Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanker yang Tidak Pernah Mati
...Chapter 10...
Ling Xu, yang sedari tadi hanya bisa bertahan dan berguling, kini mulai bisa mengimbangi setiap gerakan Whou Ming, meskipun tahap kultivasinya masih Lintang Bawah Tingkat Kesatu, sementara Whou Ming sendiri sudah berada di ambang Lintang Bawah Tingkat Ketiga, dua tingkat di atasnya.
"Hei," panggil Huan Zheng santai sambil menyandarkan punggungnya pada batu besar, kedua tangannya ia lipat di dada seperti sedang menonton pertunjukan boneka di pasar malam, "jangan mati, Nona Racun. Aku belum bosan melihatmu meracuni orang."
Ling Xu tidak menjawab.
Ia bahkan tidak mendengar, karena seluruh konsentrasinya tercurah pada gerakan Whou Ming yang semakin cepat, semakin liar, seperti orang yang menyadari bahwa mangsanya tidak semudah yang ia bayangkan.
Whou Ming merasakan sesuatu yang ganjil di setiap pukulannya.
Bukan karena Ling Xu tiba-tiba menjadi lebih kuat, karena jelas kekuatan Qi-nya masih lemah seperti lilin yang hampir padam, melainkan karena ada sesuatu di dalam tubuh gadis itu yang bergerak, sesuatu yang tidak ia kenal, sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri meskipun tidak ada angin.
"Apa yang kau sembunyikan, Dewi sialan?!" teriak Whou Ming sambil melancarkan tebasan energi ungu yang lebih besar dari sebelumnya, tapi Ling Xu—dengan gerakan yang anehnya lambat namun tepat—hanya memiringkan tubuhnya beberapa senti ke kiri, dan tebasan itu melesat melewati telinga kirinya tanpa menyentuh sehelai rambut pun.
Ling Xu sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.
Ia hanya merasakan ada sesuatu di dalam dadanya—bukan kesadarannya sebagai Dewi yang sering kali mengoceh, melainkan sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, lebih lapar—yang tiba-tiba terbangun setelah sekian lama tidur, dan tanpa ia sadari, ujung-ujung jarinya mulai mengeluarkan benang-benang tipis berwarna abu-abu kehijauan, seperti akar jamur yang merayap di tanah lembap.
"Kanker..." bisik Ling Xu, matanya membelalak ketika ia menyadari apa yang baru saja keluar dari tubuhnya.
“Ini... ini wabah Kanker... bagaimana bisa—"
Tapi sebelum kalimatnya selesai, benang-benang itu sudah melesat ke arah Whou Ming dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menembus pertahanan Qi-nya seperti kertas basah, dan masuk ke dalam pori-pori kulitnya tanpa ia sempat berteriak.
Whou Ming merasakan kehangatan aneh di dadanya.
Bukan hangatnya api, bukan hangatnya darah, melainkan hangatnya sesuatu yang tumbuh, seperti benih yang berkecambah di dalam tanah setelah hujan pertama.
Ia menunduk, dan di sana, di bawah jubah ungu bersulur emas yang dulu membuatnya tampak agung, kulitnya mulai berbenjol.
Bukan satu atau dua benjolan, melainkan puluhan, ratusan, tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang, seperti daging yang tiba-tiba memutuskan untuk memberontak terhadap pemiliknya.
"Tidak... tidak! APA INI?!" pekik Whou Ming, suaranya berubah menjadi jeritan yang nyaris seperti tawa—tawa histeris seseorang yang menyadari bahwa ia tidak lagi mengendalikan tubuhnya sendiri.
Dari benjolan-benjolan itu keluar wewangian aneh, bukan bau busuk seperti daging membusuk, bukan bau asin seperti darah, bukan pula bau amis seperti ikan mati, melainkan wewangian yang menyengat—seperti campuran bunga sedap malam dengan cuka dan sesuatu yang terbakar, wewangian yang sangat khas, yang pernah membuat seluruh semesta gemetar beberapa tahun lalu, ketika wabah Kanker dan Tumor menyebar tanpa memedulikan tingkat kultivasi, dari Lintang Bawah hingga Kemanusiaan, dari Dewi rendahan hingga Roda Kultivasi sekalipun.
"Kau... kau membawa wabah itu?!" teriak Whou Ming, tubuhnya sudah mulai kehilangan bentuk, benjolan-benjolan itu saling menyatu, membentuk tonjolan-tonjolan besar yang mengeluarkan cairan bening, dan di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia sempat melihat Ling Xu—gadis itu berdiri tegap, matanya redup, dan di sekeliling tubuhnya, benang-benang abu-abu kehijauan terus bertebaran seperti tarian ular yang sedang merayakan kemenangan.
Ling Xu tidak menjawab.
Ia hanya menatap Whou Ming yang sekarat, dan di dalam benaknya, suara ibunya—yang dulu digilir dan dicincang—berbisik.
“Anakku, ingatlah… terkadang lawan paling berbahaya bukanlah mereka yang datang menghunus pedang di hadapanmu, melainkan mereka yang dalam diam menajamkan pisau ketika punggungmu berpaling.”
Di kejauhan, Huan Zheng yang masih bersandar pada batu besar tiba-tiba duduk tegak, matanya yang biru pucat melebar untuk pertama kalinya malam itu.
Bukan karena takut, karena ia sudah terlalu sering melihat kematian hingga rasa takut menjadi asing baginya, melainkan karena ia mengenali wabah itu.
Ia mengenali wewangian menyengat yang keluar dari tubuh Whou Ming yang kini sudah tidak berbentuk manusia, berubah menjadi gumpalan daging berbenjol-benjol yang masih bergerak-gerak seperti ada sesuatu di dalamnya yang berusaha keluar.
"Kanker," gumam Huan Zheng, suaranya nyaris tidak terdengar, "wabah yang membuat aku dan dua orang sialan itu harus bersembunyi selama berbulan-bulan di gua paling dalam di ujung semesta..."
Ia menatap Ling Xu, yang kini berdiri di antara debu-debu bercahaya Xing Haoran dan mayat Whou Ming yang sudah tidak jelas rupa manusianya, dan untuk pertama kalinya, Huan Zheng melihat sesuatu di mata gadis itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan kebencian, bukan dendam, melainkan kesadaran—kesadaran bahwa ia membawa sesuatu yang lebih berbahaya daripada racun apa pun, sesuatu yang bahkan para Roda Kultivasi takut untuk menyentuhnya.
Ling Xu berdiri di hadapan gumpalan daging tak berbentuk yang dulu bernama Whou Ming, napasnya masih tersengal, dan di ujung jarinya, benang-benang abu-abu kehijauan masih berdenyut pelan seperti ular yang belum kenyang. Ia menatap benjolan-benjolan yang masih bergerak-gerak aneh itu—seolah wabah Kanker di dalam tubuh Whou Ming belum selesai berpesta, seolah daging itu sendiri masih berteriak meskipun pemiliknya sudah lama tidak sadarkan diri.
"Kau ingin mencabik-cabikku, Nona Ling Xu?" bisik Ling Xu pada dirinya sendiri, menirukan suara Whou Ming dengan nada mengejek, lalu ia tersenyum—senyum yang tidak lagi hangat, tidak lagi pahit, melainkan senyum yang putus asa dalam bentuk yang paling jujur. Ia mengangkat tangan kanannya, dan di ujung jari telunjuknya, seberkas benang abu-abu mulai memanjang, siap untuk merobek, mencabik, menghancurkan setiap sisa daging yang masih bernyawa pun tidak, karena ia ingin melihat—hanya sekali ini ia ingin melihat—bagaimana rasanya menjadi algojo, bukan korban.
"Satu cabikan saja," gumamnya, matanya mulai gelap, "biar kurasakan bagaimana nikmatnya—"
Tapi sebelum benang itu menyentuh daging Whou Ming yang sudah mati, sebuah tangan mendarat di pundak kirinya.
Bukan tepukan keras, bukan pula tepukan lembut—melainkan tepukan yang malas, seperti seseorang yang menepuk temannya yang terlalu serius di meja makan karena supnya sudah dingin.
"Hei, Nona Racun," ucap Huan Zheng dari belakangnya, suaranya kembali seperti dulu—malas, sedikit mengejek, dan terdengar seperti orang yang baru bangun tidur di siang hari bolong, tanpa sisa-sisa api biru di matanya, tanpa hawa 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya yang membuat langit retak, hanya Huan Zheng biasa dengan jubah compang-camping dan rambut acak-acakan yang terlihat seperti tidak mandi seminggu.
“Jangan buang-buang energimu untuk mayat. Percayalah, mayat tidak akan lari. Tapi kita—"
Ia menoleh ke arah barat, di mana dari balik bukit kecil tampak kilatan-kilatan cahaya merah seperti mata-mata yang berkedip di kegelapan.
"... Kita harus lari. Sekarang."
Ling Xu mengepalkan tangannya, benang abu-abu di ujung jarinya bergetar karena menahan keinginan untuk tetap melesat.
"Tidak, Huan Zheng. Biarkan aku—"
Ia hampir membentak, tapi Huan Zheng sudah lebih dulu berdiri di hadapannya, menghalangi pandangannya ke arah mayat Whou Ming dengan tubuh malasnya yang justru terasa seperti tembok batu.
"Kau dengar itu?" potong Huan Zheng, matanya yang malas tiba-tiba menyipit ke arah timur, lalu ke selatan, lalu ke utara, seperti kucing yang mendengar langkah tikus di empat arah sekaligus.
"Enam sisi, Ling Xu. Enam sisi perbatasan Perkemahan Xuelan—semuanya terindikasi pasukan umat manusia. Bukan pengintai, bukan pencuri, tapi pasukan perang. Mereka datang untuk mengambil alih wilayah ini, dan mereka tidak akan peduli apakah kau dewi atau budak atau mayat—mereka akan membunuh semua yang bergerak."
Bersambung….