Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata-Mata dan Siasat Sang Nyonya Besar
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca besar di apartemen mewah Nyonya Widya. Wanita elegan itu duduk di kursi santainya sembari menyesap teh earl grey kualitas terbaik. Namun, fokusnya bukan pada pemandangan kota, melainkan pada sebuah laporan singkat yang baru saja dikirimkan oleh orang kepercayaannya di kantor Arsel.
Laporan itu berisi detail kejadian kemarin: tentang kedatangan Nabila, tentang ketegangan di ruangan CEO, dan puncaknya tentang Gisella yang masuk dan memberikan "pembuktian" panas di depan mantan kekasih Arsel.
Senyum puas tersungging di bibir Nyonya Widya. Ia segera meraih ponselnya dan membuka ruang obrolan dengan Gisel.
'Nyonya Widya: Gisel, aku baru saja mendengar kabar luar biasa dari kantormu. Kau benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat kemarin. Membuat Nabila pergi dengan wajah pucat adalah bonus yang sangat manis bagi saya.'
Gisella, yang baru saja tiba di kantor dan sedang menaruh tasnya, merasakan ponselnya bergetar. Ia membaca pesan itu dan seketika wajahnya memanas. Ia lupa bahwa di gedung sebesar ini, tembok pun seolah punya telinga, apalagi untuk Nyonya Widya yang memiliki "mata" di mana-mana.
'Gisella: Maaf, Tante. Saya terpaksa melakukannya karena wanita itu sangat keterlaluan menghina Pak Arsel. Saya tidak bermaksud melampaui batas.'
'Nyonya Widya: Melampaui batas? Justru itu yang aku inginkan, Gisel! Aku sangat senang mendengar putraku meresponsmu. Itu bukti valid bahwa dugaanku salah dan usahamu mulai membuahkan hasil. Arsel butuh kejutan seperti itu untuk sadar bahwa dia masih pria yang punya gairah.'
Gisel menggigit bibir bawahnya. Ia teringat kembali bagaimana Arsel menarik pinggangnya kemarin. Itu bukan sekadar akting dari sisi Arsel; itu adalah reaksi alami yang sangat kuat.
'Nyonya Widya: Teruslah seperti itu, Gisel. Jangan beri dia ruang untuk kembali dingin. Sebagai apresiasi, aku sudah mengirimkan sesuatu ke rumahmu. Gunakan itu untuk langkah selanjutnya. Ingat, pernikahan Nabila sebentar lagi, dan kau harus tampil sebagai pemenang di samping Arsel.'
Sore harinya, saat Gisel pulang ke rumah, ia dikejutkan dengan sebuah kotak besar berwarna emas yang diletakkan di atas meja ruang tamunya. Rian menatap kotak itu dengan mata berbinar.
"Kak, ini ada kiriman lagi. Kayaknya dari bos Kakak yang kaya itu ya?" tanya Rian.
Gisel membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam (evening gown) berwarna merah marun yang sangat mewah. Bahannya terbuat dari sutra premium dengan potongan backless yang sangat berani namun tetap terlihat berkelas. Di bawahnya, ada sepasang sepatu hak tinggi (high heels) kristal dan sebuah kartu ucapan kecil.
*“Pakai ini untuk acara pernikahan minggu depan. Biarkan dunia tahu siapa yang memenangkan hati Arselan Dirgantara. – W”*
Gisel menghela napas panjang. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang digerakkan dengan sangat lihai oleh Nyonya Widya. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga mulai menikmati peran ini. Bukan karena uangnya semata, tapi karena ada rasa puas setiap kali melihat Arsel kehilangan ketenangannya saat berada di dekatnya.
Keesokan harinya di kantor, suasana menjadi sangat canggung. Arsel lebih banyak diam dan menghindari kontak mata dengan Gisel. Setiap kali Gisel masuk ke ruangan untuk memberikan berkas, Arsel hanya bergumam pendek tanpa mendongak.
Gisel, dengan sifat ceriwisnya, tidak tahan dengan suasana itu. Saat ia membawakan kopi sore, ia sengaja berdiri sedikit lebih lama di depan meja Arsel.
"Pak Arsel... masih kepikiran soal kejadian kemarin?" goda Gisel dengan nada bicara yang pelan namun nakal.
Arsel tersentak, tangannya yang memegang pena sedikit bergetar. "Fokus pada pekerjaanmu, Gisella. Jangan bahas hal yang tidak penting."
"Ih, kok nggak penting? Padahal kemarin Bapak... cukup semangat membalasnya," Gisel terkikik pelan, tangannya sengaja merapikan vas bunga di meja Arsel agar rambutnya yang harum tersapu angin ke arah Arsel.
Arsel meletakkan penanya dengan kasar dan menatap Gisel tajam. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu berbahaya, kan? Kamu sedang bermain api dengan atasanmu sendiri."
Gisel mencondongkan tubuhnya ke meja, menatap mata Arsel dengan berani. "Saya suka api, Pak. Apalagi kalau apinya ada di dalam hati pria sedingin Bapak. Sampai ketemu di pernikahan Nabila minggu depan ya, Calon Pacar."
Gisel berbalik dan keluar dengan langkah yang anggun, meninggalkan Arsel yang kembali terdiam dengan detak jantung yang tak menentu. Di luar, Gisel menyandarkan punggungnya ke pintu, tersenyum lebar. Ia tahu, langkahnya sudah semakin dekat menuju target.
Strategi Nyonya Widya bekerja, tapi hati Gisel mulai berbisik bahwa ini bukan lagi sekadar misi demi uang. Ada rasa ingin memiliki yang nyata di setiap detak jantungnya.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏