Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9: CURHAT DI ANTARA SATE USUS DAN WEDANG JAHÉ (NERO POV)
"Udah, jangan kayak orang ilang gitu mukanya. Sini, ikut gue," ajak Ikdam sambil narik jaket gue keluar dari area masjid.
Gue dibawa ke sebuah angkringan di pinggir jalan desa yang remang-remang tapi rame bocah tongkrongan. Di spanduknya tertulis gede-gede: "ANGKRINGAN HALAL MAS IKDAM – NO JUDGE, JUST EAT."
Gue duduk di kursi kayu panjang, ngerasa agak canggung karena semua orang di sana pake sarung atau celana kain, sementara gue masih dengan gaya city boy gue. Ikdam langsung pesen dua gelas wedang jahe dan tumpukan sate-satean.
"Makan, Ro. Jangan gengsi. Ini nggak ada di Senopati," kata Ikdam sambil gigit sate telur puyuh.
Gue nyruput wedang jahenya. Hangat. "Mas... eh, Dam. Lo asik banget sih jadi orang. Gue pikir pamannya Ainun bakal tipe yang bawa parang kalau liat gue deket-deket masjid."
Ikdam ketawa ngakak sampe keselek jahe. "Dunia nggak sesempit itu, Bro. Islam yang gue pelajarin itu ngerangkul, bukan mukul. Apalagi ke tamu kayak lo. Tapi ya itu... kalau soal ponakan gue, gue emang harus extra protective."
Gue naruh gelas, natap arang yang masih nyala di tungku. "Jujur ya, Dam. Gue ngerasa aneh banget. Gue baru liat dia beberapa kali, tapi rasanya beda. Bukan kayak cewek-cewek yang biasanya gue temuin. Dia... tenang banget."
"Itu namanya inner beauty yang dibungkus ketaatan, Ro," sahut Ikdam santai. "Ainun itu dari kecil nggak pernah pacaran. Hidupnya cuma buat belajar, ngaji, sama bantu bibinya. Dia nggak ngerti dunia lo yang berisik itu."
"Gue tau. Tadi Oma juga udah kasih warning keras. Katanya gue jangan macem-macem karena kita beda... ya, beda server," kata gue sambil senyum kecut.
Ikdam diem bentar, terus dia natap gue lurus. "Gue tanya serius nih. Lo cuma penasaran karena dia cantik, atau lo emang ketarik sama dunianya?"
Gue diem cukup lama. "Gue nggak tau, Dam. Awalnya emang karena dia imut parah. Tapi pas denger dia ngaji tadi... gue ngerasa kecil banget. Gue ngerasa hidup gue selama ini tuh cuma sampah. Gue pengen deket sama dia, tapi gue sadar diri. Gue megang ini," gue narik sedikit kalung salib dari balik kaos gue, cuma buat nunjukin ke Ikdam.
Ikdam nggak kaget. Dia cuma ngangguk pelan. "Gue udah tahu. Oma lo sering cerita ke keluarga kami. Ro, dalam kamus gue, toleransi itu bukan berarti kita harus jadi sama. Tapi kalau lo tanya soal Ainun... jalannya emang bakal nanjak parah. Ainun nggak mungkin ninggalin prinsipnya, dan bokapnya nggak mungkin kasih ijin kalau jalurnya nggak searah."
"Buntu ya?" tanya gue lemes.
"Bukan buntu, cuma butuh keajaiban dari yang di Atas," Ikdam nepuk bahu gue kenceng. "Tapi satu hal yang harus lo tau, Ainun itu jarang banget blushing sampe kayak tadi pas lo masuk masjid. Biasanya dia cuek aja kalau ada cowok lewat. Tadi itu... interesting."
Gue auto nengok. "Maksud lo?"
"Maksud gue, kehadiran lo bikin bidadari desa itu sedikit kaget. Tapi jangan pede dulu! Bisa aja dia kaget karena liat gaya lo yang mirip villain di sinetron," canda Ikdam sambil ketawa lagi.
Malem itu, di bawah langit desa yang penuh bintang, gue curhat abis-abisan sama Ikdam. Tentang bokap gue yang keras, tentang balapan yang bikin gue hampir mati, dan tentang perasaan aneh gue ke Ainun. Gue ngerasa nemu temen baru, sekaligus sadar kalau perjuangan gue kali ini taruhannya bukan cuma piala, tapi keyakinan dan prinsip.
---------
Jatuh cinta memanglah manis,
sayang banget cowonya malah nonis~