BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Aditya, kapan kalian kasih Ibu cucu?” tanya Bu Ratih sedikit mengeluh dan kesal.
Aditya yang duduk di sofa hanya menghela napas pendek. Dia bersandar, satu tangan masih memegang ponsel, seolah pertanyaan itu hanyalah angin lalu yang sudah terlalu sering lewat.
“Ya, mau bagaimana lagi, Bu,” jawab pria itu santai, nyaris tanpa beban. “Kemuning sampai sekarang belum hamil juga.”
Di balik pintu depan, langkah Kemuning terhenti. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu mendadak kaku dan dingin. Dia tidak jadi masuk.
“Kalau Kemuning tidak bisa kamu kasih anak,” lanjut Bu Ratih, nada suaranya turun, namun justru lebih menusuk, “cari saja wanita lain yang subur!”
Kalimat itu menghantam seperti petir. Napas Kemuning tercekat. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Dia menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa ada yang mengganjal.
“Bu, tidak semudah itu!” balas Aditya, kali ini sedikit lebih serius. “Pastinya Kemuning enggak akan setuju kalau dipoligami.”
Sejenak ada harapan kecil yang menyelinap di hati Kemuning. Namun, harapan itu runtuh bahkan sebelum sempat tumbuh.
“Ya, salah dia!” potong Bu Ratih cepat. “Enggak bisa memberi keluarga kita keturunan!” Suara Bu Ratih meninggi.
“Jadi wanita mandul itu harusnya tahu diri!” lanjut wanita paruh baya itu ketus, penuh penekanan. “Orang berumah tangga itu ingin memiliki penerus.”
Kata “mandul” itu seperti dilempar tepat ke wajah Kemuning.
Di balik pintu, Kemuning masih diam mematung. Dadanya semakin terasa sesak dan sakit mendengar ucapan barusan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya ibu mertuanya akan bilang begitu.
Kemuning tidak bisa membendung air matanya. Sebelah tangannya menutup mulutnya erat-erat agar suaranya tidak lolos keluar. Niat dia kembali ke rumah untuk membawa dompet yang tertinggal, malah mendengar pembicaraan suami dan ibu mertuanya yang menyakitkan.
Sementara itu, di dalam suasana mendadak hening. Aditya tidak menjawab atau membantah, apalagi membela istrinya. Pria itu hanya diam. Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.
“Jangan sampai keturunan keluarga kita terputus di kamu, Aditya,” ujar Bu Ratih lagi, kali ini lebih pelan, tetapi setiap katanya terasa tajam. “Kamu harus punya anak.”
Kemuning memejamkan mata. Selama lima tahun dia bertahan dalam rumah ini, menelan hinaan dan menyimpan luka. Selalu memaksa untuk tersenyum di depan mereka yang terus menyudutkannya.
Padahal bukannya dia tidak pernah berusaha. Mereka sudah tiga kali pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tiga kali pula dia menggenggam hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar.
Setiap kali melakukan pemeriksaan hasilnya selalu sama, normal. Dokter mengatakan mereka hanya perlu bersabar. Namun, kesabaran itu seolah tidak pernah cukup bagi keluarga ini.
“Ya, akan aku usahakan, Bu.”
Suara Aditya memecah lamunan Kemuning.
“Aku harus segera pergi ke peternakan. Sekarang semakin banyak permintaan ayam potong dari pasar induk.”
“Lihatlah!” Suara Bu Ratih kembali meninggi, diiringi bunyi kursi yang didorong. “Harta kamu sudah banyak, usaha kamu juga maju. Buat apa itu semua kalau tidak punya keturunan!”
“Iya, Bu,” balas Aditya singkat dan datar. Seolah semua itu tidak penting untuk diperdebatkan.
Terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu. Kemuning tersentak dan panik. Dia mundur cepat, hampir tersandung kakinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, wanita itu berlari memutar ke samping rumah. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan.
Pintu belakang didorong pelan, Kemuning segera masuk. Rumah itu masih sama, tetapi terasa berbeda. Seolah dinding-dindingnya baru saja membisikkan rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.
Tubuh Kemuning masih gemetar. Air matanya belum berhenti. Di atas meja dapur, dompetnya tergeletak begitu saja. Dia menatap benda itu beberapa detik dengan tatapan kosong.
Dari depan rumah, suara motor terdengar dinyalakan. Kemuning tersentak kecil. Dia buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangan, meski jejaknya masih jelas di pipi. Dia meraih dompet itu cepat.
Suara motor Aditya semakin menjauh. Kemuning berdiri diam beberapa detik. Lalu, melangkah keluar lagi, masih lewat pintu belakang. Dia tidak ingin bertemu Bu Ratih.
Langkah Kemuning pelan saat menyusuri jalan kecil menuju pasar. Jaraknya hanya satu kilometer, tetapi hari ini terasa lebih jauh.
Kata-kata ibu mertuanya terus terngiang. “Wanita mandul harus tahu diri!”
Bibir Kemuning bergetar. “Aku tidak mandul,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Tangannya tanpa sadar mengepal. Hatinya juga terasa perih.
Namun, di balik luka itu ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Sebuah rasa yang belum sempat ia kenali. Sesuatu yang terasa ganjil dan tidak beres.
Langkah Kemuning terhenti sejenak di tepi jalan. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya mulai berputar.
Tiga kali pemeriksaan semuanya normal. Lalu kenapa dirinya belum juga hamil? Napas Kemuning tertahan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pertanyaan itu muncul.
Selama belanja pikiran Kemuning kacau. Beberapa kali dia salah menyebut barang yang akan dibeli atau tertukar ukuran beratnya.
Sepulang dari pasar, Kemuning buru-buru memasukan pakaian ke dalam mesin cuci. Lalu, ditinggal dengan melakukan pekerjaan lainnya, menyapu rumah dan halaman, kemudian memasak. Setelah matang, dia baru mengepel. Karena Bu Ratih tidak suka jika lantai dapur licin.
"Sudah selesai masaknya?" Tiba-tiba saja Bu Ratih muncul di dapur.
Kemuning yang baru saja masuk ke rumah, selesai menjemur pakaian, dibuat terkejut. "Sudah, Bu," jawabnya sopan. "Ibu makannya mau di sini atau mau sambil nonton TV?"
"Kamu bawakan ke depan! Ibu mau makan sambil nonton acara gosip pagi."
Kemuning pun dengan cekatan menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya. Dia sudah hafal betul bagaimana kebiasaan Bu Ratih. Wadah nasi, sayuran, atau lauk lainnya harus dipisah-pisah. Lalu, air minumnya juga harus teh tawar hangat.
Bu Ratih tersenyum lebar ketika melihat acar ikan patin, nasi hangat, tahu goreng, sambal, lalapan segar, dan kerupuk. Setelah Kemuning menjadi menantunya, dia sering dimanjakan dengan makanan enak.
"Cepat kamu antar makanan untuk Aditya! Kasihan dia belum makan. Dia yang capek cari uang. Harus diperhatikan makanannya," ucap Bu Ratih. Dia tidak perduli sang menantu juga lapar dan lelah.
"Iya, Bu. Ini aku bersiap mau pergi," balas Kemuning.
Di atas meja makan sebuah rantang bersusun berisi makanan untuk Aditya sudah disiapkan oleh Kemuning. Selama ini dia selalu bersemangat jika melakukan pekerjaannya karena itu baktinya sebagai seorang istri dan menantu. Namun, ucapan Aditya dan Bu Ratih tadi pagi membuat Kemuning kehilangan semangat.
Dari rumah ke peternakan jaraknya cukup jauh, sekitar dua setengah kilometer. Jadi, Kemuning naik motor ke sana.
Sementara itu, Aditya sedang berpelukan dan berciuman mesra dengan seorang wanita, di ruang dapur. Namanya Lavanya, satu-satunya karyawan wanita yang bekerja di sana.
“Mas, kapan mau menikahi aku?” tanya Lavanya manja sambil mengelus pipi Aditya.
“Kamu harus sabar, Sayang,” jawab Aditya sambil menjawil dagu wanita itu.
“Apa sulitnya menceraikan Mbak Kemuning?”
Kemuning memarkirkan motor dekat pintu pagar, beberapa orang menyapanya ramah. Dia harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke sebuah pondok yang dijadikan kantor oleh Aditya.
Ketika masuk, tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan Kemuning tidak mendapati suaminya di ruang kerjanya.
"Mas Aditya di mana, ya?" batin Kemuning sambil berjalan ke arah ruangan paling belakang.
Terdengar suara tawa dari arah dapur. Kemuning mengerutkan kening, lalu berjalan cepat ke sana.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus