Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Suara mesin motor menggema di seluruh arena. Puluhan pasang mata tertuju ke lintasan. Di tikungan terakhir, motor Theo melesat lebih dulu. Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat lawannya kesulitan mengejar.
"Ayo Theo!" Teriak Ken dari pinggir lintasan.
"Sedikit lagi!" Almond ikut berteriak sampai suaranya serak.
Sementara itu, Reno berusaha memaksa motornya melaju lebih cepat. Namun, terlambat, motor Theo lebih dulu melewati garis finis.
Bendera finis dikibarkan, kerumunan penonton langsung bersorak.
"Theo menang!"
"Gila!"
"Jago banget!"
Ken dan Almond langsung melompat kegirangan.
"Dua puluh juta!" Teriak Ken.
Almond ikut berteriak sambil tertawa. "Traktiran!"
Keduanya langsung berlari menghampiri Theo yang baru saja mematikan mesin motornya. Theo melepas helm, senyum puas terlihat jelas di wajahnya.
Ken langsung memeluk bahunya. "Gila lo!"
Almond menepuk-nepuk punggung Theo. "Gampang banget menangnya!"
Theo terkekeh. "Lawannya biasa aja."
Sementara itu, di sisi lain arena, suasananya jauh berbeda. Reno baru saja menghentikan motornya. Begitu turun dari motor, ia langsung menendang ban depan motornya.
"Brengsek!" Umpatnya, amarahnya memuncak. Ia tidak hanya kalah, doa dipermalukan. Apalagi setelah sebelumnya Theo terang-terangan meremehkannya. Dua temannya segera menghampiri. Namun, bukannya menenangkan, keduanya justru terlihat lebih marah.
"Lo kalah?!" Teriak salah satunya.
Reno menatap tajam. "Cuma beda sedikit."
"Beda sedikit tetap kalah!" Bentak temannya. "Kita kasih lo uang itu buat taruhan!"
Reno mengepalkan tangannya. "Aku tahu."
"Tahu apanya?!" Temannya semakin emosi.
"Itu dua puluh juta, Reno!"
Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan keributan tersebut. Sementara Reno semakin kesal, hari ini benar-benar buruk. Siang gagal mendapatkan uang dari Alya. Malam kalah balapan, dan sekarang harus menghadapi kemarahan teman-temannya.
Di sisi lain, Theo sama sekali tidak peduli. Ia sedang tertawa bersama Ken dan Almond.
"Mana uangku?" Tanya Theo santai.
Ken langsung tertawa. "Baru juga turun motor!"
Almond menyenggol bahu Theo. "Yang penting menang dulu."
Theo menyeringai. Tatapannya kemudian tanpa sengaja mengarah ke Reno yang sedang berdebat dengan kedua temannya.
Theo sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang sedang marah di sana, adalah orang yang sedang dekat dengan Alyya.
Reno masih berdiri di samping motornya dengan wajah gelap. Dadanya naik turun menahan amarah. Sorakan kemenangan untuk Theo masih terdengar dari berbagai sudut arena dan itu semakin membuat suasana hatinya buruk.
Tiba-tiba Reno melangkah maju.
"Satu putaran lagi!" Teriaknya.
Kerumunan yang mulai bubar langsung menoleh. Theo yang sedang bercanda dengan Ken dan Almond mengangkat alis.
"Hah?"
"Satu putaran lagi." Ulang Reno.
Kali ini suaranya lebih keras, Theo menghela napas panjang.
"Ngapain?"
"Takut kalah?" Sindir Reno.
Ken langsung mendengus. "Yang kalah siapa tadi?"
Beberapa penonton tertawa, wajah Reno semakin buruk. Ia menunjuk motornya sendiri.
"Taruhannya motor ini." Ucapan itu langsung membuat suasana kembali ramai.
Bahkan Ken dan Almond ikut melongo.
"Itu motor baru, Bro." Bisik Almond.
Theo melirik motornya sekilas, motor Reno memang mahal. Jauh lebih mahal dari uang taruhan sebelumnya. Tetapi, Theo justru menggeleng.
"Nggak."
Reno mengerutkan kening. "Nggak?"
"Aku mau pulang." Jawab Theo santai. "Besok sekolah."
Kerumunan kembali tertawa, Reno tidak menyerah. Ia melangkah mendekat.
"Lihat?" Katanya sambil menoleh ke arah penonton.
"Katanya jago, ternyata menang sekali langsung kabur."
Theo masih diam, Reno tersenyum miring.
"Atau jangan-jangan memang cuma bisa menang karena hoki?"
Ken langsung maju. "Woi—"
Namun, Theo mengangkat tangan menghentikannya. Ia menatap Reno beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.
"Oh..." Gumamnya. "Kau sengaja cari masalah ya?"
Reno hanya menyeringai, Theo menghela napas.
"Satu putaran."
Ken langsung menoleh. "Theo."
"Santai." Jawab Theo.
Lalu ia kembali menatap Reno. "Tapi habis ini selesai."
Reno tersenyum puas. "Tentu."
Theo sama sekali tidak melihat kilatan licik di mata lawannya. Sementara itu, beberapa meter dari kerumunan. Dua teman Reno berkumpul di belakang sebuah truk logistik yang terparkir. Salah satunya melirik ke arah lintasan.
"Dia setuju."
Temannya mengangguk. Reno berjalan menghampiri mereka. Wajahnya kini jauh lebih tenang.
"Aku nggak boleh kalah." Katanya pelan. "Kalian ngerti kan?"
Kedua pemuda itu saling berpandangan, lalu mengangguk.
"Mengerti..."
Reno melirik lintasan, tatapannya dingin.
"Sebelumnya aku cuma mau menang." Ucapnya. "Tapi sekarang beda." Ia mengepalkan tangannya.
"Theo bikin aku malu di depan semua orang."
Salah satu temannya tersenyum miring.
"Jadi?"
Reno menatap mereka satu per satu. "Pasang jebakan."
Keduanya terdiam sesaat.
"Kita bikin dia jatuh?" Tanya salah satunya.
Reno mengangguk pelan. "Kalau perlu."
Pemuda itu menelan ludah.
"Itu bahaya."
Reno tertawa dingin. "Balapan memang bahaya."
"Tapi—"
"Aku nggak peduli." Potong Reno.
Tatapannya berubah semakin gelap.
"Kalau aku nggak bisa mengalahkannya..."
Ia menoleh ke arah Theo yang sedang mengenakan helmnya.
"Maka bikin Theo tidak akan bisa balapan lagi selamanya."
Kedua temannya saling pandang. Lalu perlahan mengangguk. Mereka tahu Reno sedang marah.
Di sisi lain lintasan, Theo sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang direncanakan lawannya. Ia hanya mengencangkan sarung tangannya. Si Jago kembali meraung di bawahnya.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣