Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arini dan Kenangan Masa Kecil
Kemenangan besar atas yayasan palsu dan Intel Ghaib menyisakan keheningan yang asing di SMA Wijaya Kusuma. Bagi Satria, keheningan itu berarti tidak ada lagi jeritan ghaib di tengah ujian. Namun bagi Arini, keheningan itu adalah sebuah ruang hampa yang tiba-tiba terisi oleh kepingan memori yang selama ini terkunci rapat di balik alam bawah sadarnya.
Semuanya bermula pada Senin pagi, ketika Arini membersihkan sisa-sisa debu di ruang OSIS. Di sudut lemari arsip yang paling dalam, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga melati yang sangat mirip dengan liontin perak milik Maria Van De Berg. Di dalamnya, tersimpan sebuah foto usang—seorang gadis kecil yang tertawa di bawah pohon kamboja besar sekolah ini, digandeng oleh seorang pria berjas putih.
"Sat, lihat ini," bisik Arini saat Satria baru saja masuk dengan tas punggung yang hanya berisi satu buku tulis dan sebungkus kerupuk kulit untuk Ucok.
Satria mendekat, matanya menyipit melihat foto itu. "Ini... ini lo, Rin? Tapi pohon kambojanya masih pendek banget."
Arini menggeleng pelan. "Bukan. Ini kemungkinan besar tanteku, atau mungkin nenekku. Tapi ada yang aneh, Sat. Pas gue pegang foto ini, gue ngerasa bau parfum bedak bayi dan suara nyanyian pengantar tidur yang selalu gue denger tiap kali gue sakit waktu kecil."
Satria merasakan getaran energi yang sangat halus dari foto itu. Ini bukan energi jahat, melainkan residual memory—energi sisa yang tertinggal karena sebuah peristiwa emosional yang kuat.
"Rin, mau coba cari tahu? Gue bisa minta tolong Profesor Hans buat buka 'pintu' memorinya. Katanya di Lab Biologi ada sisa-sisa alat eksperimen resonansi psikis yang bisa bantu lo inget masa kecil lo di sini," tawar Satria.
Arini sempat ragu, namun rasa penasaran akan identitas aslinya sebagai pewaris Van De Berg mengalahkan rasa takutnya. Mereka pun menuju Lab Biologi yang kini sudah bersih dari gas beracun, meskipun si Kerangka Lemari Empat masih suka bersenandung sumbang.
“Ah, Noni Arini ingin melihat masa lalu?” Profesor Hans muncul dari balik mikroskop tua. “Sains tidak hanya tentang atom, tapi juga tentang sinyal otak yang tersimpan di lingkungan. Berdirilah di ubin ketiga itu, tempat brankas tadi ditemukan. Itu adalah titik pusat energi sekolah ini.”
Begitu Arini berdiri di sana dan memejamkan mata, Satria memegang bahunya untuk memberikan jangkar realitas. Seketika, suasana Lab Biologi menghilang. Arini tidak lagi mencium bau formalin, melainkan bau hujan yang membasahi tanah dan bunga kamboja.
Ia melihat dirinya sendiri, atau mungkin proyeksi dirinya, saat masih berusia lima tahun. Ia sedang berlari di koridor sekolah yang saat itu masih terlihat baru dan megah.
"Maria... jangan lari-lari, nanti jatuh," suara seorang pria terdengar lembut.
Seorang pria tinggi dengan wajah yang sangat mirip dengan Meneer Van De Berg—namun dalam wujud manusia yang hangat—muncul dari balik pintu kelas. Arini menyadari bahwa itu adalah kakek buyutnya.
Dalam visi itu, Arini kecil duduk di pangkuan kakeknya di bawah pohon kamboja besar. Kakeknya membisikkan sebuah rahasia. "Ingat ya, Maria kecil. Sekolah ini adalah taman bunga untuk semua orang. Bukan cuma untuk kita, tapi untuk mereka yang tidak terlihat. Jika suatu saat kau merasa tersesat, carilah 'Melati yang Tak Pernah Layu'."
Visi itu terputus dengan sentakan keras. Arini terengah-engah, air mata mengalir di pipinya. Satria dengan sigap menangkapnya sebelum ia terjatuh.
"Rin! Lo nggak apa-apa?" Satria panik.
"Gue... gue inget sekarang, Sat. Gue pernah tinggal di sini. Sebelum kakek buyut gue meninggal dan keluarga gue pindah ke luar kota, sekolah ini adalah rumah gue," Arini berkata dengan suara parau. "Dan ada satu tempat yang belum kita cek. 'Melati yang Tak Pernah Layu'. Itu bukan bunga, Sat. Itu adalah kode untuk ruang baca rahasia di perpustakaan!"
Mereka segera berlari menuju perpustakaan. Ucok yang sedang asyik bermain dengan debu ghaib langsung melompat ke pundak Satria. “Ikut! Ikut! Ada bau-bau sejarah yang enak buat dicopet!”
Di perpustakaan, Arini menuju rak buku sastra lama. Ia mencari buku dengan simbol bunga melati di punggungnya. Setelah menggeser beberapa jilid ensiklopedia, sebuah mekanisme kuno berbunyi. Rak buku itu bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan kecil yang hanya berisi satu meja, satu kursi, dan sebuah kotak musik tua.
Arini membuka kotak musik itu. Melodi klasik yang lembut mulai mengalun, memenuhi ruangan sempit tersebut. Di dalam kotak musik, terdapat sebuah surat kecil yang ditulis oleh kakek buyut Arini sebelum beliau wafat.
"Untuk cucuku yang akan kembali. Jika kau membaca ini, berarti kau telah menemukan jati dirimu di tengah kebisingan dunia. Sekolah ini adalah warisan cinta, bukan harta. Jaga mereka yang tidak terlihat, karena mereka adalah saksi bisu kejujuran sejarah."
Tiba-tiba, sosok Meneer Van De Berg muncul kembali di ruangan itu. Namun kali ini, ia tidak lagi memakai pedang atau wajah kaku. Ia tampak seperti kakek yang penyayang.
“Kau sudah pulang, Maria kecil,” bisik sang Meneer. “Dulu, di ruangan ini, aku sering membacakanmu cerita tentang pahlawan. Aku tidak pernah pergi, aku hanya menunggu saat yang tepat bagimu untuk memegang kunci rumah ini kembali.”
Arini memeluk sosok transparan itu. Meskipun tidak ada sentuhan fisik yang nyata, suhu dingin yang keluar dari sang Meneer terasa seperti pelukan yang paling hangat bagi jiwa Arini. Kenangan masa kecilnya kini utuh. Ia bukan sekadar Ketua OSIS yang kebetulan indigo; ia adalah penjaga yang telah kembali pulang.
Satria berdiri di ambang pintu, menyaksikan pemandangan itu dengan senyum tipis. Ia sadar, perannya selama ini bukan hanya untuk menjadi pengusir setan, tapi untuk menjadi jembatan bagi Arini untuk menemukan kembali bagian dari dirinya yang hilang.
"Sat," Arini menoleh, matanya masih sembab tapi bersinar bahagia. "Makasih ya. Kalau bukan karena lo yang maksa gue buat percaya sama hal-hal nggak masuk akal ini, gue mungkin bakal hidup dalam kepalsuan selamanya."
"Gue kan cuma 'Indigo Semprul' yang kebetulan ada di waktu yang tepat, Rin," jawab Satria sambil nyengir. "Tapi sekarang lo tahu kan? Sekolah ini punya lo. Dan lo punya kita semua."
“Iya! Dan jangan lupa bayar sewa ghaib saya pakai permen ya, Noni Bos!” teruk Ucok yang langsung dihadiahi jitakan ghaib oleh Suster Lastri yang tiba-tiba muncul membawa nampan obat.
Sore itu, mereka duduk di bangku taman depan sekolah. Arini sudah merasa jauh lebih tenang. Kenangan tentang kakeknya, bau bunga kamboja, dan rasa memiliki terhadap SMA Wijaya Kusuma kini menjadi kekuatannya.
"Jadi, rencana lo selanjutnya apa, Noni Maria?" goda Satria.
Arini menyandarkan kepalanya di bahu Satria. "Rencana gue? Gue mau bikin sekolah ini jadi tempat yang paling nyaman buat semua orang. Yang hidup, maupun yang... ya, lo tahu lah. Dan gue mau pastikan nggak ada lagi rahasia gelap yang bikin orang menderita."
"Termasuk rahasia kenapa nilai matematika gue tetep jelek meskipun dibantuin Meneer?"
Arini tertawa lepas. "Itu mah emang otak lo yang perlu di-reset ghaib, Sat!"
Di bawah langit yang berubah menjadi warna jingga, SMA Wijaya Kusuma berdiri dengan megah. Tidak ada lagi Intel Ghaib, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada sepasang remaja yang telah melewati batas antara dua dunia, dan sekelompok arwah yang kini merasa memiliki keluarga kembali.
Bab kali ini ditutup dengan Arini yang akhirnya bisa tersenyum pada masa kecilnya. Kenangan itu bukan lagi beban, melainkan cahaya yang akan menuntunnya memimpin sekolah ini menuju masa depan yang lebih baik. Dan di sampingnya, Satria tetap menjadi sang Indigo yang siap menghadapi misteri apa pun yang akan datang—selama Arini ada di sana untuk menggandeng tangannya.