Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Dipaksa
"Sebaliknya, jika aku kalah, maka aku, juga anak buah ku, akan bersedia tunduk padamu. Itupun jika kau mampu?"
"Baik! Kalau memang itu yang kau inginkan. Jadi bersiaplah!"
"Ketua....!?"
"Tenang saja. Gadis itu bukan siapa siapa. Tinjuannya tidak lebih dari tinjuan anak kecil, yang ingin menghancurkan batu karang."
"Aku Kumbara, petarung level 5, mempunyai kekuatan di atas 500 kilogram, tidak akan mungkin kalah dengan bocah kecil seperti itu."
"Jadi tunggu apalagi, kau serang aku, dan aku tidak akan melawan."
"Baik. Kau sendiri yang menyanggupinya. Bersiaplah! Aku akan tunjukkan apa itu kekuatan yang sebenarnya." reaksi Nindya.
Lalu menghilang, dan dalam sekejap saja, tubuh Nindya sudah berada di depan calon bawahannya, dan langsung menyentuhkan jarinya ke dada lawan. Dan tanpa terduga. Tubuh Kumbara terpental ke belakang. Lalu menabrak dinding yang ada di belakangnya sampai retak.
Brak...!
Kemudian melorot ke bawah, sambil menahan nafasnya yang sesak.
Semua orang tidak percaya, petarung level 5 dibuat tidak berdaya seperti itu. Hanya dengan menyentuhkan jari telunjuk saja ke dada lawan. tubuh Kumbara sudah terpental.
Pemandangan seperti itu tentu saja membuat anak buahnya menganga. "Tidak mungkin" batin mereka. Tapi bagaimanapun, kenyataan sudah ada di depan mata. Ternyata, Nindya memang terlalu kuat buat Kumbara.
Sedang mereka melongo seperti itu, tiba tiba saja Nindya menghilang lagi, dan muncul di depan yang lainnya.
Lalu tanpa usaha yang berarti, tubuh tubuh mereka beterbangan ke segala arah. menabrak apa saja yang ada di belakangnya.
Sekarang hanya Nindya yang masih berdiri, sambil menatap orang orang yang baru dilumpuhkannya itu.
"Bagaimana bisa. Siapa kau sebenarnya?" reaksi Kumbara, sesaat setelah menstabilkan tubuhnya yang jatuh tadi.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku secara mendalam. Aku Nindya, orang yang akan memimpin kalian menuju kejayaan!"
"Bersedia atau tidak, aku tidak peduli, sebab aku akan memaksa kalian untuk tunduk, karena tujuanku sudah jelas, ingin memberantas kejahatan, dan dimulai dari kekuatan kecil seperti kalian!"
"Jika kalian melawan, maka aku tidak akan sungkan untuk menghancurkan kalian!" jawab Nindya.
Kemudian memerintahkan kepada Quantum Xuan, untuk menyegel hati dan pikiran mereka.
Maka dalam sekejap saja, 30 orang yang ada di ruangan itu seluruhnya takluk, dan sekarang sudah menjadi bawahan Nindya.
Jika ditambah dengan 58 orang yang ada di luar, maka jumlah mereka seluruhnya adalah 88 orang. Jumlah yang cukup kecil untuk sebuah organisasi, yang sudah berani mendeklarasikan diri memiliki tingkatan di level dua.
Nindya sempat berpikir. "Kenapa mereka senekat Itu. Padahal kekuatan mereka tidak ada apa apanya. Dan kenapa mereka berani memproklamirkan diri, menyatakan bahwa kelompok mereka adalah kelompok terkuat nomor dua di ibukota?"
"Atau memang cuma segitu standar kekuatan yang ada di zaman ini. Apakah tidak ada yang yang lainnya lagi?" batinnya.
Lalu pergi, setelah memberikan instruksi pada bawahan barunya, agar segera mengosongkan markas, untuk menuju markas baru, dimana gedung Pemburu Darah berada. guna bergabung dengan yang lainnya.
Satu hari berikutnya. Nindya dan Kirana sudah meninggalkan hotel bintang 5, yang selama 10 hari ditinggalinya. dan langsung menuju mansion, yang dikhususkan untuk tempat tinggalnya.
Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, di mana sekolahnya tutup, karena sekolah elit SMA Tunas Bangsa, menerapkan sistem full day, atau 5 hari belajar penuh, dan dua hari berikutnya libur.
Jadi dia mempunyai waktu luang, untuk mengatur segala sesuatunya, berkenaan dengan organisasi juga rumah barunya.
Begitu dia sampai, terlihat ratusan pasukannya berjaga, menggantikan satpam yang biasa bertugas di tempat itu, karena secara otomatis, lokasi mansion yang telah dikuasai tersebut, seluruhnya sudah dibeli oleh Quantum Xuan, dan diperuntukkan untuk Nindya juga bawahannya.
Sementara itu di tempat lain, sehari sebelumnya. Rimba yang sudah dipermalukan oleh Nindya terus saja uring uringan. Dia yang seorang petarung kuat Dan 5 bisa kalah hanya dari seorang perempuan muda saja.
Biasanya dia yang paling mendominasi. Banyak orang yang takut padanya, termasuk atasannya sendiri, walaupun hanya dalam diam.
Tapi di tangan Nindya dia tidak bisa apa apa. Bahkan sebagian besar tabungannya ludes, karena pemilik toko menuntut ganti rugi dibawah tekanan Nindya.
Sejak saat itu dia terus memendam dendam, dan terus mencari keberadaan Nindya untuk membuat perhitungan. Namun tanpa dia sadari, ternyata kelompoknya juga sudah menjadi target untuk dimusnahkan.
Di bagian Chen Da lain lagi. Waktu satu jam yang diberikan oleh tuannya tidak bisa Ia penuhi, karena sulitnya mencari keberadaan targetnya.
Jadi yang bisa Ia lakukan adalah terus mencari, dengan melibatkan ratusan pengawal lainnya untuk menemukan lokasi Nindya. Namun yang dicari tidak kunjung ditemukan juga. Padahal mereka sudah dibekali poto Nindya dan Kirana.
Kelompok dua lain lagi. Mereka juga mencari keberadaan Nindya. Tapi sampai satu hari tidak bisa ditemukan juga.
Itu terjadi karena setelah menaklukkan kelompok satu, Nindya dan bawahannya langsung pulang, dan terus berada di kamar hotel seharian.
Saat di kamar hotel itulah Nindya juga Kirana membuat perhitungan.
"Ji Quan. tolong tampilkan lokasi enam orang gadis yang terlibat dalam pengeroyokan tubuh gadis ini waktu itu kembali, karena hari ini aku ingin menuntaskan dendamnya pada mereka!" ujarnya.
"Selain itu, tampilkan juga lokasi serta wajah 16 orang Preman yang masih tersisa, karena mulai hari ini mereka sudah tidak layak. lagi untuk hidup di dunia!" sambung Nindya.
[Dimengerti tuan]
[Bara, lokasi di Sergang Damai, bersama dengan 115 anggota lainnya. Tapi tidak termasuk Rimba waktu itu]
[Niken dan Bella. Lokasi di Amerika, perumahan Bougenville Utara. Tinggal bersama sebagai pasangan lesbian, dan saat ini sedang melakukan aksinya]
[Maya. Lokasi Taman Permai. Tinggal bersama orang tuanya, Seorang pengusaha sukses. Membawahi 6 perusahaan kecil lainnya. Bergerak di bidang properti juga alat alat rumah tangga]
[Sari. Lokasi Mansion Utara. Tinggal bersama dengan kedua orang tuanya juga. Seorang diplomat yang sudah beralih menjadi seorang pengusaha, dan sekarang sudah bersekolah di SMA Bakti Persada]
[Nur dan Sinta, tinggal di lokasi yang sama. Perumahan mewah Kotavia Pusat. Sekarang mereka sudah belajar di sekolah yang sama, SMA Harapan Bangsa]
[Keduanya saat ini sedang berada di hotel Muria, dan sedang melayani dua orang pelanggannya]
[Dimohon pada tuan, untuk menghapus keberadaan mereka dari muka bumi, karena telah mengotori udara dengan barang barang haram mereka]
[Untuk sementara waktu, hanya Itu yang bisa Quan tampilkan untuk tuan. Selebihnya Quan akan merangkum peristiwa besar setelah ini]
"Bagus! Pucuk dicita ulam pun tiba!"
"Tapi tunggu dulu. Bukankah itu pemuda yang telah menabrak ku waktu itu? Ternyata mereka termasuk ke dalam kelompok preman yang telah menghabisi tubuh gadis ini. Kebetulan sekali. Sekali dayung tiga buah pulau terlampaui."
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku Quan, kalau mereka itu kelompok preman tersebut?"