“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Alih-alih melangkah pergi dengan diam seperti niat awalnya, rasa muak yang teramat sangat mendorong kakinya untuk menendang pintu kamar tamu itu hingga terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara keras.
“Oh... jadi begini ya kelakuan kamu di belakang aku selama ini, Mas?!” teriak Rania.
Kedua manusia yang masih terlelap itu langsung tersentak bangun dengan wajah linglung dan panik.
Harsa mengerjapkan matanya, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Namun, rasa terkejutnya berubah menjadi kepanikan yang luar biasa saat ia menyadari bahwa tangan kanannya masih tergenggam teramat erat di dalam dekapan kedua tangan Wulan. Dengan refleks, Harsa langsung menyentak dan buru-buru melepaskan pautan tangan mereka.
“Rania, ini tidak seperti yang kamu—”
“Kamu bilang kamu nggak mau pisah sama aku! Kamu bilang hubungan kamu dan Wulan itu murni hanya sebatas tanggung jawab amanah mendiang adikmu!” potong Rania dengan tawa sinis yang terdengar begitu menyedihkan. “Sekarang aku tanya sama kamu, Mas! Apakah bentuk tanggung jawab seorang kakak ipar itu harus sampai pegang-pegangan tangan semalaman di atas ranjang?! Jawab aku, Harsa!”
Wulan yang sejak tadi sebenarnya sudah terbangun, karena dialah yang sengaja membiarkan pintu kamar itu sedikit terbuka agar Rania bisa melihat pemandangan menyakitkan ini, angsung mengubah raut wajahnya menjadi sok ketakutan. Ia buru-buru menarik selimutnya hingga sebatas dada, menatap Rania dengan mata bulatnya yang berair.
“Eh... Mbak Rania? Mbak di sini? Maaf, Mbak... ini semua salahku, jangan marahi mas Harsa. Aku yang memintanya menemaniku semalam,” ucap Wulan dengan suara parau yang dibuat-buat, sok berlagak menjadi korban yang teraniaya.
Kemarahan yang membakar dada Rania sudah mencapai ubun-ubun. Kilat matanya menajam, dipenuhi rasa muak yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Tanpa memedulikan Harsa yang mencoba menghalangi, Rania melangkah menuju sisi ranjang Wulan. Ia menghampiri wanita itu yang masih memasang wajah polosnya, dan...
Plak!
Satu tamparan yang teramat keras dan bertenaga mendarat telak di pipi mulus Wulan. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat wajah Wulan terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya.
Napas Rania memburu. Ia memang sudah ingin melakukan hal ini sejak beberapa bulan yang lalu, sejak ia menyadari wanita ini mulai ngelunjak dan dengan sengaja memonopoli suaminya. Hari ini, ia baru melampiaskannya. Bukan karena ia cemburu buta, melainkan untuk memberikan pelajaran keras agar Wulan tahu diri di mana posisinya berdiri.
Selama surat cerai belum sah di mata hukum, Harsa masih suaminya!
“Rania! Cukup! Apa-apaan kamu ini?!” teriak Harsa berang. Pria itu langsung berdiri tegak, menyembunyikan tubuh Wulan di belakang punggung tegapnya, menatap Rania dengan penuh kemarahan. “Wulan itu sedang sakit! Kakinya bengkak dan dia ketakutan semalam! Kenapa kamu malah datang-datang langsung main fisik dan bertindak kasar seperti orang tidak berpendidikan?!”
Rania menatap suaminya, lalu tertawa keras, sebuah tawa hambar yang sarat akan kepedihan mendalam.
“Kenapa, Mas? Kamu tidak terima jala-ng ini aku tampar? Kamu mau membela perempuan tidak tahu diri ini karena dia sedang sakit, dan kamu bertugas menenangkannya dengan cara memegang tangannya dengan penuh cinta begitu? Hebat sekali ya pelayanan seorang kakak ipar ini!”
“Jaga bicaramu, Rania! Wulan bukan perempuan seperti itu!” bentak Harsa, mencoba mempertahankan pembelaannya yang terdengar begitu menjijikan di telinga Rania.
“Lalu perempuan seperti apa dia, Mas?! Perempuan baik-baik mana yang dengan sengaja membiarkan pintu kamarnya terbuka saat tidur berdua dengan suami orang lain?! Perempuan baik-baik mana yang dengan sengaja menggelayuti tangan kakak iparnya sendiri di atas kasur?!” Rania menunjuk wajah Wulan yang kini menangis sesenggukan di balik punggung Harsa.
Rania melotot, menatap Wulan dengan tatapan murka. Mulutnya yang biasa diam kini mengeluarkan kalimat yang begitu pedas dan menusuk.
“Dengar ya, Wulan! Kamu itu perempuan tidak tahu diri! Kamu memanfaatkan status jandamu dan kematian Bima hanya untuk mengemis perhatian dari suamiku! Kamu sengaja bertingkah lemah, mematahkan hak sepatumu sendiri, memanipulasi mertuaku, hanya karena kamu gatal ingin merebut fasilitas dan posisi yang aku miliki di rumah ini, kan?!”
Wulan tersentak, wajahnya mendadak pucat pasi. Ia tidak menyangka Rania akan membongkar semua triknya dengan begitu gamblang di depan Harsa.
“M–mbak Rania... demi Tuhan, aku tidak pernah bermaksud—”
“Diam kamu! Jangan menyebut nama Tuhan dengan mulut kotormu itu!” potong Rania, membuat Wulan seketika bungkam seribu bahasa.
Rania kembali memindahkan tatapan dinginnya pada Harsa, pria bodoh yang selama ini dibutakan oleh kata tanggung jawab.
“Dan kamu, Harsa... silakan ambil tanggung jawabmu ini sepuasnya. Nikmati perempuan manipulatif yang sudah berhasil membodohimu dengan sandiwara murahannya ini. Mulai detik ini, aku tidak akan pernah lagi melarangmu memegang tangannya, memeluknya, bahkan jika kamu ingin tidur di atas ranjang yang sama dengannya sekalipun! Urus surat cerai kita secepatnya, karena aku sudah benar-benar ingin muntah melihat wajah kalian berdua!”
Setelah menumpahkan seluruh makian pedas yang membuat Harsa terpaku bisu dengan rasa bersalah yang mendadak menonjok dadanya, Rania membalikkan tubuh dengan anggun.
Wanita itu melangkah keluar dari kamar dengan kepala tegak, meninggalkan Harsa dan Wulan yang membeku di dalam sana.
“Mas Harsa... aku... aku minta maaf,” isak Wulan di sela tangisnya yang dibuat semakin pilu. Ia memegangi pipinya yang memerah. “Sungguh, Mas, aku nggak tahu kalau semalam tidur sampai memegang tangan kamu seerat itu. Aku cuma ketakutan, Mas. Maaf kalau aku malah jadi penyebab salah paham diantara kalian.”
Harsa mengembuskan napas berat, kepalanya terasa mau pecah. Ia menoleh ke arah Wulan dengan tatapan rumit.
“Sudahlah, Wulan. Jangan menangis lagi. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku akan bicara dengan Rania sekarang.” Harsa langsung buru-buru menyusul Rania.
Begitu Harsa menghilang, tangisan Wulan mendadak berhenti seketika. Ia menyeka air mata palsunya dengan kasar, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Rania masih terasa menyengat.
Meskipun rencananya membuat Rania salah paham dan meminta cerai akhirnya terwujud sempurna, Wulan tetap merasa belum puas.
“Sialan kamu, Rania! Berani sekali kamu menamparku! Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasnya. Aku akan merebut mas Harsa sepenuhnya dan membuat hidupmu jauh lebih sakit dari ini!” gumam Wulan dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat licik dan penuh dendam.
Wulan pun bangkit, ia bersiap memasak sarapan pagi untuk mencari perhatian Harsa juga ibu mertuanya.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu