----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. RUMAH ATAU NERAKA.
Flash Back.
Plessss... Plasss... Syurrr...
Aku terbangun dari tidurku. Seluruh pakaian dan tubuh ku basah. Aku melihat sekeliling ruangan. Semuanya tiba-tiba saja berubah tidak seperti yang aku lihat semalam.
"Bangun kamu.! Jam segini kamu masih tidur... Kamu pikir, kamu seorang putri disini.!" teriak ibu angkat ku.
Wajahnya menatap tajam kearah mataku. Tangannya memegang sebuah ember air. Ember itu bekas menyiram diriku saat tidur.
"Mah.! Dingin.!" seluruh tubuh menggigil kedinginan saat di siram dengan air oleh ibu mereka.
"HE-YAH.! Dingin-dingin kamu... Kamu pikir aku membawa mu hanya untuk melihat mu malas-malasan di sini.?" teriak ibu angkat ku kepada diriku.
Aku tidak mengerti, kenapa aku terbangun di dalam sebuah kamar yang sempit dan usam.
Aku melihat wajah ibu dan saudara angkat ku, wajah mereka berbeda dari sebelumnya. Tidak ada senyum hangat dari keduanya. Yang ada hanyalah tatapan tajam mereka menatap dalam diriku yang baru saja terbangun.
"Sekarang cepat ganti baju mu! Ada banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan.!"
"Bangun kamu! Cepat bangun!"
Tangan ku langsung di tarik dan aku di seret paksa oleh ibu angkat ku. Aku langsung di bawa ke dapur.
"Mah.! Mah.! Sakit mah... Hiks... Hiks... Hiks..." aku di tarik paksa sehingga tangan ku menjadi sakit.
Tak... Tak... Tak...
Langkah kaki ku terseret. Lalu aku di dorong oleh ibu angkat ku.
BRUGGG!!!
Tubuh ku jatuh ke lantai. Semuanya serasa tak nyata. Dalam semalam sikap mereka berubah drastis.
"Kamu cuci semua piring kotor' ini. Habis itu kamu pel lantai dan cuci semua pakaian kotor..." ucap ibu angkat ku.
Ibu angkat ku menunjuk wajah ku dengan jari telunjuknya. Wajahnya yang kemarin begitu hangat berubah menjadi dingin dan kejam.
"Kamu dengar baik-baik! Kamu tinggal disini tidak gratis. Kamu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah.! Kamu dengar!"
Aku terdiam duduk di lantai dengan lemas. Tubuhku gemetar ketakutan. Aku tidak berani menatap wajahnya. Dan aku hanya bisa menundukkan wajah ku sambil mengangguk.
"I-iya mah.!"
Ayah angkat ku hanya diam dan melihat aku di perlukan seperti itu. Wajahnya tampak biasa saja. Aku tidak tahu kenapa dengan keluarga ini.
Mereka mengangkat diriku menjadi anak mereka. Tapi aku seolah-olah tidak bernilai aku hanya seperti angin lalu yang tidak terlihat.
Flash Back Off.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Setelah aku menyelesaikan mencuci pakaian seluruh orang rumah aku juga harus memasak untuk semua orang.
Aku tinggal bersama dengan keluarga suamiku. Sampai saat ini aku sama sekali tidak pernah di anggap oleh mereka.
Sama seperti keluarga ku. Aku tidak pernah dianggap ada. Keberadaan ku hanya sebatas angin lewat.
"Nayra.! Nayra.! NAYRA!!!" teriak ibu mertua ku memanggil diriku.
"Iya mah! Ada apa, Mamah memanggil ku.?"
Aku berjalan menghampiri ibu mertua ku. Ada apa dengannya. Mengapa ia berteriak memanggil nama ku di pagi hari.
Ibu mertua ku bernama Sarah, sosok wanita yang selalu berteriak dan meremehkan diriku sebagai menantunya.
"Nayra! Kamu lihat baju baru milikku? Aku tidak menemukan bajuku?" tanya ibu mertua ku.
"Baju mamah... Aku sudah mencucinya tadi. Ada apa mah?"
"Dasar menantu bodoh! Aku mau memakai baju itu sekarang! Apa kemarin kamu tidak mencucinya?" tanya ibu mertua ku. Wajahnya tampak kesal suaranya juga semakin meninggi.
Aku hanya menunduk. Kenapa diriku tidak bisa membantah ataupun membela diriku sendiri.
"Maaf mah.! Kemarin aku sangat lelah, jadi aku tidak sempat mencuci." jawab ku pelan.
"Halah.! Banyak alasan kamu. Kenapa anakku bisa menikah dengan wanita seperti kamu.!"
perkataan ibu mertua ku menusuk hatiku. Rasanya hatiku sangat sakit mendengar perkataannya. Kenapa semua yang aku lakukan selalu salah di matanya.
"Minggir kamu!" ibu mertua ku sengaja menyenggol diriku. Tampak diriku ini seperti orang yang tidak berguna dimatanya.
Namun aku harus bersabar menghadapi mereka. Rumah ini lebih baik dari pada di rumah orang tua ku.
Setidaknya di sini ada sosok seorang suami yang aku cintai. Tidak dengan rumah kedua orang tua angkat ku.
Di rumah itu aku terasa seperti neraka. Hari-hari ku suram tanpa ada senyum sama sekali setelah aku tinggal disana.
Siang harinya aku pergi ke kantor tempat suami ku berkerja. Aku pergi untuk mengantar makanan untuknya.
Suami ku berkerja di perusahaan ayah ku. Aku dengan senang hati mengantar makanan untuknya.
Aku pergi kesana dengan menaiki taksi. Setelah itu aku sampai di depan perusahaan ayah ku.
Aku berjalan masuk ke perusahaan dan pergi keruangan kerjanya. Aku tersenyum sepanjang perjalanan. Berharap suamiku menyukai masakan ku kali ini.
Tok... Tok... Tok...
"Mas.! Apa kamu di dalam.?"
Aku selalu mengetuk pintu saat ingin masuk ke dalam ruangan kerja suamiku. Karena ia berpesan kepada ku agar selalu mengetuk pintu jika ingin menemui dirinya di perusahaan.
Setelah mengetuk pintu berkali-kali dan memanggil namanya. Suamiku tidak menjawab sahutan ku dari luar ruangan.
Karena tidak ada jawaban dari suamiku, aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Krek...
Aku membuka pintu ruangannya. Aku kemudian masuk ke dalam. Aku melihat-lihat ruangan kerja suamiku sama seperti terakhir kali aku datang kesini.
Aku menaruh wadah bekal makanan yang aku bawa di mejanya. Aku duduk menunggu suamiku kembali keruangan nya.
Tok... Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu dari luar. Ternyata salah satu karyawan perusahaan datang mencari suamiku.
"Permisi Bu! Apa ibu melihat pak Fadli?" tanya karyawan itu kepada ku.
"Tidak Bu! Saya dari tadi menunggunya di sini. Ada yang bisa saya bantu.?"
"Tidak Bu! Saya cuma tadi lihat pak Fadli pergi dengan seorang wanita. Saya kira itu Bu Nayra."
"Tidak! Saya baru saja datang kesini."
Saat itu aku sedikit curiga terhadap suamiku. Karena tadi pagi saat aku mencuci pakaian ada noda lipstik di baju suamiku.
Kali ini ada karyawan yang memberi tahu aku kalau suami ku pergi bersama dengan seorang wanita. Hatiku menjadi sangat tidak tenang.
Aku kemudian bertanya kepada karyawan itu. kapan terakhir kali ia melihat suamiku pergi dengan wanita yang ia lihat.
"Permisi Bu! Kalo boleh saya tahu, kapan ya mas Fadli pergi...?"
"Dari pagi Bu!" jawab karyawan itu.
"Dari pagi?" aku semakin bertanya-tanya di dalam hatiku.
"Kalau begitu saya permisi Bu!"
Karyawan itu kemudian kembali ke ruangan kerjanya. Aku menjadi gelisah saat itu. Perasaan ku menjadi gundah.
Saat itu aku tidak sengaja melihat ada sebuah surat di atas meja kerjanya yang tertimpa beberapa dokumen.
Tangan ku tidak sengaja menyenggol nya. Dari situlah aku melihat surat itu. Aku kemudian pergi ke alamat itu.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Akhirnya aku sampai di sebuah hotel. Aku bertanya-tanya kenapa alamat itu berada di sebuah hotel.
Perasaan ku semakin tidak tenang. Apa yang suamiku lakukan di sebuah hotel bersama dengan wanita.
Pikiran ku berpusat pada hal yang tidak-tidak. Untuk memastikan kecurigaan ku, aku memutuskan untuk memeriksanya sendiri.
Aku masuk dan mencari kamar hotel yang ada di dalam surat. Setelah lama mencari akhirnya aku menemukan kamar hotel itu.
Krek...
Aku membuka pintu kamar. kebetulan pintu kamar hotel itu tidak di kunci. Dengan perasaan hati yang tidak tenang aku membukanya.
"Mas.! Apa yang kamu lakukan disini...?"
Seketika aku terkejut dengan apa yang aku lihat saat itu di dalam kamar hotel.
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi