"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Udara subuh yang menusuk tulang belum juga beranjak, namun rumahku sudah seperti sarang lebah yang terusik. Suara gesekan sapu lidi di halaman, aroma masakan yang kian tajam dari dapur, hingga gumaman doa yang mulai dilantunkan membuat suasana kian mencekam. Di tengah keriuhan itu, seorang wanita paruh baya dengan tas kosmetik besar di tangannya melangkah masuk ke kamarku. Beliau adalah perias pengantin yang disewa Bapak.
"Mari, Mbak Aira, kita mulai riasannya supaya nanti jam tujuh sudah siap," sapanya dengan senyum profesional yang terasa sangat kontras dengan mendungnya hatiku.
Aku menatap cermin dengan pandangan kosong. "Mbak, apa tidak bisa seadanya saja? Pakai bedak tipis sudah cukup, saya tidak mau yang mencolok," tolakku lirih untuk kesekian kalinya. Aku merasa sangat tidak pantas memakai riasan cantik di hari yang seharusnya menjadi hari paling memalukan bagi keluarga ini. Bagiku, setiap goresan pensil alis atau polesan gincu nanti hanyalah sebuah topeng untuk menutupi noda yang sudah terlanjur basah.
Namun, Mbah Neni yang baru saja masuk langsung menyahut dengan tegas. "Nggak bisa, Nduk. Keluarga kekeh ingin kamu terlihat layak di depan penghulu dan besan. Bapakmu sudah keluar uang banyak, jangan ditolak lagi. Anggap saja ini caramu menghargai keinginan terakhir Bapak sebelum kamu sah jadi istri orang."
Aku hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkan wanita itu mulai menyapukan berbagai macam zat kimia ke wajahku. Setiap kali kuas lembut itu menyentuh kulitku, aku merasa seolah-olah sedang dipersiapkan untuk sebuah pertunjukan sandiwara besar. Riasan ini tidak akan bisa menyembunyikan mataku yang bengkak, tidak juga bisa menyembunyikan rahasiaku yang kian menonjol di balik balutan kebaya putih longgar yang sengaja dipilih untuk menyamarkan perutku.
Satu per satu saudara mulai berdatangan, memenuhi ruang tamu yang sempit. Suara tawa yang dipaksakan dan bisik-bisik di belakang punggungku kembali terdengar. Mereka datang bukan untuk merayakan kebahagiaan, melainkan untuk memastikan bahwa aib ini benar-benar telah "dibersihkan" melalui akad nikah.
Tepat pukul tujuh, suara deru mobil terdengar di depan rumah. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Itu mereka. Rombongan dari pihak Mas Dika sudah sampai. Aku mengintip dari celah gorden kamar dengan tangan yang sedingin es. Pemandangan di luar sana benar-benar menyesakkan. Yang datang mendampingi Mas Dika hanya Bapaknya, Mbak Diana beserta suaminya, serta beberapa Paklek dan Bulek.
Tidak ada Ibu Mas Dika. Beliau benar-benar menepati ancamannya untuk tidak menginjakkan kaki di rumahku. Ketidakhadiran calon ibu mertuaku adalah tamparan keras yang menyadarkanku bahwa restu itu memang tidak pernah ada. Mbak Diana turun dari mobil dengan wajah yang sangat kaku, tanpa senyum sedikit pun, menatap rumahku dengan pandangan meremehkan yang seolah berkata bahwa seluruh prosesi ini hanyalah sampah.
Mas Dika turun terakhir. Ia memakai jas hitam yang tampak rapi, namun wajahnya pucat pasi. Ia membawa serangkaian mahar sederhana yang terbungkus kotak mika. Saat ia bersalaman dengan Bapakku di depan pintu, aku melihat kedua pria itu sama-sama tidak berani saling menatap mata. Ada rasa canggung yang luar biasa, rasa malu yang saling bersahutan di antara dua keluarga yang dipaksa bersatu oleh keadaan yang memuakkan.
"Sudah siap, Mbak Aira?" tanya perias itu membuyarkan lamunanku.
Aku menatap bayanganku di cermin untuk terakhir kalinya. Wajahku tampak cantik, sangat cantik, namun sorot mataku benar-benar mati. Di luar, suara Bapak yang sedang mempersilakan keluarga besan duduk terdengar menggema. Hari penghakiman itu akhirnya tiba. Sebentar lagi, di atas meja kecil di ruang tamu, aku akan dilepaskan oleh Bapak menuju sebuah kehidupan baru yang diawali dengan keterpaksaan dan kebencian yang tertunda. Aku hanya bisa memejamkan mata, merapalkan doa yang tak beraturan, memohon agar Tuhan tidak membiarkan janin di perutku ikut merasakan penderitaan ibunya hari ini.
Suara riuh di luar mendadak senyap berganti dengan suara berat Pak Penghulu yang mulai memberikan khotbah nikah. Aku masih duduk terpaku di tepi ranjang, meremas jemariku yang terasa sedingin es. Di balik tirai kamar yang sedikit tersingkap, aku bisa mendengar setiap kata yang diucapkan. Suara itu terasa seperti gema di dalam gua yang gelap, memantul-mantul menghantam kesadaranku.
"Saudara Dika... apakah Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap," jawab Mas Dika. Suaranya terdengar tegas, namun aku bisa merasakan getaran kecemasan di sana.
Lalu, giliran Bapak. Aku memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar Bapak berdeham, mencoba menjernihkan suaranya yang serak. Aku tahu betapa berat bagi Bapak untuk menjabat tangan laki-laki yang telah menghancurkan impiannya. Detik itu juga, aku seolah bisa melihat Bapak sedang menggenggam erat tangan Mas Dika, menyerahkan satu-satunya anak perempuan yang paling ia banggakan dalam kondisi yang paling tidak terhormat.
"Ananda Dika bin Ahmad..." suara Bapak mulai bergetar hebat di awal kalimat. Beliau menjeda sejenak, menarik napas panjang yang terdengar sangat sesak melalui mikrofon kecil. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Aira Natasya binti Firman, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Natasya binti Firman dengan mas kawin tersebut, tunai!"
Satu tarikan napas. Begitu lancar. Begitu cepat.
"Sah?"
"Sah!"
Suara para saksi menyambar, diikuti dengan doa yang dilantunkan dengan nada datar. Di dalam kamar, aku jatuh tersungkur di atas sajadah, menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Sah. Kata itu seharusnya menjadi kata paling bahagia bagi setiap wanita, namun bagiku, itu adalah lonceng yang menandakan berakhirnya masa mudaku dan dimulainya masa depan yang penuh dengan beban prasangka. Aku kini sah menjadi istri Mas Dika, namun aku merasa seperti seorang tawanan yang baru saja menerima vonisnya.
Mbah Neni masuk ke kamar, membantuku berdiri dan merapikan kebayaku yang sedikit kusut. "Ayo, Nduk. Keluar. Temui suamimu. Tanda tangani buku nikahnya," bisik beliau sembari mengusap air mataku dengan tisu agar tidak merusak riasan.
Aku melangkah keluar kamar dengan kepala tertunduk. Begitu kakiku menginjak ruang tamu, suasana terasa mencekam. Mas Dika menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan rasa bersalah sekaligus kelegaan yang aneh. Aku duduk di sampingnya, menandatangani buku nikah dengan tangan yang masih gemetar hebat. Pena di tanganku terasa sangat berat, seolah aku sedang menandatangani surat perjanjian penyerahan diri.Saat pena itu menggores kertas, ada gerakan kuat di perutku. Seolah bayi ini pun tahu bahwa mulai detik ini, dia punya nama di belakang namanya, meski dibeli dengan harga diri kakeknya.
Setelah itu, aku meraih tangan Mas Dika dan menciumnya. Untuk pertama kalinya, ia adalah suamiku yang sah di mata agama dan negara. Namun, saat aku beralih untuk menyalami Bapak, pertahananku runtuh. Aku bersujud di kaki Bapak, membasahi kain sarungnya dengan air mataku. Bapak tidak berkata apa-apa, beliau hanya mengusap kepalaku sebentar lalu memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang kembali memerah.
Aku menoleh ke arah barisan keluarga Mas Dika. Mbak Diana duduk dengan tangan bersedekap, menatapku dengan tatapan dingin seolah aku adalah parasit yang baru saja masuk ke dalam keluarganya. Tidak ada senyum, tidak ada ucapan selamat yang tulus. Pernikahan ini telah terlaksana, namun aku tahu, perjuangan yang sebenarnya,perjuangan untuk diterima dan dimaafkan baru saja dimulai di atas puing-puing kehormatan keluarga yang telah kuhancurkan.