Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Setelah Ciuman Itu
Alya merasa dunianya seolah berhenti sesaat.
Bibir Raka menyentuhnya dengan lembut, namun sentuhan itu justru terasa sangat berbahaya.
Hangat.
Pelan.
Dan terlalu nyata.
Jantung Alya berdetak tak karuan, ia merasa Raka pasti bisa mendengarnya.
Tangannya refleks mencengkeram bagian depan jas Raka, sementara benaknya benar-benar kosong.
Ia tak tahu siapa yang lebih terkejut—
Dirinya sendiri…
Atau kenyataan bahwa ia sama sekali tidak ingin ciuman itu berakhir.
Raka perlahan menjauh beberapa senti.
Namun tangannya masih menahan sisi wajah Alya dengan lembut.
Tatapan Raka kini jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.
Seolah-olah ia sendiri belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Napas Alya masih tidak stabil.
“Kamu…”
Suara Alya hilang separuh.
Dan hal itu justru membuat sudut bibir Raka sedikit terangkat.
“Sekarang Anda benar-benar gugup.”
Alya menatapnya tak percaya.
“Kamu masih sempat menggodaku?”
“Sedikit.”
Astaga.
Pria dingin ini benar-benar berubah banyak akhir-akhir ini.
Alya buru-buru memalingkan wajah karena sadar pipinya pasti sangat merah sekarang.
Namun, sedetik kemudian—
Raka justru mendekat lagi.
“Alya.”
“Hm?”
“Apa Anda menyesal?”
Pertanyaan itu membuat Alya langsung menatapnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia bisa melihat sesuatu di mata Raka yang jarang muncul:
Keraguan kecil.
Seolah Raka benar-benar peduli dengan jawabannya.
Entah mengapa—
Hal itu membuat dada Alya terasa hangat.
Perlahan, ia menggeleng kecil.
“Tidak.”
Tatapan Raka langsung berubah menjadi lebih lembut dan lebih lega.
Dan Alya sadar—
Raka ternyata sama gugupnya, hanya saja lebih pandai menyembunyikannya.
“Aku cuma…” Alya menggigit bibir kecil. “Masih tak percaya kamu benar-benar menciumku.”
“Saya juga.”
Jawaban jujur itu membuat Alya tertawa kecil tanpa sadar.
Suasana di antara mereka terasa berbeda kini.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Dan jauh lebih sulit disebut hubungan pura-pura.
Namun, sebelum suasana kembali terlalu intim—
Suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Keduanya langsung sedikit menjauh secara refleks.
Seorang perawat lewat tanpa memperhatikan mereka, namun Alya sudah terlanjur merasa salah tingkah.
“Kita hampir ketahuan,” gumamnya pelan.
Raka terlihat jauh lebih santai.
“Lalu?”
“Aku masih punya rasa malu.”
“Saya tidak.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Dan Alya langsung menutup wajahnya sebentar karena malu sendiri.
Pria ini benar-benar mulai tidak terkendali.
---
Hari itu berlalu seperti mimpi aneh bagi Alya.
Setelah ciuman tadi, setiap kali melihat Raka, jantungnya langsung berdetak tak beraturan.
Dan masalahnya adalah—
Raka tampaknya sangat menikmati reaksinya.
“Alya.”
“Hm?”
“Kamu menatap saya lagi.”
Alya langsung tersedak minumannya sendiri.
“Aku tidak menatapmu.”
“Kamu melakukannya sejak lima menit lalu.”
Mereka sedang duduk di kantin rumah sakit saat itu, dan Alya benar-benar mulai membenci kemampuan observasi Raka.
“Aku cuma melamun.”
“Tentang saya?”
“Kenapa kamu pede sekali?”
Sudut bibir Raka sedikit terangkat.
Dan Alya langsung ingin menyerah saja pada hidup.
Karena ternyata Raka, kalau sedang dalam suasana hati yang baik, bisa sangat berbahaya.
“Kamu berubah,” gumam Alya tanpa sadar.
Tatapan Raka tetap tertuju padanya.
“Lebih buruk?”
“Lebih menyebalkan.”
Namun senyum kecil Alya justru membuat jawaban itu terdengar tidak meyakinkan.
Keheningan yang nyaman muncul selama beberapa detik.
Dan lagi-lagi—
Alya mulai terbiasa dengan rasa tenang saat bersama Raka.
Hal yang dulu terasa mustahil.
“Alya.”
“Hm?”
Tatapan Raka berubah sedikit lebih serius.
“Tentang kontrak kita…”
Jantung Alya langsung sedikit menegang.
Topik itu lagi.
Kenyataan yang terus mereka abaikan beberapa minggu terakhir.
“Apa?”
Raka terdiam sesaat.
Lalu perlahan berkata—
“Saya mulai tidak peduli lagi.”
Napas Alya langsung tertahan.
Kalimat itu terasa sangat besar.
Sangat berbahaya.
Dan yang paling menakutkan—
Ia juga mulai merasakan hal yang sama.
“Aku takut berharap terlalu jauh,” bisiknya pelan.
Tatapan Raka sedikit melunak.
Dan tanpa peduli bahwa mereka sedang berada di tempat umum, Raka meraih tangan Alya di atas meja.
Menggenggamnya perlahan.
Hangat.
Menenangkan.
“Saya tidak akan mempermainkan perasaan Anda.”
Jantung Alya terasa sesak.
Karena nada suara Raka terdengar begitu serius.
Begitu tulus.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya benar-benar ingin percaya sepenuhnya.
---
Sore harinya, Alya kembali ke mansion lebih dulu karena Raka harus menghadiri rapat mendadak.
Namun entah mengapa rumah besar itu terasa terlalu sepi tanpa Raka kini.
Dan kenyataan bahwa ia baru menyadarinya membuat Alya semakin malu pada dirinya sendiri.
“Aku benar-benar jatuh cinta…”
Ia menjatuhkan diri ke sofa sambil menatap langit-langit.
Namun pikirannya langsung kembali pada ciuman tadi.
Cara Raka menyentuh wajahnya.
Tatapan Raka sesudahnya.
Dan oh Tuhan—
Ia benar-benar ingin mengulang semuanya lagi.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Pesan dari Raka.
*Sudah sampai rumah?*
Senyum kecil langsung muncul di wajah Alya tanpa izin.
*Sudah.*
Balasan datang cepat.
*Baik.*
Alya menatap layar beberapa detik.
Lalu mengetik lagi sebelum sempat malu sendiri.
*Aku masih gugup.*
Beberapa detik sunyi.
Lalu balasan masuk.
*Tentang ciuman tadi?*
Wajah Alya langsung panas lagi.
*Mungkin.*
Kali ini balasan Raka sedikit lebih lama.
Namun saat akhirnya muncul—
Jantung Alya langsung berdebar.
*Saya juga.*
Alya benar-benar tak menyangka pria seperti Raka bisa mengirim pesan seperti ini.
Dan yang paling parah—
Ia menyukainya terlalu banyak.
Namun, suasana hangat itu mendadak terganggu ketika suara mobil terdengar dari luar mansion.
Alya sedikit mengernyit.
Raka bilang rapatnya masih lama.
Lalu siapa?
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu depan.
Begitu pintu terbuka—
Langkah Alya langsung terhenti.
Vanessa berdiri di sana.
Dengan senyum tenang yang entah mengapa langsung membuat firasat buruk muncul di dada Alya.
“Halo,” sapa wanita itu lembut.
Alya berusaha tetap tenang.
“Halo.”
“Apa aku boleh masuk?”
Alya ragu sepersekian detik, namun tetap mengangguk sopan.
Vanessa masuk dengan langkah elegan, lalu memperhatikan interior mansion sebentar.
“Tidak banyak berubah.”
Kalimat itu terdengar terlalu personal, seolah Vanessa memang pernah sangat akrab dengan kehidupan Raka.
Dan Alya membenci kenyataan itu lebih dari yang ia kira.
“Ada perlu apa?” tanya Alya pelan.
Vanessa menoleh padanya, lalu tersenyum tipis.
“Aku datang karena ingin memperingatkanmu.”
Jantung Alya langsung sedikit menegang.
“Memperingatkan tentang apa?”
Tatapan Vanessa berubah lebih serius kini.
“Tentang keluarga Raka.”
Suasana langsung berubah dingin.
Entah mengapa—
Alya merasa percakapan ini akan mengubah sesuatu.