Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Aliansi yang Abadi
Dua bulan telah berlalu sejak badai korporasi terbesar dalam sejarah perekonomian Asia Tenggara itu memporak-porandakan kemegahan dinasti lama. Waktu berjalan membawa perubahan besar, dan kini musim baru yang penuh harapan akhirnya tiba di langit ibu kota. Proses restrukturisasi, pembersihan aset, hingga reformasi birokrasi internal perusahaan berjalan dengan tingkat kesuksesan yang luar biasa menakjubkan di bawah komando taktis duet maut Adrian dan Renata.
Nama Dirgantara Group—yang dulu lekat dengan monopoli dingin dan intrik berdarah—kini telah resmi dihapus dari papan bursa internasional. Sebagai gantinya, lahir sebuah entitas baru yang jauh lebih megah, kokoh, dan bersih dari noda hitam masa lalu: Dirgantara-Mahardika Tbk. Gedung pencakar langit lantai 50 yang menjadi saksi bisu segala konspirasi itu kini berhiaskan logo baru di dinding utamanya—siluet dua sayap kupu-kupu emas yang saling bertautan erat dengan sangat presisi, melambangkan penyatuan dua kekuatan besar yang berhasil lahir kembali dari abu kehancuran masa lalu.
Perusahaan baru ini berdiri tegak di atas fondasi transparansi mutlak, bersih dari segala noda hitam, korupsi, maupun utang darah. Nilai saham mereka tidak sekadar pulih ke posisi semula, melainkan melonjak tajam melampaui prediksi para analis hingga menyentuh rekor tertinggi baru dalam sejarah pasar modal Asia. Publik, media massa, hingga para investor global memberikan apresiasi serta rasa hormat yang luar biasa terhadap integritas Adrian—seorang pria yang dengan gagah berani menindak serta menumbangkan kejahatan keluarganya sendiri demi sebuah kebenaran. Di sisi lain, dunia bisnis dibuat kagum oleh kejeniusan spionase finansial Renata yang berhasil menyelamatkan aset-aset krusial korporasi melalui pergerakan senyap Phoenix Holding.
Malam itu, di balkon luar penthouse mewah mereka yang bertingkat tinggi, angin malam berembus dengan lembut, membawa kesegaran sisa aroma hujan sore hari yang masih tertinggal. Pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap membentang luas di bawah mereka bagaikan hamparan permata tak berujung yang berkilau di bawah pekatnya langit malam.
Adrian melangkah mendekat dari dalam ruangan dengan sangat senyap. Pria itu telah menanggalkan semua atribut formalnya sebagai seorang penguasa korporasi; ia hanya mengenakan kemeja kasual hitam longgar dengan dua kancing atas yang sengaja dibuka, memancarkan aura santai namun tetap penuh karisma jantan yang mengintimidasi. Dengan perlahan, ia melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping Renata yang malam itu tampak begitu anggun dalam balutan gaun tidur sutra tipis berwarna putih gading.
Adrian membenamkan wajahnya di ceruk leher Renata, menghirup dalam-dalam aroma wangi mawar alami dari tubuh istrinya—sebuah aroma yang selalu menjadi candu, penenang, sekaligus rumah bagi jiwanya yang lelah setelah seharian bertarung di kerasnya dunia bisnis.
"Semua dokumen integrasi akhir dan kontrak kerja sama jangka panjang dengan Apex Capital Singapura sudah resmi ditandatangani sore tadi oleh tim hukum kita, Istriku," bisik Adrian. Suaranya yang bariton terdengar sangat hangat, bergetar rendah tepat di dekat daun telinga Renata hingga mengirimkan desaran halus ke seluruh tubuh wanita itu. "Kita berhasil, Renata. Kita telah meruntuhkan kegelapan dari ego singa tua itu, dan kini kita berhasil membangun surga kita sendiri yang benar-benar bersih."
Renata tersenyum dengan sangat lembut, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Adrian yang begitu kokoh, bidang, dan hangat. Ia mengangkat kedua tangan mungilnya, menggenggam erat jemari tangan suaminya yang masih bertaut protektif di atas perutnya.
"Kita tidak akan pernah bisa melangkah sejauh ini, bahkan mungkin aku sudah hancur, jika kamu tidak memiliki keberanian besar untuk melepaskan takhta lamamu demi aku, Adrian," ucap Renata lirih. Matanya berbinar indah, memantulkan refleksi lampu-lampu kota pada kaca balkon yang jernih. "Kamu mempertaruhkan seluruh nama besar, kehormatan, dan hidupmu hanya untuk berdiri di pihak Mahardika."
Adrian memutar tubuh Renata dengan gerakan yang sangat lembut namun posesif, membuat wanita itu kini berdiri sepenuhnya menghadap ke arahnya. Sepasang mata elang Adrian menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih Renata—mata yang dulu pertama kali ia lihat dipenuhi oleh kobaran dendam, luka, dan ketakutan malam, kini telah berubah sepenuhnya menjadi telaga yang hanya memancarkan kedamaian, cinta, dan pemujaan mutlak untuk dirinya.
"Takhta, mahkota, dan seluruh kekayaan di dunia ini tidak ada artinya sedikit pun jika aku tidak memilikimu di sisiku, Renata," sahut Adrian dengan nada suara yang penuh penekanan mutlak tanpa keraguan.
Tatapannya mendadak menggelap dan menajam, dipenuhi oleh binar gairah panas yang mulai tersulut kembali oleh sentuhan kulit mereka dan keheningan malam yang begitu intim. Jemari kasarnya yang hangat bergerak pelan merayap naik, mengusap garis rahang tegas Renata dengan penuh perasaan, sebelum akhirnya menyelipkan beberapa helai rambut cokelat lembut istrinya ke belakang telinga.
"Kamu adalah ratuku, aliansi terbaik dalam hidupku, dan pemilik dari seluruh jiwa ragaku... sekarang, esok, hingga akhir waktu nanti," bisik Adrian lagi, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga deru napas mereka yang memburu saling berkejaran dan menyatu.
Adrian menundukkan kepalanya, mengunci bibir manis ranum Renata dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, namun sarat akan janji suci yang membara. Renata melenguh pelan di sela tautan mereka, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap sang suami, membalas ciuman itu dengan seluruh sisa napas, kehangatan, dan cinta yang ia miliki.
Di bawah pendar cahaya bintang yang samar dan gemerlap megah kota yang menjadi saksi bisu malam itu, sang Kupu-Kupu malam Mahardika dan sang CEO penakluk Dirgantara akhirnya benar-benar melebur menjadi satu dalam sebuah keabadian cinta yang hakiki. Badai terbesar telah mereka lalui, dan kini kekaisaran baru mereka yang dibangun di atas kejujuran serta kesetiaan berdiri dengan begitu tegak, kokoh, dan takkan pernah bisa diruntuhkan oleh apa pun lagi di dunia ini.