Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam telah larut ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman rumah Pratama. Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas malam. Harsa mematikan mesin mobil dengan gerakan lelah, lalu menyandarkan kepalanya sejenak pada sandaran kursi. Hari itu terasa begitu panjang rapat yang bertubi-tubi, pekerjaan yang menumpuk, serta pikirannya yang masih dipenuhi berbagai kenangan dan tanggung jawab baru dalam hidupnya.
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya keluar dari mobil. Langkahnya terasa berat saat memasuki rumah yang telah lama menjadi tempatnya kembali dari segala kesibukan. Namun, malam itu, ada perasaan berbeda yang sulit ia jelaskan.
Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Harsa menutup pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia kemudian berjalan melewati ruang keluarga yang temaram, berniat langsung menuju kamar di lantai atas untuk beristirahat.
Namun, ketika kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama, pandangannya tertuju pada sesuatu yang tidak biasa.
Dari arah dapur, terlihat cahaya lampu yang masih menyala.
Alis Harsa berkerut. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah tersebut dengan penuh tanda tanya.
“Apa mungkin pelayan lupa mematikan lampu?” gumamnya pelan.
Dengan rasa penasaran, Harsa mengubah arah langkahnya menuju dapur. Semakin dekat, aroma masakan rumahan yang lembut mulai tercium, membuatnya semakin heran. Ia melangkah dengan hati-hati hingga akhirnya tiba di ambang pintu dapur.
Apa yang ia lihat membuatnya terdiam.
Di sana, Arsyi tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang makan, kepalanya bersandar pada lengannya yang terlipat di atas meja. Di hadapannya, berbagai hidangan telah tersaji dengan rapi, meskipun sebagian besar sudah tidak lagi mengepul. Lampu dapur yang hangat menerangi wajahnya yang tampak lelah namun damai.
Harsa mematung sejenak.
Ia tidak menyangka bahwa seseorang masih menunggunya hingga selarut ini.
“Dia … menungguku?” bisiknya hampir tak terdengar.
Harsa berdiri beberapa saat, memperhatikan Arsyi yang masih terlelap. Ia kemudian dengan lembut menyentuh bahu wanita itu.
“Arsyi…” panggilnya pelan.
Arsyi sedikit menggeliat sebelum akhirnya membuka matanya. Ia tampak kebingungan selama beberapa detik, mencoba menyadari situasi di sekitarnya. Ketika pandangannya bertemu dengan Harsa, ia segera tersadar dan bangkit dari duduknya.
“Kak Harsa?” ucapnya dengan suara serak karena baru bangun tidur. “Kakak sudah pulang?”
Harsa mengangguk pelan. “Iya. Maaf, aku pulang sangat larut.”
Arsyi langsung berdiri dengan sedikit tergesa. “Tidak apa-apa. Saya … saya menyiapkan makan malam untuk Kak Harsa. Sebentar, saya hangatkan dulu.”
Ia segera meraih piring, namun Harsa dengan lembut menahan pergerakannya.
“Tidak perlu,” katanya pelan.
Arsyi menatapnya dengan bingung. “Tapi makanannya sudah dingin…”
Harsa menggeleng. “Aku bisa memakannya seperti ini. Yang ingin aku tanyakan … kenapa kamu menungguku? Bukankah para pelayan bisa menanganinya?”
Arsyi terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur, “Karena saya ingin menyambut suami saya ketika pulang.”
“Aku tidak tahu kamu akan menunggu selama ini,” ujar Harsa dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Arsyi memberikan senyum tipis. “Tidak apa-apa. Ini adalah makan malam pertama yang saya siapkan untuk Kak Harsa.”
Harsa menarik napas dalam-dalam, merasakan sesuatu yang perlahan meluluhkan dinding yang selama ini ia bangun di dalam hatinya.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Arsyi tampak sedikit terkejut mendengar ucapan tersebut, namun ia hanya mengangguk pelan. “Sama-sama.”
Harsa kemudian duduk di kursi ruang makan, sementara Arsyi dengan cekatan membantu menyiapkan piring dan sendok. Meski awalnya ia mengatakan tidak perlu menghangatkan makanan, Arsyi tetap memanaskannya sebentar agar lebih nyaman untuk disantap.
Suasana di antara mereka masih dipenuhi keheningan, namun kali ini terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.
Saat Harsa mulai menyantap makanan, ia berkata pelan, “Masakannya enak.”
Ucapan itu membuat Arsyi tersenyum, meskipun hanya samar. “Saya senang Kak Harsa menyukainya.”
Harsa meletakkan sendoknya dengan perlahan, lalu mengusap bibirnya menggunakan serbet. Wajahnya kembali datar, seolah kehangatan yang sempat muncul beberapa saat sebelumnya telah menghilang.
“Terima kasih untuk makanannya,” ucapnya singkat.
Arsyi tersenyum tipis. “Sama-sama, Kak. Kalau Kak Harsa ingin sesuatu lagi, saya bisa—”
“Tidak perlu,” potong Harsa dengan nada tegas namun tetap tenang.
Arsyi terdiam, menatap pria itu dengan sedikit kebingungan.
Harsa kemudian berdiri dari kursinya dan menatap Arsyi dengan sorot mata yang sulit ditebak. Setelah menarik napas panjang, ia mulai berbicara dengan nada serius.
“Arsyi, mulai sekarang kamu tidak perlu menungguku pulang,” katanya.
Arsyi mengernyit pelan. “Maksud Kak Harsa?”
“Aku akan meminta para pelayan untuk menyiapkan makananku,” lanjut Harsa. “Kamu juga tidak perlu memasak untukku. Fokus saja pada Melodi. Itu sudah lebih dari cukup.”
Kata-kata itu terasa seperti jarak yang kembali ditegaskan di antara mereka. Arsyi mencoba memahami maksudnya, namun hatinya tetap merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Saya tidak keberatan melakukannya, Kak,” jawab Arsyi dengan lembut. “Ini adalah tanggung jawab saya sebagai—”
Sekali lagi, Harsa memotong ucapannya.
“Aku tahu,” katanya pelan, namun kali ini dengan nada yang lebih dingin. “Tapi aku tidak ingin kamu berharap lebih dari pernikahan ini.” Ucapan itu membuat Arsyi terdiam sepenuhnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat.
Harsa melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih berat, seolah menyimpan beban yang lama terpendam.
“Pernikahan ini bukan keinginanku,” ujarnya jujur. “Aku melakukannya hanya karena wasiat Nadin dan demi Melodi.”
Arsyi menunduk, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai memenuhi dadanya. Ia sudah mengetahui kenyataan itu sejak awal, namun mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.
Namun, kata-kata Harsa belum berhenti sampai di sana.
“Dan jujur saja,” lanjutnya dengan suara yang semakin tegas, “sejak kamu masuk ke dalam hidupku, aku merasa hidupku menjadi lebih terbebani.”
Kalimat itu jatuh seperti palu yang menghantam hati Arsyi.
Matanya membesar, sementara napasnya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menjadi beban bagi siapa pun.
“Kak Harsa, saya—” Arsyi mencoba membantah dengan suara bergetar.
Namun, Harsa tidak memberinya kesempatan.
“Aku tidak ingin kamu salah paham,” katanya, menahan setiap emosi yang mungkin muncul. “Lakukan saja peranmu sebagai ibu untuk Melodi. Itu sudah cukup. Jangan berharap lebih dariku.”
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan.
Arsyi berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat ujung bajunya untuk menahan getaran yang tak mampu ia sembunyikan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras untuk tidak membiarkannya jatuh.
Harsa memandangnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah meninggalkan dapur.
Suara langkah kakinya perlahan menjauh, diikuti oleh suara langkah menaiki tangga menuju lantai atas. Beberapa detik kemudian, hanya kesunyian yang tersisa.
Arsyi masih berdiri di samping meja makan, tubuhnya terasa lemas. Ketika ia akhirnya tak mampu lagi menahan emosinya, air mata yang sejak tadi ia bendung pun jatuh perlahan.
“Aku tidak berharap apa-apa…” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku hanya ingin menjalankan peranku dengan baik.”
Ia menunduk, memeluk dirinya sendiri seolah mencari kekuatan.
Meskipun hatinya terasa hancur, Arsyi menyadari bahwa jalan yang ia pilih sejak awal memang tidak mudah. Pernikahan ini bukanlah tentang cinta, melainkan tentang tanggung jawab dan pengorbanan.
Setelah beberapa saat, Arsyi bangkit perlahan. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia mulai membereskan meja makan seorang diri. Setiap gerakan dilakukan dengan pelan, seolah mencerminkan hatinya yang sedang rapuh.
Sebelum meninggalkan dapur, ia menatap sekeliling ruangan yang kini kembali sunyi.
“Aku akan tetap menepati janjiku,” gumamnya dengan tekad yang perlahan kembali menguat. “Menjadi ibu yang baik untuk Melodi … dan istri yang tidak akan menjadi beban bagimu.”
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂