“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Laut Terlarang
PLAKK!
Beni menanpar pipinya sendiri dengan keras hingga menyisakan bekas merah di kulitnya yang lebam.
Rasa perih menjalar, membuktikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Namun, suara mekanis itu tidak hilang.
Justru, udara di depannya mendadak berdesir, membelah kabut keperakan dan memancarkan cahaya biru neon yang berpendar terang.
DING!
Sebuah layar transparan berbentuk persegi panjang mengambang kokoh di atas perahunya yang bergoyang dihantam ombak. Beni membelalakkan mata, menatap barisan teks cahaya yang tertera di sana:
[SISTEM PENGUMPUL EMAS]
Nama Tuan Rumah: Beni
Level: 1
Kekuatan: Lemah
Energi: Rendah
Jumlah Emas: 0
Melihat deretan teks yang menghina kondisinya itu, Beni terdiam membeku. Ia melupakan sejenak rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat dikeroyok warga desa.
Tangannya yang kasar dan gemetar perlahan terangkat, mencoba meraih udara kosong di depannya.
"I-ini... apa?" bisik Beni, suaranya tercekat di tenggorokan. "Layar ini... ini seperti antarmuka yang sering dibicarakan oleh anak-anak muda di kota. Layar yang suka ada di dalam game!"
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Saat ujung jari Beni yang bernoda darah menyentuh permukaan layar virtual tersebut, riak cahaya biiru menyebar seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air tenang.
Layar itu berubah seketika, memunculkan jendela notifikasi baru yang berkedip merah.
DING!
[Misi Pemula Telah Diaktifkan!]
Tugas: Tangkap 1 ekor Ikan Spiritual Tingkat Rendah.
Batas Waktu: Sebelum perahu hancur karam.
Hadiah: 100 Emas + Kail Pancing Perunggu (Tingkat Rendah).
"Ikan... Spiritual?" Beni mengernyitkan dahi, membaca dua kata asing itu dengan keras. "Ikan macam apa itu? Selama lima tahun lebih aku melaut di Desa Kerang Biru, aku belum pernah mendengar ada jenis ikan bernama seperti itu!"
Belum sempat Beni mencerna kebingungannya, layar sistem kembali berkedip, memunculkan tulisan dengan huruf tebal berwarna merah darah.
DING!
[Peringatan Keras: Harap Tuan Rumah berhati-hati! Anda saat ini berada di wilayah Laut Terlarang. Lautan ini sangat berbahaya bagi makhluk biasa!]
Membaca peringatan itu, bulu kuduk Beni berdiri tegak. Suasana di sekelilingnya mendadak terasa jauh lebih menekan.
Walaupun akal sehatnya menjerit bahwa semua ini tidak masuk akal dan sulit dipercayai, kondisi tubuhnya yang sekarat tidak memberinya kemewahan untuk banyak bertanya.
Mati karena tenggelam atau mati karena monster, apa bedanya? Setidaknya, layar aneh ini memberinya satu jerat harapan.
"Sialan... kalau aku harus mati malam ini, setidaknya aku tidak mati sebagai pecundang yang pasrah!" desis Beni penuh tekad. "Mancing saja lah! Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh benda ini."
Dengan sisa tenaga yang ada, Beni meraih tongkat pancing bambu tuanya yang sudah retak di sudut perahu. Tanpa umpan, tanpa persiapan yang layak, ia mempersiapkan kailnya lalu melemparkannya ke tengah lautan berkabut.
CIIUUUTTT... PLUMP!
Saat tali pancingnya tenggelam ke dalam air, Beni mulai menyadari keanehan yang mengerikan dari tempat itu. Laut di sekelilingnya benar-benar berbeda dari lautan yang ia kenal seumur hidupnya.
Air laut di sini tidak berwarna hitam pekat, melainkan memancarkan cahaya biru redup dari kedalamannya, seolah-olah ada jutaan kunang-kunang yang mati di dasar laut. Kabut di atas permukaan air semakin tebal, berkumpul membentuk formasi ganjil.
Dan yang paling membuat jantungnya mencopot, sesekali sebuah bayangan raksasa berukuran puluhan meter melintas lambat tepat di bawah lambung perahu kayunya yang kecil.
Setiap kali bayangan itu lewat, terdengar suara bisikan aneh dan rintihan samar dari dalam kabut, membuat atmosfer malam itu terasa begitu mencekam.
Beni menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram erat gagang pancing bambunya. "Perasaan... laut tidak pernah semengerikan ini. Tempat apa sebenarnya ini? Apakah aku sudah menyeberang ke alam kematian?"
Waktu berlalu terasa begitu lambat. Satu jam, dua jam... perahu Beni terus terombang-ambing. Rasa putus asa kembali merayap di hatinya. Tubuhnya semakin dingin, dan darah dari luka-lukanya mulai membeku karena angin malam.
Namun, tepat saat ia hampir menyerah dan melepaskan pancingannya, tali senar lamanya tiba-tiba menegang.
ZRRRRRRRRTTTT!