Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Mobil Darren memasuki sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah itu tidak terlalu sederhana, tapi tidak bisa disebut mewah juga. Seorang pria berpakaian santai menyambutnya di ambang pintu.
"Hai, what's up bro?"
"Nothing much."
Jawab Darren tak bergairah. Keduanya saling merangkul ala laki-laki, lalu masuk ke dalam rumah.
"Gimana, gimana, kayaknya lagi ada yang ganggu pikiran lo?"
Tebak Guntur sambil memperhatikan wajah sahabatnya.
"Ada hubungannya sama Crissie?"
Darren langsung menggeleng cepat. Ia membuka jaketnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya. Lalu menyimpannya di atas meja yang ada di hadapan mereka.
"Gue mau lo selidiki dari mana botol itu berasal."
Guntur meraih botol itu. Matanya menyipit memperhatikan setiap detail dan tulisan yang tertera di sana. Labelnya hanya kertas putih kusam dengan tulisan tangan menggunakan spidol hitam yang sudah agak luntur.
"Ekstrak dosis tinggi. Cairan pembersih."
Guntur membacanya perlahan. Ia memutar botol itu untuk mencari kode produksi atau izin edar, namun hasilnya nihil.
"Ini racikan ilegal, Ren. Bukan barang apotek. Kalau dilihat dari jenis botol dan cara penulisannya, ini biasanya keluar dari laboratorium rumahan yang tidak terdaftar. Kenapa benda ini bisa ada di tangan lo?"
Darren menyandarkan punggungnya ke sofa. Ekspresinya datar namun auranya sangat menekan.
"Cairan itu dipakai untuk mencelakai salah satu penghuni rumah gue. Seseorang mencoba meracuninya dengan dalih obat pencahar."
Guntur meletakkan botol itu kembali ke meja, ekspresinya berubah serius.
"Seseorang di rumah lo? Nggak mungkin orang luar bisa masuk dan menaruh ini begitu saja tanpa bantuan orang dalam."
"Memang orang dalam yang melakukannya. Pelakunya sudah tertangkap, tapi alibinya soal asal barang ini sama sekali tidak masuk akal. Dia mengaku beli di pasar dari penjual keliling. Gue butuh bukti fisik untuk mematahkan kebohongan itu."
Guntur mengambil plastik bening untuk membungkus botol tersebut guna mengamankan jejak yang tersisa.
"Oke, gue tangkap maksud lo. Gue akan bawa ini ke kenalan gue di laboratorium forensik swasta. Kita akan lihat kandungan pastinya. Biasanya pembuat barang ilegal seperti ini punya ciri khas masing-masing pada campurannya."
Darren mengangguk perlahan. Sebagai seorang pria yang perfeksionis, ia tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun dalam masalah keamanan di wilayah kekuasaannya.
"Cari tahu siapa pemasok aslinya. Gue yakin pelayan itu tidak bertindak atas inisiatif sendiri. Ada seseorang yang mengendalikan dia dari jauh."
Guntur menyimpan bungkusan itu ke dalam laci yang aman.
"Kasih gue waktu sebentar. Kalau benar ada orang yang mengarahkan dia, pasti ada jejak yang tertinggal, entah itu aliran uang atau komunikasi yang tidak biasa."
***
Sementara itu di apartemennya, Selia mau tak mau harus sibuk untuk membersihkan namanya supaya tidak tersangkut. Dia tahu, Darren tak akan tinggal diam. Jawaban Aisyah tentu tak akan dipercayainya seratus persen.
Ia pun meraih ponselnya dan menelepon seseorang yang sudah biasa bekerja sama dengannya.
"Halo Bonnie, temui aku di tempat biasa sekarang juga. Aku ada kerjaan buat kamu."
Katanya begitu orang yang dia telepon mengangkatnya.
"Siap bos."
Setelah mendapatkan jawaban, sambungan telepon langsung diputus sepihak oleh Selina. Dia tergesa-gesa keluar dari unitnya, menuju basement tempat mobilnya diparkir. Setelah itu langsung melesat ke tempat dimana ia membuat janji temu dengan orang yang baru saja diteleponnya.
Satu jam kemudian mobil Selina memasuki halaman sebuah kafe kecil dan sederhana. Ia langsung memarkir mobilnya dan masuk ke dalam kafe tersebut.
Ternyata kafe yang terlihat kecil itu hanya dari luarnya saja, sementara keadaan di dalamnya sangat jauh berbeda. Malah ada beberapa bilik ruang VIP yang sangat menjaga privasi penggunanya. Dan ke salah satu ruangan itulah, Selina masuk.
Di dalam, seorang pria yang seluruh tubuhnya dipenuhi tatto dan beberapa tindikan di telinga, bibir dan hidung, sedang menunggunya. Begitu melihat Selina masuk, dia langsung berdiri sambil menyeringai menampakkan giginya yang kuning karena nikotin.
"Selamat datang bos, apa yang bisa saya bantu sekarang? Atau mau pesan dulu makanan dan minuman?"
Selina mengangguk.
"Pesankan aku seperti biasa!"
Katanya sambil duduk di salah satu kursi yang saling berhadapan dengan laki-laki itu.
"Oke."
Dengan cekatan Bonnie menuliskan pesanan Selina yang sudah dihafalnya dan juga pesanan dirinya. Setelah itu ia memanggil pelayan dengan menekan tombol khusus yang menempel di dinding, yang ada di dekatnya. Tak berapa lama pelayan langsung datang dan laki-laki itu pun menyerahkan pesanannya.
Sebelum pesanan mereka datang, Selina dan Bonnie hanya ngobrol ringan yang tak penting sambil sesekali tertawa. Barulah setelah pesanan mereka datang, Selina mulai memasang wajah serius.
"Apa yang bisa saya lakukan sekarang untukmu bos?"
Tanya laki-laki itu setelah menyeruput minumannya.
"Aku punya masalah yang cukup pelik akibat kebodohan seseorang."
Suara Selina bergetar karena emosi yang ditahannya. Sementara laki-laki itu mengerutkan keningnya sedikit bingung. Tak menunggu lama Selina langsung menceritakan masalahnya, tentang obat pencahar ilegal itu.
"Aku sudah berpesan pada pembantu bodoh itu untuk menggunakan obat seperlunya saja. Tapi si biang kerok itu malah memasukkan semuanya. Ya jelas saja cewek yang dikasih pencahar itu hampir metong."
"Lah bagus dong, berarti dendam si bos bisa terlampiaskan. Saya yakin sebentar lagi cewek itu bakalan gak betah dan akhirnya pergi dari rumah itu."
"Tidak sesederhana itu. Masalahnya sekarang melibatkan Darren Arkhanio Callister. Kamu pernah dengar nama itu, kan?"
Bonnie mengangguk. Dia tahu nama itu adalah laki-laki yang digilai Selina.
"Laki-laki yang bos taksir, kan?"
"Bukan cuma itu! Dia laki-laki yang sangat berbahaya jika kita sudah berani menyentuh ranah pribadinya. Tak ada yang bisa lolos jika ada orang yang mencoba mengusik kehidupannya."
"Terus, tugas saya apa bos?"
Bonnie mulai sedikit paham. Tak ada mimik gentar sedikitpun meski Selina sudah menceritakan karakter Darren.
Selina memajukan tubuhnya, menatap Bonnie dengan tatapan yang sangat menekan.
"Barang yang kamu kasih ke aku kemarin, sekarang ada di tangan Darren. Dia pasti akan melacak siapa pembuat atau pengedar aslinya. Aku mau kamu pergi sejauh mungkin dari kota ini sekarang juga."
Bonnie terdiam sesaat, senyumnya sedikit memudar.
"Bos mengusir saya?"
"Aku menyelamatkan kita berdua! Hapus semua jejak yang bisa mengarah padaku. Bakar semua catatan atau apa pun yang menghubungkan kita dengan botol itu. Jangan sampai ada satu bukti pun yang tersisa kalau Darren sampai turun tangan sendiri."
Selina mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi uang sebagai bekal Bonnie untuk menghilang.
"Pergi sekarang. Jangan kembali sampai aku yang memanggilmu. Jika kamu tertangkap, pastikan namaku tidak pernah keluar dari mulutmu, atau kita berdua akan hancur di tangan Darren."
Bonnie menyambar amplop itu dan mengangguk mantap. Ia paham bahwa dalam permainan ini, jejak sekecil apa pun bisa menjadi tali gantungan bagi mereka berdua. Tanpa membuang waktu, ia segera berdiri dan meninggalkan ruangan, membiarkan Selina termenung sendirian dalam kecemasan yang mendalam.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut