NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Untaian Luka Dira

Tatapan Dira yang nggak lepas dari bangku kosong Faza, adalah hal pertama menyambut Sisil masuk ke kelasnya. Jelas hal itu memicu kembali kemarahan Sisil.

BRAK! 

Tendangan kencang ke arah meja Dira. Hampir membuat Dira jatuh dari kursinya. 

Dira yang awalnya bengong menatap meja kosong Faza jadi kaget. Dira sama sekali tidak sadar dalam pengawasan Sisil. 

“Kamu perempuan miskin nggak tahu diri. Baru juga satu hari lihat cowok ganteng hampir membuat mata kamu juling.” 

Ungkapan penuh penghinaan dari mulut Sisil untuk Dira. Membuat suasana kelas menjadi hening sejenak. 

Dari semua teman Dira. Tidak ada satupun berani mengingatkan Sisil. Mereka lebih memilih diam saat mengingat latar belakang keluarga Sisil. 

Di lingkungan teman-temannya, Sisil dikenal dari orang kaya dan berpengaruh. Apalagi keluarga Sisil termasuk salah satu donatur di tempat tersebut. Meskipun bukan donatur terbesar. 

Hurrff.

Dira ngembusin nafas pelan sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tatapan Dira berpaling dari Sisil. Menghindari perdebatan tidak penting di pagi hari. 

“Kenapa kamu menghembuskan nafas seperti itu? Kamu tidak terima.” 

Dira lebih memilih diam dibandingkan menjawab pertanyaan Sisil. Niat hati Dira meredam kemarahan Sisil, justru terbanding terbalik. 

GREB. 

“Kamu sedang mencoba melawanku, orang miskin,” bisik Sisil sambil mencengkram kerah baju Dira. 

“Berani kamu sama aku,” geram Sisil lagi ketika melihat tatapan Dira mengarah padanya.

“Apakah kamu pikir aku seberani itu?” tanya Dira balik menatap Sisil. 

“Miskin aja sombong. Apalagi kalau kaya, sudah aku pastikan kamu akan menjadi orang tidak tahu diri dan jumawa.” 

Meskipun kata-kata Dira terdengar biasa saja. Tapi, tidak untuk Sisil yang menganggap ucapan Dira sebagai bentuk perlawanan.

“Apakah kamu sedang membicarakan diri sendiri?” 

Pertanyaan untuk kesekian kalinya dilontarkan Dira. Benar-benar meyakinkan Sisil jika Dira mulai sulit dikendalikan. 

“Kamu benar-benar sedang menguji kesabaranku. Perempuan miskin dan hina sepertimu memang harus mendapatkan pelajaran,” geram Sisil mencoba menahan nada bicaranya agar tidak sampai terdengar keluar kelas. 

“Silahkan, jika kamu menginginkannya.”

“Baiklah, aku akan membungkam mulutmu dengan stempel panas tanganku.”

Karena Sisil tidak mungkin meluapkan kekesalannya dengan teriakkan yang justru akan mencuri perhatian di luar kelas. Sisil memilih jalan lain yaitu melayangkan tamparan ke arah wajah cantik. 

Namun, saat telapak tangan Sisil hampir mengenai wajah Dira. Tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah tangan menahan tangan Sisil. 

Greeep. 

Dunia Dira seakan berhenti saat itu. Bukan karena tamparan Sisil. Melainkan sosok laki-laki yang tadi subuh membuat dirinya dalam keadaan serius. Justru kini mencengkram tangan Sisil. 

“Sialan! Siapa yang berani menahan tanganku memberikan tamparan keras ke perempuan gak tahu malu ini?” geram Sisil kaget.

“Aku,” jawab singkat laki-laki incaran Sisil.

Meskipun baru sehari mengenal laki-laki yang menjadi crush. Tapi, sosok itu sudah berhasil memenuhi pikiran Sisil hingga sulit tidur. 

Meskipun belum melihat wajahnya dan hanya mendengar suaranya. Tapi, Sisil sudah mampu menebak sosok tersebut.

“Faza, aku hanya ingin...” 

“Good morning, everyone.” 

“Good morning, Miss.” 

Suara Miss Panda terdengar menyeruak di antara kegaduhan antara Sisil dan Dira. Faza yang tidak ingin terjadi masalah tangan memilih melepaskan cekalan pergelangan Sisil. 

Tanpa ekspresi yang ditunjukkan oleh Faza. Dirinya berjalan menuju bangku kosong.

“Bagaimana dengan tugas yang Miss kasih kemarin? Apakah sudah mengerjakan?” tanya Miss Panda sambil mengawasi para muridnya. 

Mendengar pertanyaan Miss Panda. Jantung Sisil berdetak tidak karuan. Karena pikirannya terlalu fokus ke Faza. Mengakibatkan Sisil melupakan tugas rumah dari Miss Panda. 

“Ayo, tolong dikumpulkan sesuai baris bangku. Miss akan membagi secara adil. Kita akan koreksi sama-sama.” 

Keringat dingin merembes membasahi baju batik Sisil. Mengingat dari semua pengajar di sekolah, hanya Miss Panda yang sulit ditaklukkan dan diintimidasi. 

Sebab, Miss Panda berasal dari keluarga kaya raya, memiliki jabatan, serta berpengaruh. Tentu posisinya Sisil tidak ada apa-apanya dibandingkan Miss Panda.

“Sisil, kenapa kamu diam saja?” 

“Maaf Miss, saya lupa mengerjakan tugas.” 

Miss Panda hanya tersenyum mendengar penuturan Sisil. Senyum yang bikin bulu kuduk Sisil berdiri. 

Sambil geleng-geleng kepala. Miss Panda berjalan mendekati Sisil. Tentu saja dengan senyum misterius. 

“Sisil, apakah perlu Miss memperjelas hukuman bagi siswa tidak mengerjakan tugas?” 

“Tidak perlu Miss, saya akan keluar mengerjakan soal sekaligus membuat catatan penyesalan untuk ditandatangani orang tua,” jawab cepat Sisil menahan kesal.

“Baik, silahkan keluar dari kelas Miss sekarang juga.” 

“Baik Miss.” 

Dengan menampilkan wajah merah padam serta tangan terkepal kuat menahan amarah. Sisil berjalan keluar melewati Miss Panda begitu saja tanpa menundukkan kepalanya. 

Namun, belum juga keluar dari kelas. Suara panggilan Miss Panda menghentikan langkah Sisil. 

“Sisil!” 

Badan Sisil kembali kaku serta tenggorokannya tercekat. Suara Miss Panda benar-benar bikin Sisil kurang nyaman. 

“Iya, Miss, ada apa?” tanya Sisil gugup. Tangannya mulai berkeringat. 

“Buang jauh-jauh sikap angkuhmu itu!” 

Satu kalimat bagaikan tamparan keras di wajah Sisil. Apalagi Miss Panda melakukan di depan umum. 

“Tunjukkan sikap dan jiwa seorang pelajar. Bukan jiwa seorang preman yang gemar mengintimidasi,” lanjut Miss Panda. 

Tanpa menanggapi ucapan Miss Panda sepatah katapun. Sisil dengan perasaan gondok keluar kelas untuk menerima hukuman sambil mengeluarkan handphone miliknya. Tujuannya jelas untuk menghubungi maminya. 

Setelah kepergian Sisil dari kelas. Pandangan mata tajam Miss Panda mengawasi seluruh kelas. 

“Apakah di kelas ini ada seperti Sisil? Jika ada, silahkan keluar sekarang juga!” perintah tegas Miss Panda. 

“Miss tidak ingin memiliki peserta didik yang susah diatur dan bertindak seenaknya sendiri. Karena dalam hidup, manusia diatur oleh hukum dan aturan yang berlaku.” 

Hening, tidak ada satupun suara keluar di antara semua siswa. 

“Jika tidak ada, maka kita lanjutkan pembahasan sekaligus mengoreksi tugas.” 

“Baik, Miss.” 

Sesuai ucapan Miss Panda. Tugas dikumpulkan sesuai deretan tempat duduk. Lalu dibagikan sendiri oleh Miss Panda agar tidak terjadi kecurangan. 

“Jika sudah menerima buku milik teman kalian. Tolong jangan ditukar. Terima yang Miss kasih tanpa pilih-pilih,” jelas Miss Panda menatap tajam sambil mengawasi. 

“Baik, Miss.” 

“Ini buat kamu, Dira.” 

“Terima kasih banyak…” 

Jantung Dira berdetak tidak karuan saat melihat nama Faza Idam Manggala tertera di sampul buku di tangannya. Sebuah reaksi asing yang baru pertama kali Dira rasakan. 

‘Ada apa dengan diriku? Biasanya aku biasa saja mengoreksi pekerjaan rumah milik teman laki-laki. Tapi, kenapa aku merasa sangat canggung sekali saat mengoreksi miliknya?’ batin Dira.

“Kenapa tanganku dingin? Apakah karena kejadian tadi pagi saat dia melihat keadaanku tanpa menggunakan…” 

“ARGH!” Dira teriak kencang hingga Miss Panda dan semua siswa kaget.

“Ada apa, Dira? Kenapa kamu berteriak?” tanya Miss Panda khawatir.

Dira langsung terdiam saat menyadari kebodohannya. Rasa gugup jelas menyelimuti diri Dira. Apalagi saat pandangan matanya tidak sengaja melihat Faza melihat ke arahnya. Benar-benar keadaan jantungnya dalam bahaya.

“Ada tikus, Miss.” jawab Dira spontan yang langsung membuat kelas heboh. Khusus para murid perempuan.

“ARGH!”

“ADA TIKUS DI KELAS KITA!” 

“MANA TIKUSNYA?”

“EWW! JIJIK!” 

Keadaan kelas benar-benar gaduh. Dira jelas tidak menyangka jika ucapan asalnya bikin heboh satu kelas. 

BRAK! BRAK!

“Tolong semuanya diam! Biarkan Miss sendiri mencari keberadaan tikus itu.” 

Miss Panda yang bertindak layaknya seorang pelindung untuk peserta didiknya. Langsung mencari keberadaan tikus di dalam kelas sesuai dengan penuturan Dira. Tentu saja Dira merasa bersalah karena telah memberikan laporan palsu.

“Miss!” panggil Dira cepat. 

“Iya, Dira. Ada dimana tikusnya?” tanya Miss Panda sambil mencari keberadaan tikus pembuat kegaduhan. 

“Maaf Miss, sepertinya tikusnya sudah kabur.” 

Faza langsung tersenyum miring melihat penuturan Dira. Sebab, Dira kembali berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. 

Huff! 

“Dasar amatir,” gumam Faza tahu betul kebohongan Dira. Terlihat dari Dira menggigit bibirnya. 

Karena faktor kegugupan Dira tidak lepas dari pandangan Faza. Saat mata mereka saling bertemu menatap. Kejadian tadi pagi tampak jelas mempengaruhi tingkah laku Dira.

“Karena tikusnya sudah pergi. Tolong kalian semua jangan berisik dan duduk kembali di kursi masing-masing.” 

“Baik, Miss.” 

Miss Panda kembali membagi koreksian tugas kepada para siswa lainnya. Hingga akhirnya sampai juga pada Faza yang duduk di bangku paling belakang. 

“Ini buat kamu Faza.” 

“Terima kasih banyak, Miss,” tutur Faza yang senyumnya terangkat saat melihat nama pemilik buku bersampul coklat di tangannya.

“Arundaya Dirandra,” gumam Faza membaca nama pemilik buku bersampul coklat. 

“Karena masing-masing sudah memegang buku milik teman kalian. Mari kita koreksi secara bersama-sama!”

Perintah tegas dari Miss Panda. Sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatian Faza dari buku Dira. 

Perbedaan warna serta kerapian buku Dira. Langsung menarik perhatian Faza untuk membuka bagian belakang. 

Meskipun terlihat sama bagi penglihatan  orang pada umumnya. Namun, tidak bagi Faza. 

Insting kuat, penglihatan tajam dan teliti jelas tidak bisa membohongi Faza. Sehingga tangan Faza terulur membuka bagian buku tersebut. 

Rembulan Dalam Balutan Noda

By: D 

Sepi, sunyi, hampa, dan dingin.

Sikap menempa bara hingga ke relung hati.

Tangan terulur menggapai asa yang entah sampai kapan tercapai.

Inginku berteriak meluapkan rasa sakit atas rengkuhan yang tak pernah terasa.

D,  

Semoga kamu baik-baik saja.

Lembuyan angin menerpa sudah cukup menghapus dahaga.

Cahaya rembulan sudah mulai menampakkan diri

Apakah kamu masih berdiri di tempat yang sama? 

Kubangan lumpur hitam yang menutupi, sudah terlalu lama berdiam dalam kenyamanan.

Bangkit! 

Agar cahaya rembulan bisa menembus gelapnya kehidupan.

Senyum yang tersembunyi akan kembali terbit.

Meski noda hitam tetap membekas tanpa bisa diminta.

Kata per kata dalam untaian puisi buatan Dira. Mengingatkan Faza tentang teriakan histeris Nimas di pagi hari, serta wajah sendu menutupi kecantikan Dira. 

Sosok yang sebelumnya dianggap Faza hanya biasa saja. Justru bayangan wajahnya selalu memenuhi isi pikiran dan juga hatinya.

Untaian puisi milik Dira yang menyayat hati. Membuat Faza tanpa sadar menuliskan kata-kata kecil di bagian bawah puisi tersebut. 

Kamu tidak sendirian, D.

“Dijumlahkan sesuai total skor yang Miss jelaskan sebelumnya. Lalu dikumpulkan sesuai deretan bangku!” 

Perintah Miss Panda tiba-tiba membuat Faza gelagapan. Karena terlalu menjiwai tulisan Dira. Sampai-sampai Faza sama sekali tidak mengoreksi hasil pekerjaan Dira. 

“Yang penting ada nilainya. Toh nilai segini juga sudah bagus,” ucap Faza sambil menilai 85 tugas Dira. Lalu mengumpulkan buku Dira sesuai deretan bangku. 

Namun, saat akan berdiri mengumpulkan buku Dira. Rasa penasaran menyelimuti Faza tentang coretan puisi yang belum terbaca. Membuat Faza merogoh saku untuk mengambil handphonenya. Kamera tanpa suara. 

Klik. 

Faza langsung menutup buku Dira. Mengembalikan buku Dira seperti semula. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!