi buta, namun seorang iblis dengan hantaman gada yang kuat membuat pedang Kel terlempar jauh—“CLANG!”Kel terjatuh berlutut, darah mengucur dari pelipisnya. Saat seorang iblis mengangkat pedang hitam untuk menghabisi nyawanya, sebuah suara dingin memerintahkan untuk berhenti.

"Tunggu. Biarkan dia melihat siapa yang mengirimnya ke liang lahat. "Langkah kaki terdengar mendekat di atas lantai batu yang bersimbah darah. Para iblis membukakan jalan, dari balik pintu, muncullah sosok yang sangat dikenal Kel, seseorang yang selama ini duduk di sampingnya saat menyusun rencana, seseorang yang memegang rahasia pergerakan mereka.

Kel mendongak, matanya melebar dalam keputusasaan yang lebih menyakitkan daripada luka fisiknya. "Kau...?" bisik Kel dengan suara parau. Sang pengkhianat itu tersenyum tipis, berdiri dengan tenang di tengah mayat - mayat prajurit yang setia.

Ia membungkuk sedikit di depan Kel, lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantung sang Jenderal tua itu berhenti berdetak sesaat. "Hanya orang bodoh yang mau melawan kekuatan ini." bisik penghianat itu.

Pria yang selama ini menjadi tangan kanan Kel dalam mengumpulkan kekuatan berdiri dengan angkuh, menanti imbalan yang dijanjikan Zhit. Namun, ia lupa satu hal: iblis tidak mengenal kata terima kasih.

Salah satu iblis melangkah maju dengan tawa parau yang mengerikan. "Hahahahahah." Tanpa aba - aba, tangan iblis yang besar dan bercakar tajam itu menyambar leher sang pengkhianat. "Kau pikir darah pengkhianat sepertimu punya nilai di mata Kami?" raung iblis itu.“CRACK—SHLICE!” Dalam satu gerakan tunggal, kepala sang pengkhianat terlepas dari bahunya bahkan sebelum rasa bangga di wajahnya menghilang. Tubuhnya ambruk, menjadi tontonan hina di depan mata Kel. "Kau datang meringkuk memohon agar diberikan kebebasan hidup, kini kau bebas. Hahahahahahah!" Sang iblis tertawa terpingkal-pingkal, menendang kepala itu seolah - olah hanya bola tak berguna.

Jenderal Kel, yang sudah tak berdaya, hanya bisa memejamkan mata dengan getir. Ia melihat kegagalan total dari semua rencana yang telah ia susun bersama Kurza. "Kematianmu akan menjadi simbol terahir kekuatan Zion." gumam iblis yang ada di depan Kel. Kel mendongak untuk terakhir kalinya, dalam hati menggumamkan doa singkat bagi keselamatan Putri Khiya dan keberhasilan Kurza. “Selesaikan ini, Tuan Kurza...” bisiknya dalam hati tepat sebelum kapak itu mengayun turun.

“THWACK!” Dunia Kel menjadi gelap seketika. Kuil tua itu kini benar - benar menjadi kuburan massal yang sunyi, menyisakan tumpukan mayat. Zhit mengira telah memenangkan babak ini dengan menghancurkan seluruh jaringan perlawanan di dalam kota Alabas.

‎Keheningan yang mematikan kini menguasai kuil tua di Alabas. Ratusan mayat prajurit setia tergeletak berserakan dalam kondisi yang mengerikan, tubuh - tubuh yang tak lagi utuh, dan lantai batu yang kini berubah menjadi kolam darah yang mulai membeku. Di tengah tumpukan itu, tubuh Jenderal Kel terbaring kaku tanpa kepala, kepalanya di tancapkan diatas tongkat, menjadi saksi bisu runtuhnya perlawanan dari dalam kota.

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!