NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Curiga

Keesokan paginya, Nayan sudah bersiap pergi. Sebuah belati dapur dia selipkannya di balik ikat pinggangnya , senjata kecil yang setidaknya bisa memberi sedikit rasa aman untuknya .

Namun, langkah Nayan terhenti saat Riu tiba-tiba muncul di hadapannya untuk mengambil air minum. Nayan tersentak, mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan gerakan yang kaku.

"Mau ke mana kau sepagi ini? Apa tubuhmu benar-benar sudah pulih?" tanya Riu, suaranya terdengar datar namun penuh selidik.

"Aku... aku merasa jauh lebih baik," jawab Nayan singkat.

Riu menyipitkan mata. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga hanya tersisa beberapa senti, lalu berbisik tepat di telinga Nayan. Suasananya mendadak terasa dingin dan mencekam.

"Katakan padaku... kau ini sebenarnya manusia atau hantu?"

Nayan tersedak ludahnya sendiri. Ia terpaksa melepas tawa pendek yang terdengar janggal untuk mengusir kecanggungan. "Riu, jangan mulai melantur di pagi buta begini."

Riu tidak tertawa. Ia menenggak airnya hingga tandas, lalu mengembuskan napas panjang. Matanya mengunci tatapan Nayan dengan tajam.

"Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkanmu Nayan . Kau banyak memuntahkan darah dan wajahmu sudah seperti mayat, tapi saat bangun kau seolah baru saja selesai tidur siang. Bahkan tabib itu pun bingung karena tidak menemukan penyakit apa pun di tubuhmu."

Sadar bahwa Riu mulai mengendus ada yang tidak beres, otak Nayan bekerja cepat. "Mungkin itu hanya reaksi tubuh karena salah makan, Riu. Setelah semua racunnya keluar, aku merasa tubuhku segar kembali."

Riu hanya diam. Ia menatap Nayan seolah sedang mencoba membedah rahasia yang tersimpan di balik wajah gadis itu.

Ketegangan itu pecah saat pintu terbuka. Cakra muncul bersama Ana, membawa bungkusan daging segar yang dibelinya di pasar sebelum matahari terbit.

"Ini, Riu. Masaklah yang enak ." titah Cakra sambil menyerahkan belanjaannya.

Nayan tertegun menatap Cakra. Selama tinggal di sini, ia baru menyadari satu hal . Meskipun gubuk ini tua dan terpencil, mereka tidak pernah kekurangan. Makanan mereka selalu berkualitas.

"Tempat ini memang terlihat kumuh, tapi kehidupan di dalamnya sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan." batin Nayan mulai mencurigai siapa sebenarnya dua pria ini.

"Kakak!" Ana menghampiri dan memeluknya.

"Tadi aku tidak sengaja melihat Paman Cakra saat dia keluar, dia bilang ingin pergi ke pasar membeli daging jadi aku memaksa ikut dengannya . Apa kakak akan memarahiku ?"

Nayan tersenyum tipis, mengelus rambut Ana dengan lembut. "Anak nakal... Kakak bahkan tidak tahu kalian tadi pergi."

Cakra melangkah mendekati Nayan, gurat cemas masih membekas di wajahnya.

"Nayan, apa kau benar-benar sudah sehat? Perlukah aku panggilkan tabib lain yang lebih ahli. Untuk memeriksamu .

Tanpa sadar, Nayan menyentuh lengan Cakra, sebuah gerakan refleks untuk menenangkan pria itu. "Cakra... aku benar-benar tidak apa-apa."

Dari samping , Riu hanya bisa mendengus pelan sambil menggelengkan kepala melihat perubahan sikap Majikannya itu.

"Ke mana perginya Pangeran Cakra yang dingin dan tak tersentuh itu? Ck, luar biasa.." gerutunya dalam hati.

Tiba-tiba, mata tajam Cakra menangkap kilatan logam di pinggang Nayan. "Nayan, kenapa kau membawa belati? Kau mau ke mana?"

Nayan membeku sejenak, otaknya berputar mencari alasan yang masuk akal. "Ini... aku ingin mencari kayu bakar. Iya, kayu bakar!"

Cakra menatap Riu yang hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. "Tidak perlu, Nayan. Biar aku saja yang mencari . Kau istirahat saja di rumah."

"Tidak!" Nayan menolak dengan cepat, sedikit terlalu keras. "Maksudku... aku hanya ingin mencari udara segar. Lagi pula terus-menerus berada di rumah akan membuatku sesak Cakra . Aku rasa suasana di hutan mungkin bisa membantuku pulih lebih cepat."

Cakra tak bergeming. Sorot matanya menunjukkan perlindungan yang mutlak. "Kalau begitu, aku akan menemanimu," tegasnya tanpa ruang negosiasi.

Nayan mendadak salah tingkah. Pikirannya berputar liar mencari cara untuk menolak. " Sial, kalau Cakra terus menempel padaku, bagaimana aku bisa menemuinya? Rahasiaku bisa terbongkar dalam sekejap. " batinnya mulai panik.

Riu, yang sejak tadi hanya menonton, ikut menyambar sambil menyandarkan bahu di pintu. "Cakra benar, Nayan. Gadis sepertimu tidak boleh keluyuran sendirian di hutan, itu sangat berbahaya . Bagaimana kalau siluman itu tiba-tiba lewat dan menyeretmu."

Nayan sedikit mengernyitkan keningnya menatap Riu "Siluman?"

Riu mendengus remeh. "Iya, siapa lagi kalau bukan Sedra? Si ratu siluman biadab yang tidak punya urat malu itu." celetuknya dengan nada enteng seolah sedang membicarakan sampah jalanan.

Mendengar namanya sendiri disebut dengan embel-embel 'biadab' Nayan memicingkan mata. Tatapannya mendadak setajam silet. "Oh.., jadi dia sedang membicarakan aku rupanya . " gumam Nayan dalam hati .

Tanpa menyadari maut sedang menatapnya, Riu justru semakin semangat mengoceh.

"Kudengar dia itu wanita haus darah yang terobsesi jadi Dewi. Padahal aslinya? Uh, jiwanya lebih busuk dari bangkai! Kalau saja aku punya kesempatan bertemu dengannya, akan kupatahkan leher angkuhnya itu sampai dia tidak bisa sombong lagi. Dasar wanita jahat , pembawa kutukan, noda bagi dunia!"

Riu meludah ke samping, terlihat sangat puas dengan hinaannya sendiri. "Sayang sekali wajahnya tertutup topeng . Mungkin karena aslinya Sedra itu sangatlah jelek . Wajahnya buruk rupa dan kelakuannya lebih rendah dari iblis. Benar-benar nenek sihir haus kekuasaan!"

Nayan mengepalkan tangan kuat-kuat di balik selendangnya . Rahangnya mengeras, menahan dorongan hebat untuk tidak mencabut lidah pria di depannya itu sekarang juga.

Cakra, yang merasa suasana mendadak jadi sangat dingin dan tidak nyaman melihat wajah Nayan yang berubah tegang, langsung bertindak. Sebelum Riu sempat mengeluarkan koleksi umpatan lainnya, Cakra merangsek maju dan membungkam mulut Riu dengan telapak tangannya yang lebar.

"Cukup, Riu! Diamlah kalau tidak ingin mulutmu robek ." potong Cakra dengan nada mengancam.

Riu hanya bisa mengerang tidak jelas di balik bekapan tangan Cakra, sementara matanya masih melotot seolah masih punya seribu makian lagi untuk Sedra .

***

Sementara itu, di balik tembok istana yang dingin, Putri Rani berdiri terpaku di depan sebuah lukisan. Matanya menatap tajam sosok Cakra yang tergambar di sana, tatapan yang dipenuhi obsesi gelap.

Jemari Rani bergerak perlahan, menelusuri garis wajah Cakra di kanvas itu dengan sentuhan lembut namun posesif.

"Kau terlalu angkuh, Sayang," bisiknya dengan suara serak. "Tapi lihat saja nanti... aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku, Pangeran."

Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh derit pintu yang terbuka lebar. Seseorang melangkah masuk dengan tenang, namun aura intimidasi yang dibawanya memenuhi ruangan. Rani tersentak, ia segera berbalik dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Siapa yang berani selancang ini masuk ke kamarku tanpa izin?" desis Rani dingin, suaranya tajam setajam belati.

"Tentu saja aku," sahut suara itu dengan nada santai. Sosok itu menyibak tirai sutra yang menghalangi, memperlihatkan wajahnya yang dihiasi senyum penuh rahasia.

Rani tertegun sejenak, sebelum bibirnya melengkung membentuk senyum licik yang tak kalah jahat. "Kau rupanya..."

"Pangeran Julian." Nada suara Rani terdengar sedikit menekan.

Julian melangkah mendekat, lalu dengan gerakan berani menangkup dagu Rani, memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya yang dalam dan penuh tipu daya.

"Bagaimana bisa gadis secantik dirimu dibiarkan merana seperti ini, Putri..." Ucap Julian dengan nada manis yang dibuat-buat.

Rani mendengus dan membuang muka hingga cengkeraman Julian terlepas. Namun, sang pangeran tidak menyerah. Ia kembali meraih dagu Rani, menariknya lebih dekat hingga napas mereka terasa bersinggungan.

"Saudaraku itu memang bodoh, Putri. Benar-benar tidak tahu cara menghargai permata," bisik Julian, matanya berkilat penuh manipulasi. "Tapi, jika kau memang begitu tergila-gila padanya, aku punya cara untuk membantumu."

Bersambung....

🐉🐉🐉🐉

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!