Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 PENGASUH PONDOK KE TIGA
Keesokan paginya....
.....
.....
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳
Ayu sedang menata beberapa perlengkapan belajar di salah satu sudut masjid bagian dalam di saat HP miliknya berbunyi.
"Tring Tring... Tring Tring... Tring Tring..."
Segera di lihat olehnya, ternyata Ustadz Furqon menelepon.
"Assalamu'alaikum..." suara Ustadz Furqon menyapa di ujung sana.
"Wa'alaikumsalam, Ustadz..." jawab Ayu.
"Maaf ya Yu, saya ganggu sebentar..."
"Eh, enggak apa-apa Ustadz. Ada apa ya?"
"Ini... Saya tadi coba telepon Nisa tapi gak di angkat sama dia. Nisa nya lagi kemana Yu?"
"Ada Ustadz, dia lagi beresin beberapa kamar tidur buat santriwati."
"Oooh... Pantesan saya telepon gak di angkat-angkat sama dia."
"Hehe... Nisa tuh kalau lagi sibuk kerja, memang jarang bawa HP Ustadz. Memangnya ada yang mau disampaikan kah Ustadz?"
"Iya Yu. Sekalian aja deh saya juga kasih tau kamu..."
"Apa itu Ustadz?"
"Insya Alloh, hari ini pengurus pondok yang akan bantu kalian berdua mau datang. Kemaren dia ngabarin saya."
"Oooh... Itu... Iya Ustadz. Alhamdulillah kalau pengurus ke tiga nya udah mau sampai ke sini."
"Iya Yu, Alhamdulillah. Saya juga sempet agak khawatir kalo sampai dia ini terlambat datang. Kan tinggal satu hari lagi semua calon santriwati tiba di pondok."
"Hehehe... Iya Ustadz..."
"Cuma saya kelupaan tanya sama dia, jam berapa perkiraan sampai di pondok. Soalnya dia kan rumahnya agak jauh dari pondok Yu. Ya mungkin antara siang hari atau sore hari kali Yu."
"Oh gitu Ustadz..."
"Iya Yu. Ya udah, tolong kasih tau ke Nisa juga ya..."
"Iya Ustadz, siap. Segera saya kasih tau Nisa..."
"Oh iya satu lagi Yu, besok Insya Alloh saya juga datang ke sana buat menyambut seluruh calon santriwati ya, kemungkinan jam 9 pagi saya sampai."
"Iya Ustadz..."
"Ya udah, terima kasih ya Yu... Assalamu'alaikum..."
"Sama-sama Ustadz... Wa'alaikumsalam..."
Berakhirlah telepon dari Ustadz Furqon. Ternyata dia memberi kabar bahwa pengurus ke tiga pondok putri akan tiba hari ini. Entah siang hari atau sore hari.
Ayu segera merapikan kembali beberapa peralatan belajar yang sempat tertunda barusan. Setelah itu, ia langsung menuju ke kamar santriwati yang sedang dibereskan olehku.
"Nis..."
"Eh, iya Yu... Kenapa?" jawabku sambil menutupi kasur dengan sprei.
"Barusan Ustadz Furqon telepon aku."
"Oh... Ada pesen apa dari beliau?"
"Tadi Ustadz bilang, kalau hari ini pengurus ke tiga mau dateng Nis."
"Oh gitu, Alhamdulillah deh... Akhirnya dateng juga, kita jadi punya teman baru Yu."
"Iya Nis... Tapi Ustadz Furqon bilang, orangnya dateng antara nanti siang, atau sore hari." kata Ayu sambil mendekat, dan membantuku merapikan sprei yang sudah menutupi kasur.
"Eh iya Yu, namanya siapa?" tanyaku lagi.
"Nama? Nama Siapa?"
"Loh... Ya itu... Pengurus ke tiga yang barusan kamu bilang..."
"Eh, Astaghfirulloh... Aku gak nanya loh Nis namanya siapa..."
"Yeeeh... Kamu tuh gimana sih? Emang Ustadz Furqon juga gak kasih tau namanya?"
"Enggak Nis..." jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Hmmm... Gimana sih beliau... Sebelumnya beliau bilang kalo dia kelupaan sama namanya. Sekarang orangnya udah mau sampe sini, malah gak di kasih tau juga namanya siapa." ocehku pelan.
"Hehe... Maklum Nis, namanya juga orang tua... Hehe..."
Aku memandang Ayu dengan wajah sedikit menahan senyum, paham bahwa Ayu hendak bercanda tentang Ustadz Furqon...
"Maksudmu? Kalo udah tua mulai pelupa gitu?" tanyaku.
"Hehehe... Iya gitu..."
"Husss... Gak boleh gitu kamu Yu."
"Ya kan bisa jadi toh Nis..."
Kami berdua akhirnya selesai merapikan sprei tersebut. Dan segera kami melakukan pekerjaan lain di seluruh area pondok. Memastikan segala persiapan yang telah dilakukan, menjadi lebih baik lagi.
Aku tetap melanjutkan merapikan kamar-kamar santriwati. Lalu menyapu seluruh area halaman dan pekarangan sekitar pondok. Sementara Ayu, memeriksa peralatan dan juga perlengkapan kebutuhan para santriwati.
Alhamdulillah, kami berdua bisa semakin kompak dan bersinergi dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan sebagai tenaga pengurus dan pengasuh pondok putri ini.
.....
.....
Ketika hari sudah hampir menjelang zhuhur, seluruh area pondok sudah lebih rapi, tampak lebih bersih, dan siap untuk menyambut kedatangan para santriwati esok hari.
Ayu mengajakku untuk beristirahat di balkon saja. Karena cuaca sedari tadi pagi, agak sedikit mendung. Bahkan sampai siang hari begini pun masih tampak mendung. Sehingga balkon tidak terlalu panas siang ini.
Di temani dua gelas teh manis dingin yang menyegarkan. Kami berdua duduk santai di balkon.
"Nis, aku sore ini izin ya sama kamu..." kata Ayu.
"Mau kemana kamu Yu?" tanyaku.
"Aku mau antar Ibuku ke puskesmas."
"Loh? Ibumu sakit lagi?"
"Enggak kok, udah sehat. Cuma harus kontrol lagi aja."
"Oh gitu... Emang sakit apa sih Ibumu?"
"Asam uratnya kumat Nis. Maklum, penyakit orang tua kayak gitu."
"Oh... Asam urat toh..."
"Iya Nis."
"Ya udah, gapapa... Temani dulu Ibumu. Lagian kenapa harus sore toh ke puskesmasnya? Kenapa gak sekarang aja, mumpung masih siang..." kataku memberi sedikit saran.
"Dokter yang periksa Ibuku di puskesmas itu adanya sore Nis."
"Oh... Ya udah, gapapa. Temenin Ibumu dulu aja." kataku, sambil kembali meminum teh manis dingin yang segar. Ayu juga langsung menghabiskan teh manis dinginnya.
"Ya udah Nis, aku mau mandi dulu ya. Gerah banget nih badanku."
"Iya... Mandilah sana..."
Beberapa saat, aku masih duduk beristirahat di balkon. Ayu langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
Sejenak aku kembali mengingat pesan yang di sampaikan oleh Sekar Mayang dan Dayang Putri semalam, ketika aku sedang mengunci pagar depan.
Lantas, aku bertanya-tanya dalam batinku sendiri...
Apakah... "Dia" yang dimaksud oleh Sekar Mayang dan Dayang Putri adalah pengurus ke tiga itu?
Memangnya ada apa dengan orang itu nanti?
Masa iya, pengurus pondok yang baru itu akan membawa sesuatu yang buruk di sini?
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin membuatku tambah penasaran, sekaligus membuatku harus bersiap.
Kemudian, terdengarlah suara adzan zhuhur yang menggema bersahutan dari segala penjuru arah. Menandakan bahwa aku juga harus segera mandi. Menyegarkan tubuhku yang juga terasa gerah ini. Setelah mandi, aku langsung laksanakan sholat zhuhur di masjid bersama Ayu.