NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Tatapan Mata Rembulan

Debu dari runtuhnya benteng Kota Tanpa Wajah perlahan turun, namun tekanan di udara justru makin menghimpit. Yuan berdiri tegak di depan lubang bunker, Busur Naga di tangannya mengeluarkan aura hitam yang tidak stabil, seolah ikut merasakan gejolak amarah pemiliknya. Di depannya, barisan prajurit berbaju zirah perak berdiri rapat dengan tombak panjang yang dialiri energi Yuan Qi.

Di tengah formasi itu, Permaisuri Bayangan berdiri di atas tandu terbuka yang melayang rendah. Gaun putihnya bersinar lembut di bawah cahaya bulan, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan tanah yang merah oleh darah.

"Yuan... putra dari naga yang terbuang," suara Permaisuri terdengar seperti denting lonceng perak, lembut namun mampu menembus gendang telinga. "Secara logika, menyerah adalah satu-satunya jalan bagimu. Serahkan esensi Ao Kuang yang ada di dalam tubuhmu, dan aku akan menjamin Ming Luo serta gadis jarum itu bisa meninggalkan lembah ini dengan kepala masih menempel di bahu."

“JANGAN PERCAYA PADANYA!” raung Ao Kuang, getarannya membuat penglihatan Yuan sedikit kabur. “DIA ADALAH WANITA YANG MENUKAR JIWANYA SENDIRI DENGAN KEKUATAN BAYANGAN! SEKALI KAU MENDEKAT, DIA AKAN MENGISAPMU HINGGA KERING!”

Yuan meludah ke samping, darahnya terasa pahit. "Permaisuri, aku sudah melihat banyak penguasa yang bicara soal jaminan, tapi semuanya berakhir di ujung panahku. Jika kau mau naga ini, silakan ambil dari mayatku!"

Permaisuri hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Sayang sekali. Kau lebih mirip ayahmu daripada yang aku duga. Keras kepala, dan buta oleh kesetiaan yang sia-sia." Ia mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jari. "Unit Sayap Perak... patahkan sayap naga ini. Jangan bunuh dia, aku butuh jantungnya dalam keadaan berdetak."

"Ming Luo! Yue Yin! Sekarang!" teriak Yuan.

Yue Yin bergerak lebih dulu. Dari balik lengan bajunya, ia melemparkan puluhan botol porselen kecil ke udara. Begitu botol-botol itu pecah oleh sentuhan jarum peraknya, kabut berwarna ungu pekat menyebar dengan cepat—Racun Sembilan Gerhana. Prajurit yang menghirupnya langsung berlutut, wajah mereka membiru saat aliran energi di tubuh mereka membeku.

Di tengah kekacauan itu, Ming Luo berlari menuju ke arah dermaga udara darurat di sisi timur kota. Di sana, tertambat sebuah Bahtera Angin Cendana, kapal terbang cepat yang biasanya digunakan untuk kurir pesan kekaisaran.

"Naik ke sana! Inti spiritualnya masih menyala!" seru Ming Luo.

Yuan menarik tali busurnya, menciptakan tiga anak panah sekaligus. "TEKNIK NAGA HITAM: HUJAN PANAH BAYANGAN!" Anak panah itu meluncur, membelah udara dan meledak menjadi ribuan duri energi yang menghantam barisan kavaleri berkuda spiritual yang mencoba mengejar. Suara rintihan kuda dan dentingan senjata beradu di mana-mana.

Mereka melompat ke atas geladak bahtera. Ming Luo langsung menghantamkan tangannya ke bola kristal di tengah kendali kapal. Ia tidak menggunakan teknik auditnya dulu, ia hanya mengandalkan kemampuannya sebagai mantan jenderal untuk memicu paksa aliran Batu Roh ke dalam mesin penggerak kayu tersebut.

WUUUUUUUSHT!

Layar sutra bahtera itu terkembang, dipenuhi dengan tulisan segel kuno yang bersinar keemasan. Kapal itu melesat naik, meninggalkan tanah dengan kecepatan yang membuat perut terasa mual.

Yuan berdiri di bagian belakang kapal, melihat Permaisuri Bayangan yang masih berdiri tenang di tandunya. Wanita itu tidak memerintahkan pengejaran. Ia hanya menatap Yuan, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara, menyampaikan pesan lewat transmisi batin yang langsung menusuk ke otak Yuan.

“Ibu Kota adalah makam orang tuamu, Yuan. Datanglah... dan temukan alasan kenapa ayahmu lebih memilih mati daripada melihat wajahmu.”

Yuan tersentak, tangannya yang memegang busur bergetar hebat. Kapal itu terus naik, menembus lapisan awan, meninggalkan Kota Tanpa Wajah yang kini terlihat seperti bara api kecil di tengah kegelapan dunia.

"Yuan! Kau tidak apa-apa?" Yue Yin mendekat, tangannya yang masih luka mencoba menyentuh bahu Yuan.

Yuan hanya diam, matanya menatap tajam ke arah cakrawala utara, tempat Ibu Kota Kekaisaran berdiri dengan segala kemegahan dan kegelapannya. Rasa lelah, sesak di dada, dan amarah Ao Kuang kini bercampur menjadi satu keinginan murni.

"Kita tidak lari," bisik Yuan, suaranya terdengar lebih dingin daripada angin di ketinggian. "Ming Luo, arahkan kapal ini ke Ibu Kota. Jika Permaisuri ingin aku datang, maka aku akan datang sebagai bencana bagi takhtanya."

Ming Luo menoleh, wajahnya yang penuh abu dan luka terlihat ragu. "Secara logika... itu adalah bunuh diri. Tapi..." Ia melihat tekad di mata Yuan, lalu mengangguk pelan. "Tapi secara harga diri... aku sudah bosan lari seperti tikus tanah."

Di atas awan, di bawah sinar rembulan yang pucat, Bahtera Angin itu membelah malam menuju jantung musuh. Sebuah perjalanan yang dimulai dari dendam, menuju sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan jiwa mereka lebih parah daripada kematian itu sendiri.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!