NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Reuni Alumni

Gelas kaca itu berdenting. Berdenting berulang kali. Berbenturan dengan sendok logam kecil yang terus diputar tanpa henti.

Fais menatap pusaran kopi hitam pekat di bawahnya. Pusaran itu menelan pantulan lampu neon kafe. Menelan sisa aroma aspal basah Muara Tenang yang masih mengendap di ujung kemejanya semalam.

Ia mengabaikannya. Ia tidak peduli.

Suasana di lantai dua kafe pusat ini bising. Sangat bising. Bising yang murahan. Bising yang penuh dengan sisa-sisa ego masa lalu yang mencoba merangkak naik ke permukaan.

"Kau masih suka pakai kemeja pudar begitu, Is?"

Suara itu datang dari seberang meja bundar. Seorang pria dengan jam tangan perak tiruan terkekeh. Tawa yang terlalu keras. Terlalu palsu.

Fais tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser pandangannya perlahan. Mengukur pria itu dari ujung rambut yang kaku karena gel hingga sepatu kulit sintetiknya.

Itu Anton. Mantan ketua kelas. Sekarang mungkin hanya pegawai kelas menengah di sebuah firma pinggiran.

Fais hanya duduk di sana. Diam. Ia mengenakan kemeja katun usang. Tidak ada barang mahal. Tidak ada jam tangan miliaran rupiah yang biasa menempel di pergelangan tangan para elit Cakrawala jika mereka sedang menghadapnya.

Di mata mereka, ia hanyalah Fais si mantan kuli bangunan. Si pengangguran berkalung hutang. Begitulah narasi usang yang masih diputar paksa di otak sempit orang-orang ini.

Sebuah memori singkat kembali melintas di kepalanya. Pesan sistem yang berkedip biru sebelum ia melangkah masuk tadi.

[Ding Misi Baru!]

[Misi: Melangkah Lebih Jauh.]

[Hadiri pertemuan Alumni, hadapi masa lalu yang mengganggu. Hadiah: Probabilitas 5%, Skill baru: Weapon Mastery.]

Tulisan sistem itu sudah lenyap. Tapi kata-kata 'masa lalu yang mengganggu' benar-benar menampar kenyataan di depannya. Gangguan itu nyata. Menggigit-gigit kecil seperti nyamuk selokan.

Namun, di tengah ejekan picisan Anton dan tatapan merendahkan belasan alumni lain, ada sebuah anomali. Anomali yang duduk berjejal tepat di sebelah kiri Fais.

Bagas.

Pria yang dulu selalu membusungkan dada dan meludah di depan langkahnya, kini duduk membungkuk. Bahunya kaku. Tangannya bertaut gelisah di atas pangkuan.

Setiap kali Fais bergerak sedikit, walau sekadar menggeser sendok, Bagas menahan napas. Seolah pemuda di sebelahnya itu adalah bom waktu yang tombol pemicunya rusak.

"Sudahlah, Ton," suara Bagas memecah udara. Lirih. Penuh kehati-hatian yang tidak wajar. "Kemeja sederhana itu... bagus. Fais kelihatan santai. Sangat bagus."

Beberapa alumni di meja itu mengerutkan dahi. Mereka menoleh ke arah Bagas dengan raut menganga.

Bagas? Bagas si mulut besar membela Fais si kuli?

Dunia seolah sedang salah urat.

Tapi Fais tahu persis alasannya. Angka probabilitas berdansa pelan di retinanya sejak awal pertemuan. Angka-angka dingin. Analisis jejak menguliti niat setiap orang di ruangan ini tanpa menyisakan tulang.

Bagas tahu. Pria pemilik bengkel itu sudah mencium bau anyir pergerakan distrik Barat. Ia sudah mendengar desas-desus tumpah darah soal monster bernama Grup Cakrawala. Dan dari koneksi gelapnya yang dangkal, Bagas pasti telah menangkap satu atau dua serpihan fakta tentang penguasa mematikan di baliknya.

Bagas ketakutan. Takut setengah mati hingga wajahnya sepucat mayat.

Lalu di seberang Bagas, ada Maya.

Maya beberapa kali mencuri pandang ke arah Fais. Tatapannya tertahan. Ia memutar-mutar ujung gelas minumnya dengan gelisah. Seperti orang kelaparan yang menatap etalase toko roti dari balik kaca tebal.

Perempuan itu sudah memutuskannya di masa lalu. Meninggalkannya mentah-mentah demi kepastian uang Bagas.

Tapi kini, mata perempuan itu terus mencari-cari celah. Mencoba menemukan sisa-sisa pemuda rapuh yang dulu bisa ia permainkan dan ia hancurkan hatinya. Maya bahkan beberapa kali mencoba membuka obrolan sok akrab, menabrak batasan yang sudah ia buat sendiri.

Nihil. Semuanya nihil.

Maya hanya menabrak sebuah kekosongan mutlak pada diri Fais. Aura pria itu berat. Terlampau berat. Tenang, sulit ditebak, emosinya stabil bagai permukaan danau mati. Fais menguarkan udara seseorang yang sudah hidup seribu tahun cahaya terpisah dari mereka semua.

Dan Fais hanya membiarkannya. Membiarkan mereka bertingkah.

Membiarkan Maya mencari atensi murah. Membiarkan Bagas menjilat ujung spatunya dengan sikap patuh berlebihan.

Bukan karena Fais pemaaf. Melainkan karena rutinitas apatisnya sudah memakan habis sisi dendam remajanya. Mereka berdua bersalah di masa lalu, benar. Tapi di mata seorang CEO tanpa bayangan, Maya dan Bagas adalah fondasi sosial yang sempurna. Mereka pion murahan yang berguna untuk menutupi status hantunya di hadapan publik distrik pusat.

"Ngomong-ngomong soal kerjaan," Anton kembali bersuara. Kali ini nadanya membengkak oleh ego. "Aku baru saja memimpin departemen utama. Proyek kami sering tembus ke birokrasi elit pusat. Koneksiku di balai kota sudah tidak bisa diremehkan."

Beberapa alumni lain segera menyahut. Mengangguk setuju. Menyanjung Anton beramai-ramai. Menjilat demi seciprat prospek pekerjaan.

Mereka mulai unjuk gigi. Memamerkan jabatan staf senior. Memamerkan cicilan mobil Eropa mereka. Memamerkan omzet butik pakaian yang tidak seberapa.

Setiap kali mereka melontarkan nominal gaji, tatapan mereka berujung pada Fais. Mengincar reaksi. Menunggu wajah si pekerja kasar itu tertunduk malu, meratapi nasib kulinya.

Fais tetap duduk menyandar santai. Ia menarik napas. Oksigen kafe itu masuk ke paru-parunya membawa aroma sirup murahan dan kepalsuan basi.

"Bagus," ucap Fais singkat. Suaranya datar. Kosong.

Tidak ada amarah. Tidak tersinggung. Hanya suara lelah seorang pria yang sedang menonton semut memindahkan bangkai lalat.

"Lanjutkan saja."

Jawaban itu sangat minim. Tapi efek meremehkannya terasa absolut.

Ketenangan mutlak itu perlahan mulai menggerogoti saraf beberapa alumni elit di sana. Mereka merasa ada yang meleset. Mereka merasa sedang dikuliti harga dirinya tanpa satu pun kata makian yang terucap.

Mengapa kuli miskin ini tidak ciut? Mengapa pria dengan kemeja pudar ini menatap mereka layaknya rongsokan tak bernilai?

Tensi sosial merayap diam-diam. Obrolan yang tadinya bising karena pamer ego pribadi perlahan bergeser arah. Terbawa arus ke topik yang sedang meneror tengkuk seluruh ibu kota.

"Tapi soal koneksi..." seorang alumni wanita bernama Rina angkat bicara. Ia merapikan kerah bajunya dengan lagak sok tahu. "Kalian sadar tidak ada perkembangan gila di Muara Tenang akhir-akhir ini? Khususnya di distrik Barat."

Meja itu mendadak hening. Topik ini seperti magnet besi raksasa.

Rina bekerja sebagai staf di lingkaran bawah distrik pusat. Ia merasa memegang rahasia dunia.

"Grup Cakrawala," lanjut Rina. Nadanya sengaja direndahkan. "Mereka menelan lahan-lahan sengketa tanpa ampun. Kartel-kartel lokal digilas jadi tanah."

Anton mencondongkan badannya ke depan. Otot wajahnya menegang tertarik. "Aku dengar mereka mempekerjakan mantan tentara bayaran sinting bernama Wawan."

Bagas yang duduk di sebelah Fais langsung tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya berbunyi kencang. Keringat dingin mulai menetes lambat di pelipisnya. Tangannya meremas taplak meja hingga buku jarinya memutih.

Fais hanya menatap pantulan dirinya di cairan kopi.

"Bukan Wawan intinya," bisik Rina sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Di kantor birokrasi pusat, para atasan sedang memakan kuku mereka sendiri. Mereka bilang Wawan itu cuma anjing eksekutornya."

Seluruh kepala di meja itu merapat tanpa sadar. Terhipnotis ketakutan yang sedang merajai kota.

"Ada seseorang di balik Wawan," Rina melanjutkan ceritanya. Bola matanya melebar. "CEO Cakrawala yang asli. Entitas tanpa wajah. Tidak ada nama di dokumen, tidak ada sejarah keluarga. Semuanya luntur. Katanya dia memegang rantai ekonomi kota tapi tidak punya bayangan."

Tekanan psikologis turun menyelimuti meja bundar itu. Membawa hawa dingin yang tak kasat mata.

"Pria yang bisa menghapus eksistensi publiknya sendiri, mengatur pembunuhan massal, dan menyogok birokrasi dengan uang tunai bertruk-truk... bayangkan monster macam apa dia," Anton bergumam parau. Nada congkaknya menguap entah ke mana.

Bagas gemetar. Semakin parah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap lantai kafe terbuka dan menelannya hidup-hidup.

Duduk tepat di sebelah penguasa absolut itu sambil mendengar orang lain membicarakannya layaknya mitos, membuat usus Bagas rasanya terpelintir.

Rina menghembuskan napas keras. Ia menyisir rambutnya. Otaknya mencoba mengingat kepingan gosip yang tak sengaja ia dengar di lorong kantor pemerintahan.

"Ada petinggi yang mabuk dan sempat kelepasan bicara. Katanya... CEO itu sengaja membakar riwayatnya karena asalnya dari tempat kumuh. Dia dulu orang bawah..."

Rina menghentikan kalimatnya. Mengambang di udara.

Ia mulai mengedarkan pandangan. Mengamati gestur Bagas yang ketakutan setengah mati. Mengamati Maya yang terus terpaku dengan tatapan memuja pada satu titik.

Lalu matanya menangkap sesuatu. Kemeja pudar itu.

Arah pandang Rina berhenti bergerak. Terkunci sepenuhnya.

Pikirannya langsung menabrak tembok kesimpulan yang gila. Rina mengingat tumpukan dokumen anomali di mejanya tempo hari. Berkas soal pemuda biasa yang seluruh riwayat sipilnya dihapus paksa oleh kekuatan militer pusat. Nama pemuda itu...

Sepi keparat mendadak turun mencekik ruangan. Suara denting garpu dan musik kafe seolah lenyap dari jangkauan indera.

Rina membuka bibirnya lambat-lambat. Matanya menatap ketenangan abnormal di depannya. Menatap sosok pemuda yang otaknya tidak cocok untuk ukuran manusia miskin biasa.

"Tunggu..." suara Rina berupa bisikan patah-patah. "Jangan bilang..."

Jari telunjuk Rina terangkat. Sangat kaku. Ujung kukunya menunjuk lurus melintasi cangkir-cangkir kopi dan piring kotor.

Menembus dinding keangkuhan Anton. Menembus pura-pura butanya Bagas.

Tatapannya mendarat tepat pada wajah dingin Fais.

"CEO Cakrawala itu... Fais?"

Detik jam seolah nyangkut di kerongkongan dunia.

Anton mematung seperti tugu batu, mulutnya menganga tak bisa bersuara. Maya memucat dengan bibir gemetar. Bagas memejamkan mata rapat-rapat, pasrah menunggu eksekusi mati.

Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Hampa. Tensi sosial hancur berantakan ditelan horor kesadaran yang baru saja jatuh menghantam mereka.

Fais sama sekali tidak merubah raut wajahnya. Matanya tetap apatis.

Ia meraih gagang cangkir perlahan. Mengangkat keramik putih itu ke bibirnya. Menyesap kopinya. Diam. Minum dengan sangat santai.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!