NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Hasil yang Membungkam

Amplop cokelat berlogo rumah sakit diletakkan di tengah meja. Jantung Kania berdebar penuh harap.

Hawa dingin di ruang rapat utama kediaman Halim seakan membeku. Bau kayu cendana yang mahal bercampur aroma kertas baru memenuhi udara.

Sabrina duduk di kursi kulitnya dengan postur tegak, meski rasa ngilu di jahitan perut bawahnya kembali berdenyut, seolah ada jarum panas yang menusuk dagingnya setiap kali ia bernapas dalam.

Ia merasakan rembesan hangat di balik korsetnya. Darah nifasnya belum berhenti, tapi ia menekan rasa sakit itu ke dasar kesadaran paling dalam.

Di sebelahnya, Sebastian tidur tenang di dalam keranjang bayi berlapis sutra. Bayi itu tidak tahu bahwa nasibnya sedang ditentukan oleh selembar kertas di dalam amplop cokelat tersebut.

Kania Tanjung duduk di seberang meja. Tangannya yang memegang tas Hermes merah meremas kulit tas itu hingga membekas. Matanya berkilat, ada senyum kemenangan yang coba ia sembunyikan di balik polesan lipstik marunnya. Ia yakin seratus persen. Ia sudah memastikan Dokter Tirta membuang darah Sebastian ke tempat sampah biohazard semalam.

"Semua sudah hadir," ucap Pramono Halim. Pria tua itu mengetukkan jemarinya di atas meja pualam. "Adrian, istrimu, dan tentu saja saksi dari keluarga Tanjung."

Adrian Halim hanya menyilangkan kaki. Pria itu tampak tidak peduli, meski sorot matanya yang dingin terus mengunci pergerakan setiap orang di ruangan. Ia mengambil cangkir teh porselen, menyesapnya perlahan tanpa suara.

"Buka saja, Paman," sela Kania. Suaranya sedikit melengking, tanda kegembiraan yang meluap. "Kasihan Sabrina, pasti dia sudah nggak sabar pengen tahu hasilnya. Iya kan, Sab?"

Sabrina tidak menyahut. Ia justru meraih cangkir teh Earl Grey yang masih mengepul di depannya. Aroma bergamot yang menenangkan sedikit meredam mual di perutnya akibat bau darah dan obat-obatan. Ia menyeruput teh itu pelan, matanya menatap Kania datar, sedingin es di puncak gunung.

"Kenapa diam saja? Tangan lo gemetaran ya?" ejek Kania lagi. Ia tertawa kecil, melirik ke arah Tante Rosalinda yang duduk di ujung meja dengan wajah kaku.

"Tehnya enak," sahut Sabrina pendek. Suaranya tenang, tanpa riak cemas sedikit pun.

Pramono meraih pisau pembuka surat dari perak. Suara kertas yang disobek terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekik. Kania condong ke depan, matanya membelalak, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia sudah membayangkan adegan Sabrina diseret keluar dari mansion ini sambil menangis histeris.

Pramono mengeluarkan lembaran kertas putih dengan kop resmi laboratorium pusat Halim Group. Ia membacanya dalam diam. Dahinya berkerut. Matanya bergerak cepat dari atas ke bawah.

"Paman? Baca dong yang keras," desak Kania. "Biar semua orang tahu kebenarannya. Biar jelas siapa yang sebenarnya penipu di sini."

Pramono berdehem. Suaranya terdengar berat saat ia membacakan baris demi baris data genomik tersebut.

"Berdasarkan analisis perbandingan lokus DNA antara sampel berlabel A-01 dan sampel berlabel B-02," Pramono berhenti sejenak, melirik Adrian, lalu ke arah Sabrina. "Ditemukan kecocokan alel pada seluruh marka genetik yang diuji."

Senyum Kania membeku. Tangannya yang meremas tas perlahan melemas. "Apa? Paman pasti salah baca. Coba lihat lagi."

"Indeks paternitas adalah sembilan puluh sembilan koma sembilan persen," lanjut Pramono, suaranya kini lebih keras. "Probabilitas hubungan ayah biologis adalah mutlak. Sebastian Halim adalah anak kandung dari Adrianus Halim."

Hening.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Kania. Ia merasakan telinganya berdenging hebat. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya, merusak riasan bedaknya yang tebal.

"Nggak mungkin!" Kania berdiri mendadak hingga kursinya terjungkal ke belakang. Bunyi benturan kursi dengan lantai kayu menggema keras. "Itu palsu! Hasilnya pasti sudah dimanipulasi! Paman, cek lagi dokumennya! Dokter Tirta semalam bilang kalau..."

Kania mendadak bungkam. Matanya melebar saat ia menyadari ia baru saja hampir membongkar kejahatannya sendiri.

Sabrina meletakkan cangkir tehnya ke atas nampan porselen dengan bunyi klik yang presisi. Ia menoleh perlahan ke arah Kania.

"Dokter Tirta bilang apa, Kania?" tanya Sabrina. Suaranya lembut, namun mengandung ancaman yang bisa menguliti nyawa.

"Gue... maksud gue... Dokter Tirta kan yang pegang sampelnya semalam. Pasti dia salah hitung! Atau alatnya rusak!" Kania terbata-bata. Wajahnya yang semula merah kini pucat pasi, persis seperti mayat yang baru keluar dari lemari pendingin jenazah.

"Alat laboratorium Halim Group adalah yang terbaik di Asia, Kania," sahut Adrian. Pria itu meletakkan cangkirnya, lalu menatap Kania dengan tatapan yang bisa membuat nyali pria dewasa sekalipun ciut. "Kau meragukan kredibilitas rumah sakit keluargaku?"

"Bukan gitu, Adrian! Gue cuma... gue merasa ada yang aneh. Sabrina kan menghilang lama di gunung. Gimana bisa pas balik langsung melahirkan anak yang mirip lo?" Kania mencoba mencari pembelaan terakhir. Ia menoleh ke arah Tante Rosalinda. "Tante, tolong ngomong sesuatu! Tante juga curiga kan?"

Tante Rosalinda hanya diam. Wanita tua itu membuang muka, tidak mau ikut terseret dalam kehancuran Kania yang sudah tampak jelas di depan mata.

"Lo benar-benar licik, Sab!" Kania menudingkan telunjuknya ke arah Sabrina. "Lo pasti sudah nyuap Dokter Tirta ya? Lo pakai uang dari mana buat nyuap dia?!"

Sabrina berdiri perlahan. Ia harus menahan napas sejenak karena rasa perih di perutnya mendadak tajam akibat gerakan tersebut. Ia melangkah mendekati Kania, tanpa alas kaki, langkahnya senyap namun penuh wibawa predator.

"Uang?" Sabrina tertawa pendek. Tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. "Gue nggak butuh uang buat bikin orang bicara jujur, Kania. Gue cuma butuh kejujuran yang didorong oleh rasa takut akan kematian. Dan sepertinya, Dokter Tirta lebih takut sama gue daripada sama lo."

Sabrina mencondongkan wajahnya ke telinga Kania. Bau parfum Baccarat Kania yang menyengat bercampur bau keringat panik membuat Sabrina ingin muntah, tapi ia tetap bertahan.

"Lo tahu nggak, Kania? Rencana lo itu berantakan banget," bisik Sabrina, suaranya hanya bisa didengar oleh Kania. "Nukar sampel darah pakai darah bayi lain? Klasik banget sih. Sayangnya, gue nggak sebodoh yang lo pikir."

Kania gemetar hebat. Giginya bergeletuk. "Lo... lo apain Dokter Tirta?"

"Gue cuma kasih dia pilihan. Hidup sebagai dokter jujur, atau mati sebagai penipu yang nadinya putus di ruang steril," sahut Sabrina santai. Ia menarik kembali tubuhnya, menatap Kania dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.

Sabrina menoleh ke arah dewan direksi. "Jadi, apa tes ini sudah cukup membungkam semua keraguan kalian? Atau kalian mau saya ambil darah lagi dari jantung saya sekalian biar puas?"

Pramono berdehem canggung. Ia merapikan dokumen di depannya. "Sudah cukup. Hasilnya sudah final. Sebastian Halim adalah ahli waris sah. Masalah ini ditutup."

"Belum selesai," potong Adrian tiba-tiba.

Pria itu berdiri dari kursinya. Ia berjalan mengitari meja, mendekati Kania yang masih mematung di tempatnya. Adrian berhenti tepat di depan Kania, bayangan tubuhnya yang tinggi besar menelan sosok Kania yang mulai layu.

"Kania Tanjung," ucap Adrian. Suaranya rendah, namun vibrasinya menggetarkan kaca-kaca jendela ruang rapat. "Kau sudah mempertaruhkan namamu dan nama keluargamu untuk menghina istri dan anakku di depan umum semalam."

"Adrian, gue cuma mau mastiin..."

"Diam," perintah Adrian. "Kau kalah. Dan di keluarga Halim, kekalahan punya harga yang harus dibayar."

Adrian melirik ke arah sekretarisnya yang berdiri di sudut ruangan. "Batalkan semua suntikan dana untuk proyek pembangunan mal milik keluarga Tanjung di Jakarta Selatan. Tarik kembali semua fasilitas kendaraan dan kartu kredit yang atas nama Kania Tanjung hari ini juga."

"Nggak! Adrian, lo nggak bisa lakuin itu!" Kania menjerit histeris. Ia mencoba meraih lengan jas Adrian, namun pria itu menghindar dengan gestur jijik yang nyata.

"Istriku benar. Sudah saatnya hama disingkirkan sebelum merusak tanaman."

Kania jatuh terduduk di lantai. Tangisnya pecah, bukan tangis penyesalan, melainkan tangis keputusasaan karena kehilangan semua kemewahannya. Ia menatap Sabrina dengan tatapan penuh kebencian, namun Sabrina hanya menatapnya balik dengan sorot mata yang kosong.

Sabrina berjalan kembali ke arah keranjang bayi. Ia menggendong Sebastian dengan sangat hati-hati. Bau bayi yang wangi susu menenangkan gejolak di dadanya. Ia mencium kening Sebastian yang hangat.

"Ayo sayang, kita pergi," bisik Sabrina. "Ruangan ini baunya sudah basi karena terlalu banyak drama orang kalah."

Sabrina melangkah keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi. Ia mengabaikan teriakan histeris Kania yang mulai diseret keluar oleh tim keamanan mansion. Di lorong yang panjang dan sepi, Sabrina menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding pualam yang dingin.

Napasnya memburu. Rasa sakit di perutnya benar-benar tak tertahankan sekarang. Ia meraba korsetnya, dan benar saja, ada noda merah yang mulai menembus kain sutra putih gaun rumahnya. Ia harus segera kembali ke kamar sebelum Adrian melihatnya tumbang.

Namun, langkah kaki di belakangnya membuatnya kembali waspada. Sabrina memutar kepalanya. Adrian berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Kau tahu sejak awal, kan?" tanya Sabrina.

"Aku tahu Tirta itu penakut," sahut Adrian pelan. Tangannya mendarat di pinggang Sabrina, menjaga agar wanita itu tetap stabil saat berjalan. "Dan aku tahu istriku jauh lebih menakutkan dari apapun."

Sabrina melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya secara halus. "Jangan pernah sentuh aku tanpa izin, Adrian. Aku bukan trofi kemenanganmu hari ini."

"Kau adalah ibu dari anakku. Itu alasan yang cukup bagiku untuk menyentuh apa yang menjadi milikku."

"Aku milikku sendiri."

"Aku tahu," balas Adrian. Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan tak terduga, ia mengambil Sebastian dari gendongan Sabrina. "Masuk ke kamar. Biar perawat yang urus lukamu. Kau pucat sekali."

Sabrina ingin protes, tapi tubuhnya benar-benar sudah mencapai batas. Ia membiarkan Adrian mengambil Sebastian. Ia menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh membawa anaknya.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!