Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hanya Sapi Perah
POV Aluna
Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Aku berdiri di depan cermin… menatap wajahku sendiri yang masih sembab.
Semalam… aku melihat semuanya.
Dan hari ini… aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Tanganku mengepal pelan.
Aku harus kuat.
Setidaknya… untuk diriku sendiri.
Langkah kakiku membawaku ke ruang tengah.
Tapi begitu aku sampai…
Aku langsung berhenti.
Wanita itu.
Dia sudah ada di sana.
Duduk anggun di sofa, dengan pakaian mahal dan aura yang begitu percaya diri.
Selena.
Ia menoleh saat melihatku.
Dan perlahan… tersenyum.
Senyum yang tidak terasa hangat sama sekali.
“selamat pagi Aluna,apa tidurnya malam tadi nyenyak?” tanyanya dengan tatapan penuh hinaan
Aku menelan ludah.tak menjawab
Selena berdiri.
Langkahnya pelan… tapi penuh tekanan.
Ia mendekatiku.
Sangat dekat… sampai aku bisa mencium aroma parfumnya yang lembut tapi tajam.
“Aku sudah dengar semuanya,” lanjutnya santai.
“Dan… aku ikut prihatin.”
Aku terdiam.
Nada suaranya… bukan simpati.
Lebih seperti… merendahkan.
“Prihatin…?” ulangku pelan.
Selena tersenyum tipis.
“Karena kamu dibawa ke sini…” ia menatapku dari atas sampai bawah.
“…hanya untuk jadi sapi perah.”
Deg.
Dunia seakan berhenti.
Jantungku terasa jatuh.
“Apa…?” bisikku.
Tapi Selena tidak berhenti.
“Kalau saja aku bisa melahirkan…” lanjutnya, suaranya berubah lebih tajam.
“…bahkan seujung kuku pun aku tidak akan mengizinkan wanita lain,,,”
Ia berhenti sebentar.
Menatapku dengan tatapan meremehkan.
“Apalagi wanita kampungan sepertimu…”
Tanganku langsung gemetar.
“…melahirkan pewaris keluarga Devandra,itu sangat memalukan”
Setiap katanya… seperti menamparku berkali-kali.
Aku ingin membantah.
Ingin bicara.
Tapi… tidak ada suara yang keluar.
Aku hanya bisa berdiri… membeku.
“Tapi kamu harus tahu posisi kamu.”
Selena mendekat lagi.
Lebih dekat.
“Jangan pernah bermimpi lebih,atau menjadi pusat perhatian” bisiknya pelan.
“Karena kamu tidak akan pernah bisa menggantikan aku dirumah ini atau bahkan di dalam hatinya zayn.”
Air mataku mulai menggenang.
Tapi aku menahannya.
Aku tidak mau terlihat lemah di depannya.
“Selena benar.”
Suara lain tiba-tiba terdengar.
Aku menoleh.
Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat.
Elegan. Berkelas. Tatapannya tajam.
Alice Devandra.
Ibuku… mertua.
Aku langsung menunduk hormat.
“nyonya”
Tapi ia bahkan tidak menatapku dengan lembut.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada penerimaan.
“Suamiku benar-benar konyol,” katanya dingin.
“Menikahkan putra kesayanganku dengan wanita seperti kamu.”
Dadaku langsung sesak.
Wanita seperti aku…?
“Lihat dirimu,” lanjutnya tanpa ragu.
“Apa yang kamu punya selain wajah polos dan latar belakang yang memalukan?”
Aku menggigit bibirku kuat-kuat.
Menahan semuanya.
“Kalau bukan karena tujuan itu…” ia melirik Selena sekilas.
“…kamu bahkan tidak akan pernah berdiri di rumah ini.”
Setiap kata… menusuk.
Lebih dalam.
Lebih kejam.
Aku menunduk.
Tidak berani menatap mereka.
Karena aku tahu…
Kalau aku melihat mata mereka sekarang
aku akan benar-benar hancur.
“Jadi tahu diri saja,” kata Selena santai.
“Jalankan tugasmu… lalu pergi.”
Pergi…?
Aku mengangkat wajahku sedikit.
“Pergi…?” ulangku lirih.
Selena tersenyum.
“Ya.tepatnya Setelah kamu selesai digunakan.”
Digunakan.
Satu kata itu… cukup untuk menghancurkan segalanya.
Aku terdiam.
Benar-benar terdiam.
Bukan karena tidak ingin melawan.
Tapi karena…
aku tidak punya apa-apa untuk dilawan.
Dan di saat itu…
aku akhirnya mengerti.
Kenapa Ayah terlihat begitu berat melepas aku.
Kenapa ada sesuatu yang ingin ia katakan… tapi tidak sempat.
Karena sejak awal
aku sudah dikorbankan.
Aku menarik napas panjang.
Menahan air mata yang hampir jatuh.
Lalu menunduk dalam.
“Iya…” suaraku pelan.
Tapi cukup jelas.
“saya mengerti posisi saya.”
Selena tersenyum puas.
Alice pun tidak berkata apa-apa lagi.
Mereka berbalik… seolah aku tidak lagi penting untuk diperhatikan.
Aku tetap berdiri di sana.
Sendirian.
Di tengah rumah besar yang terasa begitu asing.
Begitu dingin.
Dan di dalam diam itu…
aku berjanji pada diriku sendiri.
Kalau suatu hari nanti
aku tidak akan tetap menjadi wanita lemah yang mereka hina hari ini.
siangnya … aku tidak ingin keluar kamar.
Bukan karena malas.
Tapi karena aku tahu…
setiap langkah di rumah ini hanya akan menambah luka.
Namun aku tidak punya pilihan.
Ini bukan rumahku.
Aku hanya… seseorang yang menumpang.
Aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Dan seperti dugaanku
Suasana di ruang makan sudah tegang.
Zayn duduk di kursinya, diam seperti biasa.
Selena di sampingnya… terlihat begitu nyaman, seolah itu memang tempatnya.
Ibu Zayn.
Alice Devandra.
Tatapannya langsung tertuju padaku begitu aku masuk.
Dingin.
Menilai.
Dan penuh ketidaksukaan.
“Ini dia,” ucapnya tanpa basa-basi.
Aku berhenti.
Menunduk sopan.
“selamat siang… nyonya…”
Tapi tidak ada jawaban hangat.
Yang ada justru hinaan
“enak sekali hidupmu,bisa bersantai,,
"lagi lagi Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suamiku.”
Suasana langsung sunyi.
Ia meletakkan sendoknya dengan keras.
“Menikahkan anakku dengan wanita seperti ini,sangat rendahan?”
Kata-katanya tajam.seperti tadi pagi
Tanpa ditahan sedikit pun.
Dadaku langsung terasa sesak.
“Wanita kampung… anak mantan sopir…” lanjutnya sinis.
“Benar-benar menjatuhkan martabat keluarga Devandra.”
Tanganku mengepal pelan di samping tubuhku.
Aku ingin pergi.
Tapi kakiku terasa berat.
“Cukup.”
Suara Tuan Misra terdengar tegas dari ujung meja.
Ia menatap istrinya dengan dingin.
“Ini keputusanku.”
Alice tertawa kecil. Sinis.
“Keputusan bodoh” balasnya tanpa ragu.
“Kamu mempertaruhkan masa depan anak kita hanya karena ambisimu sendiri.”
“Ini bukan ambisi,” jawab Misra tajam.
“Ini kebutuhan.”
Kebutuhan.
Kata itu lagi.
Selalu kata itu.
Seolah semua orang di ruangan ini tahu sesuatu… kecuali aku.
“Kalau soal itu,” Alice melirik Selena.
“Selena jauh lebih pantas.”
Selena tersenyum tipis.
Zayn tetap diam.
Seolah semua ini… bukan urusannya.
“Selena tidak bisa memberiku apa yang aku butuhkan.”
Suasana langsung membeku.
Kalimat Misra… terdengar jelas.
Tanpa rasa bersalah.
Wajah Selena langsung berubah.
Tangannya mengepal.
“Ayah…” suara Zayn akhirnya terdengar.
Tegas. Tidak terima.
Tapi Misra tidak peduli.
Ia menatap Zayn lurus.
“Sudah cukup kamu bermain-main.”
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih menekan.
“Kamu sudah menikah.”
Hening.
“Lakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang suami.”
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku tahu…
aku tahu maksudnya.
Dan itu membuatku ingin menghilang saat itu juga.
Zayn berdiri tiba-tiba.
Kursinya bergeser kasar.
“Aku tidak akan melakukannya.”
Suasana langsung tegang.
“Aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak aku cintai.”
Kalimat itu.
Kembali.
Dan kali ini… di depan semua orang.
Aku menunduk.
Menahan semuanya.
“Cinta?” ulang Misra dingin.
“Kamu pikir keluarga ini dibangun dengan cinta?”
Ia berdiri.
Langkahnya mendekati Zayn.
“Ini tentang masa depan. Tentang pewaris.”
Aku merinding.
“Dan kamu tidak punya banyak waktu.”
Zayn menatap ayahnya tanpa gentar.
“Tapi aku punya pilihan.”
Tuan Misra tersenyum tipis.
“Tidak.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat suasana mencekam.
“Kamu tidak punya pilihan, Zayn.”
Ia melirik ke arahku.
Tatapannya tajam.
Seolah mengingatkan
Aku hanyalah bagian dari rencana itu.
“saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Nada suara Misra berubah menjadi ancaman.
“Kalau kamu tidak melakukannya dengan sukarela…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata pelan
“…saya akan memastikan kamu tidak punya pilihan lain.lagi”
Aku membeku.
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Ada sesuatu yang salah.
Sesuatu yang lebih besar dari yang aku kira.
Zayn tidak menjawab.
Ia hanya menatap ayahnya… dengan tatapan yang sulit diartikan.
Marah.
Tertahan.
Dan… terluka?
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan pergi.
Meninggalkan semua orang di meja itu.
Meninggalkanku…
dengan tekanan yang semakin nyata.
Aku berdiri di sana.
Diam.
Tak berdaya.
Di antara orang-orang yang bahkan tidak pernah menganggapku ada.
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar takut.
Bukan hanya karena mereka
tapi karena aku tidak tahu…
sejauh apa aku akan dipaksa dalam pernikahan ini.