NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 : First Kiss

"Buka matamu, Alin," bisik Rei lagi. Nadanya bukan sebuah permintaan, melainkan perintah halus yang tak bisa dibantah.

Dengan sisa keberanian yang ada, Alin membuka matanya perlahan. Ia langsung disambut oleh tatapan Rei yang gelap—seperti samudera di tengah badai. Tidak ada sisa kemarahan di sana, yang ada hanyalah ambisi yang membara.

"Lihat aku," tuntut Rei, suaranya kini serak. "Jangan bersembunyi di balik rasa takutmu. Aku tahu kau pun merasakannya. Detak jantungmu tidak bisa berbohong."

Alin ingin menyangkal, namun lidahnya benar-benar lumpuh. Cengkeramannya pada kemeja Rei semakin erat hingga jemarinya memutih. Saat Rei memajukan wajahnya, mengikis sisa jarak yang tersisa, Alin hanya bisa menahan napas.

Sentuhan bibir Rei di sudut bibirnya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Sang Pangeran tidak langsung menciumnya dengan kasar; ia justru memulai dengan kecupan-kecupan kecil yang provokatif, seolah sedang menguji seberapa jauh Alin akan bertahan sebelum akhirnya menyerah sepenuhnya.

"Katakan," gumam Rei tepat di depan bibir Alin, "apakah kau ingin aku berhenti, atau kau ingin aku melanjutkan kekacauan ini?"

Alin terkesiap, pertanyaan Rei barangkali adalah ujian tersulit yang pernah ia hadapi. Di satu sisi, ia adalah seorang Pangeran yang memiliki segala kuasa, namun di sisi lain, cara Rei menunggunya menjawab menunjukkan bahwa pria itu masih menjunjung tinggi harga dirinya sendiri sebagai seorang bangsawan.

“Bagaimana kau akan membayar kompensasi atas kekacauan yang kau buat siang tadi? Kau harus tahu, ketenanganku adalah sesuatu yang sangat mahal harganya."

Rei menatap Alin dalam, bukan untuk menghukum, melainkan untuk menegaskan posisinya. Ia sedang mengajari Alin sebuah pelajaran penting: bahwa setiap kali Alin membuatnya kehilangan kendali akan selalu ada harga yang harus dibayar.

Alin terdiam. Lidahnya tak sanggup menyusun kalimat yang pantas untuk seorang Pangeran. Namun, alih-alih menjawab dengan kata-kata yang mungkin akan ia sesali, Alin perlahan melepaskan cengkraman tangannya yang gemetar pada kemeja Rei.

Dengan gerakan yang sangat halus—hampir seperti tarian yang ragu-ragu—Alin mengalungkan lengannya ke leher Rei. Ia tidak menarik pria itu, hanya sekadar menyentuh tengkuknya, memberikan izin yang tersirat melalui gestur tubuhnya. Alin mendongakkan wajahnya sedikit lebih tinggi, menutup mata, dan membiarkan helaan nafasnya yang berat menjadi jawaban bagi Rei.

Sebuah persetujuan tanpa suara yang jauh lebih berisiko daripada sekadar kata-kata.

Rei tidak langsung menyambar kesempatan itu dengan kasar. Ia justru terdiam sejenak, menikmati bagaimana wanita di pelukannya akhirnya menyerah pada gravitasinya. Ia mengusap rahang Alin dengan lembut, memastikan wanita itu benar-benar sadar akan pilihannya.

"Pilihan yang berbahaya, Alin," gumam Rei, suaranya kini sehalus beludru namun penuh kuasa.

Tanpa melepaskan martabatnya sebagai seorang bangsawan, Rei menunduk. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan sebuah serangan, melainkan sebuah klaim yang tenang dan berwibawa. Ciuman itu terasa dalam dan penuh kendali, seolah Rei sedang mengajari Alin bagaimana cara menyerahkan diri tanpa harus kehilangan harga diri.

Ciuman itu sedikit lebih lama. Membuat hasrat keduanya saling menggebu. Hingga Alin memalingkan wajahnya untuk mengambil nafas. Nafasnya terdengar berat dan terpompa dengan cepat.

“Aku rasa itu sudah cukup Yang mulia.” Ucap Alin yang mengatur derap nafasnya.

Mendengar ucapan wanita itu, pertahanan adab dan norma sang Pangeran runtuh. Ia merengkuh dagu Alin dan kembali melumat bibir wanita itu.

“Bukan kau yang memutuskan cukup tidaknya.” Ujar sang Pangeran.

Tanpa memberikan celah untuk membantah, ia kembali melumat bibir Alin dengan intensitas yang lebih dalam, seolah ingin menyesap habis seluruh napas yang baru saja wanita itu hirup. Alin terdesak mundur hingga punggungnya menghantam jendela kaca besar yang dingin. Kontras antara dinginnya kaca di punggung dan panasnya tubuh Rei di depannya membuat Alin kehilangan tumpuan.

Tangan besar sang Pangeran mengunci posisi Alin—satu merengkuh pinggangnya dengan posesif, dan yang lain menyangga kepala wanita itu, menenggelamkan jemarinya di sela rambut Alin. Tak sedetik pun ia biarkan Alin berpaling, menutup rapat segala ruang gerak hingga yang tersisa hanyalah penyatuan mereka yang kian menggebu.

Ia mencium Alin dengan tuntutan yang nyata—bukan ciuman lembut yang penuh keraguan seperti diawal, melainkan ciuman yang haus akan dominasi. Alin sempat menahan tubuh Rei yang menghimpitnya, sadar akan kekuatannya tidak cukup kuat. Ia memilih menerima perlakuan Rei padanya tangannya yang semula berada di dada Rei kini merambat naik, mencengkeram bahu kokoh pria itu. Rasa protes yang semula ia bangun dalam kepalanya runtuh seketika, digantikan oleh gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sentuhan Rei berpindah, jemarinya yang hangat kini menyusuri punggung Alin, menarik wanita itu lebih dekat hingga tidak ada lagi udara di antara mereka. Alin mengerang rendah di tengah ciuman mereka, sebuah suara yang justru memicu sisi liar dalam diri Rei. Pangeran yang biasanya selalu tenang dan terkontrol itu kini tampak kehilangan kendalinya.

Tanpa melepas ciuman itu, ia membimbing wanita itu untuk beralih ke meja sudut ruang, mengangkat tubuh Alin, mendudukkannya di atas meja kayu, membuat posisi mereka kini sejajar.

Suasana semakin memanas. Suara napas yang memburu dan gesekan kain menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu. Rei mulai menciumi rahang Alin, turun ke leher, memberikan tanda-tanda kepemilikan yang samar namun tegas. Alin merasa seolah ia sedang melayang, kehilangan pijakan pada realita. Di titik ini, ia tidak peduli lagi pada protokol, pada gelar Rei, atau pada fakta bahwa ia adalah seorang dokter yang seharusnya bersikap profesional. Saat ini, ia hanya seorang wanita yang menginginkan pria di hadapannya.

Tepat saat Rei kembali ingin mengunci bibir Alin dalam ciuman yang lebih dalam, tiba-tiba suara ketukan pintu yang keras dan mendesak menghantam keheningan ruangan itu.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras di pintu ganda itu terdengar seperti ledakan granat di tengah kesunyian.

Rei membeku. Rahangnya mengeras. Ia tidak melepaskan Alin, namun kepalanya menoleh ke arah pintu dengan tatapan yang bisa membunuh siapapun di baliknya.

"Yang Mulia." Suara Yuchen terdengar dari luar, datar dan tanpa emosi seperti biasanya. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."

Rei memejamkan mata, menarik napas panjang melalui hidungnya, mencoba menekan amarah yang meluap-luap. Alin, yang baru saja tersadar dari "hipnotis" gairah itu, langsung mendorong dada Rei dengan wajah merah padam. Ia segera merapikan gaunnya yang berantakan dengan tangan gemetar.

"Katakan," geram Rei, suaranya terdengar sangat berbahaya.

"Laporan intelijen dari perbatasan Orinthal baru saja masuk. Ada pergerakan yang mencurigakan di sektor utara. Ini mendesak, Yang Mulia," lanjut Yuchen tanpa ragu.

Rei masih bergeming, tangannya masih bertumpu di meja kayu di sisi tubuh Alin. Ia menatap Alin yang kini sedang sibuk memalingkan wajah, tidak berani menatapnya. Ada keheningan panjang sebelum Rei akhirnya menjawab.

"Tunggu di ruang kerja bawah. Aku turun lima menit lagi," sahut Rei dingin.

"Baik, Yang Mulia." Suara langkah kaki Yuchen terdengar menjauh.

Keheningan kembali melanda, namun kali ini terasa sangat canggung. Rei menatap Alin, melihat bagaimana bibir wanita itu sedikit bengkak dan matanya masih berkaca-kaca karena gairah yang belum tuntas. Rei mendekat lagi, mengecup kening Alin dengan lembut—sebuah kontras dari agresivitasnya beberapa saat lalu.

"Yuchen baru saja menyelamatkanmu, sayang," bisik Rei tepat di telinganya. "Tapi ingat ini... urusan kita belum selesai. Aku akan menagih sisanya, dan aku pastikan tidak akan ada gangguan saat itu terjadi."

Alin hanya bisa terdiam, mencengkram erat gaunnya untuk menutupi rasa gugupnya, sementara Rei berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah tegap, kembali mengenakan topeng Pangerannya yang dingin seolah-olah kejadian panas tadi tidak pernah terjadi. Namun Alin tahu, malam ini baru saja dimulai, dan Rei bukanlah pria yang suka meninggalkan urusan tanpa penyelesaian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!