NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Tanda yang Terukir dan Bisikan dari Lautan

"Anginnya sangat menyejukkan, namun tetap tidak bisa membuatku tenang," gumam Evelyn. Ia memejamkan matanya erat-erat, mencoba menghalau rasa sesak yang kembali mengalir di dadanya.

Puk.

Sebuah tepukan ringan di bahu mengejutkannya.

"Hey, Eve! Kau ternyata di sini. Aku sampai pusing mencarimu di sekitar area toilet umum tadi. Kau benar-benar hobi membuatku jantungan," gerutu Sofia seraya mendudukkan diri di samping Evelyn di atas pasir.

Evelyn terkekeh pelan. "Maaf, Sof. Perutku sudah mendingan setelah terkena angin. Aku hanya ingin menikmati pantai dari sini."

"Ya, ya, terserah kau saja," Sofia mencibir jenaka, lalu menyodorkan sebuah kantong kertas kecil berlogo toko souvenir tadi. "Ini jepitanmu. Untung antreannya cepat tadi, jadi si kasir tampan itu tidak perlu melihatku salah tingkah terlalu lama."

Evelyn menerima kantong itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Kilasan cengkeraman kejam Kaelen di dapur tadi mendadak berputar di kepalanya.

"Terima kasih, Sofia. Maaf merepotkanmu."

"Sama-sama. Oh iya, barusan guru-guru sudah meniup peluit pengumuman. Rombongan kita diminta kembali ke bus karena kita akan langsung menuju resor untuk pembagian kamar," kata Sofia sambil berdiri dan mengibaskan pasir dari roknya. "Ayo, jangan sampai kita ditinggal!"

Evelyn mengangguk dan ikut bangkit. Mereka berdua berjalan beriringan kembali menuju area parkir bus. Sepanjang perjalanan singkat itu, Evelyn sesekali melirik ke arah laut lepas. Entah mengapa, permukaan air laut dangkal yang mereka lewati tampak berkilau lebih terang dari biasanya, seolah-olah menyembunyikan sepasang mata biru safir yang terus mengintai setiap langkahnya dari balik gelombang.

****

Sesampainya di resor, semua murid diarahkan ke kamar masing-masing. Beruntung, Evelyn dan Sofia kebagian satu kamar yang sama. Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat hingga sore menjelang.

"Bangun, Evelyn! Ini sudah sore. Sebentar lagi kita harus berkumpul untuk makan malam di sebuah restoran tepi pantai!" seru Sofia seraya mengguncang lembut bahu Evelyn.

Evelyn terbangun dengan kesadaran yang terasa berat. Sebenarnya, ia merasa tidak enak badan sejak kembali dari pantai siang tadi. Entah mengapa, bahu sebelah kanannya mendadak terasa panas dan terus berdenyut nyeri.

"Cepat mandi, Eve," ucap Sofia, yang kini sudah kembali sibuk berdandan di depan kaca rias.

"Hmm... Jam berapa sekarang, Sofia?" Evelyn turun dari ranjang sambil memegangi bahunya yang terasa kian membara.

"Jam lima sore. Apa kau sudah benar-benar baikan, Eve? Kalau masih sakit, aku bisa memberi tahu guru dan membawakan makanan ke sini untukmu," ucap Sofia penuh perhatian.

"Tidak perlu, Sof. Aku sudah baikan," dusta Evelyn lagi.

Ia memaksakan diri melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Namun, tepat setelah ia mulai menggosok badannya di bawah guyuran air, jemarinya tidak sengaja menyentuh sebuah tekstur aneh yang sedikit menonjol di bahu kanan.

Apa ini jerawat? batin Evelyn heran.

Ukuran tekstur itu terasa terlalu lebar untuk sebuah jerawat, dengan permukaan yang sedikit bergelombang dan mengeras. Didorong rasa penasaran yang besar, Evelyn bergegas menyelesaikan sesi mandinya. Begitu selesai memakai bathrobe, ia langsung berdiri di depan cermin wastafel dan menyingkap kerah handuk mandi di bahu kanannya.

Netra Evelyn membelalak sempurna saat menatap pantulan cermin. "Kenapa... ada tato di pundakku?"

Di kulit pucatnya yang mulus, kini terukir sebuah pola misterius berbentuk sisik seukuran ibu jari. Pola itu memancarkan warna biru safir terang yang sangat indah. Namun, bagi Evelyn, pemandangan itu justru terasa mengerikan.

"Pantas saja pundakku terasa sangat panas," gumam Evelyn dengan tubuh gemetar.

Pikirannya langsung kalut. Apa jangan-jangan Sofia yang melakukannya saat aku tertidur tadi?

Evelyn menduga jika tato temporer itu sengaja ditempelkan oleh sahabatnya. Sebab, siapa lagi orang yang berada di dalam kamar ini selain Sofia?

Namun, di detik berikutnya Evelyn segera menggelengkan kepala, menyangkal pemikirannya sendiri.

Tidak, tidak mungkin Sofia melakukannya. Dia tidak pernah jahil dan bukan tipe teman yang kekanak-kanakan seperti itu.

Lalu, dari mana tanda mistis ini berasal?

Tok! Tok! Tok!

"Eve, sudah belum? Kenapa kau lama sekali di dalam? Apa kau benar-benar tidak apa-apa? Aku khawatir, Eve. Berbicaralah sesuatu!"

Ketukan keras pada pintu kamar mandi yang disertai teriakan cemas Sofia seketika menyentak lamunan Evelyn. Ia buru-buru merapatkan kembali kerah bathrobe-nya untuk menyembunyikan pola sisik misterius di bahunya.

"I-iya, aku segera keluar!" sahut Evelyn sedikit gugup.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Evelyn melangkah keluar dan langsung disambut oleh tatapan menyelidik dari Sofia yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan di pinggang.

"Maaf, Sof. Perutku agak sembelit tadi, jadi makanya sedikit lama," dusta Evelyn sembari memaksakan tawa kecil untuk mencairkan suasana.

"Begitukah? Baiklah. Sekarang cepat pakai bajumu, Eve. Kita harus segera berangkat," ucap Sofia yang sudah tampil rapi dan siap pergi.

Evelyn hanya mengangguk patuh. Secepat mungkin, ia memilih sweter merah muda berleher tinggi untuk memastikan pola sisik di bahunya tertutup rapat, lalu memadukannya dengan rok jins selutut. Ia bergerak minimalis di depan cermin; hanya memoles bibirnya dengan sedikit lip gloss, mengusapkan pelembab wajah, serta menyisir rambut sebahunya agar tidak terlalu kusut.

Beberapa saat kemudian...

Restoran di Tepi Pantai

Langkah kaki rombongan murid Vesperanian High School akhirnya tiba di restoran tepi pantai yang telah dipesan oleh pihak sekolah. Desain restoran tersebut sangat terbuka, dengan pilar-pilar kayu kokoh yang langsung menghadap ke arah laut lepas. Lentera-lentera gantung berwarna kuning hangat mulai dinyalakan, berpadu dengan pemandangan langit senja Blue Waves yang perlahan meredup.

Aroma makanan laut yang menggugah selera langsung menusuk hidung. Namun, bagi Evelyn, aroma asin air laut yang terbawa angin malam justru membuat bahu kanannya kembali berdenyut, menyebarkan sensasi hangat yang asing ke seluruh tubuhnya.

Tanpa berlama-lama lagi, semua murid dan guru langsung menyantap hidangan yang telah tersaji di atas meja panjang. Mereka duduk bersila dengan akrab, menikmati suasana malam yang hangat.

"Hidangannya enak sekali, Eve! Aku belum pernah merasakan masakan seafood seenak ini. Aku baru tahu kalau kuliner laut khas Kota Blue Waves sangat berbeda dari restoran lain. Sayang sekali aku baru pertama kali ke sini. Coba saja dari dulu aku berkunjung," ucap Sofia riang di sela-sela kunyahannya.

Sementara itu, fokus Evelyn justru terpecah. Alih-alih menikmati makanan lezat di hadapannya, ia merasa sangat terganggu oleh suara deburan ombak di luar restoran. Anehnya, suara itu tidak lagi terdengar seperti hantaman air biasa, melainkan menyerupai seuntai nyanyian gaib yang lamat-lamat memanggil namanya.

Evelyn... Evelyn...

Bulu kuduk Evelyn meremang. Efek magis itu membuatnya tidak nyaman. "Iya, ini sangat enak," sahut Evelyn terbata, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Tapi... bisakah kita percepat makannya dan segera pergi dari sini, Sof?"

"Kenapa buru-buru?" tanya Sofia dengan dahi berkerut heran. "Kita masih punya waktu dua jam di restoran ini, Eve. Setelah itu, kita dapat jam bebas untuk jalan-jalan. Kudengar dari murid lain, ada festival pasar malam yang diadakan tidak jauh dari lokasi kita sekarang."

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!