Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tiga hari berlalu. Tiga hari yang bagi orang biasa terasa mustahil untuk mengubah bangunan tua berdebu menjadi tempat yang layak huni, apalagi tempat operasi. Tapi bagi Kirana Anindita Wijaya, kata "mustahil" hanyalah tantangan yang belum selesai dikerjakan.
Dan bagi Arjuna Adhitama ... tiga hari ini adalah tiga hari terpanjang, terberat, dan paling melelehkan, mengguncang dunia, seumur hidupnya.
Dulu, Arjuna bangun pagi disambut kopi hangat, pakaian rapi disetrika, dan mobil mewah terparkir di depan pintu. Tapi sekarang!
"Arjuna! Awas di kiri! Angkat yang bener dong! Itu besi ringan tahu! Jalan tegak! Kamu kira sedang jalan di karpet merah istana raja?!"
Suara cempreng dan lantang Kirana kembali menggema, memecah kebisingan mesin dan ketukan palu yang saling bersahutan.
Arjuna berdiri di tengah ruangan yang sudah berubah drastis. Kaos polosnya kini sudah penuh noda, wajah dan dahinya berkeringat bercampur debu, dan sepatu kulit mahal yang harganya bisa buat makan satu desa setahun itu ... kini terinjak tanah basah dan serpihan besi. Di tangannya, ia memegang sebuah rangka besi berat yang seharusnya dibawa dua orang, tapi dipaksa Kirana diangkat sendirian olehnya.
Arjuna menatap gadis yang sedang duduk bersila di atas meja kerja itu dengan tatapan datar yang sudah tak berdaya. Kirana sendiri ... ah, jangan ditanya. Gadis itu seolah menyatu dengan oli dan debu. Rambutnya yang dikepang kini berantakan, ada daun kering nyelip di sana, wajahnya penuh noda hitam, tapi matanya berbinar paling terang, bersinar bangga seperti seniman yang sedang menyelesaikan mahakaryanya.
"Kamu mau aku patah tulang, Kirana?" tanya Arjuna dengan suara berat namun tenang. Meski dalam keadaan begini, aura wibawanya tak hilang. Ia tetap mengangkat besi itu dengan tenaga luar biasa, menempatkannya tepat di posisi yang ditunjuk Kirana.
"Kalau patah, nanti aku yang betulin. Aku dokter mesin sekaligus dokter tulang, tahu!" jawab Kirana enteng sambil menunjuk arah lain dengan kunci pas besar di tangannya. "Oke, taruh di situ! Pas! Nah, sekarang bantu Pak Hendra pasang panel itu!"
Arjuna menghela napas panjang, lalu berjalan menuju Pak Hendra yang sedang tersenyum menahan tawa melihat Tuan Mudanya yang dulu dingin dan sombong kini sibuk mengangkut barang seperti buruh harian. Tapi Pak Hendra tahu betul ... Arjuna Adhitama tidak pernah mengeluh. Ia melakukan semua ini bukan karena disuruh, tapi karena ia percaya pada Kirana. Dan diam-diam, Arjuna mulai merasa ada kepuasan aneh saat melihat sesuatu terbentuk dari keringatnya sendiri.
"Sudah selesai semua?" tanya Arjuna saat ia berdiri tegak kembali, menyeka keringat di dahi dengan sapu tangan yang sudah abu-abu warnanya.
Kirana melompat turun dari meja tinggi itu dengan lincah, mendarat dengan lembut persis seperti kucing. Ia berdiri di tengah ruangan luas itu, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, wajahnya bersinar bangga.
"Lihatlah sekelilingmu, Tuan Muda ... inilah hasil karya tangan dan otak jenius kita."
Arjuna menatap takjub. Mulutnya sedikit terbuka karena takjub.
Bangunan tua yang gelap, berdebu, dan kosong itu ... kini berubah total.
Langit-langit yang dulu gelap kini diterangi deretan lampu sorot terang yang entah bagaimana cara Kirana hidupkan hanya dengan memanfaatkan dinamo tua dan kabel bekas. Dinding-dinding yang kusam kini dibersihkan dan di beberapa bagian dilapisi pelat besi tebal sebagai perlindungan tambahan. Di sudut kanan, area bengkel raksasa lengkap dengan alat-alat canggih yang sudah diperbaiki dan dimodifikasi ulang, bisa menangani apa saja, dari motor kecil hingga truk besar.
Di sudut kiri, yang dulunya gudang sampah, kini berubah menjadi ruang kantor sederhana tapi lengkap: meja besar dari kayu bekas yang dipoles ulang, papan tulis raksasa untuk strategi, rak dokumen besi yang kokoh, dan bahkan ruang rapat kecil.
Dan di bagian belakang, yang paling menakjubkan ... ruang istirahat dan kamar tidur. Sederhana, bersih, rapi, tapi aman dan nyaman.
"Tapi yang paling hebat ada di sini ..." Kirana mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan cepat ke sebuah panel kotak besi di dekat pintu masuk utama. Ia memutar beberapa tombol, menekan kode rahasia, lalu tiba-tiba.
Klak!
Pintu-pintu gerbang besi otomatis tertutup rapat dan mengunci diri sendiri. Lubang-lubang kecil di dinding yang tadinya tak terlihat, ternyata adalah celah pengintai dan celah senjata yang tersembunyi. Di atas atap, sistem pengawas sederhana tapi efektif berputar memindai seluruh kawasan.
"Sistem pertahanan berlapis," ucap Kirana bangga, nadanya serius dan penuh percaya diri. Ia berjalan mengelilingi ruangan sambil menjelaskan, gerakannya lincah dan berwibawa, persis seperti komandan militer.
"Aku memanfaatkan semua mekanisme kuno peninggalan Ayah, lalu memodifikasinya dengan logika modern sederhana. Tidak butuh listrik mahal, tidak butuh teknologi satelit. Semuanya mekanis dan hidrolik. Kalau ada musuh datang ... pintu depan dan belakang akan terkunci otomatis. Jendela-jendela tertutup pelat baja. Dan kalau mereka berhasil masuk ke halaman ... bersiaplah disambut hujan paku dan air panas dari atap."
Kirana berhenti, menatap Arjuna yang masih diam terpukau. Gadis itu tersenyum miring, menantang.
"Bagaimana? Masih mau bilang aku cuma montir yang cuma bisa ganti oli?"
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️