Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Anda Bukan Rumah
Ruang VVIP itu tetap sunyi, hanya diisi oleh suara detak mesin monitor jantung yang monoton.
Di tengah kesunyian itu, Cakra berdiri mematung di sudut ruangan, bayang-bayang tubuhnya memanjang di lantai marmer yang dingin. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap lurus ke arah tubuh Biru yang terbaring kaku, namun pikirannya terjebak dalam memori beberapa bulan lalu—momen langka saat Biru menunjukkan sisi kemanusiaannya yang paling rapuh.
"Aku ingin hidup lebih lama, Cakra. Selena memberikanku..." suara Biru yang serak namun peNuh damba kala itu kembali bergaung, memicu rasa perih yang luar biasa di dada Cakra.
Cakra menghela napas kasar, sebuah hembusan napas yang sarat akan rasa sesal. Ia teringat bagaimana ia dulu menjawab dengan ketus, "Tuan, harapan adalah racun bagi kondisi Anda. Nyonya Selena adalah distraksi yang manis, tapi dia berbahaya."
Kini, kata-kata itu terasa seperti kutukan yang menjadi kenyataan. Cakra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa bersalah menghujamnya tanpa ampun. Ia merasa telah gagal menjadi "rem" bagi Biru. Sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun menjaga nyawa sang bos, Cakra merasa dirinya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas keadaan ini.
"Seharusnya aku tidak hanya menjadi asisten yang patuh," bisik Cakra pada kesunyian, suaranya parau oleh emosi yang tertahan.
"Seharusnya aku mendobrak pintu kamar itu di Uluwatu. Seharusnya aku menghentikan ambisi gila Nyonya Widya. Dan seharusnya... aku tidak membiarkan Tuan mencintai wanita itu sedalam ini jika taruhannya adalah nyawa."
Cakra membuang muka, tak sanggup melihat wajah Biru yang pucat. Ia sangat menghormati Biru, lebih dari sekadar bos; pria di ranjang itu adalah sosok yang memberinya tujuan hidup.
Melihat Biru hancur seperti ini—sebagai korban dari pengkhianatan keluarganya sendiri dan ledakan gairah yang tak terkendali—membuat Cakra merasa kehilangan arah.
Ia merogoh ponselnya, melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Selena. Hatinya mencelos.
Ia tahu Selena sedang mencari keberadaan Biru dengan penuh kemarahan dan kecemasan. Namun, kesetiaannya pada perintah terakhir Biru—untuk menjauhkan Selena dari kehancuran ini—membuatnya tetap membisu, meskipun kebisuan itu terasa seperti menguliti hatinya sendiri.
"Tuan ingin melindunginya dari rasa bersalah," gumam Cakra lagi, menatap monitor jantung yang masih menampilkan grafik lemah. "Tapi siapa yang akan melindungi Tuan dari kematian?"
Cakra mendekat ke sisi ranjang, membetulkan letak selimut Biru dengan tangan yang sedikit gemetar.
Di dalam ruangan yang dingin itu, Cakra bersumpah dalam hati: jika Biru tidak bisa lagi menjadi predator di dunia bisnis, maka ia yang akan menjadi pedang tersembunyi bagi tuannya.
Ia akan menanggung semua dosa ini sendirian, menahan Selena di luar sana, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun pengkhianat yang bisa menyentuh Biru, setidaknya sampai napas terakhirnya sendiri berhenti.
Penyesalan itu mungkin tidak akan pernah hilang, namun bagi Cakra, menjaga rahasia dan raga Biru adalah satu-satunya penebusan dosa yang tersisa baginya.
Hati Cakra mencelos sakit, "Tuan, harapan adalah racun bagi kondisi Anda," sahut Cakra, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan peringatan.
"Nyonya Selena adalah distraksi yang manis, tapi dia berbahaya. Semakin Anda menginginkannya, semakin jantung Anda akan dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya. Anda sedang bermain api dengan nyawa Anda sendiri."
Cakra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Biru yang memohon untuk hidup lebih lama demi Selena terasa seperti pisau yang mengiris kesetiaannya. Ia ingat betul bagaimana sorot mata Biru yang biasanya sedingin es, mendadak mencair setiap kali membicarakan penulis itu.
"Dan sekarang, api itu benar-benar membakar Anda, Tuan," gumam Cakra perih, menatap jarum jam yang terus berdetak di ruang sunyi itu.
Pintu geser otomatis itu terbuka dengan suara desis halus, memecah keheningan berat yang menyelimuti ruangan.
Dokter Ariska masuk dengan jas putihnya yang rapi, membawa papan klip berisi grafik pemantauan terbaru. Sebagai dokter koas yang ditugaskan khusus di unit VVIP, Ariska sudah terbiasa dengan ketenangan rumah sakit, namun ia tidak pernah terbiasa dengan "patung" yang satu ini.
Ia melirik ke arah Cakra—pria yang selama sebulan ini hampir tidak pernah beranjak dari sudut ruangan. Ariska sering kali merasa risih, bahkan sedikit terintimidasi. Bagaimana bisa ada pria setampan itu, namun memiliki aura sedingin es dan berdiri kaku bagaikan patung selamat datang di lobi hotel mewah?
"Masih tidak ingin duduk, Pak Cakra?" tanya Ariska sambil mendekati monitor jantung, mencoba memecah kekakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Cakra tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada Biru. "Tugas saya adalah berjaga, Dokter. Bukan untuk beristirahat."
Ariska menghela napas pendek, jemarinya lincah memeriksa selang infus dan menyesuaikan dosis pada syringe pump.
"Berjaga juga butuh tenaga. Jika Anda pingsan, saya harus menambah satu ranjang lagi di ruangan ini, dan itu akan merusak estetika kamar VVIP saya."
Cakra hanya diam. Dingin dan tak tersentuh.
Ariska diam-diam mencuri pandang ke arah wajah Cakra dari samping. Garis rahangnya tegas, namun ada gurat kelelahan yang luar biasa di matanya. Sebagai dokter, Ariska tahu bahwa pria ini sedang berada di ambang batas ketahanannya. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar loyalitas profesional di sana; ada pengabdian yang nyaris terasa menyakitkan untuk disaksikan.
"Kondisi Tuan Biru stabil secara hemodinamik pagi ini," ucap Ariska, kembali ke nada profesionalnya. "Respon motoriknya tadi malam menunjukkan peningkatan. Itu kabar baik. Tapi sepertinya ada sesuatu yang menahannya untuk benar-benar sadar. Sesuatu di dalam pikirannya sendiri."
Cakra akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap Ariska dengan tajam. "Apa maksud Anda?"
"Terkadang pasien koma butuh alasan untuk kembali," Ariska mengangkat bahu, mencoba bersikap santai meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena ditatap seintens itu. "Suara orang yang dicintai, atau mungkin janji yang belum ditepati. Anda mungkin asistennya, tapi Anda bukan 'rumah' tempat dia ingin pulang, kan?"
Pertanyaan Ariska menghantam Cakra tepat di ulu hati. Ia teringat Selena. Ia teringat bagaimana Biru memuja wanita itu. Ariska, yang tidak tahu apa-apa tentang drama di balik pintu ini, justru menyentuh titik paling sensitif dalam penyesalan Cakra.
"Fokus saja pada tugas medis Anda, Dokter," sahut Cakra dingin, kembali membuang muka.
Ariska mendengus kecil, mencatat sesuatu di papan klipnya sebelum berbalik menuju pintu. "Baiklah, Patung Selamat Datang. Jika ada perubahan pada ritme monitor, segera panggil saya. Dan saran saya... belilah kopi. Wajah Anda mulai terlihat lebih pucat dari pasien saya."
Setelah Ariska keluar, Cakra kembali dalam kesendiriannya. Kata-kata dokter koas itu terus terngiang. Anda bukan 'rumah' tempat dia ingin pulang.
Cakra menatap ponselnya yang bergetar lagi di atas meja. Satu pesan baru dari Selena masuk.
Cakra memejamkan mata, merasakan perang batin yang semakin hebat. Haruskah ia tetap menjadi tembok yang dingin, atau haruskah ia membiarkan "rumah" itu datang demi menyelamatkan nyawa tuannya?
***
jin ouch jin sentuh itu selena...