Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ailen Belajar Menembak (dan Merusak Tembok)
Pasca insiden kebakaran gudang logistik yang dipicu oleh "api cemburu", Leon menyadari satu hal: Ailen Gavril tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan, dan yang lebih penting, energinya yang meluap-luap harus disalurkan ke sesuatu yang lebih produktif daripada eksperimen kimia ilegal. Maka, diputuskanlah bahwa hari ini adalah hari pertama Ailen mengikuti pelatihan menembak secara formal di fasilitas latihan privat bawah tanah yang paling canggih milik Vancort.
Fasilitas ini biasanya digunakan untuk melatih pasukan elit. Dindingnya dilapisi baja khusus yang mampu menahan dentuman peluru kaliber besar, dan sistem targetnya menggunakan teknologi holografik. Namun, saat Ailen melangkah masuk dengan mengenakan hoodie kebesaran bermotif kucing dan celana training warna pink, tempat yang biasanya terasa intimidatif itu mendadak kehilangan wibawanya.
"Mas Leon, kenapa kita di sini? Saya lebih suka latihan lempar sandal jepit, akurasinya sudah 99% lho," keluh Ailen sambil memutar-mutar pelindung telinga (earmuff) di tangannya.
Leon, yang sudah siap dengan pakaian taktis hitam yang membuatnya tampak sepuluh kali lebih maskulin, menatap Ailen dengan serius. "Sandal jepit tidak bisa menghentikan mobil lapis baja, Ailen. Mengingat kau sekarang adalah target utama musuh-musuhku, kau harus tahu cara memegang senjata api dengan benar. Minimal, kau tidak menembak kakimu sendiri."
Leon meletakkan sebuah pistol semi-otomatis jenis Sig Sauer P320 di atas meja. Pistol itu tampak berkilau dan berbahaya.
"Senjata ini bukan mainan. Ini adalah tanggung jawab. Kau tidak menarik pelatuk kecuali kau sudah siap menghadapi konsekuensinya," jelas Leon dengan suara baritonnya yang menenangkan namun tegas. "Sekarang, coba pegang."
Ailen mendekat, menjulurkan tangannya dengan ragu. Saat jarinya menyentuh logam dingin itu, ia sedikit meringis. "Waduh, berat juga ya, Mas. Ini isinya besi semua atau ada batunya?"
"Itu baja, Ailen," sahut Marco yang berdiri di pojok ruangan dengan buku catatan kecil (mungkin untuk mencatat kerugian material yang akan terjadi).
Ailen mencoba mengangkat pistol itu dengan satu tangan, namun tangannya gemetar hebat karena tidak kuat menahan beban. "Mas, ini kalau saya bawa lari, bisa-bisa celana saya melorot karena keberatan."
Leon berdiri di belakang Ailen, melingkarkan lengannya di bahu gadis itu untuk membantu menstabilkan posisinya. Ailen bisa merasakan aroma parfum sandalwood Leon yang bercampur dengan bau minyak senjata. Jantungnya berdegup lebih kencang, dan kali ini bukan karena takut pada pistol.
"Gunakan kedua tanganmu. Kaki dibuka selebar bahu. Fokus pada pandangan depan," bisik Leon tepat di telinga Ailen.
Setelah sepuluh menit belajar posisi berdiri yang benar (yang lebih mirip posisi orang sedang menahan sakit perut menurut Ailen), Leon akhirnya mengizinkan Ailen memasukkan magasin berisi peluru latihan.
"Targetnya adalah lingkaran merah di depan sana. Tarik napas, buang perlahan, lalu tekan pelatuknya dengan lembut. Jangan disentak," instruksi Leon.
Ailen memicingkan satu matanya. Ia membidik dengan sangat serius sampai lidahnya sedikit menjulur keluar. "Oke, Mas. Demi masa depan panti asuhan yang bebas musuh!"
DOR!
Suara tembakan pertama menggema di seluruh ruangan. Akibat dari recoil atau sentakan balik senjata yang tidak diantisipasi Ailen, tangan gadis itu terlempar ke atas. Pelurunya tidak mengenai papan sasaran. Peluru itu justru melesat ke atas, menghantam sistem lampu sensor di langit-langit.
PYAARR!
Lampu sensor pecah berantakan, menciptakan hujan kaca kecil di area depan.
"Ups... Mas Leon, kayaknya targetnya ketinggian ya?" tanya Ailen dengan wajah tanpa dosa.
Leon mengusap wajahnya. "Targetnya di depanmu, Ailen. Bukan di atas kepalamu."
Marco segera memanggil tim teknisi melalui radio sementara Leon mencoba memperbaiki posisi tangan Ailen.
"Coba lagi. Peganganmu harus lebih kuat. Bayangkan kau sedang mencengkeram tangan orang yang mau mencuri martabakmu," saran Leon.
Analogi martabak itu ternyata sangat efektif. Mata Ailen langsung menyipit tajam. Ia mencengkeram pistol itu dengan kekuatan penuh. Kali ini, ia melepaskan tiga tembakan berturut-turut.
DOR! DOR! DOR!
Peluru pertama mengenai pinggiran papan sasaran. Peluru kedua mengenai tiang penyangga target. Dan peluru ketiga... entah bagaimana caranya, memantul (ricochet) dari lantai baja, menghantam dinding samping, dan melubangi sebuah dispenser air yang ada di sudut ruangan.
Croot...
Air mineral mulai menyembur keluar dari dispenser yang berlubang tersebut, membasahi lantai latihan yang mahal.
"Ailen... kau baru saja membunuh dispenser air kita," ucap Marco dengan nada pasrah.
"Lho, tadi dispensernya kayak lagi ngeliatin saya dengan sinis, Mas Marco! Jadi insting saya bilang harus dilumpuhkan!" bela Ailen.
Leon menyadari bahwa mengajari Ailen dengan teknik standar militer tidak akan berhasil. Cara berpikir Ailen tidak linier. Leon kemudian memutuskan untuk sedikit mengubah metode.
"Ailen, jangan berpikir ini sebagai ujian. Anggap ini adalah permainan di pasar malam," ucap Leon.
"Pasar malam? Wah, kalau itu saya jagonya! Biasanya saya dapet hadiah boneka beruang raksasa kalau main tembak kaleng!" seru Ailen semangat.
Ailen tiba-tiba mengubah posisinya. Ia tidak lagi berdiri kaku. Ia sedikit membungkuk, bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang menghindari sesuatu. Ia mulai menggumamkan lagu tema film mata-mata dengan mulutnya.
"Nenonenoneno... JRENG!"
Ailen melepaskan tembakan sambil melakukan gerakan putaran badan yang sama sekali tidak ada di buku manual mana pun.
DOR!
KLING!
Tepat sasaran! Peluru itu mengenai pusat lingkaran merah (Bullseye).
Leon dan Marco ternganga. "Bagaimana kau melakukannya?" tanya Leon terkejut.
"Rahasia, Mas! Pokoknya kalau saya bayangin targetnya itu adalah wajah Mas Vigo pas lagi minta ampun, tangan saya jadi sinkron sama hati!" jawab Ailen sambil memberikan pose dua jari (peace).
Semangat Ailen sedang berada di puncaknya. Ia merasa sudah menjadi seperti Angelina Jolie di film Lara Croft. Ia meminta Leon untuk menambah jumlah target holografik yang muncul secara acak.
"Mas, nyalain yang mode 'Serangan Zombie'! Saya mau latihan bersihin markas!"
Leon, yang sedikit bangga dengan kemajuan mendadak Ailen, mengaktifkan simulasi tingkat menengah. Target-target holografik mulai muncul dari berbagai sudut dengan kecepatan tinggi.
Ailen mulai menembak dengan liar. Dor! Dor! Dor!
Beberapa target berhasil ia jatuhkan. Namun, saat sebuah target muncul di sudut yang paling sulit, Ailen mencoba melakukan gerakan "sliding" di lantai (yang masih basah karena dispenser yang pecah tadi).
"Iyaaaaaaa... CIAAAAT!"
Ailen meluncur di atas air, kehilangan keseimbangan, dan tangannya yang memegang pistol secara tidak sengaja menekan pelatuk saat moncong senjata mengarah ke dinding beton di sebelah kanan—satu-satunya area yang tidak dilapisi baja karena merupakan pintu darurat yang sedang diperbaiki.
DOR!
Peluru itu menghantam mekanisme kunci pintu darurat dengan telak. Karena tekanan peluru yang kuat dan kondisi pintu yang memang sedang lemah, mekanisme itu meledak kecil, dan pintu seberat setengah ton itu lepas dari engselnya, lalu roboh ke depan menimpa tembok pembatas ruang tunggu.
BRAAAAAAAKKKK!
Debu semen membumbung tinggi. Tembok pembatas itu hancur, memperlihatkan ruang tunggu yang sekarang berantakan penuh puing.
Hening. Sunyi senyap menyelimuti ruang latihan yang kini tampak seperti zona perang sungguhan. Ailen masih terduduk di lantai yang basah, pistolnya sudah ia letakkan jauh-jauh.
"Mas Leon... itu temboknya emang udah rapuh ya?" tanya Ailen pelan di balik debu yang mulai turun.
Marco menghela napas panjang, menutup buku catatannya. "Tuan, estimasi kerugian hari ini: satu sistem lampu sensor, satu dispenser air premium, satu pintu darurat baja, dan satu tembok ruang tunggu. Totalnya cukup untuk membangun tiga rumah sederhana di pinggiran kota."
Leon berjalan mendekati Ailen, mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Bukannya marah, Leon justru tertawa pelan—sebuah tawa yang terdengar sangat lepas.
"Setidaknya aku tahu satu hal sekarang," ucap Leon sambil membersihkan debu dari rambut Ailen.
"Tahu apa, Mas? Kalau saya nggak bakat nembak?" tanya Ailen sedih.
"Bukan. Aku tahu kalau kau adalah senjata pemusnah massal yang sesungguhnya. Musuh-musuhku mungkin bisa menghindari peluru, tapi mereka tidak akan pernah bisa memprediksi gerakanmu yang bisa meruntuhkan bangunan tanpa sengaja."
Leon merangkul pundak Ailen yang masih gemetar. "Cukup untuk hari ini. Fasilitas ini perlu diperbaiki sebelum kau meruntuhkan seluruh gedung Markas Besar."
"Mas nggak marah?"
"Aku sudah terbiasa dengan kekacauan yang kau bawa, Ailen. Lagipula, target merah tadi... kau mengenainya tepat di tengah. Itu yang terpenting."
Mereka berjalan keluar dari ruang latihan yang hancur itu. Ailen merasa sedikit lega, meskipun ia merasa tidak enak pada Marco yang harus mengurus semua kerusakan itu.
"Mas Leon, sebagai gantinya... nanti sore saya masakin mie instan spesial ya di rumah? Tanpa meledakin dapur, janji!" ucap Ailen mencoba menghibur.
"Lebih baik kita beli martabak saja, Ailen. Aku ingin mansionku tetap berdiri utuh setidaknya sampai besok pagi," sahut Leon dengan senyum tipis.
Meskipun latihan menembak hari itu berakhir dengan hancurnya tembok dan pintu, Leon menyadari bahwa Ailen memiliki potensi yang luar biasa. Ia tidak butuh Ailen menjadi prajurit yang kaku. Ia hanya butuh Ailen tetap menjadi dirinya sendiri—seorang gadis yang mampu mengubah senjata mematikan menjadi alat kekacauan yang menggemaskan, dan meruntuhkan tembok-tembok kaku dalam hidup Leon, baik secara kiasan maupun secara nyata.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍