Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Keramaian yang Membingungkan
Laura Roberts berjalan perlahan di antara lorong-lorong mall yang ramai, matanya melebar melihat orang-orang berdesakan, anak-anak berlari, orang dewasa menuntun troli, dan musik dari toko-toko bercampur menjadi satu. Semua terasa asing, membingungkan, dan… sedikit menakutkan.
“Kenapa di sini banyak sekali manusia?” Laura bertanya, suaranya pelan tapi cukup jelas terdengar oleh Martin, yang mendorong kursi rodanya di sampingnya. “Apa semua ini… maksudnya mereka harus ada di sini sekaligus? Apakah ini… biasa?”
Martin mencondongkan tubuhnya, wajahnya menampilkan ekspresi antara kesal dan bingung. “Laura… kamu ini amnesia doang, kan? Tapi kenapa kamu bersikap seperti makhluk yang baru pertama kali jadi manusia?”
Laura menatapnya, keningnya berkerut, menelan ludah. “Aku… aku hanya penasaran. Semuanya terasa aneh. Semua orang berjalan begitu cepat, suara, cahaya, bau… aku tidak terbiasa.”
Martin mencebik, matanya berkelap-kelip kesal. “Kamu tahu tidak? Semua manusia mengalami ini sejak lahir, tapi kamu… tampak seperti baru keluar dari gua atau sesuatu. Cukup aneh. Jangan terlalu banyak bertanya hal-hal yang jelas, fokus saja dan rasakan.”
Laura menelan ludah lagi, matanya menatap orang-orang di sekeliling. Anak-anak bermain, remaja melihat ponsel, orang dewasa memilih barang, dan semuanya tampak begitu… hidup. Ia mencoba memahami, tapi rasanya terlalu banyak informasi sekaligus.
“Tapi… mereka tidak saling bertabrakan, tidak tersesat, dan terlihat… bebas. Bagaimana mereka bisa melakukan itu?” Laura bertanya lagi, suaranya setengah berbisik, setengah ingin didengar Martin.
Martin mencondongkan tubuh lebih dekat, suaranya setengah kesal tapi tegas. “Itu bagian dari hidup manusia. Mereka belajar dari pengalaman sendiri. Tidak semua hal perlu dipikirkan sampai berlebihan. Ini bukan dunia sihir, Laura. Tidak ada aturan ketat, tidak ada mantra. Fokus saja melihat dan belajar.”
Laura mengangguk pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Di dunia sihir, setiap gerakan dan interaksi memiliki tujuan. Di sini… segalanya tampak spontan, bebas, dan kacau. Semua terasa membingungkan, tapi juga memikat.
Nyonya Quenza, yang berjalan di depan mereka, tersenyum sambil menepuk tangan Laura. “Tenang saja, sayang. Mall memang ramai, tapi itu bagian dari keseruan. Nikmati saja, jangan terlalu serius. Semua akan terbiasa dengan sendirinya.”
Laura menarik napas panjang, menatap keramaian manusia di sekeliling. Ia sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus belajar menyesuaikan diri sebagai manusia—tanpa sihir, tanpa mantra, hanya pengalaman dan pengamatan.
Martin, yang terlihat kesal karena pertanyaan Laura yang terus-menerus, mencondongkan tubuh sedikit lagi. “Ingat, Laura… jangan terlalu banyak bertanya hal-hal yang jelas. Rasakan saja, pelajari, dan terbiasa. Itu jauh lebih penting daripada mencoba memahami semuanya sekaligus.”
Laura menelan ludah dan perlahan melangkah di antara keramaian mall. Semua terasa nyata, membingungkan, dan penuh warna. Ia mungkin lelah dan bingung, tapi satu hal pasti: rasa penasaran itu tidak akan mati. Dan untuk pertama kalinya, ia belajar menjadi manusia sepenuhnya, tanpa kekuatan lama, tanpa bantuan sihir, hanya dengan keberanian dan ketekunan.
Dan meski Martin kesal, Laura tahu—ini adalah langkah awalnya untuk benar-benar memahami dunia manusia.
---
“ Hidup itu bukan permainan yang kau mainkan. ketahuilah di dunia yang indah ini tersimpan banyak jutaan keburukan dan rahasia kelam tentang kehidupan. ”
- Martin Gilbert -
" saburuk apapun halaman sebelumnya, langkahmu tetap masa depan. Tugasmu hanya menjadi baik bukan menjadi sempurna. *Hanya perlu menjadi lebih baik dari hari kemarin, bukan lebih baik dari orang lain.*