NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Calon Istri?

Bunda dan Bi Inah tampak sedang menyiapkan banyak bahan adonan kue di dapur. Hanum yang sedari tadi hanya duduk diam di ruang tengah sambil menonton kartun dua bocah kembar botak yang tak besar-besar itu melirik mereka. Tak jauh di sebelahnya ada Devan yang juga sedang duduk sambil memainkan tabletnya.

"Bunda sama Bi Inah lagi ngapain?" tanya Hanum pada Devan.

"Katanya nanti sore mau ada pengajian di rumah," jawabnya.

Hal itu membuat Hanum jadi sedih karena tidak bisa membantu. Dia menatap kosong iklan di layar televisi.

"Ah ya.., Hanum, aku sudah meminta Bramasta untuk mengembalikan butik kamu kembali. Kamu tunggu saja, ok?" kata Devan sambil menunjukkan file surat di tabletnya.

Hanum tersenyum, "Terimakasih ya, Van."

"Aku mau ke dapur, Van," pinta Hanum lagi.

"Ngapain?"

"Pengen.., lihat Bunda sama Bi Inah," kata Hanum memelas.

Devan tak bisa menolaknya sebab dia tahu sedari tadi perempuan itu merasa gundah karena tidak bisa membantu di dapur. Dia pun membantu Hanum untuk pindah ke kursi rodanya. Pergi menuju dapur.

"Lah.., kok kamu bawa Hanum kesini, Van? Suruh dia istirahat dulu!" kata Bunda kaget melihat Hanum datang dengan kursi rodanya didorong oleh Devan.

"Hanum bilang mau di sini, Bun."

"Ya ampun, Nak. Bunda tahu kamu pengen bantu sebenernya, tapi kamu masih sakit jadi istirahat dulu ya?" Bunda meminta Hanum untuk dibawa kembali ke kamar.

Alhasil, Devan membawa nya ke kamar Hanum. "Aku masuk gapapa?" tanyanya meminta izin.

"Masuk saja, itu kan kamar adik kamu," kata Hanum.

Hanum pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tak peduli jika Devan sudah duduk di sebelahnya setelah menaruh segelas air dan obat di dekatnya. Terlihat pria itu sedang mengupas sebuah apel.

"Kamu mau makan itu?" Hanum menatap pria itu sejenak.

"İni buat kamu, kamu makan ya," dia pun mengiris apel itu menjadi potongan kecil dan menaruhnya di piring.

"Tapi aku gak selera, Van," ucap Hanum.

"Ya sudah biar aku suapin," Devan tak mempertimbangkan ucapannya.

"Biar aku aja kalo gitu," Hanum mengambil garpu dan menusukkannya pada salah satu potongan apel. Memakannya.

"Van.., adik perempuan kamu namanya siapa?" tanya Hanum memecah keheningan yang begitu canggung baginya.

Devan menaruh pisau, selesai urusannya dengan apel itu. "Adik aku namanya Hana."

"Aku pernah mimpi anak perempuan, Van. Dia suruh aku jaga kamu, kami main bareng sampai dia bilang mau pulang takut dimarahin ayahnya..," ujar Hanum melanjutkan.

"Barangkali itu Hana..," kata Devan pelan. "Dulu, dia memang suka diomelin papa kalau main terlalu lama. Tapi aku juga gak tahu pada akhirnya mereka berdua lah yang pergi mendahului kami..," terang Devan menatap sekilas Hanum lalu yang tampak masih pucat itu.

"Mending kamu istirahat dulu ya," kata Devan lagi.

"Aku masih pengen denger tentang adik kamu, Van. Gapapa kan?"

Devan akhirnya mengangguk. "Dia kecelakaan saat sedang pulang ke rumah. Waktu itu, Bunda sama Hana lagi nunggu taksi di dekat taman. Aku sendiri sedang outbond bareng teman-teman, eh, kamu juga ada waktu itu ya?"

Hanum mencoba mengingat kembali. "Aku.., outbond di Bogor ya? Aku gak ikut, Van. Gak bisa bayar biayanya makanya tetap di kos sambil bikin kue buat jualan," kata Hanum.

Devan tersenyum tipis. "Andai dulu aku maksa kamu buat ikut," ucapnya. Dulu, dia memang menyukai Hanum tetapi dia tidak berani untuk menyuarakan perasaannya.

"Ya begitulah, sekarang aku udah ikut kamu kok. Di rumah ini," Hanum tersenyum pada Devan.

Hati pria itu merasa lega, "Ya.., tapi sayangnya kecelakaan itu gak bisa dicegah. Bunda gak sadar waktu Hana bilang hendak ke supermarket untuk beli es krim karena sedang berbicara sama salah satu temannya. Hana menyeberangi jalan raya dan disitulah Hana ditabrak, Hanum. Bunda menyesal karena sudah lalai membiarkan dia pergi."

"Sebelum kami tiba di sini, Bunda kehilangan semangat hidupnya. Beberapa kali aku coba bawa psikiater ke rumah, tetapi Bunda tidak mau. Dia menolaknya. Sampai pada saat dimana Kamu datang, Bunda akhirnya mencoba menerima nya. Aku juga gak tahu kenapa, Hanum. Tapi itulah kenyataannya."

"Aku paham, Van. Makasih ya udah cerita." Hanum merasa pria itu tak perlu melanjutkannya lagi.

"Nanti sore aku pulang ke rumah. Ingat, kamu jangan banyak gerak dulu sampai kamu pulih."

Hanum tersenyum, "Iya, Van."

"Hati-hati di jalan ya," kata Hanum lagi. Dia merasa nyaman saat berada di dekat Devan. Pria itu balas tersenyum mengiyakannya.

Selang beberapa menit kemudian, Bi Inah masuk sambil membawa sepiring bubur ayam. "Neng, ini buburnya dimakan ya. Mau bibi suapin atau gimana?" tawar Bi Inah yang masih memegang nampan.

"Aku makan sendiri aja, Bi. Makasih ya."

Bi Inah meletakkan nampannya di sebelah Hanum. Dia pun duduk di dekatnya.

"Bunda masih di dapur, Bi?" tanya Hanum.

"Iya, Neng. Masih bikin beberapa kue lagi. Baru selesai bikin semprit sama bolu tadi," kata Bi Inah.

"Pasti capek ya, Bi.., maaf ya bi Hanum gak bisa bantu," kata Hanum sedih.

"Gapapa, Neng. Pokoknya Neng sehat dulu itu lebih utama. Ya sudah, Bibi mau ke dapur dulu ya," kata Bi Inah.

"Iya, Bi."

Setelah menghabiskan makanannya, meminum obat yang terasa pahit di lidahnya, Hanum memutuskan untuk membaca buku sejenak sekalian menetralkan apa yang baru saja dia makan tadi. Namun, tak sampai sepuluh menit, dia akhirnya tertidur karena kepalanya yang terasa berdenyut.

Hingga pukul empat sore, akhirnya Hanum terbangun. Menatap jam di ponselnya, betapa terkejutnya dia.

"Ya Allah, aku belum salat Zuhur!" ucapnya panik. Tanpa disadarinya kalau dia sendiri sedang halangan.

Belum pernah dia tidur selama ini. Hanum bangun dari tidurnya, memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi. Sambil memegangi dinding, selangkah demi selangkah dia berjalan untuk menjaga keseimbangannya.

Menjadi sakit memang bukan lah suatu yang menyenangkan. Terkadang kita mengingat nikmat kesehatan yang sudah banyak sekali diberikan oleh Tuhan ketika kita sedang sakit. Betapa berharganya nikmat kesehatan itu.

Saat dia menginjak keset lantai kamar mandi, dia hampir tergelincir sebelum sepasang tangan memeluknya erat.

"Kenapa kamu gak bilang-bilang dulu?!" ucap Devan panik. Dia baru saja masuk ke dalam kamar Hanum sepulang kerja sesuai ucapannya sebelum berangkat tadi.

Hanum merasakan kehangatan pada dirinya. Aroma parfum tea tree yang menguar dari jas Devan membuat aura maskulinnya kuat.

"M-maaf, Van. Aku mau cuci muka habis bangun," kata Hanum.

Devan tak menjawab. Dia membantu Hanum untuk berjalan ke dalam. "Hanum, maaf kalau aku lancang," tanpa menunggu jawaban Hanum, Devan langsung menggendong Hanum seperti anak bayi dan mendudukkannya di atas bathub.

Segera Devan mengisi air hangat di wadah, memegangnya agar Hanum bisa membasuh wajahnya dengan air tersebut.

"Panggilin Bi Inah aja, Van.., aku mau mandi," ucap Hanum.

Devan sadar, telinganya memerah. "Tunggu di sini," ucapnya.

Hingga akhirnya Hanum selesai dengan pakaian gamis dan hijab birunya, dia meminta untuk ikut pengajian di ruang tengah bersama para Ibu-ibu yang sudah berkumpul itu. Sementara Devan yang juga hadir tertegun saat melihat Hanum yang tiba dengan kursi rodanya di dorong Bi Inah. Masalahnya, paras cantiknya begitu menawan. Kulitnya yang putih dan mulus tampak bersinar seiring gamis dan hijab biru muda yang ia kenakan. Bagaikan bidadari dari surga saja.

"Masyaallah.., menantu nya cantik banget, Jeng," ucap salah satu Ibu-ibu pada Bunda.

"Lagi sakit ya, Ya Allah.., semoga cepat sembuh ya."

"Meuni cakep pisan, Teh!" (Cantik betul, Kak!)

Hanum tersipu malu. Dia duduk di sebelah Bunda yang mengkhawatirkannya. "Ya ampun, Hanum. Kalau masih sakit jangan dipaksakan dulu ya," ucap Bunda.

"Gapapa, Bun. Alhamdulillah Hanum merasa bisa kok," kata Hanum. Devan yang baru saja duduk di sebelah Bunda pun menatap sekilas ibu-ibu yang tampak membicarakan mereka.

"Aduh, sayang sekali ya, Mas Devan sudah ada yang punya," kata salah satu Ibu-ibu pada Bunda.

Bunda dan Hanum saling tatap. Dengan sigap, Devan memberitahu pada ibu-ibu itu, "Mohon perhatiannya ibu-ibu yang terhormat, ada kesalahpahaman yang harus saya luruskan. Hanum adalah calon istri saya, kurang lebih dua bulan lagi kami akan menikah. Tolong dimengerti, terimakasih."

Para Ibu-ibu itu saling mengangguk.

"Kamu serius, Van? Dua bulan lagi?" bisik Bunda pada Devan.

Devan menatap Hanum yang kini juga menatapnya.

"Iya, Bun. Dua bulan lagi. Insyaallah."

*Tinggalkan jejak komen/ like nya yaa best, biar rajin Up dan tau letak salahnya dimana

*Up tiap hari pukul 4-6 sore

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!