Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 — Kehadiran yang Mengusik
Pagi itu langit kota terlihat cerah setelah semalaman diguyur hujan. Cahaya matahari masuk menembus kaca besar sebuah kafe bergaya klasik di sudut jalan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, sementara alunan musik piano pelan membuat suasana terasa hangat dan tenang.
Dewi duduk di dekat jendela bersama Lia. Ia mengenakan sweater putih sederhana dengan rambut yang diikat rapi. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari terakhir, bahkan senyum kecil masih sesekali muncul tanpa sadar di bibirnya.
Lia yang sedari tadi memperhatikan langsung menyipitkan mata curiga.
“Kamu beda hari ini.”
Dewi mengangkat wajah dari cangkir kopinya. “Apa?”
“Bahagia banget keliatannya.”
Dewi hanya tertawa kecil lalu memalingkan wajah ke luar jendela, berusaha menyembunyikan senyum malu yang muncul sendiri saat mengingat Ravin semalam.
Lia langsung mendekat sedikit sambil berbisik dramatis.
“Fix… ini gara-gara Ravin.”
“Apaan sih…” Dewi tertawa malu.
Namun beberapa detik kemudian ekspresi Lia berubah lebih serius.
“Ngomong-ngomong… kamu sadar nggak sih Juna aneh banget kemarin?”
Senyum Dewi perlahan mereda. Ia kembali memainkan sendok kecil di tangannya.
“Maksud kamu?”
“Dia keliatan cemburu pas lihat kamu sama Ravin.”
Suasana meja mereka tiba-tiba terasa lebih tenang. Suara mesin kopi dari balik kasir terdengar samar mengisi jeda percakapan itu.
Kalau dulu, nama Juna pasti langsung membuat Dewi salah tingkah. Namun kali ini reaksinya berbeda. Dewi hanya bersandar santai di kursinya sambil menghela napas kecil.
“Biarin aja.”
Lia sampai mengangkat alis. “Tumben santai. Bukannya dulu kamu suka banget sama dia?”
Dewi tersenyum tipis, tetapi ada rasa lelah samar di matanya.
“Aku memang suka Juna,” ucapnya jujur pelan. “Dari dulu malah.”
“Tapi?”
Dewi menatap kopi hangat di depannya cukup lama sebelum menjawab.
“Tapi aku capek nunggu orang yang nggak pernah berani ngomong.”
Kalimat itu keluar begitu saja, jujur dan tanpa ditahan lagi.
Lia terdiam.
Di luar jendela, kendaraan berlalu-lalang memenuhi jalan kota yang mulai ramai, namun di dalam hati Dewi semuanya terasa jauh lebih rumit.
“Ravin beda,” lanjut Dewi pelan. “Aku nyaman sama dia.”
Ucapan itu membuat Lia mulai memahami perubahan sahabatnya. Selama ini Dewi terus mengejar Juna, sementara Ravin justru diam-diam selalu hadir di saat Dewi membutuhkannya.
“Juna itu cuma fokus sama masa depannya,” ujar Lia mencoba membela. “Dia masih mikirin kelulusan, kuliah kedokteran, semuanya. Aku yakin nanti dia bakal nyatain perasaannya juga.”
Dewi tertawa kecil, tetapi kali ini terdengar hambar.
“Nanti terus.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandang langit biru di luar kaca.
“Aku lelah sama cowok pengecut,” ucap Dewi lirih namun jelas. “Kalau suka ya bilang.”
Lia tidak bisa membantah.
Angin pagi bergerak pelan menggoyangkan tirai tipis di dekat jendela. Wajah Dewi yang biasanya lembut kini terlihat lebih dewasa, seolah mulai lelah menunggu kepastian yang tidak pernah datang.
Untuk beberapa saat, mereka menikmati suasana kafe tanpa bicara. Hingga Lia kembali membuka percakapan.
“Latihan ballet kamu gimana?”
Mata Dewi sedikit berubah saat mendengar topik itu. Ada cahaya berbeda yang selalu muncul ketika berbicara tentang dunia tari.
“Mulai minggu depan bakal full latihan lagi,” jawabnya. “Bulan depan kan penampilan besar itu.”
Lia langsung tersenyum. “Akhirnya.”
Dewi mengangguk pelan. “Aku harus fokus sekarang. Pelatih aja udah marah karena pikiranku kemana-mana terus.”
“Ya jelas,” goda Lia sambil tertawa kecil. “Isi kepala kamu cowok.”
Dewi langsung melempar sedotan kertas ke arah Lia sambil ikut tertawa.
Namun setelah tawanya reda, wajah Dewi kembali serius.
“Aku pengen penampilan ini sempurna.”
Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh.
Lia tahu sejak kecil Dewi selalu bermimpi berdiri di panggung besar sebagai ballerina profesional. Semua latihan keras, rasa sakit, dan tekanan selama ini dilakukan demi mimpi itu.
“Kamu cocok jadi ballerina,” ucap Lia tulus. “Cantik, elegan… semua orang pasti bakal lihat kamu.”
Dewi tersenyum kecil mendengar itu.
“Makanya,” lanjut Lia sambil menatapnya serius, “daripada pusing sama cowok yang nggak jelas, mending fokus sama masa depanmu.”
Dewi diam mendengarkan.
“Kamu harus lanjut sekolah ke Perancis.”
Nama negara itu langsung membuat suasana hati Dewi berubah sunyi.
Perancis.
Tempat yang sejak dulu selalu menjadi tujuan impiannya. Tempat di mana ia ingin menjadi ballerina sesungguhnya. Dewi menunduk pelan sambil tersenyum tipis. Di tengah rumitnya perasaan tentang Ravin dan Juna… ada mimpi besar yang diam-diam masih terus memanggil namanya dari kejauhan.
Pagi di rumah Ravin terasa cukup sibuk. Cahaya matahari masuk dari jendela ruang makan, menerangi suasana rumah yang masih dipenuhi aroma sarapan hangat. Suara televisi kecil terdengar samar dari ruang keluarga, bercampur langkah kaki adik Ravin yang buru-buru memakai sepatu sekolah.
Sementara itu ibu Ravin terlihat sedang merapikan tas kecilnya di meja. Wajahnya tampak sedikit pucat seperti biasa, tetapi ia tetap berusaha tersenyum tenang.
“Aku berangkat terapi dulu ya,” ucapnya pelan.
Ravin yang sedang berdiri sambil minum langsung mengangguk singkat. Ia memang sudah terbiasa melihat ibunya bolak-balik rumah sakit karena penyakit jantung yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir.
Namun suasana berubah ketika Ravin menoleh ke arah Arum yang sedang duduk diam di ruang makan.
“Setelah ini aku anter kamu balik ke kuil.”
Ucapan itu langsung membuat ibunya berhenti bergerak.
“Apa?”
Ravin menghela napas kasar. “Aku nggak mungkin terus bawa dia di rumah, Bu.”
Ibunya langsung terlihat kesal. “Kamu tega banget ngomong begitu ke perempuan sebatang kara.”
“Bu, dia bukan siapa-siapa aku!”
“Terus kenapa dibawa pulang?”
Ravin langsung memegang kepalanya frustrasi.
“Karena situasinya ribet!”
“Tapi kamu juga deket sama Dewi kan?” lanjut ibunya semakin serius. “Kamu mau bikin dua perempuan sakit hati?”
“YA AMPUN…”
Ravin benar-benar mulai kehilangan kesabaran. Rasanya sejak semalam tidak ada satu orang pun yang percaya dengan penjelasannya.
“Aku nggak pacaran sama Arum!”
Ibunya malah menatap tajam. “Kamu jangan jadi laki-laki yang main-main sama perempuan.”
Ravin tertawa kesal saking frustrasinya.
“Bu, dia itu sebenarnya wanita gila—”
BUGH.
Pukulan kecil dari tangan ibunya langsung mengenai lengan Ravin.
“Jangan ngomong begitu!”
Ravin melongo tidak percaya sambil memegang lengannya sendiri.
“Ibu malah belain dia?!”
“Dia tamu di rumah ini!”
Ravin menghembuskan napas keras. Dadanya naik turun menahan emosi. Semua masalah ini terasa makin kacau hanya dalam satu malam.
“Percuma ngomong…”
Dengan wajah kesal ia langsung berjalan naik ke lantai atas meninggalkan ruang makan. Suara langkah kakinya terdengar keras hingga pintu kamar tertutup cukup kasar.
Suasana rumah mendadak lebih sunyi.
Arum yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya menunduk pelan. Untuk pertama kalinya wajah dinginnya terlihat sedikit tidak nyaman.
“Aku merepotkan…” ucapnya lirih.
Ibu Ravin langsung menghela napas kecil lalu tersenyum lembut.
“Ravin memang keras kepala.”
Arum menatap wanita itu beberapa detik. Wajah ibu Ravin terlihat lelah walau terus berusaha tampak baik-baik saja.
“Terapi?” tanya Arum pelan.
“Oh…” ibu Ravin memegang dadanya perlahan. “Sudah lama. Penyakit jantung.”
Nada suaranya terdengar biasa saja, tetapi Arum bisa merasakan tubuh wanita itu sangat lemah dari dalam.
“Sering sakit?”
“Kadang.” Ibu Ravin tersenyum kecil. “Tapi sudah biasa.”
Arum terdiam. Tatapannya perlahan berubah serius seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Aku bisa membantu.” Ucapan itu membuat ibu Ravin tertawa kecil menganggapnya lucu.
“Kamu dokter?” Arum menggeleng pelan.
Namun tanpa banyak bicara, ia perlahan mendekat lalu memegang tangan ibu Ravin dengan kedua tangannya.
Wanita itu sedikit heran.
“Arum?”
Arum memejamkan mata perlahan. Ruangan mendadak terasa lebih tenang. Angin pagi yang masuk dari jendela bergerak lembut menggoyangkan tirai putih di ruang makan. Wajah Arum terlihat begitu damai, sementara jemarinya terasa hangat meski biasanya tubuhnya dingin. Beberapa detik berlalu.
Tanpa disadari, sesuatu seperti energi lembut mengalir dari dalam diri Arum menuju tubuh ibu Ravin.
Wanita itu perlahan membelalakkan mata.
Rasa sesak yang biasanya memenuhi dadanya… tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.
“Napas saya…”
Ibu Ravin memegang dadanya pelan dengan wajah bingung.
Arum perlahan membuka mata. Wajahnya sedikit pucat setelah melakukan itu, tetapi tatapannya tetap tenang.
“Kesehatanmu akan membaik,” ucapnya lirih.
Ibu Ravin hanya bisa menatap Arum dalam diam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa gadis misterius yang datang ke rumah mereka itu… benar-benar bukan wanita biasa.