Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
POV: RIANI
Keesokan harinya, Riani bangun dengan perasaan yang berbeda.
Lebih ringan. Lebih tenang. Seperti sesuatu yang mengganjal selama berminggu-minggu akhirnya mulai menemukan tempatnya.
Dia berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar, mengingat kembali sore kemarin. Wahyu yang menangis tanpa suara. Wahyu yang berteriak karena ketakutan, bukan karena kemarahan. Wahyu yang akhirnya menjawab pesan malamnya—dua kata sederhana yang terasa seperti kemenangan kecil.
Riani tersenyum pada dirinya sendiri.
Dua kata. "Sudah sampai. Terima kasih."
Kecil. Tapi signifikan.
Karena itu artinya Wahyu mulai... membuka sedikit celah.
Ponselnya berdering. Karin.
"Halo, Kar?"
"Ri!" Suara Karin terdengar cemas. "Aku dengar dari Dinda, kamu kemarin ketemu Wahyu waktu acara BEM? Dan ada sesuatu yang terjadi?"
Riani duduk di kasur. "Berita cepat banget ya."
"Dinda lihat kamu dan Wahyu lagi berdua di teras waktu hujan. Terus dia juga lihat kamu nangis." Karin berhenti sebentar. "Kamu oke?"
"Aku oke, Kar."
"Yang terjadi apa?"
Riani berpikir sebentar. Berapa banyak yang bisa dia cerita tanpa mengkhianati kepercayaan Wahyu?
"Kami ngobrol," jawab Riani hati-hati. "Wahyu... akhirnya sedikit cerita. Dan aku cerita ke dia bahwa aku tahu soal kasus ayahnya."
Hening di ujung telepon.
"Karin?"
"Aku... di sini." Suara Karin terdengar berat. "Dia marah?"
"Iya. Awalnya. Dia marah karena merasa kamu cerita hal pribadinya tanpa izin."
Karin menarik napas panjang. "Aku minta maaf, Ri. Aku harusnya nggak—"
"Hey, nggak apa. Kamu cerita karena peduli. Dan meskipun awalnya dia marah... akhirnya kami ngobrol. Benar-benar ngobrol."
"Serius?" Karin terdengar terkejut.
"Serius."
"Ri... ini... aku nggak nyangka. Wahyu mau bicara?"
"Sedikit. Tapi itu sudah progress besar." Riani mengingat Wahyu yang menunduk, menutup wajah dengan tangannya, bahunya bergetar. "Dia... lelah, Kar. Sangat lelah. Dan dia butuh seseorang tahu itu."
Karin terdiam cukup lama. "Ri... makasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk nggak menyerah. Untuk tetap ada buat dia." Suara Karin bergetar sedikit. "Aku dulu menyerah terlalu cepat. Aku harap... aku bisa sekuat kamu waktu itu."
"Kamu nggak menyerah, Kar. Kamu memberi dia ruang. Itu beda."
Karin tertawa kecil—tawa yang agak basah. "Kamu baik banget, Ri."
Mereka ngobrol beberapa menit lagi sebelum menutup telepon.
Setelah itu Riani mandi, ganti baju, lalu duduk di meja belajar. Membuka laptop untuk melanjutkan tugas Manajemen Keuangan yang sudah tertunda dua hari.
Tapi sebelum mulai, dia membuka WhatsApp, melihat percakapannya dengan Wahyu semalam.
Wahyu: "Sudah sampai. Terima kasih."
Riani menatap pesan itu.
Haruskah dia balas lagi? Atau akan terlihat terlalu antusias?
Akhirnya dia mengetik:
Riani: "Bagus. Oh iya, aku baca lagi draft kamu kemarin malam. Ada beberapa poin yang menarik banget. Terutama bagian tentang rendahnya literasi hukum. Itu bisa kita kembangkan lebih dalam untuk bagian model bisnis kita."
Profesional. Terkait tugas. Tidak terlalu personal. Aman.
Dia kirim, lalu menutup WhatsApp dan mulai mengerjakan tugas.
Dua puluh menit kemudian, balasan Wahyu masuk.
Wahyu: "Iya. Literasi hukum penting karena tanpa itu, masyarakat nggak akan tahu bahwa mereka punya hak untuk mendapat bantuan. Mungkin kita tambahkan program edukasi sebagai komponen bisnis, bukan hanya konsultasi."
Riani membaca balasan itu tiga kali.
Wahyu menjawab. Dengan kalimat lengkap. Dan dengan ide yang konstruktif.
Ini... berbeda dari biasanya.
Biasanya Wahyu hanya balas satu-dua kata. Tapi kali ini, dia menulis tiga kalimat dengan ide yang jelas dan substantif.
Riani mengetik dengan cepat:
Riani: "Setuju! Program edukasi bisa jadi USP kita—yang bikin kita beda dari LBH biasa. Misalnya workshop bulanan, konten hukum di medsos, hotline untuk pertanyaan sederhana. Wahyu, kamu mau handle bagian edukasi ini? Menurutku kamu yang paling cocok karena background hukum."
Balasan datang lebih cepat dari yang Riani ekspektasikan.
Wahyu: "Bisa. Tapi perlu riset lebih lanjut tentang format yang paling efektif untuk masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Aku akan cari referensinya."
Riani tersenyum lebar.
Ini Wahyu yang... engaged. Bukan Wahyu yang menjawab karena terpaksa karena ini tugas kelompok, tapi Wahyu yang benar-benar tertarik dan ingin berkontribusi.
Sesuatu telah berubah sejak kemarin sore.
Tembok itu belum runtuh. Tapi ada retakan baru. Dan cahaya mulai masuk melalui retakan itu.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang berbeda.
Di grup WhatsApp kelompok, Wahyu mulai aktif memberi masukan—tidak hanya mengirim file tanpa komentar, tapi benar-benar berdiskusi. Dia mengkritisi ide-ide yang menurutnya kurang feasible, memberikan solusi alternatif, dan sesekali mengirimkan artikel atau jurnal yang relevan.
Arman berkomentar di grup: "Wahyu, lu ini dosen tamu bukan sih? Referensi lu dalem banget."
Wahyu hanya membalas dengan emoji thumbs up—hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Dinda berbisik ke Riani lewat chat pribadi: "Ri, Wahyu balas dengan emoji??? Ini nyata nggak sih???"
Riani tertawa kecil membaca itu.
Di luar konteks kelompok, interaksi mereka juga berubah—sangat pelan, sangat hati-hati, seperti dua orang yang sedang belajar jalan di atas es tipis.
Suatu hari Riani melihat Wahyu di kantin kampus satu—dia sedang duduk sendirian di sudut, makan sambil membaca buku. Riani ragu sebentar di pintu, lalu memutuskan untuk berjalan menghampiri.
"Wahyu."
Wahyu mengangkat kepala. Matanya sedikit waspada—refleks lama—tapi tidak sedingin dulu.
"Riani."
"Aku duduk di sini boleh? Teman-temanku belum datang."
Wahyu menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk singkat ke kursi di depannya.
Riani duduk. Memesan nasi goreng dan es teh. Ketika makanannya datang, mereka makan dalam diam—bukan keheningan yang tidak nyaman, tapi keheningan yang... bisa diterima.
Lalu Riani melirik buku yang Wahyu baca. "Itu buku apa?"
Wahyu menutup buku, menunjukkan sampulnya. Hukum Acara Perdata Indonesia karangan Sudikno Mertokusumo.
"Wah, tebal banget," komentar Riani.
"Ujian minggu depan."
"Oh. Susah?"
Wahyu mempertimbangkan. "Butuh pemahaman konsep. Bukan hafalan murni."
"Kamu tipe yang suka hafalan atau konsep?"
"Konsep. Hafalan mudah dilupakan. Kalau ngerti konsep, bisa aplikasikan ke situasi apa pun."
Riani mengangguk-angguk. "Masuk akal. Aku kebalikannya—lebih gampang hafal daripada ngerti konsep. Makanya aku sering pusing sama mata kuliah Ekonomi Makro."
Wahyu menatapnya dengan ekspresi yang... sedikit lebih terbuka. "Ekonomi Makro kesulitannya di mana?"
Riani terkejut—Wahyu yang memulai topik? Ini pertama kalinya.
"Ehm... di bagian IS-LM curve. Aku nggak ngerti hubungan antara pasar barang dan pasar uang."
Wahyu diam sebentar, seperti berpikir. "Sederhananya, IS curve itu keseimbangan di pasar barang—semakin rendah suku bunga, semakin banyak investasi, semakin tinggi output. LM curve keseimbangan di pasar uang—semakin tinggi output, semakin tinggi permintaan uang, semakin tinggi suku bunga. Pertemuan keduanya yang tentukan keseimbangan ekonomi."
Riani menatap Wahyu dengan mulut setengah terbuka.
"Itu... penjelasan paling jelas yang pernah aku dengar. Dosenku jelasin selama dua jam dan aku tetap nggak ngerti. Kamu jelasin dua menit dan langsung masuk."
Wahyu terlihat sedikit tidak nyaman dengan pujian itu. "Aku pernah baca sedikit tentang Ekonomi untuk keperluan lain."
"Keperluan apa?"
Wahyu ragu sebentar. "Memahami dokumen keuangan perusahaan. Untuk keperluan... pribadi."
Riani mengerti tanpa harus dijelaskan lebih jauh. Untuk memahami kasus ayahnya.
Dia tidak bertanya lebih lanjut.
"Wahyu," ujar Riani setelah beberapa saat, "kamu... sudah makan siang belum sebelum ini?"
Wahyu mengerutkan kening. "Ini makan siangku."
Riani melirik piring Wahyu—nasi putih dengan satu lauk tempe goreng. Porsinya kecil. Sangat kecil untuk ukuran laki-laki seusianya.
"Cuma itu?" Riani mencoba menjaga nada suaranya agar tidak terdengar seperti mengkritik.
Wahyu menyadari ke mana arah pertanyaan itu. Rahangnya sedikit mengeras. "Cukup."
Riani mengangguk, tidak mengomentari lebih lanjut. Tapi diam-diam dia memanggil pelayan dan memesan lauk tambahan—satu porsi ayam goreng—dan meletakkannya di dekat nampan Wahyu.
Wahyu menatap ayam goreng itu, lalu menatap Riani. "Kenapa?"
"Aku pesan terlalu banyak. Kamu tolong habisin ya."
Wahyu menatapnya dengan tatapan yang mengatakan: aku tahu kamu bohong.
Tapi dia tidak protes.
Dia memindahkan ayam goreng itu ke piringnya dan mulai makan tanpa berkata apa pun.
Dan Riani membalikkan tubuhnya, pura-pura fokus pada nasi gorengnya sendiri, menyembunyikan senyum kecil yang tidak bisa dia tahan.
Sore harinya, Karin mengirim pesan pribadi ke Riani.
Karin: "Ri, aku lihat kamu tadi makan bareng Wahyu di kantin. Ini... nyata?"
Riani: "Nyata 😊"
Karin: "OMG. Ri, ini... ini besar banget. Wahyu nggak pernah mau makan bareng orang lain."
Riani: "Dia nggak langsung pergi juga sih. Aku yang ndekem di mejanya."
Karin: "Tapi dia nggak pergi kan? Itu sudah cukup."
Riani tersenyum membaca itu.
Iya. Wahyu tidak pergi.
Dan itu... lebih dari cukup.
Bersambung.....