transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kode malam ganjil
Vivian sekarang duduk di tepi ranjang king size. Matanya nyapu seisi kamar dengan teliti.
Ruangan ini luas banget. Lantai marmer, gorden sutra, kasur empuk kayak awan. Bahkan ada kamar mandi dalam dengan bathtub. Ini kamar Vivian dan Eric. Kamar pengantin, tapi berasa kayak kamar hotel sama musuh.
Gak tahan, Vivian bangkit. Dibuka satu-satu laci nakas. Matanya langsung silau. Gelang emas, kalung berlian, jam tangan. Semua ditata rapi di kotak beludru.
Tangan Vivian gemeteran buka lemari terakhir. Dan dia mau nangis.
Tas. Branded semua. Hermes, Chanel, Dior. Barang yang di dunia nyata cuma bisa dia liatin di majalah sambil ngiler.
Sekarang? Bisa dia peluk. Bisa dia cium.
"Vivian bodoh," serunya sambil terjun ke kasur, tas Chanel warna beige masih didekap erat. "Kalau gak mau, semua ini buatku saja!"
Dia jingkrak-jingkrak di kasur kayak anak TK dapet permen. Senyumnya lebar sampe gigi kelihatan semua.
"Kau masih pusing?"
Suaranya dingin. Ngejleb. Bubar semua kegirangan Vivian.
Di ambang pintu, Eric berdiri. Udah ganti piyama satin warna navy. Rambutnya agak basah, abis mandi. Dada bidangnya nyetak dari balik kancing yang kebuka dua.
Wajah Eric ngernyit heran. Dia natap Vivian yang lagi cium-cium tas. Tas yang tiap minggu dia kasih. Tas yang biasanya Vivian lempar ke lantai atau kasih ke ART.
"Eh, tidak. Apa... apa suamiku mau tidur?" Sahut Vivian cepet-cepet alihin perhatian. Buru-buru dia sembunyiin tas di belakang punggung. Kayak maling ketangkep.
Vivian lari ke meja rias, naruh tas hati-hati kayak naruh bayi. Terus balik lagi ke kasur, sok sibuk nepuk-nepuk bantal dan guling.
"Biar aku bereskan sebentar," ucapnya sambil senyum kaku.
Eric makin ngernyit. Istrinya ini emang agak gila. Pagi ngancam bundir minta cerai, malemnya ciumin tas pemberian dia.
"Tak usah," ucapnya dingin. Dia jalan ke kasur, ngambil satu bantal. "Aku tidur di kamar tamu malam ini."
Vivian langsung freeze.
Eric mau pergi? Ibaratnya kayak duit jalan kaki. Gimana cara naklukin hati Eric dalam 3 hari kalau mereka tidur pisah? Misi gagal sebelum mulai.
"Suamiku," panggil Vivian selembut mungkin. Dia maju, narik ujung lengan piyama Eric. "Bukankah aku masih punya dua setengah hari kesempatan lagi? Tidakkah kau tidur di sini malam ini saja?"
Eric ngelepas tangannya kasar. "Untuk apa? Biar kamu bisa teriak-teriak lagi minta cerai jam 3 pagi?"
"Enggak!" Vivian geleng cepet. Terus dia inget satu hal penting. "Eh, omong-omong... kalau boleh tahu ini tanggal berapa?"
Eric tersentak. Dia balik badan, natap Vivian dengan tatapan sedingin es. Curiga banget.
"Pentingkah menanyakan tanggal hari ini?"
Vivian mengangguk polos. "Tentu saja. Lebih cepat tahu lebih baik."
Di dunia asli, Vivian punya kebiasaan lulur malam tiap tanggal ganjil. Ritual wajib biar kulit mulus. Ini hari pertama dia di dunia novel, dia blank ini tanggal berapa. Kalau kelewat lulur, bisa jerawatan. Padahal sekarang dia istri konglomerat, masa kulitnya kusam.
Eric ngira Vivian nanya tanggal karena alasan lain. Alasan yang bikin rahangnya mengeras.
Dia buang bantal yang tadi dipegang ke kasur. Brak.
Terus tangannya naik, ngebuka kancing piyama satu-satu. Jalan ke arah Vivian dengan tatapan campur antara muak, benci, tapi... terpaksa.
Vivian melotot. Otot dada Eric kebuka. Perut kotak-kotak. Astaga. Ini bukan ilusi majalah. Ini 3D 8K.
"Eh, suamiku kau mau apa?" tanyanya gugup. Jarak mereka tinggal sejengkal. Bau sabun Eric kecium jelas.
Eric berhenti tepat di depan Vivian. Dia nunduk, bikin Vivian harus dongak.
"Bukankah ini yang harus aku lakukan tiap tanggal ganjil?" Suara Eric rendah, nusuk. "Kode 'masa subur' kamu, kan?"
DOR.
Vivian langsung inget. Di novel, Vivian asli punya "kode". Tiap tanggal ganjil, dia maksa Eric HB. Tapi diam-diam dia minum pil pencegah hamil. Tujuannya? Biar setelah 2 tahun gak hamil, dia bisa sebar rumor kalau Eric mandul. Biar keluarga Wijaya muak dan setuju ceraikan dia.
Busuk. Busuk banget Vivian yang asli.
Detik berikutnya, Eric dorong bahu Vivian. Tubuh Vivian jatuh ke kasur. Eric menindih sebelah tangannya di samping kepala Vivian.
"Kamu mau permalukan aku lagi?" Suara Eric sesak tepat di atas Vivian. Matanya merah. Bukan nafsu. Tapi luka.
Vivian sesak napas. Bukan karena takut. Tapi karena nyesek.
Kejam sekali pemilik tubuh ini. Sampai bikin mental suaminya sehancur ini. Dua tahun direndahin, dijadiin bahan taruhan, dibilang mandul.
"Tidak, kamu salah paham," Vivian cepet-cepet dorong dada Eric. Tangannya gemeter. Dada Eric keras banget, panas. "Aku... aku nanya tanggal karena mau lulur. Lulur! Bukan yang itu!"
Eric diem. Alisnya naik sebelah. Gak percaya.
Vivian panik. Dia gak bisa biarin Eric lanjut. Pertama, dia bukan Vivian asli. Dia masih perawan. Kedua, dia lagi hamil muda. Kalau kenapa-kenapa, kartu AS dia buat batal cerai hangus.
"Tidur saja ya, sudah malam," ucap Vivian buru-buru. Dia langsung muter badan, ngambil selimut, terus menggulung dirinya kayak kepompong. Cuma kepalanya yang nongol. "Aku juga mau tidur. Capek. Pusing. Efek guna-guna masih ada."
Hening.
Vivian bisa ngerasain tatapan Eric ngebakar punggungnya lewat selimut. Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Terus kasur di sebelahnya amblas.
Eric gak jadi ke kamar tamu. Dia tidur di sisi satunya. Membelakangi Vivian. Jarak mereka sejauh ujung ke ujung kasur.
Tapi gak apa-apa. Ini progress.
Vivian pelan-pelan ngelus perutnya di balik selimut. "Tenang ya, Nak," bisiknya. "Mama hampir aja bikin kamu gak jadi lahir."
Di luar, suara jangkrik malam kedengeran. Di dalam kamar, dua orang sama-sama melek, mikirin hal beda, dengan jarak satu kasur yang berasa sejauh satu benua.
like, komen ya besty🥰❤