Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Terlalu Percaya Diri
Mobil mewah itu berhenti di depan pelataran rumah dengan keheningan yang menyesakkan. Namun, Nyonya Widya tidak membiarkan pintu mobil tertutup lama. Ia turun dengan semangat yang seolah baru saja mendapat asupan energi sepuluh kali lipat.
"Biru, Selena, dengar Mama," Widya mencegat mereka tepat di depan pintu masuk, menghalangi jalan menuju privasi yang sangat mereka dambakan. "Hasil tes tadi adalah lampu hijau. Tapi kalian berdua terlalu kaku, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Di rumah ini, kalian hanya akan bicara soal laptop dan berkas."
Selena meremas tali tasnya. "Mama, kami benar-benar punya banyak pekerjaan yang—"
"Pekerjaan bisa menunggu, tapi waktu biologis tidak!" potong Widya telak. "Weekend ini, kalian harus berangkat bulan madu. Mama sudah atur tempatnya. Tidak ada urusan pekerjaan, mengerti kalian?!"
Selena dan Biru langsung saling berpandangan. Dada mereka berdebar kencang.
"Mama udah reservasi tempatnya. Kalian harus menghabiskan waktu berkualitas di sana. Dan pulangnya, harus ada hasil. Titik!"
Selena dan Biru hanya bisa terdiam. Otak mereka dengan cepat memproses data untuk tidak melanggar kontrak meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, sudah ada sinyal bahaya.
*
Perjalanan menuju Bali terasa seperti eksekusi mati bagi ketenangan batin Selena. Di dalam jet pribadi keluarga Hermawan, kabin yang luas itu mendadak terasa sempit. Biru duduk di seberangnya, fokus pada tabletnya, namun Selena menyadari bahwa pria itu tidak benar-benar membaca. Sesekali, Biru akan berdehem atau membetulkan posisi duduknya dengan gelisah.
Begitu sampai di vila yang terletak di tepi tebing Uluwatu, napas Selena seolah tertahan. Vila itu luar biasa indah, dengan kolam renang infinity yang seolah menyatu dengan Samudra Hindia. Namun, masalah utamanya muncul saat staf menyambut mereka dengan kalungan bunga kamboja dan ucapan selamat datang yang sangat spesifik.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Hermawan. Kami sudah menyiapkan honeymoon suite terbaik untuk Anda," ujar manajer vila dengan senyum lebar.
Selena melirik Biru, matanya membelalak. Suite? Satu kamar?
"Bukankah Mama memesan vila dengan dua kamar?" bisik Selena tajam saat mereka berjalan menuju bangunan utama.
Biru hanya diam, rahangnya mengeras. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, mereka disambut oleh ranjang king size yang ditaburi kelopak mawar merah berbentuk hati. Aroma lilin aromaterapi vanila dan melati memenuhi ruangan.
"Mama... dia benar-benar niat," gumam Biru, suaranya terdengar parau.
Staf meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang mencekam. Suara deburan ombak di bawah tebing menjadi satu-satunya musik latar yang menambah suasana intim tersebut. Selena berdiri mematung di dekat balkon, tidak berani menoleh ke arah ranjang.
"Mas Biru, aku tidak bisa tidur di sana," cetus Selena, suaranya bergetar. "Integritas pribadiku... aku tidak bisa berbagi ranjang dengan pria yang, yah, kita tahu kontraknya seperti apa."
Biru meletakkan tasnya, lalu berbalik menatap Selena. Di bawah sinar matahari Bali yang mulai meredup, wajah Selena yang memerah tampak sangat kontras dengan gaun putih tipisnya. Biru teringat lagi ucapan ibunya tentang "pinggul bagus" dan "banyak anak".
Sial, pikir Biru. Mengapa bayangan itu tidak mau hilang?
"Ada sofa besar di ruang tengah," ujar Biru, mencoba tetap rasional meski jantungnya berdegup kencang. "Aku akan tidur di sana. Kau pakai ranjangnya."
"Tapi staf vila... mereka akan masuk setiap pagi untuk merapikan kamar. Kalau mereka lihat sofa itu berantakan, mereka akan melapor pada ibumu," bantah Selena.
Biru menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Lalu apa maumu? Tidur berhimpitan di ranjang itu dengan pembatas bantal guling?"
Selena terdiam. Bayangan tidur bersisian dengan Biru—merasakan panas tubuhnya dan mencium aroma maskulinnya sepanjang malam—membuat jantungnya kembali melakukan maraton.
"Mas Biru..." Selena memanggilnya lagi dengan sebutan itu, membuat langkah Biru terhenti. "Bisa tidak, jangan menatapku seperti itu? Aku merasa... aku merasa seperti sedang diaudit olehmu."
Biru melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga ia berdiri tepat di depan Selena. "Aku tidak sedang mengauditmu, Selena. Aku sedang berusaha keras untuk tidak melanggar kontrak kita sendiri."
Tatapan mata mereka bertemu. Di mata Biru yang biasanya dingin, kini ada percikan api yang sulit dipadamkan. Sementara di mata Selena, ada ketakutan yang bercampur dengan rasa penasaran yang berbahaya.
"Satu minggu," bisik Biru, suaranya sangat rendah. "Kita harus bertahan satu minggu di sini tanpa membuat kesalahan yang akan kita sesali seumur hidup."
Selena menelan ludah. Ia tahu, di balik keindahan Uluwatu ini, integritasnya dan rahasia Biru sedang diuji di titik didih yang paling tinggi.
"Jangan jatuh cinta padaku!" ucap Biru dengan suara serak. Mata indah Selena langsung mendelik tajam.
"Cih! Kamu terlalu percaya diri!"
***
jin ouch jin sentuh itu selena...