NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Penuh Gairah & Rahasia yang Terbuka

Pertahanan dingin yang selama ini dibangun Ziva runtuh seketika. Rasa dingin dan kerasnya dunia bawah tanah seakan lenyap digantikan oleh hangatnya sentuhan pria di hadapannya.

Ini pertama kalinya tubuhnya merasakan sentuhan yang begitu intens, begitu dalam, dan penuh hasrat. Arsen bukan lagi pria lemah yang membutuhkan pertolongan, ia berubah menjadi sosok yang dominan, kuat, dan penuh gairah yang meledak-ledak.

Dengan gerakan lembut namun pasti, Arsen mendorong tubuh Ziva hingga mendarat empuk di atas kasur yang lebar. Ia segera mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangan dan kakinya, membuat Ziva terperangkap di bawah tubuh kekarnya.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Napas mereka saling bersentuhan, hangat dan memabukkan.

Melihat Ziva yang tidak melawan, justru menatapnya dengan mata yang berbinar dan pipi yang memerah, Arsen tersenyum puas.

Ia mulai menunduk, memberikan ciuman lembut namun membara di kening Ziva, lalu turun ke pangkal hidung yang mancung, dan akhirnya mendarat sempurna di bibir mungil gadis itu.

Muaaach!

Ciuman itu sangat intens, dalam, dan menuntut. Arsen memainkan bibir Ziva dengan mahir, seolah ia sedang menikmati hidangan termahal di dunia. Lidah mereka bertarung, saling mengeksplorasi, melepaskan semua rasa rindu dan ketertarikan yang terpendam sejak pertama kali bertemu.

Arsen tidak berhenti di situ. Ia turunkan ciumannya ke leher putih mulus Ziva, menciptakan bekas-bekas merah tanda kepemilikan, lalu turun perlahan menuju area dada yang menantang.

"Sayang..." bisik Arsen serak di telinga gadis itu, suaranya terdengar sangat menggoda dan dalam. "Kamu cantik sekali... dan harumnya luar biasa. Aku benar-benar pria paling beruntung bisa mendapatkanmu malam ini. Tenang saja... aku akan bertanggung jawab penuh."

Tangan kirinya yang besar dan hangat bebas bergerak, memijat dan memainkan bagian tubuh Ziva yang pas sekali di telapak tangannya, seolah memang diciptakan khusus untuknya.

"Arghh..." Ziva mendesis pelan, matanya terpejam menikmati sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya nikmat, aneh, namun membuatnya ingin lebih.

Tanpa menunggu lama lagi, Arsen menyatukan miliknya dan milik Ziva.

Malam itu menjadi saksi bisu perpaduan dua tubuh yang saling membutuhkan. Suasana kamar dipenuhi dengan desahan, erangan, dan buaian asmAra yang sangat panas. Semua rasa dingin, semua beban tanggung jawab, dan semua rahasia mereka lupakan sejenak. Mereka hanya dua manusia biasa yang saling mencinta dan melepaskan hasrat terpendam menjadi satu malam yang tak terlupakan.

 

Keesokan Pagi...

Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar.

Ziva mencoba membuka matanya perlahan. Ia berniat untuk bangun dan segera pulang sebelum keluarganya menyadari kepergiannya. Namun...

"Aww..."

Rasa nyeri dan pegal yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya, terutama di bagian pinggang dan kaki. Ziva meringis kesakitan.

Ia menatap ke samping, melihat Arsen yang masih tidur pulas dengan wajah damai.

'Sialan...' gerutu Ziva dalam hati. 'Dasar pria buas! Katanya ini pertama kalinya? Tapi gerakannya tadi malam lihai sekali, sangat menguasai dan tahu di mana letak sensitifnya! Pasti dia sudah sering melakukannya dengan wanita lain! Coba saja aku percaya omongannya!'

Merasakan pergerakan dan erangan kecil Ziva, Arsen langsung terbangun dengan sigap. Matanya langsung terbuka dan menatap Ziva dengan penuh kekhawatiran.

"Sayang... kenapa? Ada yang sakit?" tanya Arsen panik, tangannya langsung meraba pipi Ziva.

Ziva langsung menepis tangannya dengan wajah cemberut dan sedikit marah. "Masih tanya?! Lihat ini badanku rasanya habis dimakan serigala! Aku curiga kamu itu sudah sangat berpengalaman di luar sana! Sok polos saja kamu!"

Arsen terkekeh pelan, lalu menarik tubuh Ziva kembali ke dalam pelukannya. Wajahnya terlihat sangat serius dan tulus.

"Ziva... sumpah demi apapun, ini benar-benar pertama kalinya bagiku. Aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelumnya. Hidupku cuma kerja dan kerja. Kamu adalah cinta pertamaku... dan akan jadi yang terakhir selamanya. Insting saja yang membawaku tahu cara menyenangkanmu karena aku sangat menginginkanmu."

Mendengar penjelasan itu, sedikit demi sedikit kekesalan Ziva hilang, digantikan oleh rasa malu yang membuat wajahnya memerah.

Ziva segera bangkit dari tempat tidur. Ia membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai, ia mengenakan setelan pakaian baru yang sudah disiapkan dan dibeli oleh Arsen—karena baju lamanya sudah hancur sobek oleh keganasan pria itu semalam.

"Aku akan mengatur waktu secepatnya untuk melamarmu ke rumah orang tuamu," ucap Arsen tiba-tiba dengan nada serius sambil memakai kemejanya.

Ziva yang sedang merapikan rambutnya langsung menoleh dan mendengus dingin.

"Tidak usah. Kita kan sudah dewasa, tahu mana yang benar dan salah. Anggap saja ini kejadian satu malam, kita saling membutuhkan, dan selesai. Aku tidak butuh pertanggungjawaban formalitas macam itu," jawab Ziva ketus.

Tanpa menunggu balasan, Ziva langsung berjalan keluar kamar meninggalkan Arsen yang terpaku dan hatinya terasa perih mendengar kata-kata dingin itu.

 

Di Kediaman Keluarga Sterling...

Mobil taksi berhenti di depan gerbang besar. Ziva turun dengan berjalan agak pincang dan berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.

Namun, baru saja ia melangkah menuju pintu utama, ia menyadari ada sosok tinggi besar yang berdiri mematung di beranda depan.

Itu Kevin.

Pria itu berdiri dengan tangan disilang di dada, wajahnya datar namun matanya tajam bagai elang yang sedang mengawasi mangsa. Sejak tadi ia memang menunggu kepulangan Ziva. Perasaannya tidak enak.

Kevin menatap Ziva dari ujung kaki sampai ke kepala, mengamati setiap detail perubahan pada tubuh dan aura adiknya itu. Tatapannya menyelidik, meneliti, seolah bisa melihat menembus pakaian.

Dan tiba-tiba, pandangan mata Kevin berhenti tepat di area leher Ziva yang terbuka.

Di sana, jelas terlihat beberapa bercak kemerahan dan bekas gigitan kecil yang sangat mencolok. Bekas ciuman yang sangat jelas asal usulnya.

Wajah Kevin langsung berubah murka. Aura di sekitarnya menjadi sangat dingin dan menakutkan.

"Apa yang kamu lakukan semalam, Ziva?" tanya Kevin pelan tapi suaranya terdengar berat dan mengintimidasi.

Ziva menelan ludah dengan susah payah. "A... aku cuma bertemu teman kak... teman lama."

"Teman?" Kevin mendekat selangkah, matanya menatap tajam ke leher Ziva. "Kalau cuma bertemu teman, lalu bercak merah dan bekas ciuman di lehermu itu darimana?! Nyamuk?! Atau nyamuknya pakai setelan jas dan pakai lipstik?!"

Ziva terkejut. Ia lupa! Ia lupa menutupi bekas-bekas buas Arsen semalam! Otaknya berputar cepat mencari alasan, tapi mulutnya terkunci rapat, tidak bisa mengeluarkan kata-kata pembelaan sama sekali.

"Masuk ke kamarmu sekarang!!" bentak Kevin tegas. "Dan jangan berani keluar rumah sebelum aku yang menyuruhmu keluar!! Jaga sikapmu!!"

Dengan hati gemetar dan kepala tertunduk, Ziva berjalan cepat menuju kamarnya.

 

Belum sempat Ziva mengunci pintu, seseorang sudah lebih dulu masuk dan mengikutinya dari belakang.

Itu Zea.

Gadis itu melihat wajah Ziva yang pucat dan berjalan tertatih-tatih. Lalu, matanya menangkap hal yang sama seperti yang dilihat Kevin tadi. Bekas merah di leher kakaknya itu.

Mata Zea membelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit karena kaget dan rasa tidak terima.

"Kak Ziva..." panggil Zea pelan, suaranya terdengar bergetar.

Ia berjalan mendekat, jari-jarinya yang lentik perlahan menyentuh dan mengelus pelan area leher Ziva yang memiliki bekas itu. Wajah Zea terlihat sedih dan seolah tidak rela melihat tubuh cantik dan sempurna sang kakak ternodai oleh orang lain.

"Siapa yang melakukan ini, Kak?" tanya Zea dengan mata berkaca-kaca. "Siapa yang berani menyakiti dan menandai Kakak seperti ini?"

Sejak kejadian di kampus tempo hari, hati Zea benar-benar luluh. Ia sudah menerima Ziva sepenuhnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Ia merasa sangat dekat dan sayang pada Ziva. Sekarang melihat kakaknya seperti ini, rasanya Zea ingin marah dan membalas siapa pun pria brengsek itu.

Ziva menatap adiknya itu dengan tatapan lembut. Ia memegang tangan Zea yang ada di lehernya.

"Sudahlah Zea... ini bukan masalah besar. Kakak baik-baik saja," bisik Ziva, meski hatinya sebenarnya sedang kacau antara rasa cinta, rasa malu, dan rasa takut akan kemarahan Kevin.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!