Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Kalimat itu terus terngiang di kepala Amira. Dan untuk pertama kalinya Amira mulai memahami bahwa perceraian tidak pernah hanya memisahkan dua orang. Tetapi juga memisahkan banyak kasih sayang yang sudah terlanjur tumbuh di antaranya.
***
Pagi itu langit tampak mendung. Udara terasa dingin ketika Amira duduk di dalam mobil menuju pengadilan agama. Tangannya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Hari ini putusan cerainya akan dibacakan. Semua terasa begitu cepat.
Pengacara yang disiapkan Umi Salma memang sengaja mempercepat prosesnya karena kondisi Amira yang masih nifas dan mengalami tekanan batin berat. Namun meski sudah yakin dengan keputusannya tetap saja dada Amira terasa sesak. Karena hari ini benar-benar menjadi akhir. Akhir dari rumah tangga yang dulu ia perjuangkan mati-matian.
Pak Farhan duduk di samping Amira sambil membawa map dokumen.
Sementara Umi Salma ikut mendampingi dari belakang. “Kamu kuat?” tanya beliau lembut.
Amira mengangguk kecil meski matanya mulai panas.
“Akan terasa sakit,” lanjut Umi Salma pelan, “tapi luka yang dibersihkan memang harus perih dulu sebelum sembuh.”
Kalimat itu membuat Amira menarik napas panjang.
Sesampainya di pengadilan, suasana terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Orang-orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing. Dan di salah satu sudut lorong Amira melihat Mirza. Lelaki itu berdiri diam sambil menatapnya. Wajahnya jauh lebih hancur sekarang. Matanya sembab. Namun kali ini Amira tidak lagi merasakan gejolak sebesar sebelumnya. Yang tersisa hanya sedih. Sedih karena semuanya harus berakhir seperti ini.
Mirza seperti ingin mendekat. Tetapi Pak Farhan langsung berjalan di sisi Amira, membuat lelaki itu akhirnya mengurungkan niat.
Sidang berlangsung singkat. Amira duduk diam sambil menunduk. Tangannya dingin. Sementara suara hakim terdengar samar di telinganya. Tentang rumah tangga yang tidak lagi harmonis. Tentang perselisihan. Tentang pengkhianatan. Tentang keputusan pengadilan. Dan kemudian putusan itu dibacakan. Pernikahan mereka resmi berakhir.
Meski sudah siap air mata Amira tetap jatuh saat mendengarnya. Selesai. Benar-benar selesai. Ia kini bukan lagi istri Mirza. Bukan lagi bagian dari rumah tangga itu.
Amira menutup wajahnya sebentar sambil menahan tangis. Sementara beberapa kursi di depannya, Mirza terlihat menunduk hancur. Lelaki itu bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya. Dan entah kenapa melihat itu tidak membuat Amira menang.
Tidak juga puas. Hanya kosong. Sangat kosong.
Setelah sidang selesai, Umi Salma langsung memeluk Amira erat. “Sudah selesai…” bisik beliau lembut.
Dan kalimat sederhana itu justru membuat tangis Amira pecah sepenuhnya. Karena akhirnya ia benar-benar melepaskan hidup lamanya.
***
Hari pertama menjadi janda terasa aneh bagi Amira. Pagi itu ia terbangun lebih lambat dari biasanya. Langit di luar jendela kamar ndalem tampak cerah, tetapi dadanya terasa kosong.
Beberapa detik Amira hanya berbaring menatap langit-langit kamar. Lalu perlahan ingatan tentang sidang kemarin kembali memenuhi kepalanya. Ia sudah resmi bercerai. Statusnya berubah. Sekarang ia bukan lagi istri siapa-siapa. Dan entah kenapa kenyataan itu terasa begitu asing.
Amira duduk perlahan sambil memegang dadanya sendiri. Tidak ada lagi nama Mirza di belakang namanya. Tidak ada lagi kewajiban menunggu lelaki itu pulang. Tidak ada lagi rasa cemas apakah suaminya sudah makan atau belum. Semuanya selesai. Namun ternyata selesai juga bisa terasa menyakitkan.
Air mata Amira jatuh tanpa suara. Bukan karena ia ingin kembali. Tetapi karena ada mimpi panjang yang akhirnya benar-benar dikubur hari ini.
Dulu ia menikah dengan banyak harapan. Ingin punya keluarga kecil sederhana. Ingin menjadi istri yang baik. Ingin menua bersama lelaki yang dicintainya. Tetapi hidup justru membawanya sampai di titik ini. Menjadi perempuan muda yang sudah menyandang status janda. Di luar kamar terdengar suara tangis kecil Habibi.
Amira cepat-cepat mengusap air matanya lalu berdiri. Karena hidup tetap berjalan. Dan mungkin itulah yang menyelamatkannya sekarang.
Habibi. Bayi kecil itu membuat hari-harinya tidak sempat tenggelam terlalu dalam. Begitu masuk ke kamar sebelah, Amira melihat Habibi sedang digendong Tiur sambil merengek kecil. “Cari Mbak Amira dari tadi,” kata Tiur sambil tersenyum kecil.
Anehnya, mendengar itu hati Amira sedikit menghangat. Ia segera menggendong Habibi. Bayi kecil itu langsung diam begitu berada dalam pelukannya. Refleks jemari mungil Habibi memegang ujung jilbab Amira. Membuat perempuan itu tersenyum tipis untuk pertama kalinya pagi ini.
“Anak baik…” bisiknya lirih sambil mencium kening bayi itu.
Mungkin statusnya berubah hari ini. Mungkin hidupnya hancur beberapa waktu lalu. Tetapi setidaknya masih ada seseorang yang merasa tenang dalam pelukannya. Dan untuk sementara itu cukup membuat Amira bertahan.
Pagi itu suasana ndalem terasa begitu tenang. Setelah berminggu-minggu melalui masa nifas, akhirnya hari ini Amira bisa kembali menunaikan salat dengan sempurna. Perasaan itu membuat dadanya hangat. Ada haru yang sulit dijelaskan ketika dahinya kembali menyentuh sajadah setelah sekian lama.
Usai salat Subuh, Amira belum beranjak dari tempatnya. Ia lalu mulai membaca perlahan ayat-ayat suci Al-Quran yang telah dihafalnya sejak kecil. Suara ayat-ayat suci mengalun lembut memenuhi kamar kecil itu. Jernih. Tartil. Dan begitu menenangkan. Bukan sekadar indah tetapi juga penuh penghayatan.
Ayat demi ayat mengalir. Dulu ia menghafal Al-Qur’an bersama kakeknya, Ustad Hasyim. Namun setelah berbagai luka dan trauma hidup menimpanya, Amira perlahan mengubur banyak hal tentang dirinya sendiri. Termasuk cahaya itu. Ia terlalu sibuk menjadi istri yang sederhana dan pendiam. Sampai lupa bahwa dirinya juga pernah memiliki mimpi dan kemampuan yang begitu besar. Dan pagi ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lantunan hafalannya kembali memenuhi ruangan.
Sementara Amira tenggelam dalam bacaannya ia tidak sadar ada seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
Umi Salma. Beliau diam mematung. Matanya perlahan berkaca-kaca mendengar suara Amira. Bukan hanya karena merdu. Tetapi karena bacaan perempuan itu sangat kuat. Sangat terjaga. Jelas sekali bukan hafalan biasa. Iramanya sangat jarang dilantunkan.
Sampai akhirnya Amira menyelesaikan bacaannya dan menutup mushaf perlahan. Barulah ia tersadar ada seseorang di sana.
“Umi?” Amira langsung kaget lalu buru-buru berdiri.
Namun Umi Salma justru masih memandangnya dengan tatapan penuh takjub. “Kamu…” suara beliau pelan sekali, “Hafal?”
Amira langsung salah tingkah. Ia menunduk kecil. “Sedikit, Umi…”
“Sedikit bagaimana?” Umi Salma sampai terkekeh haru. “Itu tadi bacaan orang yang hafalannya terjaga.”
Wajah Amira memerah karena malu. Sudah lama sekali tidak ada yang membicarakan hafalannya.
“Kenapa tidak pernah cerita?”
Amira tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa sendu. “Saya… sudah lama enggak murojaah dengan serius.” Tatapannya turun pada mushaf di tangannya. “Dulu setelah menikah…” ia berhenti sejenak, “hidup saya lebih banyak dipakai untuk melayani suami.”