Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Jangan Menyesal ya
Mendengar ucapan Restu yang begitu angkuh dan menantang, wajah Bu Sari memerah padam menahan amarah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan rekan-rekan guru lainnya.
"BAIK! KALAU ITU MAU KALIAN! SAYA TELPON SEKARANG JUGA!, tapi INGAT!, JANGAN MENYESAL YA"
Teriak Bu Sari sambil dengan gemetar mengambil ponselnya sedangkan papanya Maya mempersilahkannya
"Silahkan bu!"
Dia menekan nomor kakaknya, Pak Budi—Kepala Divisi Pemasaran di Presiden Properti yang di bangga-banggakan oleh bu Sari yang selama ini bisa melindungi dirinya.
"Halo bang! Dimana abang sekarang? Abang harus segera ke ruang guru sekarang! Ada orang yang tidak tahu diri berani menghina kami dan mengancam akan mengusir kami dari sekolah ini! abang harus bikin mereka kapok! dan tahu siapa kita"
Teriak Bu Sari di telepon dengan nada dramatis dengan nada seolah-olah tertindas
"APA?! Siapa berani?! Tunggu sebentar ya, abang kebetulan ini sudah ada di depan gerbang sekolah karena ada yang mau abang temui di sekolah.
jawab suara dari seberang terdengar sangat marah.
Tidak sampai lima menit kemudian...
BRAKK!
Pintu ruang guru kembali terbuka dengan keras. Masuklah seorang pria paruh baya dengan setelan bisnis, wajahnya murka luar biasa. Itu adalah Pak Budi, ayah Reno. Di belakangnya terlihat Kepala Sekolah yang berjalan tertatih-tatih dengan wajah pucat, tampak sangat gugup sedangkan di belakangnya ada 6 orang pengawal dari petugas Security Presiden Properti yang mereka di minta oleh pak Budi untuk membantunya.
"DIMANA ORANG ITU?! SIAPA BERANI MENYAKITI ADIK DAN ANAK SAYA?!" teriak Pak Budi dengan suara menggelegar.
Reno dan Bu Sari langsung berlari mendekat seolah menemukan pelindung paling kuat.
"Pah!
Terdengar Reno langsung mendekati papanya
"Bang Budi"
Bu Sari dengan wajah sedinya seakan-akan ditindas mendekati abang kandungnya ini
"Tolong kami! Dia yang mau usir kami! Dia yang ancam kami!"
Bu Sari menunjuk ke arah Restu dengan penuh kemenangan.
"Dia itu bang!. Orang itu! Dia cuma bilang dia Papanya Maya, sok kuasa sekali! Katanya dia mau pecat kita berdua dari sekolah ini!"
Pak Budi menatap adiknya seakan emosinya tidak terkendali
"Awas dia, pasti akan ku Ajar!."
Papanya Reno ini menoleh tajam ke arah Restu. Dia siap melontarkan makian dan ancaman pemecatan, siap menggunakan jabatannya untuk menghancurkan orang di depannya bahkan dia sudah siapkan 6 orang security untuk memukul orang ini.
Namun...
Saat mata Pak Budi bertatapan dengan mata Restu, tubuhnya seketika kaku. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi seolah melihat hantu. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya membelalak melihat wajah pria di depannya.
Restu hanya duduk santai di tepi meja guru, tangan disilang di dada, menatapnya dengan senyum miring yang menakutkan.
"Kau... kau..."
Pak Budi mulai gemetar hebat, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Selamat siang, Pak Budi. Kepala Divisi Pemasaran ya? Bagus. Jabatan yang bagus. Cuma sayang, cara mendidik anak dan cara memperlakukan keluarga kurang bagus,"
Ucap Restu pelan namun terdengar sangat mengintimidasi.
"PAK RESTU...PAK. PRESIDEN DIREKTUR?!"
Seru Pak Budi tercekat dengan ucapan tergagapnya ketika melihat Restu
Kepala Sekolah yang tadinya ikut marah, kini langsung melongo.
"Hah? Presiden? Maksudnya apa Pak?"
"DIA! DIA ITU PRESIDEN DIREKTUR UTAMA KITA! PEMILIK SAHAM PRESIDEN PROPERTI! PEMILIK SEKOLAH INI!"
Teriak Pak Budi dengan suara putus asa.
BRUK!
Seolah ada petir yang menyambar di dalam ruangan.
Bu Sari terhuyung mundur hingga menabrak dinding. Reno terdiam kaku, keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuhnya. Guru-guru lain yang tadi ikut membenci Maya kini menutup mulut mereka dengan tangan, tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar.
Jadi pria yang mereka hina sebagai "karyawan biasa" itu adalah bos besar mereka?! Pemilik dari perusahaan yang menafkahi mereka semua?!
"Bang... bang... apa benar...?"
Tanya Bu Sari tak percaya kepada abang kandungnya ini
"BODOH! KITA SUDAH BESAR KEPALA KITA!"
Teriak Pak Budi panik. Dia langsung berlari mendekati Restu, dan tanpa sungkan-sungkan lagi...
BRUK!
Pak Budi langsung berlutut di hadapan Restu!
"AMPUN PAK PRESIDEN DIREKTUR! AMPUNI SAYA PAK! SAYA TIDAK TAHU ITU ANAK BAPAK! SAYA BUTA! SAYA SALAH! AMPUN KAMI!"
Reno dan Bu Sari melihat itu, mental mereka langsung hancur berkeping-keping. Mereka ikut menjatuhkan diri berlutut, menangis histeris.
"AMPAK PAK RESTU! AMPUN PAK! KAMI TIDAK TAHU KALAU TUAN SANG PEMILIK! MAAF KARENA KAMI SUDAH MERENDAHKAN NONA MAYA! MAAF!"
Restu menatap mereka datar tanpa belas kasih. Dia menoleh ke arah Kepala Sekolah yang kini gemetar ketakutan.
"Pak Kepala Sekolah," panggil Restu dingin.
"S... siap pak... ada perintah .." jawab Kepala Sekolah terbata-bata.
"Dengar baik-baik. Mulai detik ini juga. Reno, dikeluarkan dari sekolah ini. Tidak perlu ada surat pindahan karena dia dikeluarkan dengan surat pemecatan karena sudah memprovokasi sekolah dengan cerita bohong, biarkan dia tahu rasanya tidak bisa sekolah di mana-mana seperti ancaman mereka tadi."
Restu lalu menatap Bu Sari.
"Dan untuk Ibu Sari... Ibu dipecat dengan tidak hormat sebagai guru. Ibu tidak pantas mengajar, karena etika Ibu lebih buruk daripada preman pasar."
"TIDAK PAK! TOLONG PAK!"
Jerit Bu Sari dengan perasaan tidak terima
"Diam! Dan untukmu Budi..."
Restu menatap ayah Reno tajam.
"Kau pikir dengan jabatan Divisi Pemasaran kau bisa bertindak sewenang-wenang? Besok pagi, lapor ke HRD. Kau saya turunkan jabatan jadi satpam proyek di pelosok desa. Atau mau dipecat tanpa pesangon? Pilih!"
Pak Budi menangis terisak-isak.
"Terima kasih Tuan... terima kasih Tuan masih mau memberi kesempatan..."
Maya yang berdiri di samping Papanya hanya menatap tenang. Rasa sakit dan frustrasi tadi kini berganti menjadi rasa lega yang luar biasa. Dia melihat bagaimana orang-orang yang tadi begitu sombong dan berkuasa, kini merayap seperti cacing di hadapan Papanya.
Restu mengusap kepala anaknya lembut, lalu menatap seluruh guru yang lain.
"Ingat ini pelajaran bagi kalian semua. Jangan pernah menilai orang dari pakaian atau omongan orang lain. Dan jangan pernah menyakiti anak saya, karena balasannya tidak akan pernah kalian sanggupi."
tinggalkan jejak sobat ya
makasi