NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin Kematian

Malam di Lembah Jarum Beracun terasa seperti rahang monster yang perlahan menutup. Di dasar ngarai yang gelap gulita, dua sosok bayangan melesat menembus semak berduri dengan napas yang memburu.

"Ke sini! Masuk ke celah akar ini!" bisik Meng Fan dengan suara serak.

Meng Fan nyaris menyeret tubuh Chu Chen. Pemuda berjubah hitam yang beberapa saat lalu melolong bagaikan dewa perang itu kini terlihat sangat berantakan. Darah hitam merembes dari pori-pori kulit Chu Chen, otot-ototnya mengejang tanpa kendali, dan suhu tubuhnya cukup panas untuk merebus air. Terobosan paksa yang melompati dua tingkat telah memberikan beban yang sangat mengerikan pada meridian fananya.

Mereka berdua terperosok ke dalam sebuah lubang sempit di bawah susunan akar pohon raksasa yang sudah mati. Tempat itu lembap dan berbau tanah busuk, namun tertutup rapat dari pandangan luar.

Begitu mereka masuk, Meng Fan langsung ambruk ke tanah, menenggak sisa arak di labunya dengan tangan gemetar. "Gila... kau benar-benar orang gila. Kau menghancurkan gua itu. Aumanmu tadi pasti terdengar hingga ke ujung lembah!"

Chu Chen duduk bersila dengan susah payah. Ia tidak mempedulikan omelan Meng Fan. Ia segera memejamkan mata, memusatkan Niat Spiritual naganya ke dalam tubuh. Meridian emasnya kini jauh lebih lebar dan kuat, memancarkan kekuatan Alam Penempaan Raga Lapis Kedelapan yang kental. Namun, ada banyak retakan kecil di dinding meridian tersebut akibat benturan esensi Raja Kalajengking dan Xue Ying.

Aku butuh waktu untuk menstabilkan fondasi ini. Jika aku bertarung dalam kondisi seperti ini, ototku akan robek dari tulangku, batin Chu Chen dengan akal sehat yang dingin.

Darah Dewa Naga Primordial di jantungnya berdetak dengan ritme pelan, perlahan-lahan menjahit retakan di meridiannya. Pemulihan mutlak ini adalah alasan mengapa ia belum meledak menjadi kabut darah.

Setengah jam berlalu dalam keheningan yang tegang. Sesekali terdengar suara kepakan sayap raksasa dan lolongan buas dari luar akar pohon, menandakan bahwa monster-monster pemangsa sedang berkeliaran mencari sumber suara auman tadi.

Perlahan, Chu Chen membuka matanya. Warna emas di pupilnya telah memudar menjadi hitam pekat, namun ketajamannya semakin mengerikan. Suhunya telah kembali normal.

"Kau masih hidup?" ejek Meng Fan pelan, meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa segan yang dalam.

"Aku tidak akan mati semudah itu," jawab Chu Chen. Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, tergeletak sebuah cincin berwarna putih tulang yang memancarkan pendaran hijau samar. Itu adalah Cincin Penyimpanan milik Xue Ying.

Benda pusaka tingkat menengah seperti ini jauh lebih berharga daripada Kantong Penyimpanan. Ruang di dalamnya bisa sebesar sebuah ruangan rumah, dan biasanya dilindungi oleh segel jiwa pemiliknya. Jika fana biasa mencoba membukanya, segel itu akan menghancurkan pikiran mereka.

Namun, Xue Ying sudah mati, dan sisa Niat Spiritual di cincin itu bagaikan selembar kertas tipis di hadapan jiwa Kaisar Naga Chu Chen.

Chu Chen memusatkan pandangannya, dan Niat Spiritualnya menusuk masuk ke dalam cincin.

Trang. Suara kaca pecah yang sangat halus terdengar di benak Chu Chen. Segel Xue Ying hancur tak bersisa.

Saat Chu Chen melihat isi cincin itu, alisnya sedikit terangkat. "Sekte Tulang Putih benar-benar memanjakan Tuan Muda mereka."

Di dalam ruang penyimpanan itu, terdapat tumpukan Batu Roh Tingkat Bawah yang jumlahnya mencapai lima ratus keping! Ada juga puluhan pil penyembuh, beberapa buku panduan bela diri tingkat rendah, dan baju zirah cadangan. Namun, Chu Chen mengabaikan semua itu. Matanya terkunci pada sebuah kotak giok berwarna merah darah yang diletakkan di sudut paling aman di dalam cincin.

Kotak giok itu diukir dengan formasi penyegel yang sangat rumit.

"Ada sesuatu yang aneh," gumam Chu Chen. Ia mengeluarkan kotak giok tersebut.

Begitu kotak itu muncul di dunia nyata, udara di dalam akar pohon seketika menjadi berat. Bau amis darah yang sangat murni, dicampur dengan aroma obat yang memabukkan, merembes keluar bahkan sebelum kotak itu dibuka.

Mata Meng Fan terbelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya. Ia merangkak maju, menatap kotak itu seolah melihat hantu. "Bentuk kotak itu... ukiran awan darah di atasnya... Demi Surga, jangan bilang itu Pil Sumsum Darah!"

Chu Chen menoleh. "Kau tahu benda ini?"

"Tentu saja aku tahu! Itu adalah desas-desus terbesar di dunia kultivasi perbatasan utara!" Meng Fan menelan ludah dengan susah payah. "Pil Sumsum Darah adalah pil terlarang tingkat tiga! Pil ini dibuat dengan menyuling sumsum tulang dari seratus Binatang Buas Tingkat 2. Fungsinya hanya satu: memaksa kultivator Lapis Kedelapan Penempaan Raga untuk menerobos langsung ke Lapis Kesembilan Puncak, dan mempersiapkan fondasi sempurna untuk Lautan Qi!"

Meng Fan menjambak rambutnya sendiri, wajahnya dipenuhi kengerian. "Sekarang aku paham! Xue Ying masuk ke lembah ini bukan hanya untuk mencari Inti Raja Kalajengking. Inti binatang beracun itu diperlukan untuk menekan efek samping dari Pil Sumsum Darah! Dia berencana menembus Lapis Kesembilan di tempat ini dan membantai semua calon murid untuk memuluskan jalannya menjadi Murid Inti Sekte Awan Suci!"

Mata Chu Chen berkilat. Pil yang bisa memaksakan terobosan ke Lapis Kesembilan Puncak? Ini adalah benda yang paling kubutuhkan sekarang.

"Tapi ada satu masalah besar," lanjut Meng Fan, suaranya bergetar. "Kudengar pil ini... adalah milik Penatua Agung Sekte Tulang Putih. Xue Ying pasti membawanya diam-diam, atau Penatua itu memberikannya dengan syarat ketat. Dan biasanya, benda seberharga ini..."

Meng Fan belum selesai berbicara saat Chu Chen menjentikkan jarinya, memecahkan segel fana di kotak giok tersebut dan membukanya.

Di dalam kotak, terbaring sebuah pil berwarna merah menyala seukuran mata naga. Pil itu berdenyut seperti jantung yang hidup. Namun, tepat di atas pil itu, melayang sebuah aksara rahasia kecil berwarna hitam pekat yang menyerupai tengkorak berteriak.

WUUUUUSSSSH!

Begitu kotak terbuka, aksara hitam itu meledak. Benda itu tidak melukai Chu Chen, melainkan menembus atap akar pohon, melesat tinggi ke langit malam Lembah Jarum Beracun, dan meledak menjadi pilar cahaya hitam berbentuk tengkorak raksasa yang bisa dilihat dari jangkauan puluhan mil!

"Segel Pelacak Pembunuh!" Meng Fan menjerit ngeri. "Bodoh! Kenapa kau membukanya?! Simbol itu adalah penanda bahwa pemilik asli pil telah dibunuh atau pil itu berpindah tangan secara paksa. Seluruh pembunuh utusan dari Sekte Tulang Putih di lembah ini sekarang tahu tempat kita!"

Benar saja. Begitu pilar cahaya hitam itu menghiasi langit, suasana di Lembah Jarum Beracun berubah seketika.

Suara lolongan binatang buas terhenti, digantikan oleh suara desir angin yang sangat cepat. Ratusan calon murid pilihan, yang sebelumnya bersembunyi di kegelapan, kini memutar arah dan melesat menuju sumber cahaya itu seperti kawanan hiu yang mencium darah. Di antara mereka, ada aura-aura Lapis Kedelapan dan Kesembilan yang memancarkan Niat Membunuh luar biasa.

"Kita mati. Kita benar-benar mati. Sembilan dari sepuluh orang kuat di sini adalah pembunuh bayaran yang disusupkan," Meng Fan memeluk lututnya, keputusasaan menyapu wajahnya. "Mereka akan merobek-robek kita untuk memperebutkan pil itu!"

Chu Chen menatap pilar cahaya hitam yang menembus langit dari atas kepalanya, lalu menatap Pil Sumsum Darah di tangannya.

Alih-alih panik atau ketakutan, sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, memperlihatkan deretan giginya. Matanya yang gelap kembali memancarkan kilatan naga yang buas.

"Mereka semua... datang ke arah kita?" tanya Chu Chen dengan suara yang anehnya terdengar sangat tenang, hampir seperti desahan lega.

"Ya, dasar gila! Kita akan dikepung oleh ratusan orang dalam waktu kurang dari setengah dupa!" teriak Meng Fan.

"Bagus," bisik Chu Chen.

Di bawah tatapan ngeri Meng Fan, Chu Chen tidak menutup kotak giok itu atau bersiap melarikan diri. Sebaliknya, ia mengambil Pil Sumsum Darah itu, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulutnya.

Ia menelan pil terlarang tingkat tiga itu bulat-bulat.

"Jika musuh-musuhku datang berbondong-bondong untuk mengantarkan nyawa dan Qi mereka," ucap Chu Chen, auranya mulai meledak tak terkendali di dalam ruang sempit itu, memancarkan panas yang membuat kayu-kayu di sekitar mereka mulai terbakar. "Akan sangat tidak sopan jika aku tidak menyambut mereka dengan perut yang kosong."

Di malam kedua ujian Penjagal Ribuan Jiwa, buruan paling dicari di seluruh lembah baru saja memutuskan bahwa dirinyalah pemangsa puncak di neraka ini.

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!