Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sylvanna Hayden Maximilian
Cip cip.. Suara burung diatas dahan pohon begitu riang menyambut pagi yang cerah. Anna terbangun dari tidurnya, ia melihat Ayahnya tidur terduduk sambil menggenggam tangannya.
Anna terdiam melihat sekelilingnya, kasur yang empuk dan luas, perabotan mewah juga ruangan yang lebih luas dari ukuran rumah lamanya di pinggir hutan, semuanya tampak menakjubkan.. namun baginya semua tak ada artinya karena Ibunya meninggal dengan tragis.
Anna kembali menangis.
"Hiks..hiks" rintihan kecilnya membangunkan ayahnya yang sedang tertidur.
"Putriku.. Apa ada yang sakit?" ucapnya panik seraya menempelkan tangan di dahinya, namun panasnya sudah turun.
"Ayah... Ibu...Hikss.." isaknya.
Nicholas memeluk Putrinya, menghibur dengan mengusap usap punggungnya.
"Sudah.. Ibu sudah pergi ke surga.. Anna harus merelakan ibu agar ibu bisa pergi dengan tenang, Anna mengerti?"
Anna pun mengangguk, kata kata yang ditujukan untuk menghibur putrinya malah terasa seperti ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Maafkan Ayah yang tidak bisa melindungi Ibumu.. Ayah sangat menyesal.."
Mendengar suara ayahnya yang bergetar Anna melakukan hal yang sama seperti ayahnya yang menghiburnya, Anna menepuk nepuk punggung besar Ayahnya.
"Ibu bilang kita berdua harus hidup bahagia.. Jadi Anna harus merelakan ibu dan hidup dengan bahagia. Anna mengerti?"
Anna mengangguk pelan.
"Tok..tok..tokk Mohon ijin menghadap Yang Mulia" ucap Deryl dari balik pintu.
"Masuk" jawab Nic.
"Yang Mulia.. Baginda Kaisar meminta anda menghap beliau di ruang kerja sekarang"
"Baik.. Sebelum itu aku mau pelayan yang kemarin menjaganya menjadi pelayan pribadi Putri mulai sekarang, panggil dia!" ucap Nic.
"Ahh.. Daisy ya? Baik Yang Mulia" Deryl meninggalkan ruangan.
"Anna.. Mulai sekarang mungkin Ayah akan sibuk jadi tidak bisa menemanimu setiap waktu, Anna.. ayah adalah seorang putra mahkota kekaisaran ini, mungkin Anna merasa bingung dengan situasi disini tapi ayah harap Anna akan segera beradaptasi karena mulai sekarang Anna adalah seorang Putri, Sylvanna Hayden Maximilian, itu adalah namamu dan disinilah rumah kita, Anna paham?"
"Aku sudah mengerti ayah.. Ibu sudah memberitahuku" jawabnya tenang.
"Benar.. Ibumu selalu begitu...Ibu tidak benar benar pergi karena Ibu tetap hidup di dalam hati kita..Ingatlah ini saat kau merindukan ibumu"
"Iya Ayah.. Ayah juga harus ingat itu.."
"Tentu, hanya ada Ibumu di hati Ayah sampai kapanpun"
"Ayah pergi dulu karena kakekmu, Baginda Kaisar memanggil Ayah.. Mulai sekarang pelayan bernama Daisy akan menemanimu ya.. karena kau masih belum sehat hari ini istirahatlah dulu" ucapnya dengan lembut sembari mengelus kepala Anna.
"Iyaa ayah"
Tak selang lama setelah Nicholas pergi Daisy datang.
"Selamat pagi Tuan Putri.." ucap Daisy dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi nona Daisy" jawabnya canggung.
Anna masih merasa canggung dengan panggilan barunya, meskipun itu adalah panggilan sehari hari dari Ayah dan ibunya.
"Ehh.. Kenapa Tuan Putri memanggil saya yang seorang pelayan Nona?" ucap Daisy yang kebingungan.
"Kenapa? Anda kan lebih tua dariku"
"Tidak boleh Tuan Putri! Mulai sekarang anda adalah atasan saya, dan saya adalah bawahan anda, jadi anda tidak perlu berbicara formal dengan saya dan para pelayan lain, Anda mengerti?"
"Iya Daisy.."
"Bagus Putri.. Nah.. saya akan memandikan anda terlebih dahulu setelah itu saya akan menyiapkan sarapan anda, anda juga harus minum obat"
"Aku bisa mandi sendiri Daisy, kenapa kamu memandikanku? aku kan bukan bayi!"
"He he he.. Maksudnya saya akan membantu anda mandi"
"Ohh.. Jangan memperlakukanku seperti bayi ya Daisy!"
"Iya Putri..hehe" Daisy merasa terhibur dengan kepolosan Anna.
.
Di ruang kerja Kaisar.
Ayah dan Putranya duduk berhadapan namun tak ada sedikitpun keharmonisan di raut wajah keduanya.
"Kenapa Baginda memanggilku pagi pagi begini?" ucap Nic.
"Jadi.. bagaimana keadaan cucuku?"
"Aneh sekali anda memanggilnya cucu padahal untuk menerimanya anda sampai mengajukan syarat kepadaku!" jawab Nic dengan sinis.
"Sudahlah.. Kau kan sudah menerima syarat dariku, dan itu membuat semua permasalahan beres. Sesuai janjiku, aku akan menerimanya, melindunginya dan membuatnya menjadi wanita terhormat saat dia sudah dewasa nanti. Jadi.. Pernikahanmu akan dilangsungkan dalam sepekan"
Nic bangkit dari tempat duduknya.
"Anda bilang sepekan? Baginda! Istriku baru saja dikuburkan kemarin!" teriaknya geram.
"Jaga sopan santun mu pangeran! Kau kira siapa yang kau teriaki?! Duduk!" tegasnya. "Kita sudah membahasnya kemarin sebelum kau mengubur wanita itu, kau bilang akan menerima semua syaratnya!"
"Tapi sepekan terlalu cepat Baginda! Bagaimana aku akan menyampaikan kepada Putriku yang baru saja kehilangan Ibunya!!"
"Kesepakatan dengan Count Darkan Angelos sudah kulakukan bahkan sebelum kelahiranmu! Dialah yang membantuku duduk di takhta saat ini!"
"Aku sudah mendengar itu selama 30 tahun hidupku!" ucapnya dengan ekspresi muak.
"Benar! Kau tahu itu tapi malah diam diam menikahi wanita liar di pinggir hutan sampai melahirkan anak!"
"Jangan menyebutnya seperti itu!!" teriak Nic.
"Hahh... Sudahlah.. Tak ada untungnya membahas skandal yang sudah basi. Keputusanku tidak bisa dirubah lagi, Count Angelos sudah mempersiapkan pernikahan kerajaan sejak tiga bulan yang lalu meski kau menolak mentah mentah putrinya"
"Itu karena anda sebagai raja tidak bisa tegas terhadap bawahan anda sendiri makannya orang sombong itu bertindak semaunya!"
"Nic.. Sudahlah.. Ayahmu sudah terlalu tua untuk melakukan ini dan itu, pernikahanmu dan Lady Angelos akan memperkuat posisimu sebagai kaisar masa depan"
"Jika saya masih waras saya tidak akan pernah menempatkan orang itu di samping saya!! tidakkah anda lupa kenapa saya diserang sampai hampir mati 10 tahun lalu? Jika bukan karena Helena.."
Kaisar memotong ucapan Nicholas.
"Cukup Pangeran!! Keputusanku sudah bulat! Kau akan menikah dalam sepekan! Jika kau sampai melakukan hal hal yang mengacaukan rencanaku maka Sylvanna tidak akan berumur panjang!!!"
Nicholas mengepalkan tangannya, darahnya seakan mendidih karena kini Kaisar dengan mudahnya mengancamnya, menjadikan Putri kesayangannya sebagai kelemahan.
Nicholas keluar ruangan dengan amarah yang meluap luap, ia membanting pintu dengan keras.
BRAKKK!!
Kaisar yang sudah berumur memegangi dahinya yang sakit.
"Kapan dewasanya dia.. Dia harus bertindak dengar benar untuk melindungi orangnya sendiri" ucap Kaisar kepada ajudannya yang baru tiba.
"Anda harus mengerti Baginda, saya dengar Pangeran sangat terguncang dengan kematian istrinya, apalagi wanita itu meninggal dengan tragis" ucap ajudan kaisar bernama Nero.
"Apa Nic masih bersikeras menyelidiki kasusnya sendiri?"
"Awalnya begitu Baginda.. Tapi karena kondisi Tuan putri Sylvanna tidak baik jadi Beliau melimpahkan kasusnya ke bawahan langsung Putra mahkota"
"Nic hanya akan semakin terluka jika dia terus menunda Nunda pernikahan dengan lady Angelos, apalagi sekarang ini kelemahannya diketahui semua orang"
"Benar yang mulia.. Pangeran tidak tahu betapa anda sangat memikirkannya"
"Sudahlah.. Biarkan dia berpikir sesukanya, orang tua ini cukup melindunginya dari jauh saja. Oh ya.. Bawa anak itu kepadaku jika kondisinya sudah membaik"
"Maksud anda Tuan Putri Sylvanna?"
"Iya lah.. Siapa lagi anak anak di istana ini!"
"Baik Yang Mulia, saya akan menyuruh orang untuk memantau keadaannya terlebih dahulu"
Bersambung