10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Retakan yang Menyebar
Langit itu… benar-benar retak.
Bukan ilusi.
Bukan bayangan.
Raka melihatnya dengan jelas—garis panjang seperti pecahan kaca membelah kegelapan, memancarkan cahaya asing dari baliknya. Cahaya itu bukan putih, bukan hitam… melainkan sesuatu di antaranya. Warna yang tidak seharusnya ada.
Dan dari balik retakan itu…
Sesuatu bergerak.
Pelan.
Namun pasti.
Raka menggertakkan giginya.
Cahaya kecil di tangannya masih bergetar, seperti nyala lilin yang dipaksa bertahan di tengah badai. Ia tahu… jika ia lengah sedikit saja, semuanya akan padam.
“Alya…” bisiknya.
Nama itu seperti jangkar terakhirnya.
Di sisi lain—
Alya berdiri di tengah kehampaan.
Namun kini kehampaan itu berubah.
Tidak lagi hanya gelap.
Ada bentuk.
Ada gerakan.
Dan ada… arah.
Di kejauhan, ia bisa melihat struktur besar—seperti pintu, namun bukan pintu biasa. Tinggi, menjulang, terbuat dari bayangan yang saling berpilin. Permukaannya berdenyut seperti makhluk hidup.
Dan di depannya…
Sosok itu.
Lebih besar dari sebelumnya.
Lebih jelas.
Tubuhnya tidak memiliki bentuk tetap. Kadang seperti manusia, kadang seperti kabut yang membeku. Namun matanya…
Dua titik gelap yang menyerap segala cahaya.
“Aku sudah menunggumu,” katanya.
Suaranya tidak berasal dari satu arah.
Melainkan dari segala arah sekaligus.
Alya menarik napas dalam.
“Aku tidak datang untukmu,” jawabnya.
Sosok itu tertawa pelan.
“Semua yang datang ke sini… datang untuk kami.”
Alya tidak menjawab.
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
Bayangan di sekitarnya mulai bergerak.
Namun ia tidak berhenti.
“Aku akan mengakhiri ini,” katanya pelan.
Sosok itu memiringkan kepala.
“Dengan apa?” tanyanya. “Kau bahkan tidak mengerti apa yang kau hadapi.”
Alya menatapnya.
“Tidak perlu mengerti semuanya… untuk menghentikannya.”
Untuk sesaat—
Keheningan.
Lalu—
Sosok itu mengangkat tangannya.
Dan dunia di sekitar Alya berubah.
Ia kembali ke kamar.
Kamar yang ia kenal.
Cermin di dinding.
Tempat tidur.
Lampu redup.
Semua tampak normal.
Namun—
Pantulannya di cermin… tidak bergerak.
Alya membeku.
Perlahan, pantulan itu tersenyum.
Namun ia tidak.
“Ini tempat di mana semuanya dimulai,” kata suara itu.
Alya menatap cermin.
“Itu bukan aku,” katanya.
“Oh, itu sangatlah kau,” jawab suara itu.
Pantulan itu melangkah keluar dari cermin.
Tanpa suara.
Tanpa retakan.
Seolah batas antara keduanya… tidak pernah ada.
Kini… ada dua Alya.
Satu berdiri diam.
Satu tersenyum.
“Kau mencoba menolak,” kata bayangan itu. “Menolak bagian dari dirimu sendiri.”
Alya menggeleng.
“Aku tidak menolak… aku memilih.”
“Memilih untuk buta?” tanya bayangan itu.
Alya tidak menjawab.
Namun matanya tidak goyah.
“Aku tahu siapa aku,” katanya.
Bayangan itu mendekat.
“Kalau begitu… buktikan.”
Tiba-tiba—
Semua cermin di ruangan itu pecah.
Namun bukan pecahan biasa.
Dari dalamnya… keluar sosok-sosok kecil.
Versi Alya.
Dengan berbagai ekspresi.
Takut.
Marah.
Menangis.
Dan satu per satu… mereka mendekat.
“Ini dirimu,” kata suara itu. “Semua yang kau sembunyikan.”
Alya menutup matanya.
Semua suara itu mulai berbicara.
Berteriak.
Menuduh.
Menariknya ke berbagai arah.
Namun—
Ia tidak melawan.
Ia tidak lari.
Ia hanya berdiri.
Dan mendengarkan.
Perlahan…
Satu per satu suara itu meredup.
Bukan hilang.
Namun… tenang.
Alya membuka matanya.
“Ya,” katanya pelan. “Ini semua bagian dari diriku.”
Bayangan itu berhenti.
Untuk pertama kalinya… ia tidak tersenyum.
“Dan aku tidak akan lari dari itu lagi.”
Cahaya muncul.
Lebih terang dari sebelumnya.
Bukan dari luar.
Namun dari dalam.
Sosok-sosok kecil itu berhenti bergerak.
Lalu satu per satu… menghilang.
Kembali menjadi bagian dari dirinya.
Bayangan di depannya mundur.
“Menarik…” katanya.
Di dunia nyata—
Raka jatuh berlutut.
Cahaya di tangannya membesar.
Tidak lagi sekecil sebelumnya.
Namun juga tidak stabil.
Di depannya—
Penjaga itu masih berdiri.
Namun kini… terlihat ragu.
Langit di atas mereka semakin retak.
Dan dari baliknya—
Tangan.
Besar.
Gelap.
Mulai menjulur keluar.
Raka menatapnya.
“Kalau itu yang akan datang…” bisiknya.
Ia berdiri perlahan.
“Aku akan menghentikannya di sini.”
Penjaga itu melangkah maju.
Namun kali ini… lebih hati-hati.
Seolah memahami bahwa Raka… bukan lagi ancaman kecil.
“Kau hanya manusia,” katanya.
Raka tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya itu berdenyut.
“Namun aku masih memilih untuk melawan.”
Dan untuk pertama kalinya—
Penjaga itu mundur.
Sedikit.
Kembali ke perbatasan—
Alya berdiri di depan sosok besar itu.
Kini… lebih tenang.
Lebih kuat.
“Aku mengerti sekarang,” katanya.
Sosok itu diam.
“Kalian tidak bisa masuk… tanpa kami.”
Keheningan.
Lalu—
“Benar,” jawabnya.
“Dan itu berarti…” lanjut Alya, “kami juga bisa menutup kalian.”
Sosok itu tersenyum.
Namun kali ini… berbeda.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya.
“Kau terlalu terlambat.”
Tiba-tiba—
Tanah bergetar hebat.
Pintu besar di belakang sosok itu… mulai terbuka.
Perlahan.
Dari dalamnya—
Cahaya hitam menyembur keluar.
Dan suara…
Ribuan suara.
Berteriak.
Menangis.
Memanggil.
Alya menatapnya.
Namun tidak mundur.
“Belum,” katanya pelan.
Dan di kejauhan—
Ia merasakan sesuatu.
Cahaya lain.
Lemah.
Namun ada.
Raka.
Alya tersenyum kecil.
“Kita belum selesai.”
Dan saat pintu itu terbuka lebih lebar—
Dunia di dua sisi…
Akhirnya mulai menyatu.