NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1

Suara gemuruh hujan di luar gedung mewah itu seolah meredam riuh rendah suara tamu undangan di dalam ballroom. Hari ini, Zoya Alana Clarissa resmi menyandang status baru. Status yang seharusnya membawa kebahagiaan, namun baginya, itu terasa seperti beban yang menghimpit dada.

Zoya duduk di depan cermin besar di kamar pengantin. Cadar berwarna putih bersih dengan hiasan payet kecil melindungi sebagian wajahnya, menyisakan sepasang mata bulat yang kini tampak redup.

Di balik kain tipis itu, ia berkali-kali menghela napas, mencoba menenangkan debaran jantung yang tak menentu.

"Zoya, sudah siap? Arvin sudah menunggumu untuk masuk ke mobil," suara lembut ibunya terdengar dari ambang pintu.

Zoya mengangguk pelan. Ia berdiri, merapikan gaun pengantinnya yang sederhana namun elegan. Ia tidak meminta kemewahan, ia hanya meminta satu hal dalam doanya. 'Seorang suami yang bisa membimbingnya.'

Namun, saat melihat punggung tegap pria yang kini sah menjadi suaminya berdiri di lobi hotel, Zoya tahu doa itu sedang diuji.

Arvin Dewangga. Pria itu berdiri membelakanginya, sibuk dengan ponsel di tangan. Tidak ada senyum, tidak ada binar bahagia. Bahkan saat Zoya berjalan mendekat, Arvin hanya meliriknya sekilas melalui sudut mata yang dingin.

"Ayo berangkat. Aku tidak punya banyak waktu," ucap Arvin datar. Suaranya berat, namun setajam sembilu.

Selama perjalanan menuju rumah baru mereka, keheningan menyelimuti mobil mewah tersebut.

Arvin tetap terpaku pada layar gawainya, sementara Zoya memilih menatap tetesan hujan di jendela. Tidak ada percakapan, tidak ada perkenalan batin. Hanya ada dua orang asing yang terikat dalam satu dokumen negara.

Sesampainya di sebuah penthouse mewah yang terletak di pusat kota, Arvin melangkah masuk lebih dulu tanpa menunggu Zoya. Ia melepas jasnya dan melemparnya sembarang ke sofa kulit berwarna gelap.

Zoya berdiri mematung di dekat pintu yang tertutup. Baginya, rumah ini terlalu besar, terlalu modern, dan terasa sangat asing.

"Duduklah," perintah Arvin tanpa menoleh. Ia kini berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota.

Zoya duduk di tepi sofa dengan kaku. "Mas Arvin..."

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu," potong Arvin cepat. Ia berbalik, menatap Zoya dengan tatapan yang seolah ingin menembus cadarnya. "Dengar, Zoya. Kita menikah hanya karena Papa yang memaksaku. Dia ingin aku memiliki istri shalihah sepertimu untuk memperbaiki citraku di depan dewan komisaris. Jadi, mari kita buat kesepakatan agar hidup kita tidak saling merepotkan."

Zoya terpaku. "Kesepakatan?"

Arvin melangkah mendekat, auranya yang dominan membuat Zoya sedikit menyusut. "Pertama, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di kampus atau dengan teman-temanmu, jadi jangan pedulikan apa yang aku lakukan di luar sana. Kedua, jangan berharap ada hubungan fisik di antara kita. Aku tidak tertarik padamu."

Zoya merasakan dadanya sesak. Ia tahu ini perjodohan, tapi ia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan sevulgar ini di jam pertama pernikahan mereka.

"Dan yang terakhir," lanjut Arvin, matanya menatap tajam ke arah cadar Zoya. "Aku tidak suka melihatmu berkeliaran di depan rekan bisnisku dengan... penutup wajah itu. Jika ada acara resmi perusahaan, kau harus mengikuti instruksi gayaku, atau lebih baik tidak usah datang sekalian."

Zoya mengepalkan jemarinya di atas pangkuan. Rasa hangat mulai mengumpul di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia teringat pesan ayahnya sebelum melepasnya.

'Zoya, pernikahan adalah ibadah terpanjang. Sabarlah, karena kunci surga ada pada keridhaan suamimu.'

"Apakah sudah selesai, Mas... maksud saya, Tuan Arvin?" tanya Zoya dengan nada suara yang tetap tenang meski bergetar.

Arvin sedikit terkejut melihat ketenangan wanita di depannya. Ia mengira Zoya akan menangis atau memohon. "Ya. Kamarmu ada di sebelah sana. Kamarku di lantai atas. Jangan masuk ke area pribadiku tanpa izin."

Arvin berlalu pergi tanpa kata pamit, meninggalkan Zoya sendirian di ruang tamu yang megah namun terasa beku.

Zoya berdiri perlahan. Ia tidak menuju kamar yang ditunjukkan. Sebaliknya, ia melangkah menuju dapur kecil yang ada di sudut ruangan. Ia melihat kulkas yang masih kosong dan meja bar yang berdebu. Dengan gerakan pelan, ia mulai menyingsingkan lengan gaunnya.

Ia mengambil kain lap, membasahinya, dan mulai membersihkan meja. Ia kemudian mengambil air wudhu di wastafel dapur jika harus, lalu menggelar sajadah kecil yang ia bawa di tasnya di sudut ruang tengah yang masih sepi.

Di sujud terakhirnya malam itu, Zoya menangis tanpa suara.

"Ya Allah, jika ini adalah jalan yang Engkau pilihkan untukku, maka kuatkanlah hatiku. Jadikanlah kesabaranku sebagai jembatan untuk melunakkan hatinya. Aku tidak meminta cinta yang instan, aku hanya memohon kekuatan untuk tetap menjadi istri yang baik, meski kehadiranku tidak diinginkan."

Keesokan paginya, pukul 05.30 WIB.

Arvin turun ke lantai bawah dengan pakaian olahraga, siap untuk lari pagi sebelum ke kantor. Namun, langkahnya terhenti saat mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera.

Di atas meja makan, sudah tersedia nasi goreng hangat dengan telur mata sapi yang sempurna, lengkap dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, persis seperti selera yang pernah disebutkan ayahnya.

Di dekat piring, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi.

"*Sarapan sudah siap, Tuan Arvin. Maaf jika saya lancang menyiapkan ini tanpa izin. Saya hanya ingin memulai hari dengan menjalankan kewajiban saya. Selamat beraktivitas*."

Arvin menatap sarapan itu dengan kening berkerut. Ia melihat sekeliling, namun Zoya tidak ada. Wanita itu seolah tahu bahwa kehadirannya hanya akan merusak selera makan Arvin, sehingga ia memilih untuk kembali ke kamarnya setelah selesai memasak.

Arvin mendengus, menarik kursi, dan mencicipi satu sendok nasi goreng itu. Matanya sedikit melebar. Enak. Sangat enak. Namun, gengsinya jauh lebih besar daripada rasa lapar itu. Ia hanya memakan tiga sendok, lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan kopinya.

Dari balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Zoya melihat semuanya. Ia melihat suaminya yang hanya mencicipi sedikit masakannya sebelum pergi. Zoya tersenyum tipis di balik cadarnya.

"Tidak apa-apa," gumamnya pada diri sendiri. "Tiga sendok lebih baik daripada tidak sama sekali."

Hari itu, Zoya belajar satu hal, Arvin Dewangga adalah sebuah benteng es yang sangat kokoh. Dan ia, hanyalah setetes air hangat yang mencoba meruntuhkannya. Namun, setetes demi setetes, bukankah batu pun bisa berlubang?

Perjuangan Zoya baru saja dimulai. Di rumah mewah ini, ia bukan hanya sekadar istri, tapi seorang pejuang yang sedang memenangkan hati suaminya lewat jalur langit.

...----------------...

**To Be Continue** .....

1
ρυтяσ kang'typo✨
aaaaccchhhhhh 😭😭😭😭😭nyesek q Zo... g tahan u di perlakukan sekeras itu sama Arvin
ρυтяσ kang'typo✨
mau sampe kapan kau bertahan Zoya🥺😤😭🤧ikut kesel dengan tingkah Arvin
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!