NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 | Ancaman di Layar

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Suasana di ruang tamu seketika menjadi hening dan mencekam. Hanya suara napas mereka yang terdengar, ditambah dengan suara teriakan minta tolong yang samar dari layar tablet yang menyala terang.

Iris memegang dadanya dengan erat, matanya membesar tak percaya saat melihat sosok sahabatnya yang terikat di tempat yang gelap dan lembap. Wajah Bayu yang biasanya ceria kini terlihat pucat, mulutnya ditutup kain agar tidak bisa berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya terlihat lemas dan tergantung di atas kursi yang terbuat dari besi.

"Ba... Bayu..." bisik Iris dengan suara yang hampir tidak terdengar, air matanya mulai menetes deras membasahi pipinya.

Kim berdiri di depan layar dengan tangan mengepal erat, rahangnya mengeras menahan amarah dan kekhawatiran yang meluap-luap. Ia menatap tulisan yang tertera di layar dengan tatapan tajam yang bisa membekukan besi.

"PILIHLAH DENGAN BIJAK, KIM. ATAU SAHABAT KECIL ITU AKAN MENJADI KORBAN PERTAMA."

"Jahat... Sangat jahat!" gumam Kim dengan suara yang rendah namun penuh kemarahan. Ia mengulurkan tangan dan mematikan layar tablet itu dengan gerakan yang kasar, seolah ingin membuang segala rasa takut dan cemas yang ada di dalamnya.

Iris berjalan mendekat dengan langkah tergopoh-gopoh, lalu menunduk di depan Kim sambil menangis tersedu-sedu. "Paman... Kita harus menyelamatkannya! Bayu tidak bersalah, dia cuma sahabatku... Tolong Paman, tolong kembalikan dia!" pinta Iris dengan suara yang bergetar hebat, tangannya memegang lengan baju Kim erat-erat.

Kim menunduk menatap Iris yang sedang menangis, lalu mengusap kepalanya dengan tangan yang bergetar sedikit. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat penuh kesedihan dan tanggung jawab yang berat.

"Aku tahu, Nona. Aku tahu perasaanmu... Tapi kau harus mengerti satu hal. Musuh kita sangat kuat dan cerdik. Mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Jika kita bergerak terburu-buru atau melakukan kesalahan sedikit saja, bukan hanya Bayu yang akan menderita... Bahkan nyawa kita semua bisa terancam," jelas Kim dengan nada yang tenang namun penuh penekanan.

"Tapi kita tidak bisa membiarkan dia menderita sendirian seperti itu! Dia adalah sahabatku! Aku tidak bisa tinggal diam sambil melihatnya disiksa!" bantah Iris sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Aku juga tidak ingin hal ini terjadi. Tapi kita harus berpikir dengan kepala dingin. Stella sudah menyiapkan perangkap untuk kita. Dia ingin kita membuat kesalahan. Dia ingin melihat kita panik dan bertindak tanpa pertimbangan. Jika kita terjebak dalam perasaannya, kita akan kalah sebelum pertempuran benar-benar dimulai," kata Kim dengan suara yang lembut namun tegas, berusaha menenangkan pikiran Iris yang sedang kacau.

Iris menunduk, air matanya semakin deras. Ia merasa bingung dan kesepian. Di satu sisi, hatinya berteriak meminta untuk segera menyelamatkan sahabatnya. Tapi di sisi lain, ia percaya pada nasihat Kim dan menyadari bahwa mereka sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya.

"Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku yang pergi saja? Aku bisa melewati pertahanan mereka tanpa diketahui. Aku bisa menyelamatkan Bayu sendirian," usul Iris tiba-tiba, matanya menatap Kim dengan penuh tekad.

Kim menggeleng cepat. "Jangan pernah memikirkan hal itu, Nona. Ini bukan tugas yang bisa kau selesaikan sendirian. Mereka menahan Bayu bukan hanya untuk menahan kita, tapi juga untuk memancing kita keluar dari tempat yang aman. Jika kau pergi sendirian, kau akan jatuh ke dalam perangkap mereka dengan pasti. Dan jika kau tertangkap, maka semua usaha kita selama ini akan sia-sia."

Iris terdiam, memikirkan kata-kata Kim. Ia tahu apa yang dikatakan itu benar, tapi hatinya tetap terasa sangat sakit dan tidak tenang.

Saat suasana terasa semakin berat, tiba-tiba suara notifikasi dari perangkat komunikasi Kim terdengar. Layar hologram kecil muncul di depan mereka, menampilkan pesan terenkripsi yang baru saja masuk.

Kim segera membaca isinya, dan wajahnya yang tegas berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.

"Apa katanya, Paman?" tanya Iris dengan suara yang bergetar.

"Pesan dari... Falcon," jawab Kim singkat. Ia membaca isi pesan itu dengan saksama, lalu menatap Iris dengan tatapan yang penuh perhitungan.

"Falcon menawarkan bantuan. Dia mengatakan dia tahu di mana Bayu ditahan. Dan dia bisa membantu kita menyelamatkannya. Tapi ada syaratnya," tambah Kim dengan nada yang berat.

"Syarat apa?" tanya Iris dengan harapan baru muncul di matanya.

"Kita harus bertemu dengannya secara langsung. Di tempat yang dia tentukan. Dan kita harus datang sendirian, tanpa membawa bantuan apapun. Dia juga meminta kita untuk tidak memberitahu siapapun tentang pertemuan ini, termasuk orang-orang yang kita percayai," jelas Kim, matanya menatap tajam ke arah jendela ruangan seolah bisa melihat ke luar sana.

Iris terdiam. Pertemuan dengan Falcon yang selama ini mereka cari-cari, yang memiliki keahlian teknologi yang sangat tinggi, kini menawarkan bantuan. Tapi di sisi lain, syaratnya terasa sangat berbahaya dan mencurigakan.

"Kita harus mempertimbangkan ini dengan sangat hati-hati. Falcon bisa saja sedang menggunakan kesempatan ini untuk menjebak kita. Atau dia juga bisa menjadi mata-mata Stella yang menyamar. Kita tidak bisa mengambil risiko apapun," kata Kim sambil berjalan mondar-mandir di ruangan, memikirkan segala kemungkinan.

Saat mereka sedang mempertimbangkan keputusan ini, tiba-tiba suara notifikasi lain muncul dari perangkat Iris. Layarnya menampilkan pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal:

"Jangan percaya siapa pun. Baik Stella maupun Falcon. Mereka semua punya rencana jahat. Jika kau ingin menyelamatkan sahabatmu, datanglah ke gudang tua di pinggir kota malam ini jam 12. Sendirian. Jangan beritahu siapapun. Atau dia akan mati."

Iris terbelalak saat membaca pesan itu. Ia menoleh menatap Kim dengan wajah yang bingung dan takut.

"Paman... Ada pesan lagi. Dari nomor yang tidak dikenal. Dia bilang dia tahu di mana Bayu ditahan. Dan dia memintaku datang sendirian ke gudang tua malam ini," ujar Iris dengan suara yang bergetar.

Kim segera mengambil perangkat Iris dan membaca pesan itu dengan saksama. Wajahnya yang tenang perlahan berubah menjadi cemas.

"Ini semakin rumit. Ada banyak pihak yang terlibat sekarang. Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. Setiap pilihan yang kita ambil bisa membawa kita ke keberhasilan atau kejatuhan yang menyakitkan," kata Kim dengan nada yang berat.

Saat mereka sedang memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba lampu ruangan padam seketika. Suasana menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari celah jendela.

Brak!

Suara kaca pecah terdengar dari arah jendela. Beberapa bayangan gelap masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang sangat cepat dan lincah.

Iris terkejut dan bersembunyi di belakang tubuh Kim. Kim segera menyiapkan diri, menahan Iris di belakangnya sambil mengeluarkan perangkat pertahanan yang tersembunyi di tangannya.

Suara langkah kaki yang teratur dan berat terdengar mendekat. Dan dari kegelapan, sebuah suara yang sangat dikenal dan membuat bulu kuduk mereka merinding terdengar jelas:

"Selamat malam, Kim... Dan selamat malam juga, Iris. Sepertinya kalian sedang menghadapi masalah yang cukup besar ya? Tapi jangan khawatir, aku di sini untuk membantu. Tapi ingat, semua ada harganya. Dan kali ini, harga yang harus kalian bayar akan sangat mahal."

Sosok itu perlahan muncul dari kegelapan, menampakkan diri di tengah ruangan.

Dan yang membuat mereka terkejut setengah mati, sosok yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah...

Siska.

Teman dekat Iris yang selama ini mereka percayai, gadis yang selalu ada di sisinya, kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang datar dan dingin, memegang sebuah senjata canggih yang ditujukan tepat ke arah mereka berdua.

"Jangan bergerak. Atau aku tidak akan ragu untuk menembak kalian berdua," kata Siska dengan suara yang tidak terdengar seperti dirinya yang biasa mereka kenal. Suaranya terdengar kaku, seperti suara mesin atau robot.

Iris menatap Siska dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Siska... Kau ini apa? Apa yang terjadi denganmu? Kau... kau yang menculik Bayu? Kau yang mengirim pesan-pesan itu?" tanya Iris dengan suara yang bergetar, air matanya mulai menetes lagi.

Siska tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan yang kosong dan dingin, seolah tidak mengenal mereka sama sekali.

Kim menatap Siska dengan wajah yang tegas. "Jangan lakukan ini, Siska. Kau masih bisa kembali ke jalan yang benar. Kau tidak perlu mengikuti perintah Stella. Kau masih memiliki kesempatan untuk berhenti sekarang juga."

Siska hanya mengangkat senjata yang dipegangnya lebih tinggi.

"Perintah sudah diberikan. Dan perintah harus dilaksanakan. Jangan buat aku melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan," katanya singkat.

Saat suasana menjadi sangat mencekam dan senjata sudah siap ditembakkan, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara ledakan yang keras. Tanah di bawah kaki mereka terasa bergetar hebat. Pintu apartemen mereka yang kokoh seolah dihantam oleh benda berat.

Dan di layar perangkat komunikasi mereka, muncul sebuah pesan baru yang dikirim dari sumber yang tidak diketahui:

"WAKTUNYA TELAH HABIS. SEMUA RAHASIA AKAN TERBUKA. DAN PILIHAN KALIAN AKAN MENENTUKAN NASIB DUNIA."

Serta sebuah peta yang menandai lokasi yang sangat jauh dari tempat mereka sekarang.

Siska menoleh sebentar ke arah jendela, lalu menatap kembali ke arah mereka dengan tatapan yang masih kosong. "Waktunya sudah tiba. Mari kita pergi. Ada hal-hal penting yang harus kita selesaikan."

Kim menatap Siska, lalu menatap Iris yang masih terkejut dan bingung. Wajah Kim terlihat sangat serius, dan di dalam hatinya ia menyadari bahwa semua yang mereka ketahui selama ini hanyalah sebagian kecil dari kebenaran.

Semua hal mulai terhubung, dan ketegangan semakin memuncak.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!