Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
BRAAAK!
Suara ledakan kayu yang hancur berkeping-keping mengguncang seluruh struktur Paviliun Pedang Patah. Dua daun pintu gerbang raksasa yang terbuat dari kayu ulin besi terlempar ke dalam layaknya ditabrak oleh banteng siluman, pecah menjadi ribuan serpihan tajam yang menghujani lantai aula utama.
Di tengah aula yang luas dan diterangi oleh pendaran formasi dari sebuah pintu Gudang Senjata Kuno, dua puluh murid sekte luar tersentak. Formasi serangan yang sedang mereka fokuskan untuk membobol pintu gudang itu terputus seketika. Debu berterbangan menutupi pandangan.
"Siapa di sana?!" raung Kakak Senior Zhao, seorang pemuda berwajah persegi dengan otot menonjol yang memancarkan fluktuasi tahap tujuh Kondensasi Qi. Ia menghunus pedang lebarnya, mengira tiga penjaga di luar telah berkhianat atau ada kelompok perampok lain yang datang menyergap.
Namun, saat debu perlahan turun, siluet yang berdiri di ambang pintu bukanlah pasukan perampok.
Hanya satu orang. Seorang remaja kurus berjubah sekte yang bersih dari debu, memegang sebuah kuas tulang yang memancarkan aura hitam di tangan kanannya.
Kakak Senior Feng, pria berwajah tirus yang berdiri di samping Zhao, menyipitkan matanya. Keterkejutannya langsung menguap, digantikan oleh rasa muak yang luar biasa.
"Tunggu... bukankah itu si sampah Jiang Xuan?" Feng mendengus keras. "Apa yang dilakukan tikus tahap dua ini di sini? Apakah tiga anjing penjaga di luar sana tertidur hingga membiarkan sampah ini lewat?!"
Zhao tertawa meremehkan, menurunkan pedang lebarnya. Ketegangan di aula langsung berubah menjadi ejekan massal. Dua puluh murid luar menatap Jiang Xuan layaknya melihat badut yang salah masuk panggung.
"Mungkin dia datang untuk mengemis sisa-sisa pil dari kita," cibir Zhao. Ia melambaikan tangannya dengan malas ke arah lima murid tahap lima di barisan belakang. "Kalian berlima, urus dia. Potong lidahnya, patahkan kedua kakinya, lalu lemparkan tubuhnya ke luar sebagai makanan siluman. Jangan buang waktu kita."
Kelima murid itu menyeringai cabul. Mereka mencabut pedang dan kapak mereka, melangkah santai menuju ambang pintu. Bagi mereka, membunuh Jiang Xuan tidak lebih dari sekadar menginjak semut.
Jiang Xuan berdiri mematung di ambang pintu yang telah hancur. Sepasang mata gelapnya menyapu dua puluh orang di depannya. Tidak ada kemarahan atas ejekan mereka. Hanya ada senyum tipis, sangat dingin, dan dipenuhi oleh antisipasi brutal yang membuat udara di sekitarnya anjlok hingga ke titik beku.
Jiang Xuan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dialog tidak diperlukan di rumah jagal.
Ia melangkah maju. Satu langkah.
WUSSH!
Jiang Xuan menghilang dari pandangan kelima murid tersebut. Kecepatan fisik tahap empat Kondensasi Qi yang digabungkan dengan teknik pergerakan bayangan dari masa lalunya membuatnya melesat layaknya hantu di siang bolong.
Murid terdepan baru saja mengangkat pedangnya untuk menebas saat Jiang Xuan muncul tepat di hadapannya. Tangan kanan Jiang Xuan yang memegang Pena Kuas Tulang mengayun dengan gerakan melengkung yang sangat anggun, namun mematikan.
SRET!
Garis Niat Formasi setipis sutra hitam meluncur dari ujung kuas.
Kepala murid pertama tergelincir dari lehernya dengan mulus, diiringi pancuran darah segar yang melesat ke udara. Jiang Xuan tidak berhenti. Momentum tubuhnya berputar, mengubah Kuas Tulang di tangannya menjadi sabit maut yang memanen nyawa.
CRAT! CRAT! CRAT! CRAT!
Empat goresan hitam menyilang di udara dalam waktu kurang dari satu tarikan napas.
Murid kedua terbelah diagonal dari bahu hingga pinggang. Murid ketiga kehilangan lengan yang memegang kapak beserta separuh tulang rusuknya. Murid keempat dan kelima bahkan belum sempat berteriak saat leher mereka terpotong bersih secara bersamaan. Potongan tubuh berjatuhan ke lantai batu, membanjiri ubin kuno itu dengan usus, organ dalam, dan darah merah pekat.
Keheningan yang mencekam menghantam aula utama. Tawa ejekan dari lima belas murid yang tersisa tersumbat di tenggorokan mereka. Mata Zhao dan Feng terbelalak lebar, nyaris copot dari rongganya.
Lima kultivator tahap lima dibantai dalam hitungan detik. Tanpa perlawanan. Tanpa suara logam yang beradu.
Senyum Jiang Xuan semakin melebar. Pembantaian massal baru saja dimulai.
Ia melesat menembus barisan musuh bagaikan serigala buas yang dilepas di tengah kawanan domba buta. Kuas Tulang di tangannya menari. Setiap jentikan, setiap putaran, setiap ayunan menghasilkan garis-garis hitam Niat Formasi yang merobek udara dan daging tanpa pandang bulu.
"B-BUNUH DIA! SERANG BERSAMAAN!" teriak seorang murid yang panik.
Tiga murid menerjang Jiang Xuan dari sisi kanan. Jiang Xuan tidak menangkis. Ia menjatuhkan lututnya untuk menghindari tebasan tombak, lalu menusukkan ujung kuasnya ke udara kosong ke arah atas. Niat Formasi meledak ke atas, menembus dagu ketiga murid itu dan keluar menembus batok kepala mereka secara serentak.
CROT! Otak dan darah memercik ke langit-langit paviliun.
Jiang Xuan memutar tubuhnya, mengayunkan kakinya menendang lutut seorang murid hingga patah ke arah yang salah. Saat murid itu menjerit dan jatuh, garis tinta hitam memenggal kepalanya tanpa belas kasihan.
Darah membanjiri aula. Genangan merah pekat menyentuh mata kaki, membuat lantai menjadi licin. Bau besi dan kematian begitu kental hingga nyaris bisa dikunyah. Jiang Xuan bergerak dengan efisiensi absolut; tidak ada satu pun gerakan berlebih. Ia tidak membuang tenaga untuk menangkis serangan yang tidak fatal. Jika ada pedang yang mengincar lengannya, ia membiarkannya, namun garis Niat Formasinya akan lebih dulu membelah jantung si penyerang.
"Monster! Dia monster!"
Kepanikan absolut meledak. Moral tempur para murid hancur lebur melihat saudara mereka dipotong-potong layaknya rumput gandum. Delapan murid yang tersisa membuang senjata mereka. Keserakahan akan harta di dalam gudang seketika lenyap, digantikan oleh teror insting primal untuk melarikan diri.
Mereka berbalik dan berlari membabi buta menuju pintu keluar yang hancur.
"Jalan keluar! Cepat!"
Namun, saat murid terdepan melompati ambang pintu...
BZZZT! BOOM!
Tubuh murid itu menghantam dinding energi tak kasat mata yang tiba-tiba menyala merah darah. Array Darah Segel Ruang bereaksi. Tubuh murid itu terpental keras ke belakang, memuntahkan darah akibat efek tolakan formasi.
Murid-murid lainnya ikut menabrak kubah darah itu, menggedor-gedornya dengan histeris. "Kita dikunci! Tidak ada jalan keluar!" ratap mereka, mencakar dinding energi pembatas sementara suara langkah kaki Jiang Xuan yang berbunyi ciprat-ciprat di atas genangan darah perlahan mendekat dari belakang mereka.
Tangan Jiang Xuan terangkat. Kuas Tulangnya menyapu udara dengan satu tebasan horizontal panjang yang menyelimuti seluruh lebar aula.
Garis hitam raksasa melesat maju. Kedelapan murid yang sedang menggedor dinding pelindung itu terdiam. Pinggang mereka terpotong sempurna. Bagian atas tubuh mereka merosot jatuh ke lantai, sementara kaki mereka masih berdiri tegak selama beberapa detik sebelum akhirnya ikut ambruk dalam banjir darah.
Aula yang tadinya bising kini sunyi senyap, murni menyisakan suara tetesan darah yang jatuh dari pilar batu dan sisa napas tersengal dari dua orang yang tersisa.
Kakak Senior Zhao dan Feng berdiri di ujung aula, tersudut di depan pintu Gudang Senjata Kuno yang masih tertutup. Tubuh mereka bergetar hebat. Pakaian mereka basah oleh cipratan darah anak buah mereka sendiri. Delapan belas elit sekte luar... dihabisi tanpa sisa oleh satu orang dalam waktu kurang dari satu menit.
"K-kau bukan Jiang Xuan..." Feng berbisik ngeri, pedangnya bergetar di tangannya. "Iblis mana yang merasuki tubuhmu?!"
Jiang Xuan tidak menjawab. Ia melangkah santai, mengibaskan Kuas Tulangnya ke lantai hingga sisa darah di ujung bulu hitamnya terciprat membentuk garis merah. Niat Membunuh yang memancar dari tubuhnya kini begitu pekat hingga membuat bayangannya sendiri terlihat hidup dan meronta-ronta.
Mengetahui mereka tidak bisa melarikan diri, naluri bertahan hidup Zhao dan Feng berubah menjadi kenekatan bunuh diri.
"KITA MATI BERSAMA, KEPARAT!" raung Zhao.
Keduanya meledakkan seluruh esensi darah mereka, membakar umur mereka sendiri untuk meningkatkan kekuatan tahap tujuh Kondensasi Qi hingga ke batas maksimal.
Pedang lebar Zhao menyala dengan api spiritual yang sangat menyilaukan, sementara Feng menyatukan Qi-nya ke dalam sarung tangan besinya, menciptakan pilar batu tajam yang melesat dari lantai. Keduanya menerjang secara bersamaan dengan jurus terkuat yang mereka miliki.
Tebasan Naga Api Berpijar! Tinju Penghancur Bumi!
Dua serangan dahsyat itu meluncur cepat, membawa kekuatan yang cukup untuk menghancurkan seluruh paviliun. Panas api dan tekanan batu mengapit Jiang Xuan dari atas dan bawah.
Namun, ekspresi Jiang Xuan tidak berubah. Otaknya yang pragmatis telah membaca lintasan serangan mereka sebelum mereka berdua bergerak.
Jiang Xuan memutar Kuas Tulangnya satu putaran penuh di depan dadanya. Niat Formasi dan Qi hitam mengalir keluar, membentuk sebuah pusaran tinta ilusi yang sangat tebal di udara.
Perisai Tinta Kematian.
BOOOOM!
Pedang api dan tinju batu itu menghantam pusaran tinta hitam secara telak. Namun, tidak ada ledakan yang menghancurkan tubuh Jiang Xuan. Perisai tinta itu menyerap, meredam, dan mementahkan seluruh energi serangan tahap tujuh tersebut layaknya rawa tak berdasar yang menelan lemparan kerikil. Api spiritual Zhao padam seketika. Batu tajam Feng hancur menjadi debu tanah.
Kedua senior itu membelalakkan mata, kehilangan keseimbangan akibat momentum serangan mereka sendiri yang ditelan habis. Pertahanan mereka terbuka lebar.
Di tengah kepulan debu dan sisa energi, Jiang Xuan bergerak membelah perisainya sendiri dengan fluiditas yang mengerikan.
Ia melesat ke depan. Tangan kanannya mengayunkan Kuas Tulang ke leher Feng yang masih terhuyung.
SRET.
Kepala Feng terpisah dari lehernya tanpa ada perlawanan dari Qi pelindungnya.
Di saat yang persis bersamaan, bahkan sebelum kepala Feng menyentuh lantai, Jiang Xuan memutar pergelangan tangannya. Ia menggunakan tangkai tulang dari kuasnya—bukan ujung bulunya—dan menusukkannya ke depan dengan kekuatan fisik yang brutal.
JLEB! KRAK!
Tangkai Kuas Tulang itu menembus zirah kulit Zhao, mematahkan tulang rusuk pelindungnya, dan menancap dalam hingga menembus jantungnya.
Zhao terdiam kaku. Mulutnya terbuka lebar, memuntahkan gumpalan darah hitam yang membasahi tangan Jiang Xuan. Mata pemuda berwajah persegi itu meredup menatap sang malaikat maut yang baru saja mengeksekusinya.
Jiang Xuan menarik kuasnya dari dada Zhao dengan gerakan kasar. Tubuh tak bernyawa itu jatuh telentang dengan lubang menganga di dada kirinya.
Pertarungan selesai.
Jiang Xuan berdiri di tengah lautan darah dan potongan daging dari dua puluh kultivator sekte luar. Wajahnya yang pucat tidak memancarkan rasa bersalah, hanya ketenangan absolut seorang jagal yang baru saja menyelesaikan shift kerjanya. Pesta darah di dalam kandang telah ditutup dengan sempurna.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏