NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam telah larut ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman rumah Pratama. Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas malam. Harsa mematikan mesin mobil dengan gerakan lelah, lalu menyandarkan kepalanya sejenak pada sandaran kursi. Hari itu terasa begitu panjang rapat yang bertubi-tubi, pekerjaan yang menumpuk, serta pikirannya yang masih dipenuhi berbagai kenangan dan tanggung jawab baru dalam hidupnya.

Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya keluar dari mobil. Langkahnya terasa berat saat memasuki rumah yang telah lama menjadi tempatnya kembali dari segala kesibukan. Namun, malam itu, ada perasaan berbeda yang sulit ia jelaskan.

Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Harsa menutup pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia kemudian berjalan melewati ruang keluarga yang temaram, berniat langsung menuju kamar di lantai atas untuk beristirahat.

Namun, ketika kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama, pandangannya tertuju pada sesuatu yang tidak biasa.

Dari arah dapur, terlihat cahaya lampu yang masih menyala.

Alis Harsa berkerut. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah tersebut dengan penuh tanda tanya.

“Apa mungkin pelayan lupa mematikan lampu?” gumamnya pelan.

Dengan rasa penasaran, Harsa mengubah arah langkahnya menuju dapur. Semakin dekat, aroma masakan rumahan yang lembut mulai tercium, membuatnya semakin heran. Ia melangkah dengan hati-hati hingga akhirnya tiba di ambang pintu dapur.

Apa yang ia lihat membuatnya terdiam.

Di sana, Arsyi tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang makan, kepalanya bersandar pada lengannya yang terlipat di atas meja. Di hadapannya, berbagai hidangan telah tersaji dengan rapi, meskipun sebagian besar sudah tidak lagi mengepul. Lampu dapur yang hangat menerangi wajahnya yang tampak lelah namun damai.

Harsa mematung sejenak.

Ia tidak menyangka bahwa seseorang masih menunggunya hingga selarut ini.

“Dia … menungguku?” bisiknya hampir tak terdengar.

Harsa berdiri beberapa saat, memperhatikan Arsyi yang masih terlelap. Ia kemudian dengan lembut menyentuh bahu wanita itu.

“Arsyi…” panggilnya pelan.

Arsyi sedikit menggeliat sebelum akhirnya membuka matanya. Ia tampak kebingungan selama beberapa detik, mencoba menyadari situasi di sekitarnya. Ketika pandangannya bertemu dengan Harsa, ia segera tersadar dan bangkit dari duduknya.

“Kak Harsa?” ucapnya dengan suara serak karena baru bangun tidur. “Kakak sudah pulang?”

Harsa mengangguk pelan. “Iya. Maaf, aku pulang sangat larut.”

Arsyi langsung berdiri dengan sedikit tergesa. “Tidak apa-apa. Saya … saya menyiapkan makan malam untuk Kak Harsa. Sebentar, saya hangatkan dulu.”

Ia segera meraih piring, namun Harsa dengan lembut menahan pergerakannya.

“Tidak perlu,” katanya pelan.

Arsyi menatapnya dengan bingung. “Tapi makanannya sudah dingin…”

Harsa menggeleng. “Aku bisa memakannya seperti ini. Yang ingin aku tanyakan … kenapa kamu menungguku? Bukankah para pelayan bisa menanganinya?”

Arsyi terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur, “Karena saya ingin menyambut suami saya ketika pulang.”

“Aku tidak tahu kamu akan menunggu selama ini,” ujar Harsa dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Arsyi memberikan senyum tipis. “Tidak apa-apa. Ini adalah makan malam pertama yang saya siapkan untuk Kak Harsa.”

Harsa menarik napas dalam-dalam, merasakan sesuatu yang perlahan meluluhkan dinding yang selama ini ia bangun di dalam hatinya.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Arsyi tampak sedikit terkejut mendengar ucapan tersebut, namun ia hanya mengangguk pelan. “Sama-sama.”

Harsa kemudian duduk di kursi ruang makan, sementara Arsyi dengan cekatan membantu menyiapkan piring dan sendok. Meski awalnya ia mengatakan tidak perlu menghangatkan makanan, Arsyi tetap memanaskannya sebentar agar lebih nyaman untuk disantap.

Suasana di antara mereka masih dipenuhi keheningan, namun kali ini terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

Saat Harsa mulai menyantap makanan, ia berkata pelan, “Masakannya enak.”

Ucapan itu membuat Arsyi tersenyum, meskipun hanya samar. “Saya senang Kak Harsa menyukainya.”

Harsa meletakkan sendoknya dengan perlahan, lalu mengusap bibirnya menggunakan serbet. Wajahnya kembali datar, seolah kehangatan yang sempat muncul beberapa saat sebelumnya telah menghilang.

“Terima kasih untuk makanannya,” ucapnya singkat.

Arsyi tersenyum tipis. “Sama-sama, Kak. Kalau Kak Harsa ingin sesuatu lagi, saya bisa—”

“Tidak perlu,” potong Harsa dengan nada tegas namun tetap tenang.

Arsyi terdiam, menatap pria itu dengan sedikit kebingungan.

Harsa kemudian berdiri dari kursinya dan menatap Arsyi dengan sorot mata yang sulit ditebak. Setelah menarik napas panjang, ia mulai berbicara dengan nada serius.

“Arsyi, mulai sekarang kamu tidak perlu menungguku pulang,” katanya.

Arsyi mengernyit pelan. “Maksud Kak Harsa?”

“Aku akan meminta para pelayan untuk menyiapkan makananku,” lanjut Harsa. “Kamu juga tidak perlu memasak untukku. Fokus saja pada Melodi. Itu sudah lebih dari cukup.”

Kata-kata itu terasa seperti jarak yang kembali ditegaskan di antara mereka. Arsyi mencoba memahami maksudnya, namun hatinya tetap merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Saya tidak keberatan melakukannya, Kak,” jawab Arsyi dengan lembut. “Ini adalah tanggung jawab saya sebagai—”

Sekali lagi, Harsa memotong ucapannya.

“Aku tahu,” katanya pelan, namun kali ini dengan nada yang lebih dingin. “Tapi aku tidak ingin kamu berharap lebih dari pernikahan ini.” Ucapan itu membuat Arsyi terdiam sepenuhnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat.

Harsa melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih berat, seolah menyimpan beban yang lama terpendam.

“Pernikahan ini bukan keinginanku,” ujarnya jujur. “Aku melakukannya hanya karena wasiat Nadin dan demi Melodi.”

Arsyi menunduk, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai memenuhi dadanya. Ia sudah mengetahui kenyataan itu sejak awal, namun mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.

Namun, kata-kata Harsa belum berhenti sampai di sana.

“Dan jujur saja,” lanjutnya dengan suara yang semakin tegas, “sejak kamu masuk ke dalam hidupku, aku merasa hidupku menjadi lebih terbebani.”

Kalimat itu jatuh seperti palu yang menghantam hati Arsyi.

Matanya membesar, sementara napasnya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menjadi beban bagi siapa pun.

“Kak Harsa, saya—” Arsyi mencoba membantah dengan suara bergetar.

Namun, Harsa tidak memberinya kesempatan.

“Aku tidak ingin kamu salah paham,” katanya, menahan setiap emosi yang mungkin muncul. “Lakukan saja peranmu sebagai ibu untuk Melodi. Itu sudah cukup. Jangan berharap lebih dariku.”

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan.

Arsyi berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya untuk menahan getaran yang tak mampu ia sembunyikan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras untuk tidak membiarkannya jatuh.

Harsa memandangnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah meninggalkan dapur.

Suara langkah kakinya perlahan menjauh, diikuti oleh suara langkah menaiki tangga menuju lantai atas. Beberapa detik kemudian, hanya kesunyian yang tersisa.

Arsyi masih berdiri di samping meja makan, tubuhnya terasa lemas. Ketika ia akhirnya tak mampu lagi menahan emosinya, air mata yang sejak tadi ia bendung pun jatuh perlahan.

“Aku tidak berharap apa-apa…” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku hanya ingin menjalankan peranku dengan baik.”

Ia menunduk, memeluk dirinya sendiri seolah mencari kekuatan.

Meskipun hatinya terasa hancur, Arsyi menyadari bahwa jalan yang ia pilih sejak awal memang tidak mudah. Pernikahan ini bukanlah tentang cinta, melainkan tentang tanggung jawab dan pengorbanan.

Setelah beberapa saat, Arsyi bangkit perlahan. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia mulai membereskan meja makan seorang diri. Setiap gerakan dilakukan dengan pelan, seolah mencerminkan hatinya yang sedang rapuh.

Sebelum meninggalkan dapur, ia menatap sekeliling ruangan yang kini kembali sunyi.

“Aku akan tetap menepati janjiku,” gumamnya dengan tekad yang perlahan kembali menguat. “Menjadi ibu yang baik untuk Melodi … dan istri yang tidak akan menjadi beban bagimu.”

1
neny
syukurlah tdk terjadi apa2 sm harsa,,hanya pancingan dr ucapan mentari yg mengingatkan bahwa bersama dia urusan bs terselesaikan
neny: ehrina,,kok jd mentari sih,,lp aq kak,,maafkeun yaa🙏😂😂
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat up nya 💪🥰
Eva Karmita
jangan terlalu dingin Harsa kalau jadi orang ...jgn buat penyesalan mu semakin besar nanti kalau Arsy pergi 💔 ... tunggu aja tanggal mainnya Arsy bakal ninggalin kamu dan ngk akan pernah nungguin kamu pulang dan disitu lah hari " penyesalan mu tiba 😏😤
Fitra Sari
lanjut donk thorr doubel up 🙏🙏🙏😍
Aditya hp/ bunda Lia
ntar saat Arsy pergi kamu baru kehilangan biasa juga gitu ... dasar cowok gak ada otak
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
Valen Angelina
smua kerjaan Rina ini mah.... liat pak harsa gmn cara atasinya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!