NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Lima Belas Tingkat Pedang Petir

Seminggu telah berlalu sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di tempat ini, dan kini Long Chen berdiri di tengah Hutan Bambu Ungu dengan aura yang jauh berbeda dari sebelumnya. Angin siang berdesir pelan di antara batang-batang bambu yang menjulang tinggi, membawa ketenangan yang justru menegaskan fokus di dalam dirinya.

Pedang berada di tangannya.

Genggamannya mantap.

Keringat menetes dari pelipisnya, namun kali ini bukan karena panik atau kelelahan semata, melainkan hasil dari latihan yang terus ia jalani tanpa henti.

Di hadapannya, sebatang bambu ungu berdiri kokoh, sama seperti sebelumnya, keras, diam, dan menantang.

Mo Fan berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengamati dengan tenang tanpa mengganggu fokus Long Chen. “Fokuskan qi-mu, seperti yang sudah kuajarkan sebelumnya,” ucapnya pelan namun jelas.

Long Chen menarik napas dalam, menenangkan pikirannya hingga hanya tersisa satu tujuan di benaknya. Aliran qi di dalam tubuhnya mulai terasa lebih jelas, tidak lagi kacau seperti sebelumnya, melainkan mengalir stabil mengikuti kendalinya.

Dalam satu gerakan, ia melompat ke udara.

Pedangnya terangkat tinggi.

Aura tipis mulai menyelimuti bilahnya, bergetar halus seiring aliran energi yang kini lebih terkendali.

“Haah!”

Tebasan itu turun dengan kecepatan dan ketepatan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Sreet—!!

Udara seolah terbelah.

Hening sesaat.

KRAK!

Batang bambu ungu itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang bersih, bagian atasnya bergeser sebelum jatuh perlahan ke tanah.

Mo Fan tersenyum lebar begitu melihat hasilnya, ekspresi puas terpancar jelas di wajahnya. Ia langsung melangkah maju mendekati Long Chen dengan semangat yang tidak disembunyikan. “Kau berhasil!” ucapnya.

Ia berhenti tepat di depan Long Chen, matanya penuh kebanggaan. “Junior Long Chen, kau benar-benar berhasil,” lanjutnya dengan nada hangat.

Tatapannya kemudian sedikit melembut, namun tetap serius. “Setelah seminggu latihan tanpa henti, akhirnya kau bisa memotong bambu ini,” katanya.

Ia menepuk bahu Long Chen dengan ringan. “Selamat.”

“Kau sudah bekerja sangat keras, dan tidak pernah menyerah,” lanjut Mo Fan dengan nada tulus, matanya masih memandang hasil tebasan itu.

Long Chen tersenyum kecil, napasnya masih berat setelah usaha yang ia keluarkan, namun ada cahaya kebanggaan di matanya yang tidak bisa disembunyikan. “Terima kasih, Senior. Ini semua juga berkatmu karena telah melatihku selama seminggu ini,” ucapnya dengan jujur.

Mo Fan menggeleng pelan, senyumnya tetap ada. “Aku hanya membimbing. Yang melakukannya tetap dirimu sendiri,” jawabnya santai.

Tak lama kemudian, langkah ringan terdengar di antara deretan bambu ungu. Ling Er muncul sambil membawa nampan berisi makanan, wajahnya cerah seperti biasa. “Hei, istirahat dulu latihannya, aku bawa makanan!” serunya dengan semangat.

Ia menghampiri mereka berdua, lalu meletakkan makanan di atas batu datar yang cukup lebar.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga duduk bersama di tengah hutan bambu ungu, menikmati hidangan sederhana yang masih hangat. Angin berhembus pelan, dedaunan bambu bergesekan lembut, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman.

Long Chen mengambil satu suapan, tubuhnya yang lelah perlahan terasa lebih ringan.

Di sampingnya, Ling Er berbicara ringan, sementara Mo Fan sesekali tersenyum melihat mereka.

Ling Er menatap Long Chen dengan rasa penasaran yang jelas terlihat di wajahnya. “Bagaimana latihan hari ini, Junior? Apakah berjalan lancar?” tanyanya penuh harap.

Namun sebelum Long Chen sempat menjawab, Mo Fan sudah lebih dulu berbicara dengan santai, nada suaranya ringan namun jelas mengandung kebanggaan. “Kau tahu? Dia sudah berhasil memotong bambu itu.”

Ling Er langsung membelalakkan mata, ekspresinya berubah dari penasaran menjadi terkejut. “Serius?!” ucapnya cepat.

Ia menoleh kembali ke Long Chen, matanya berbinar. “Wah, hebat sekali! Padahal aku butuh seminggu juga untuk bisa melakukannya!” katanya dengan antusias.

Tanpa sadar, Ling Er langsung memeluk Long Chen dengan erat, wajahnya penuh kegembiraan yang tidak bisa ia tahan. “Selamat, Junior! Kau berhasil memotong bambu keramat itu!” serunya dengan suara ceria.

Long Chen langsung terkejut, tubuhnya sedikit kaku karena tidak menyangka reaksi seperti itu. “Eh—tunggu—” katanya terbata, lalu menambahkan dengan sedikit kesulitan bernapas, “Maaf, Senior… bisa lepaskan dulu pelukannya? Aku agak sesak…”

Ling Er langsung tersadar.

Wajahnya seketika memerah, dan ia buru-buru melepaskan pelukannya. “Ma-maaf! Aku tidak sengaja…” ucapnya gugup. “Aku cuma terlalu semangat karena kau berhasil memotong bambu itu…”

Long Chen tersenyum kecil, tidak menunjukkan rasa terganggu. “Tidak apa-apa kok, Senior. Aku memakluminya. Memang tadi kau terlihat sangat bersemangat,” jawabnya santai.

Di samping mereka, Mo Fan hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, tidak berkata apa-apa.

Suasana terasa ringan.

Dan tawa kecil perlahan mengisi hutan bambu yang tenang itu.

Mo Fan lalu berdiri perlahan, ekspresinya kembali serius setelah suasana santai tadi. “Baik, sepertinya istirahatnya sudah cukup,” ucapnya tenang.

Ia menatap langsung ke arah Long Chen, sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya. “Sekarang kita lanjut latihanmu.”

Angin berhembus di antara bambu, membawa suasana kembali tegang.

“Karena kau sudah berhasil memotong bambu ungu itu,” lanjut Mo Fan, suaranya sedikit lebih dalam, “maka sekarang aku akan mulai mengajarkan teknik pedang khas Divisi Pedang Petir kepadamu.”

Long Chen langsung memusatkan perhatiannya sepenuhnya, tubuhnya tegap dan matanya tidak lepas dari Mo Fan.

Mo Fan melanjutkan dengan nada tenang namun jelas, memastikan setiap kata tertanam dengan baik. “Di Divisi Pedang Petir ini, terdapat lima belas tingkat teknik,” ujarnya.

Ia mengangkat satu jari. “Tingkat pertama adalah dasar, bisa dibilang yang paling lemah, namun justru menjadi fondasi dari semuanya.”

Kemudian tatapannya sedikit mengeras. “Sedangkan tingkat kelima belas… adalah yang terkuat.”

Angin berhembus pelan di sekitar mereka.

“Semakin tinggi tingkatnya, semakin sulit dikuasai, dan semakin besar kekuatan yang dibutuhkan,” lanjut Mo Fan. “Bukan hanya soal teknik, tapi juga kendali qi dan pemahamanmu terhadap pedang itu sendiri.”

Ling Er tiba-tiba menyela dengan wajah cerah, jelas tidak ingin ketinggalan. “Aku sudah sampai teknik tingkat tiga, loh!” katanya bangga, dadanya sedikit membusung.

Mo Fan meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum kembali serius. “Bahkan aku sendiri… baru sampai teknik tingkat delapan,” ujarnya jujur.

Ia menghela napas pelan, seolah mengingat perjalanan panjangnya. “Rata-rata teknik di Divisi Pedang Petir memang sangat sulit dikuasai. Bukan hanya butuh bakat, tapi juga waktu dan ketekunan.”

Tatapannya sedikit menajam saat ia melanjutkan, “Aku sendiri butuh bertahun-tahun hanya untuk mencapai tingkat itu.”

Latihan kembali dimulai di tengah hutan bambu ungu yang tenang, suara angin menjadi latar bagi setiap gerakan yang dilakukan. Mo Fan berdiri di depan, memperagakan dasar teknik dengan serius, mulai dari langkah kaki yang harus stabil, aliran qi yang harus terkontrol, hingga cara mengayunkan pedang tanpa membuang tenaga.

Long Chen mengikuti dengan sungguh-sungguh, setiap gerakan ia ulangi dengan fokus penuh, mencoba menyelaraskan tubuh, napas, dan qi seperti yang diajarkan.

Di sisi lain, Ling Er duduk di atas batu, dagunya bertumpu di tangan, namun pikirannya tidak benar-benar berada di latihan.

Wajahnya masih sedikit merah.

Ingatan tentang kejadian tadi terus terulang di benaknya.

“…Apa yang aku lakukan… kenapa aku tadi memeluknya tanpa sadar… itu memalukan sekali…” gumamnya dalam hati.

Ia perlahan menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan rasa malu yang belum juga hilang.

Waktu berlalu tanpa terasa, dan perlahan warna langit berubah menjadi jingga keemasan yang menyelimuti seluruh Hutan Bambu Ungu. Cahaya matahari sore menembus sela-sela bambu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak lembut di tanah, seolah menandai berakhirnya hari yang panjang.

Latihan akhirnya selesai.

Long Chen menurunkan pedangnya perlahan, napasnya masih berat namun jauh lebih teratur dibanding sebelumnya, keringat membasahi tubuhnya sebagai bukti dari usaha yang ia curahkan sepanjang hari. Tangannya mungkin lelah, namun gerakannya kini lebih stabil, lebih terarah.

Mo Fan mengamati dari samping dengan ekspresi tenang, lalu mengangguk kecil, tanda bahwa latihan hari ini tidak sia-sia.

Di sisi lain, Ling Er juga bangkit dari tempat duduknya, wajahnya sudah kembali normal meski sesekali masih menghindari tatapan Long Chen.

End Chapter 19

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!