NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Ada Masalah

Pada akhirnya Rhea berhasil sampai di kelas tanpa harus kembali berpapasan dengan Arga.

Pagi itu berjalan sebagaimana hari-hari kuliahnya yang lain. Satu mata kuliah berganti dengan mata kuliah berikutnya, dosen demi dosen datang menyampaikan materi mereka masing-masing, sementara deretan catatan di buku Rhea perlahan semakin bertambah memenuhi halaman.

Di sela-sela perkuliahan, beberapa mahasiswa terlihat sibuk berdiskusi mengenai tugas kelompok yang akan dikumpulkan minggu depan.

Sebagian yang lain justru lebih sibuk membicarakan persiapan Campus Innovation Summit yang akan berlangsung tak lama lagi. Nama acara itu seolah muncul hampir di setiap sudut kampus.

Rhea sendiri tidak memiliki banyak waktu untuk ikut mengobrol. Selain harus mengikuti perkuliahan, ponselnya juga nyaris tidak pernah benar-benar sepi. Sesekali notifikasi dari grup panitia masuk silih berganti, mulai dari urusan vendor, revisi rundown, hingga laporan dari masing-masing divisi.

Untungnya seluruh perkuliahan hari itu berjalan lancar.

Tanpa terasa jarum jam sudah bergerak mendekati waktu makan siang ketika dosen terakhir menutup kelasnya. Suasana ruangan yang semula dipenuhi suara penjelasan materi perlahan berubah ramai. Mahasiswa mulai membereskan buku, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berbondong-bondong meninggalkan kelas.

Rhea turut merapikan barang-barangnya. Ia baru saja memasukkan buku catatan ke dalam totebag ketika ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Nama Dito muncul di layar. Rhea segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mas?"

"Rhea, kamu sudah selesai kuliah?"

"Baru saja."

"Bagus. Bisa langsung ke lapangan kampus?"

Rhea mengernyit kecil sambil berdiri dari kursinya.

"Kenapa?"

"Panggung utama baru datang. Vendor juga sudah mulai pasang beberapa perlengkapan. Aku butuh kamu buat cek layout yang kemarin kita revisi."

"Oke. Aku ke sana sekarang."

"Jangan lama-lama."

"Iya, Mas."

Setelah panggilan berakhir, Rhea segera menyampirkan totebag ke bahunya lalu berjalan keluar dari ruang kelas. Langkahnya menyusuri koridor fakultas yang mulai ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kuliah.

Beberapa orang menyapanya di sepanjang jalan, sementara sebagian yang lain terlihat sibuk membawa perlengkapan menuju area acara.

Semakin mendekati lapangan utama kampus, suasana yang terlihat pun semakin berbeda.

Jika biasanya area itu hanya dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang atau sekadar duduk di bawah pepohonan, kini sebagian besar sudut lapangan telah berubah menjadi area persiapan acara.

Truk pengangkut perlengkapan masih terparkir di sisi lapangan, beberapa pekerja terlihat sibuk menurunkan rangka panggung, sementara panitia CIS mondar-mandir membawa berbagai berkas dan perlengkapan.

Dari kejauhan, Rhea sudah bisa melihat sosok Dito yang berdiri di dekat area panggung sambil berbicara dengan salah seorang vendor. Kemeja yang dikenakannya bahkan sudah sedikit kusut meski hari masih belum terlalu siang.

Dan tanpa disadari Rhea, kesibukan itulah yang perlahan akan mengisi sebagian besar hari-harinya ke depan.

Rhea melangkah mendekat ke arah Dito yang masih asyik berbicara dengan salah satu perwakilan vendor.

Begitu melihatnya datang, pria itu langsung mengakhiri pembicaraan, lalu menyerahkan beberapa lembar denah lokasi yang sejak tadi digenggamnya dalam keadaan tergulung rapat.

"Rhea, kita ada masalah."

Rhea langsung menerima denah itu, lalu segera membentangkannya hingga seluruh garis batas dan keterangan terlihat jelas.

"Masalah apa, Mas?"

"Ukuran panggung di area sponsor berubah. Pihak vendor menambah panjangnya satu meter ke arah kanan."

Alis Rhea langsung bertaut rapat.

"Loh, kok gak dikonfirmasi dulu sama kita?"

"Makanya itu," jawab Dito sambil mengembuskan napas pendek, tampak sudah tak sabar menyelesaikan hal ini. Ia lalu menunjuk salah satu bagian di atas denah yang kini terlihat tak lagi sejalan dengan rencana semula.

"Kita selesaikan urusan area sponsor dulu. Kalau ini gak segera disesuaikan dan diperbaiki, susunan stand dan pembagian tempat nanti bisa berantakan semuanya."

Rhea mengangguk tegas, tangannya mulai meraba saku untuk mengambil pulpen.

"Oke, Mas. Aku segera catat dan kita atur ulang."

Sejak saat itu, keduanya nyaris tak punya waktu sekadar untuk berhenti sejenak atau menarik napas lega. Mereka terus berpindah dari satu sudut lapangan ke sudut lainnya, denah itu tak lepas dari tangan dan kini makin padat tertutup tulisan serta tanda revisi.

Sesekali mereka berhenti, mengukur ulang batas-batas tanah dengan pita ukur, lalu kembali berdiskusi panjang lebar bersama pihak vendor maupun rekan panitia dari divisi perlengkapan.

Belum lagi bermunculannya perubahan-perubahan kecil lain sepanjang hari, menuntut mereka terus menyesuaikan rencana, mengubah susunan, dan memastikan tak ada satu pun bagian yang keliru saat pelaksanaan nanti.

1
Nia Nara
Lanjut thor
Nia Nara
Si dosen panas itu 🤣
Nia Nara
Pak dosen kayaknya uda ada rasa nih.. Gak pernah deh dulu waktu jadi asdos aku diajak makan pak dosen 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!