Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - Hari Yang Menentukan
Gwen menatap folder di tangannya, jemarinya bergetar pelan. Tiga hari. Tiga hari untuk membuktikan bahwa dua tahun kehampaan bukanlah kegagalan total. Ia mengangkat kepala, menatap gedung ArtVia yang menjulang tinggi di balik jendela kaca—futuristik, anggun, dan penuh dengan mimpi yang menunggu untuk dikejar. Pemandangan itu bukan lagi sekadar bangunan, tapi simbol dari segala sesuatu yang ingin ia raih kembali.
Ia memeriksa berkas-berkas dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang tertinggal. Saat berdiri, kakinya masih sedikit lemah, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Rasa takut yang dulu melumpuhkan kini tergantikan oleh api kecil yang mulai menyala—tekad untuk membuktikan bahwa dirinya layak, bahwa ia masih bisa menaklukkan dunia yang sempat terasa jauh dan tak terjangkau.
Dengan napas panjang, Gwen melangkah maju. Setiap langkah terasa pasti, meski hati kecilnya masih berdetak kencang. Terpaku pada berkas di tangannya, ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf—" ucapnya otomatis, lalu membeku.
Aga berdiri di depannya, setelan jas abu-abu yang pas membungkus tubuhnya dengan sempurna, dasi biru tua yang serasi dengan matanya menambah kesan elegan. Meski terlihat terkejut sejenak, senyum lebar segera mengembang—senyum yang mencapai matanya, membuat sudutnya berkerut sedikit. Meski begitu, aura ketampanan dan karisma pria itu seolah memaksa udara di sekitarnya berhenti sejenak.
"Baby."
Panggilan itu membuat Gwen seolah lupa cara bernapas. Detak jantungnya melonjak, tubuhnya kaku, dan sekejap dunia di sekelilingnya lenyap—tinggal Aga, senyumnya, dan getaran yang sulit ia abaikan.
"Aga… Apa… apa yang kamu lakukan di sini?"
Aga mengangkat tangan yang memegang map serupa dengan yang Gwen bawa. "Meeting dengan tim legal. Properti baru." Ia menatap folder di tangan Gwen, lalu kembali menatap mata Gwen dengan intensitas yang membuat Gwen ingin melihat ke tempat lain—tapi tidak bisa. "Presentasi?"
Gwen mengangguk, merasa pipinya memanas.
Tangan Aga menyentuh pipinya, lembut, hanya sejenak, sebelum naik ke dahi. Jemari yang hangat itu menyingkirkan anak rambut yang jatuh di kening Gwen, lalu menetap di sana. Aga menunduk, menurunkan kepalanya, dan mengecup kening Gwen dengan lembut—ciuman singkat yang sarat perasaan, sebuah ungkapan yang tak perlu kata-kata.
Gwen membeku. Jantungnya berdetak begitu kencang sehingga ia yakin Aga bisa mendengarnya. Di lobi ArtVia, di depan receptionist yang menatap dengan mata terbelalak, di tengah orang-orang yang lalu-lalang—Aga menciumnya. Bukan bibirnya, tapi keningnya, dengan cara yang begitu intim, begitu possessive.
"Semoga berhasil," bisik Aga ketika menarik diri, suaranya parau dan hanya terdengar oleh Gwen. "Aku tahu kamu bisa. Baby."
Gwen menatapnya, mencari kata-kata yang tepat, namun tidak menemukannya. Ada terlalu banyak yang ingin ia katakan—tentang terima kasih, tentang ketakutan, tentang mengapa Aga selalu muncul di saat yang paling ia butuhkan. Namun yang keluar hanyalah anggukan kecil, hampir tidak terlihat.
Aga tersenyum lagi, senyum lebar dan tulus yang membuat Gwen ingin menangis sekaligus tertawa dalam waktu yang sama. Pria itu mundur selangkah, memberi ruang, namun matanya tetap terkunci pada Gwen, seolah tak ingin melepasnya.
"Buat mereka terpesona." Aga mengedipkan satu mata, "Karena kamu memang menakjubkan."
Dengan cepat, ia mengecup pipi Gwen, lalu berbalik dan berjalan keluar gedung. Di depan, sebuah BMW Series terbaru menunggu, siap membawa Aga pergi, meninggalkan Gwen berdiri di sana dengan hati yang berdebar dan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Tanpa Gwen sadari semua mata menatapnya iri.
...__Kejar Tenggat__...
Gwen mondar - mandir di ruang rapat.
ArtVia Headquarters, masih tidak percaya sedang berdiri di salah satu biro yang banyak diidamkan arsitek termasuk dirinya. Dia mengamati suasana kantor yang cozy, tidak kaku. Bertema kuning dan biru tua. Seperti ruang rapat ini yang dicat Ivory Yellow dengan gabungan panel-panel langit dari kayu lapis dan pintu kaca geser di sisi balkon. Ada juga kaca hitam berada di ujung meja rapat, di belakang kursi tunggal hitam, yang terlihat berbeda sendiri dengan kursi-kursi hitam di sisi kanan-kiri meja panjang. Tebakan Gwen, kursi itu khusus untuk para atasan saat memimpin meeting.
Gwen memeriksa arjoli, 09.45. Mendadak kepanikan menyerbu. Sudah 45 menit berlalu sejak dia disuruh menyiapkan presentasi. Semua sudah siap.
Laptop sudah tersambung ke proyektor, laser pointer juga sudah dia pegang. Lalu, apa yang dia tunggu? Gwen berdiri lurus menghadap kaca hitam, memperhatikan pantulannya. Blus putih dengan detail kancing emas berpadu rapi dengan celana khaki panjang yang pas di pinggang, dilengkapi sepatu pumps nude yang elegan. Gwen menarik ujung blus sambil mengembuskan napas pelan.
Sepuluh menit setelahnya, pintu terbuka.
Seorang lelaki berpakaian rapi tanpa jas masuk lebih dulu, mengangguk ramah pada Gwen. Disusul Bu Elina dan Pak Hendra yang terlihat riang, segera menyemangatinya dengan mengangkat satu tangan.
“Selamat siang, Bu Elina, Pak Hendra, dan—” Gwen sempat terhenti, kebingungan.
“Dia Tuan Raymond Tan, klien ArtVia Headquarters,” jelas Elina saat melihat wajah Gwen yang ragu.
Gwen mengangguk pelan. Ia belum pernah bertemu Tuan Raymond sebelumnya. Semua informasi yang ia miliki hanyalah berkas brief tebal yang diberikan Elina tiga hari lalu.
Dalam berkas itu tertulis:
"Pengusaha sukses, baru saja bercerai, ingin membangun villa di Ubud sebagai ‘rumah baru untuk hidup baru’. Ia mencari ketenangan, kesembuhan, dan awal yang benar-benar baru. Hindari kesan mewah yang dingin dan maskulin seperti rumah lamanya."
Itu saja. Tidak ada pertemuan awal, tidak ada diskusi langsung. Semua konsep desain yang Gwen buat sepenuhnya berdasarkan catatan singkat tersebut.
“Cantik.”
Suara rendah itu membuat Gwen tersentak. Lamunannya langsung buyar.
“Pantas saja si bodoh itu tergila-gila,” gumam Raymond pelan, tapi cukup jelas terdengar di ruangan yang hening.
Gwen tersipu. “Maaf, Pak.”
Raymond mengangkat bahu santai. “Bukan Apa - apa.”
Gwen bingung melihat reaksi kedua orang di depannya. Bu Elina menatap Raymond dengan mata menyipit tajam, ekspresinya seolah ingin langsung menendang tulang kering pria itu. Sementara Pak Hendra hanya geleng-geleng kepala pelan, wajahnya campuran antara geli dan pasrah.
“Ayo, mulai presentasinya,” ucap Pak Hendra memecah keheningan.
Gwen menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia melangkah mendekat ke meja presentasi, setiap langkah terasa berat sekaligus menegangkan. Ia menata map desain di tangannya agar terlihat lebih rapi, sekaligus berusaha mengendalikan detak jantung yang berlari kencang.
Setiap mata di ruangan itu kini tertuju padanya — Pak Hendra dengan penuh harap, Bu Elina dengan tatapan evaluatif, dan Tuan Raymond dengan ekspresi tenang yang hampir menembus.
“Selamat siang, Tuan Raymond, Bu Elina, dan Pak Hendra. Terima kasih sudah meluangkan waktu,” Gwen memulai, suaranya tenang meski hatinya bergetar sedikit. “Perkenalkan, saya Gwen, desainer yang menangani konsep villa Bapak di Ubud. Terima kasih, Pak Raymond, telah memberi saya kesempatan untuk mempresentasikan desain ini. Ini pertemuan pertama kita, jadi saya berharap konsep yang saya buat dapat selaras dengan visi Bapak.”
Pak Raymond tersenyum tipis, mengamati Gwen dengan tatapan penasaran. “Silakan, Gwen. Saya penasaran sekali apa yang kamu pahami dari brief yang diberikan Bu Elina.”
Gwen menarik napas dalam, menyambungkan laptopnya ke proyektor. Slide pertama muncul dengan elegan di layar besar, menampilkan visual villa yang ia desain.
“Villa Serenita – Rumah Baru untuk Hidup Baru Lokasi: Ubud, Bali" Dengan suara mantap, Gwen memulai presentasinya.
“Pak Raymond, dari berkas brief yang Bu Elina berikan, saya memahami bahwa Bapak sedang mencari tempat yang menjadi simbol babak baru dalam hidup. Oleh karena itu, saya mendesain Villa Serenita dengan konsep utama ‘Healing Serenity’ — perpaduan luxury tropis Bali yang hangat dengan ketenangan spiritual khas Ubud.”
Ia jelaskan satu per satu dengan percaya diri, meski ini pertama kalinya ia bertemu dengan kliennya "Villa dibangun di lahan 1.200 m² yang menghadap sawah terasering dan hutan tropis Ubud, mengikuti kontur alam agar terasa menyatu. Arsitektur Modern Balinese dengan atap alang-alang, dinding kaca besar, dan elemen kayu reclaimed. Living pavilion terbuka mengalir langsung ke infinity pool yang seolah menyatu dengan pemandangan sawah di bawahnya."
"Master villa dilengkapi private garden, outdoor bathtub dari batu alam, dan bale meditasi pribadi untuk menyambut matahari terbit."
Saat Gwen menjelaskan bagian master bedroom, Elina menyela pelan, “Desainnya cukup lembut. Kamu mengambil kesimpulan itu hanya dari berkas brief?”
Gwen mengangguk tenang. “Iya, Bu. Di brief tertulis Bapak ingin rumah yang ‘lembut, menyambut, dan tidak lagi terasa dingin atau maskulin’. Saya berusaha menerjemahkan itu menjadi ruang yang memberikan rasa damai dan harapan.”
“Kamu benar sekali, Gwen. Saya memang ingin sesuatu yang berbeda dari rumah lama saya. Saya ingin setiap pagi terbangun dan merasa ini adalah hidup baru saya… bukan lagi masa lalu.”
Hendra bertanya beberapa hal teknis tentang drainase dan struktur di lahan curam Ubud. Gwen langsung membuka slide teknis yang sudah ia siapkan lengkap dengan perhitungan dan rekomendasi vendor lokal Bali. Presentasi berakhir setelah hampir 45 menit. Gwen menutup dengan rendering villa di cahaya golden hour:
“Villa Serenita – Where New Beginnings Bloom in the Heart of Ubud.”
Ia menatap Pak Raymond dengan tulus.
“Pak, karena ini pertemuan pertama kita, saya sangat berharap desain ini bisa mencerminkan apa yang Bapak inginkan. Villa Serenita bukan hanya bangunan, tapi tempat bagi Bapak untuk menyembuhkan dan memulai segalanya dari awal.”
Pak Raymond diam sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Gwen… meski kita baru bertemu hari ini, kamu berhasil memahami keinginan saya dengan sangat baik hanya dari berkas brief. Desainnya indah sekali. Saya sangat menyukainya.”
Bu Elina bersandar ke belakang kursinya, tersenyum tipis sambil menatap Gwen. “Gwen… presentasi hari ini sangat matang. Kamu berhasil menerjemahkan brief dengan baik. Karena itu, secara resmi saya ingin menawarkan kamu posisi Junior Design Lead di ArtVia. Fokus utama akan menangani proyek-proyek properti premium dan villa eksklusif seperti milik Pak Raymond. Kamu diterima kerja di ArtVia mulai besok.”
Gwen terkejut. Matanya melebar. “Bu, jadi saya—”
“Kamu diterima, Gwen. Selamat! Dan, langsung mengurus proyek penting tahun ini.”
Gwen mencoba memahami, lalu loncat kegirangan tanpa sadar. Benar-benar lupa kalau Pak Raymond, Pak Hendra, dan Bu Elina masih ada di depannya. Rasanya seperti dirinya baru saja terdampar di pulau sepi, hanya ditemani kelapa, lalu tiba-tiba tim penyelamat datang—dan seketika, ia merasa hidup kembali.
“Ah. Ah. Maaf, Pak, Bu. Maaf.” Gwen berhenti lompat, tersenyum canggung.
“Lanjutkan. Butuh teman lompat, nggak? Saya bisa bantu,” ucap Pak Raymond, nada suaranya ringan, disertai senyum tipis yang membuat Gwen tersipu.
“Nggak, Pak.” Gwen menggigit bibir bawahnya, tidak sanggup menahan cengiran.
“Yah, padahal saya juga mau ikutan lompat,” ucap Pak Hendra, tak mau kalah.
“Jangan, nanti encokmu kambuh,” sela Bu Elina
Tawa pecah di seluruh ruangan, mengusir ketegangan yang semula terasa. Gwen pun tak bisa menahan senyumnya, ikut tertawa pelan.
"Selamat, Gwen. Sepertinya ini hari yang indah untuk kita berdua.” Ucap Pak Raymond sambil mengulurkan tangan.
Gwen terkejut sejenak, menatap tangan Raymond yang terulur di depannya. Hatinya berdetak lebih cepat, tapi senyum hangat tetap terukir di wajahnya. Dengan sedikit ragu, ia meraih tangan itu dan bersalaman, menatap mata Raymond. “Terima kasih, Pak,” ucapnya lembut tapi mantap.
Pak Hendra juga mengulurkan tangan. “Kerja bagus hari ini,” katanya sambil tersenyum. Gwen membalasnya dengan anggukan singkat, masih berusaha menenangkan detak jantungnya.
Gelombang bahagia dan lega menyapu Gwen. Suaranya sedikit bergetar saat menjawab, “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Elina, Pak Hendra, Pak Raymond. Saya akan bekerja sebaik mungkin.”
Ia keluar dari ruang meeting dengan perasaan bahagia yang menghangatkan dada. Dua kabar besar datang dalam satu hari: desain villa untuk klien barunya diterima dengan baik, dan ia resmi diterima bekerja di ArtVia. Hatinya penuh sukacita, seolah seluruh lelah dan kecemasannya beberapa hari terakhir terbayar lunas.
Saat menuju lift, Ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Gwen melihat nama Aga yang tertera di layarnya.
"Halo, Ga. Kenapa?"
"Kamu udah kelar belum?"
"Udah. Kenapa?"
"Aku tunggu di lobby."
Lah? "Emangnya..." klik.
Baru sempat buka mulut, sambungan telepon sudah diputus sepihak. Ampun deh, orang ini otoriter banget. Gwen menghela napas.
Ia melangkah ke lift, menekan tombol lantai dasar, dan menunggu pintu tertutup. Saat lift menurun perlahan, Gwen menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih bergejolak.
Pintu lift terbuka, Gwen melangkah keluar, matanya langsung tertuju pada mobil Aga yang terparkir di depan gedung. Ia mempercepat langkahnya, seolah semua mata di sekitarnya tertuju padanya—pegawai kantor, seakan memperhatikannya. Pipinya memanas, tapi ia terus melangkah hingga tiba di sisi pintu mobil Aga.
Gwen membuka pintu mobil, masuk dengan hati-hati, dan duduk, masih merasakan panas di pipinya sambil mencoba menenangkan detak jantungnya.
"Kamu nggak kerja, Ga? Bukannya tadi udah pergi?" tanyanya sambil memasang sabuk pengaman.
"Pergi ke kantor sebentar. Langsung balik ke sini."
"Ngapain?"
"Mau minta traktir."
"Hah? Emang kapan aku bilang kalau aku diterima kerja?" Gwen mengernyit.
"Tuh, barusan bilang," jawab Aga santai.
“Baby, jangan di perut! Bawah aja… di-elus-elus enak,” goda Aga sambil menurunkan alis.
“Dasar mesum,” sahut Gwen sambil menepuk bahu Aga “Buruan jalan, nanti dikira lagi mesum di mobil.”
"Siap, Baby."
Aga menyalakan mesin. Mobil melaju pelan meninggalkan gedung. Gwen tersenyum. Tanpa pikir panjang, ia menciumnya di pipi.
“Baby, please… aku jadi nggak fokus nyetir,” protes Aga.
Gwen tersenyum kecil, lalu merasakan genggaman tangan Aga. Hangat dan mantap, membuatnya terkejut sebentar, tapi ia membiarkan genggaman itu. Mereka duduk berdekatan, mobil meninggalkan gedung tempat ia kini bekerja.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍