NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Malamnya Kimi duduk di kasur dengan gelisah. Sebenarnya ancaman Bu Salma tadi tidak terlalu menakutkan. Memangnya kenapa kalau ia sampai dikeluarkan dari pelatihan?

Hanya saja Kimi belum siap berpisah dari Ruby. Dan kalaupun mereka bertukar nomor, belum tentu nanti bisa bertemu lagi di luar. Melihat sifat Ruby, sepertinya cewek itu tipe yang bisa menghilang tanpa pamit.

Yah, tapi bukan cuma soal itu sih. Kimi sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai betah di tempat ini. Menghabiskan waktu bersama dua belas peserta lain ternyata menyenangkan, meskipun hidup tanpa sinyal kadang bikin frustrasi.

"Langsung aku kasih ke Bu Salma atau ke Juli aja ya? Gimana kalau balikin lagi ke ruang rahasia?" gumamnya bingung. Matanya melirik anting yang tergeletak di atas meja ker ja.

"Mana yang paling aman?"

Ia ogah bertemu Bu Salma langsung, takut disindir macam-maCam.

Tok. Tok. Tok.

Kimi menoleh cepat, jantungnya nyaris copot. Ia sempat mengira itu Juli, tapi begitu pintu terbuka, ternyata Ruby. Wajah kimi langsung berubah masam.

Ruby mengernyit. Ekspresi apaan tuh? batinnya. Tapi ia cukup lega karena Kimi membiarkannya masuk.

"Mau apa?" tanya Kimi jutek.

" Sorry soal yang tadi. Mau cerita gak?"

Kimi mendengus. "Kenapa kamu mikir aku mau cerita?"

"Keliatan di jidat lo. Ada tulisan 'pengen cerita, tapi masih ngambek."

Kimi langsung mendelik. "Aku nggak ngambek."

Ruby terkekeh, lalu duduk di kursi kerja. "Buruan, mumpung gw lagi baik."

"Ogah. Nanti kamu cerita ke Anela. Kamu tuh dikit-dikit Anela. Apa-apa Anela," bibir Kimi mencibir kesal.

"Rahasia banget nih? Kalau rahasia, jangankan ke Nela, ke nyokap gw aja gak bakal bocor."

Kimi memicingkan mata, mencoba mencari celah buat nyinyir, tapi wajah Ruby terlalu serius buat diomelin.

Ia akhirnya menarik napas panjang. Tanpa basa-basi, ia pun menceritakan soal obrolan Bu Salma dan Juli. Ruby mendengarkan tanpa menyela, tapi soal ancaman Bu Salma itu lumayan mengganggunya.

"Oh, jadi ini soal uang rahasia itu, Lo udah cerita ke siapa aja?"

"Cuma ke kamu. Bilang ke Anela san, biar aku dikeluarin sekalian."

Ruby terkekeh sambil geleng-geleng. "Lo kalau ngambek lama banget ya."

"Dibilangin gak ngambek."

"Terus yang suka bawa-bawa Nela itu siapa? Gw atau lo?"

"kamu lah. Tiap detik nempel mulu. Jangan-jangan kalian kembar. Eh, lupa. Kan pacarnya.," sindir Kimi sambil melipat tangan.

Ruby manggut-manggut. Kok kayak bocil lagi cemburu ya? batinnya heran sendiri.

"Gw gak bakal cerita. Lagian dia mau ember ke siapa?"

Kimi memutar mata, tapi hatinya lumayan lega setelah curhat. Sampai suara ketukan pintu bikin jantungnya melompat lagi. Keduanya refleks menoleh, lalu saling pandang.

Ruby langsung waspada. Baru nongkrong sekali udah ketahuan aja, rutuknya dalam hati.

Kimi membuka pintu sedikit, lalu bernafas lega. Ternyata Juli. Yah, setidaknya yang ini masih 'netral'.

"Kim, gw mau ngomong," kata Juli pelan.

"Oh, iya. Masuk aja, Jul," jawab Kimi sambil bergeser.

Ruby bersandar santai, ikut lega. Tapi begitu Juli melangkah masuk, matanya langsung membulat.

"Loh, kok..." Tatapan Juli berpindah dari Ruby ke Kimi.

"Uby lagi main. Jangan diusir loh," kata Kimi cepat, seperti memberi peringatan.

Juli hanya mengangkat bahu, tapi dalam hati ia mencatat: harus dibahas nanti. Namun pandangannya tiba-tiba terhenti di meja kerja.

"Eh, itu anting kayak pernah liat deh," katanya pura pura kaget.

Ruby dengan santai mengambil anting itu dan menyerahkannya. Juli menerimanya, tapi pandangannya penuh curiga.

"Kenapa lo main kasih ke gw?"

"Gw gak niat ikut campur, tapi gw juga gak mau pura-pura bego, Jul," kata Ruby datar, tapi tegas.

Juli menegang. "Maksud lo apa?"

"Perjelas aja semua. Jangan cuma gara-gara hal sepele, Bu Salma sampai berani ngancem peserta."

Tatapan Juli langsung berubah tajam, sementara Kimi cuma bisa melongo.

Kenapa Uby malah ember?! batin Kimi kalang kabut.

"Tunggu. Maksud lo apa sih?"

Ruby menatap Juli lekat. "Tiga Minggu ini gw sering dengar ada yang keluar asrama malam-malam lewat pintu belakang. Gw gak asal nuduh, tapi warna rambut lo gak bisa disembunyiin, Jul. Lo mau jujur atau nggak, terserah. Tapi kalau lo biarin 'pacar' lo mainin Kimi cuma karena bosan, gw sendiri yang bakal bikin lo sama Bu Salma keluar dari sini."

Ruangan langsung hening.

Tatapan Juli goyah, antara panik dan pasrah. Ruby ternyata tahu terlalu banyak. Dan di saat itu Juli sadar, bohong pun percuma. Tadi ia memang sempat mendengar langkah seseorang mendekat ke ruang rahasia. Sekarang ia yakin, itu pasti salah satu dari dua orang ini.

Akhirnya ia mengusap wajahnya kasar. "Soal ini gak usah diperpanjang. Biar gw yang beresin."

Ruby menatapnya dingin. "Lo harus minta maaf sama Kimi. Aslinya dia gak sengaja nemuin tempat rahasia kalian."

Juli menoleh ke Kimi. Ada campuran malu dan rasa bersalah di matanya. "Sorry ya, kim. Bu Salma kadang suka seenaknya. Dia tuh tipe yang nekat kalau lagi bosen."

Kimi tersenyum kecil. "Aku gak apa-apa kok. Cuma aku gak mau keluar dari sini sekarang. Aku gak mau pisah sama Uby."

Juli melongo, lalu menoleh ke Ruby yang mengernyit heran. Tapi sekarang bukan waktu untuk membahas soal mereka berdua. Juli tahu ia harus mengatakan sesuatu pada Ruby.

Juli akhirnya menarik napas panjang. "Ru, sorry ya. Gw bener-bener gak enak. Tapi sumpah, gw baru kali îni suka sama cewek. Gw juga bingung harus gimana. Masih gak bisa nerima sepenuhnya, tapi gw juga gak bisa bohongin perasaan."

Ruby menggeleng pelan, "Gw gak peduli urusan lo, asal jangan nyenggol temen gw."

Kimi langsung nyengir, kakinya terasa ringan melangkah ke arah Ruby.

"Aku emang temen kamu kan, By," katanya sambil

menyenggol lengan Ruby.

Wajah Ruby langsung datar. "Terus aja diperjelas. Udah, jadi adek gw aja. Simpel."

"Hah? Adek?" Kimi melongo.

"Iya. Gw lahir Januari. Jadi tuaan gw lima tahun."

Kimi mendelik, "Lima tahun dari mana? Tahun lahir kita semua sama, By."

Ruby cuma terkekeh kecil, menikmati ekspresi bingung Kimi. Tapi detik berikutnya Kimi menyadari sesuatu.

Adik? Bukankah itu artinya Ruby masih menganggapnya bocah?

"Eh, bentar deh, By. Masa jadi adek. Ganti yang lain dong."

Ruby menaikkan alis dengan sisa tawa. "Maunya jadi apa?"

"Ya... apa kek,"

"Yang jelas ngomongnya."

Kimi baru mau menjawab, tapi langsung sadar Ruby

cuma mengerjainya dari tadi. Ia cepat-cepat buang muka, pipinya memanas sendiri.

"Bagus ya, Ru. Tuh bocah udah bener-bener, malah mau diajak sesat. Jangan jadi Salma kedua deh lo," celetuk Juli datar.

"Emang gw ngapain?" balas Ruby santai, lalu berdiri.

"Udah ah, gw cabut dulu"

Begitu pintu kamar tertutup, Kimi langsung nyungsep di samping Juli yang duduk di pinggir kasur.

"Kim, serius. Lo udah sejauh apa sama Ruby?" tanya Juli curiga.

Kimi mengangkat kepala sedikit, senyum jahilnya muncul. "Bibir aku sama Uby pernah nempel sebentar."

"KIMIIII!!!"

Teriakan Juli menggema sampai ke lorong asrama. Ruby yang mendengar dari kamarnya hanya terkekeh kecil. Ia tahu, di balik tembok ini Kimi pasti sedang bertingkah lagi. Tapi yang membuatnya heran justru dirinya sendiri.

Entah sejak kapan kehadiran Kimi terasa begitu.. nyaman.

**

Keesokan harinya, jantung Kimi nyaris copot saat melihat Bu Salma masuk kelas dengan anting yang terpasang di telinganya. Kapan Juli ngasihnya? pikir Kimi panik sendiri.

Tapi tidak ada yang berubah. Bu Salma tetap mengajar seperti biasa, bahkan sempat memberi tugas tentang "cara mengatasi kejenuhan saat bekerja."

Jawaban Kimi cuma satu: ya gak usah kerja. Simpel,

menenangkan, dan sesat.

Setelah pelajaran selesai, Kimi akhirnya bisa bernapas lega. Urusan Bu Salma beres, tapi masalah baru muncul. Anela.

Entah kenapa, sejak di kelas sampai di kantin, cewek itu sesekali meliriknya.

Jangan-jangan sekarang Anela sukanya sama aku, pikir kimi ngeri sendiri.

"Kim, tadi malam kamu ada denger suara gak?" tanya Desi tiba-tiba.

" Suara apa?" Kimi refleks menoleh.

" Suara langkah kaki. Terus kayak ada yang buka pintu belakang."

Kimi melongo. Matanya langsung melirik Juli yang tampak tenang mengunyah, atau mungkin pura-pura tenang.

"Aku gak denger apa-apa."

"Ya iyalah, lo tidur kayak kebo," timpal Apri. "Padahal Desi udah denger dari lama, cuma baru semalam Septi sama Nove ikut denger juga."

"Mungkin itu suara kucing," ujar Kimi sok yakin.

Semua langsung memutar mata bersamaan,

"Kim, sejak kapan ada kucing di tengah hutan?" tanya Okta sabar. "Terus gimana caranya dia buka pintu? Lo kira kucing siluman?"

"Kalian ada yang liat langsung gak?" Kimi mencoba memancing.

"Gak ada yang berani keluar," sahut Desi. "Nove katanya mager."

Kimi manggut-manggut, lalu melirik sekilas ke arah Ruby yang duduk di meja pojok. Sekilas saja, takut ketahuan kalau kelamaan.

"Aku udah lapor ke staf keamanan," lanjut Desi.

"Soalnya ini udah berapa kali. Aku takut kalau ternyata orang jahat,"

Kimi hampir reflek mendelik, tapi Juli mendahului. "Kalau orang jahat, harusnya udah ada kejadian macem-macem kan? Selama ini aman-aman aja tu," ujarnya santai.

"Iya, Jul. Tapi gimana kalau orang itu niatnya ngintip? Setelah yakin aman, baru deh dia macem-macem," timpal Marey serius.

"Tapi..." Kimi menatap mereka ragu, "Darimana orang jahat bisa. masuk? Pager segitu tinggi, kecuali dia jerapah,"

Mei mengernyit. "kok jerapah?"

"Kan lehernya panjang. Pasti dia lebih tinggi dari pager."

Janu yang dari tadi mendengar sampai mengusap wajah. "Kim, ini tuh badannya ikut masuk. Bukan kepalanya doang. Paham gak sih?"

Kimi terkekeh kecil, padahal dia cuma bercanda.

Agus mendengus geli. "Ada tiga kemungkinan, Kim. Satu, orang dalam. Dua, orang luar yang nemu celah. Tiga..." ia mencondongkan tubuh, suaranya menurun dramatis, "Itu bukan manusia,"

"Gus, gak pake horor juga aku udah takut loh ini," keluh Desi dengan wajah pucat.

Agus cuma cekikikan, tak ada yang menanggapi lebih lanjut.

Tapi mereka semua tidak tahu, sore di hari itu, di ruang staf sedang berlangsung rapat mendadak. Dan keputusan yang akan dibuat di sana bisa mengubah seluruh aturan asrama.

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!